
"Fany , lu udah di villa? Lu baik-baik aja kan?" tanya Zahra dalam panggilan video itu.
Fany tersenyum samar.
"Iya , gue baik-baik aja. Baru lima belas menit yang lalu gue sampe sini. Kalian lagi di mall ya? Shopping mulu kerjaannya!" ucap Fany.
"Nonton doang tauk. Oh iya , lu gimana ceritanya sih bisa sampe kayak gini? Kalian berantem karena apa sih?" ucap Airin dengan hati-hati.
"Emmm... Gue mungkin cuma shock aja. Gue gak berantem kok. Gue aja yang lagi pengen... Pengen apa ya? Mungkin pengen sendiri." ucap Fany dengan ragu-ragu.
"Tapi kalian kemaren masih baik-baik aja tauk. Pasti ada sesuatu. Cerita aja sama kita , kayak biasanya." ucap Zahra.
"Jadi , gue tadi dateng ke kantor dia. Gue emang sengaja gak bilang kalau mau kesitu karena gue kayak pengen kasih kejutan gitu lho. Gak taunya pas gue buka pintu ruangannya , dia lagi berpelukan sama cewek yang nggak gue kenal. Dan , mereka emang saling memeluk. Gak tau kenapa gue gak bisa ngomong apa-apa disitu , ya udah deh langsung aja gue pergi lagi tanpa menutup pintu. Dan lagi pula dia pun nggak bilang apa-apa juga ke gue. Ya udah gitu doang dan akhirnya gue pergi dari kantor dia." ucap Fany dengan setenang mungkin.
"Itu seriusan?" tanya Airin dengan melongo.
"Kenapa dia gitu?" tanya Zahra.
"Ya gue tadinya berusaha mikir mungkin cewek itu temennya , tapi kenapa harus saling memeluk juga sih? Dan kenapa dia juga gak bilang sepatah katapun pas gue di depan dia? Gue tuh gak mau mikir macem-macem tapi otak gue gak bisa gue ajak kompromi! Astaga!" ucap Fany dengan awal tenang namun berakhir dengan suara yang hampir teriak.
Fany menghela nafasnya kasar. Kedua sahabatnya pun bingung melihat Fany yang terlihat sangat frustasi. Apa yang harus dilakukan untuk membantunya?
"Gue harap , semoga aja Ardhi nggak seperti yang lu pikir. Tetep positif thinking aja ya. Gue yakin hubungan kalian pasti akan baik-baik aja. Kalian udah tunangan loh , sayang banget jangan bertengkar mulu ya..." ucap Zahra.
"Apa lu perlu bantuan lagi? Kita berdua bisa nyusul lu kesitu kalo lu takut disitu sendirian." ucap Airin.
"Enggak usah , kalian nggak perlu kesini kok. Gue akan baik-baik aja. Gue akan hubungi kalian lagi kalau gue butuh bantuan. Oke..." ucap Fany dengan tersenyum.
"Ya deh , inget ya lu jangan sampai aneh-aneh disitu. Jaga diri baik-baik." ucap Zahra.
"Iya , gue aman disini. Kalian tenang aja. Ya udah gitu aja dulu , gue mau jalan cari udara seger. Bye sayang-sayangku..." ucap Fany dengan tersenyum dan memutuskan panggilan video.
Fany meletakkan ponselnya di samping laptop. Ia menyeruput cokelat hangat yang ia buat tadi. Lalu , ia meraih kamera dan melangkah keluar.
Hujan yang sudah mereda membuat udara semakin segar saja. Membuat senja perlahan-lahan menampakkan keindahannya. Namun , pasir putih yang mulai berubah warna menjadi kemilau itu masih basah.
Dengan kaki yang polos tanpa alas , ia melangkah dengan pelan. Menikmati semilir angin yang sangat ia rindukan. Aroma dari lautan memang berbeda. Dan ia sangat menyukainya.
Hatinya kini memang terasa sedikit kacau. Ia masih tak mengerti dengan semua ini. Tentang apa yang ia lihat , tentang apa yang ia lakukan hingga ia sampai ditempat ini. Tempat yang hanya ada dirinya sendiri tanpa ada orang lain disini.
Di villa ini , sebenarnya sangat menakutkan. Villa yang sangat besar , berisi banyak kamar dan terpencil. Namun entah kenapa ia menjadi seberani ini. Mungkin patah hati telah membuat ia menghilangkan ketakutan itu.
"Apa dia masih nyariin gue?" tanya Fany pada dirinya sendiri.
Fany tak pernah tahu jika ponselnya beberapa kali berdering karena ada panggilan masuk. Jelas saja ia tak tahu , ponselnya ia tinggal di dalam villa. Ia hanya membawa kamera untuk memotret pemandangan indah di depan matanya.
Gadis itu duduk termenung di gazebo tepat di bawah pohon cemara. Ia pun tampak melihat ke sekelilingnya , sepi sekali. Hanya dedaunan yang melambai-lambai seolah sedang menghiburnya.
Hari terasa begitu cepat , detik demi detik terlewati hanya dengan pikiran yang kacau. Dan entah mengapa , rasa di dalam hati itu sangat sulit membaik. Bahkan , ingatan tentang semua yang dilihatnya itu memperburuk keadaannya.
Suasana yang sangat nyaman , membuat ia larut bersama waktu yang mulai menenggelamkan mentari. Waktu yang hampir maghrib , di saat itulah ia merasa ada sesuatu. Ia bukan takut , tapi mengingat ia hanya sendirian saja membuat otaknya berfikir macam-macam.
Baru juga ia menurunkan kaki untuk lekas berdiri , ia kaget dan bingung melihat arah di depan villa terdapat sorot lampu mobil yang mendekat. Fany mengurungkan niatnya dan kembali naik ke gazebo. Ia mengamati dari jauh , siapa yang akan datang.
Perasaannya semakin kacau saja , rasa takut mulai menyelimuti dirinya. Bagaimana tidak takut , ia benar-benar hanya sendiri disini. Orang kepercayaan orangtuanya tidak tahu jika ia datang. Dan rumahnya pun sedikit jauh dari villa.
Namun matanya terbelalak ketika melihat sebuah mobil yang tidak asing lagi baginya itu berhenti di depan villa di samping mobilnya. Ia masih tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Entahlah , hatinya senang atau kesal.
Bagaimana bisa? Dia tahu dari mana jika dirinya sedang berada di villa ini? Siapa yang memberitahukan pada dia? Apa mungkin kedua sahabatnya?
Sungguh , ia rasa masih sesak dan kesal di dada disaat melihat dia.
Ardhi keluar dari dalam mobil. Masih dengan style yang sama seperti yang ia lihat tadi. Ia tampak jalan ke arah pintu dan memanggil-manggil dengan panggilan 'sayang' berulang kali. Sampai akhirnya ia membuka pintu yang tak terkunci itu dan masuk ke dalam.
__ADS_1
Dalam keadaan itu , Fany bingung harus bagaimana. Berdiam diri di tempatnya atau akan menghampirinya. Entahlah ia sebenarnya tak ingin memperkeruh keadaan , namun bagaimanapun juga hatinya masih sulit untuk ia ajak berdamai.
Keadaan yang semakin meremang , namun membuat Fany tak goyah. Ia tetap duduk di tempat yang sama. Ia tak ada niat untuk masuk ke dalam villa.
Ardhi menemukan barang-barang Fany yang tergeletak di meja ruang utama. Ada setengah gelas cokelat yang masih hangat. Hatinya benar-benar bersyukur , gadis yang membuat dirinya gila itu akhirnya ia temukan.
"Sayang... Kamu dimana?" ucap Ardhi dengan lantang karena mungkin saja Fany sedang berada di lantai atas.
Namun , beberapa saat setelah ia mengecek di atas , semua pintu masih terkunci semua. Ardhi pun turun kebawah dan keluar dari dalam villa.
Ardhi kembali keluar dengan mengedarkan pandangannya ke sekeliling berharap dapat segera menemukan gadis yang sangat ia cintai sebelum hari semakin petang.
Samar-samar , pandangannya pun terhenti pada satu titik. Ardhi tersenyum dan berlari ke arah gadis itu berada.
Di waktu yang bersamaan , Fany menurunkan kakinya dan menapak di pasir. Ia tak menyadari Ardhi sedang berlari menuju ke arahnya. Fany pun memandang datar arah mentari yang hampir habis tenggelam. Lalu mengarahkan kamera dan membidiknya.
Ardhi tersenyum melihat seseorang yang sangat berarti untuknya itu baik-baik saja. Mungkin , hatinya yang sedang tidak baik-baik saja dan ia akan memulihkannya seperti semula di malam ini.
"Sayang..." panggil Ardhi dengan suaranya yang lembut.
Fany mendengar itu. Namun ia tak membalikkan badan untuk menghadapnya. Jujur saja ia sebenarnya bingung harus berkata apa.
"Sayang... Aku khawatir banget sama kamu." ucap Ardhi dengan berdiri disamping Fany sembari meraih jemarinya.
"Kenapa? Kenapa kamu kesini?" ucap Fany dengan tenang tanpa memandang wajah Ardhi yang tengah menatapnya.
"Aku takut kamu kenapa-napa. Ini udah mau gelap , ayo kita masuk dulu." ucap Ardhi dengan tenang sembari merangkul bahu Fany mengajaknya masuk ke dalam villa.
Fany diam dan melangkah lebih dulu menuju villa. Dan Ardhi mengerti dengan apa yang dilakukan Fany. Dengan keadaan yang seperti ini , ia harus ekstra hati-hati dengan kesabaran penuh agar semua tak semakin rumit.
Mereka berdua pun masuk ke dalam villa , Ardhi yang berada di belakang segera menutup pintu dan memutar kuncinya yang memang menggantung di sana.
"Sayang..." panggil Ardhi pada Fany yang berada di depannya tiga langkah.
"Aku akan jelasin semuanya. Tolong kasih aku kesempatan itu sayang." ucap Ardhi dengan memohon tepat di depan telinga Fany.
"Emangnya apa yang perlu di jelasin?" tanya Fany dengan tenang.
"Banyak yang perlu aku jelasin. Jadi kasih aku waktu sebentar untuk itu." ucap Ardhi dengan serius.
Fany berusaha melepaskan lengan yang melingkar di tubuhnya dengan erat itu. Namun , Ardhi tak membiarkan itu dan ia lebih menguatkan pelukannya lagi.
"Aku disini akan baik-baik aja. Jadi lebih baik kamu sekarang pulang." ucap Fany dengan tersenyum samar.
Ardhi melepaskan pelukannya dan menatap wajah Fany yang sedikit menunduk.
"Kamu nyuruh aku pulang?" tanya Ardhi memastikan.
"Iya. Kamu pulang aja." ucap Fany yang dingin tanpa ekspresi sembari memalingkan wajahnya ke samping.
"Apa segitu bencinya kamu sama aku setelah melihat aku pelukan sama cewek lain? Oke aku ngerti gimana perasaan kamu soal itu. Tapi..." ucap Ardhi dengan sabar.
"Aku nggak benci. Aku cuma pengen disini aja karena emang udah lama aku nggak kesini." ucap Fany beralasan.
"Tapi nggak seharusnya kamu nyuruh aku pulang , bahkan aku belum jelasin apapun ke kamu sayang." ucap Ardhi yang tetap berusaha bicara baik-baik.
"Apa sih yang perlu di jelasin? Aku nggak perlu penjelasan apapun dari kamu. Aku nggak peduli kamu mau pelukan sama cewek lain atau bahkan kamu mau cium siapapun itu. Karena aku bahkan nggak tau kamu ngapain aja di belakang aku selama ini. Dan aku nyesel kenapa aku harus dateng ke kantor kamu. Harusnya aku nggak pernah dateng. Karena lebih baik aku nggak tau dan nggak pernah tau hal kayak gitu. Biar aku tetap bisa percaya ke kamu seutuhnya tanpa ada ragu. Dan niat aku disini cuma mau tenang. Jadi jangan bikin mood aku hilang lagi." ucap Fany yang kemudian melangkahkan kakinya menuju sofa.
Ardhi seolah tertampar berulang kali mendengar ucapan dari bibir manis gadis yang sangat ia cintai. Karena ia bahkan tak pernah melakukan apapun dibelakangnya. Kini kesabarannya benar-benar terkuras. Namun ia harus berusaha lebih sabar lagi demi mempertahankan hubungannya yang sudah serius itu.
Ardhi menatap Fany yang tengah duduk di sofa sembari menatap layar laptop yang berada di pangkuannya. Ardhi menghampiri dan duduk di sebelahnya.
"Aku nggak ngerti apa yang ada di dalam pikiran kamu. Kenapa kamu bisa ngomong kayak gitu?" ucap Ardhi dengan menatap wajah Fany.
__ADS_1
"Aku mau sendiri , kamu cepetan pulang." ucap Fany sembari menutup laptop dan berniat pergi ke kamarnya.
"Aku akan pulang , tapi kamu juga harus ikut pulang." ucap Ardhi.
"Aku nggak mau." ucap Fany yang kemudian bergegas pergi.
Fany melangkahkan kakinya menaiki anak tangga. Dan Ardhi pun mengejarnya. Tepat sebelum Fany menutup pintu , Ardhi sudah lebih dulu menahannya.
"Perempuan yang kamu lihat tadi itu Yuna. Dia dateng ke Indonesia." ucap Ardhi sembari tetap menahan pintu agar tak tertutup.
Namun , Fany melepaskan dorongan pada pintu. Ia tak percaya. Yuna , mantan pacar Ardhi. Kenapa harus dia yang datang? Apakah dia datang kembali untuk merebut tunangannya itu? Lalu , apa yang akan ia lakukan? Mempertahankan atau melepaskan? Tapi , hubungan sudah seserius ini!
Dengan perlahan , Ardhi melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar.
"Aku minta maaf soal tadi. Aku nggak bermaksud apa-apa. Aku cuma peluk dia untuk yang terakhir kalinya. Aku..." ucap Ardhi terhenti karena ponselnya berdering.
Ada sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak ia kenal. Ardhi pun menatap Fany yang sedang menatap layar ponsel itu dengan rasa penasaran.
"Jawab. Kenapa diem aja?" ucap Fany pada Ardhi.
Perasaan Ardhi mulai tidak nyaman melihat nomor itu. Dengan ragu , ia pun menjawab panggilan itu lengkap dengan membesarkan volumenya.
"Halo... Dengan siapa?" ucap Ardhi sembari melirik bagaimana ekspresi Fany.
"Ini aku. Kau dimana? Aku masih menunggumu di cafe depan kantor. Kau kembali jam berapa?" ucap penelpon itu yang tak lain adalah Yuna.
Ekspresi Fany sungguh membuat Ardhi bingung harus bagaimana. Ekspresi yang tidak bisa jelaskan. Dan itu mungkin seperti singa yang kelaparan dan ia hendak memangsa.
"Kau menunggu siapa? Aku tidak akan kembali. Jadi lebih baik pulanglah!" ucap Ardhi dengan tenang namun juga terdengar sedikit memerintah.
"Kau tadi bilang akan pergi sebentar kan? Itu sebabnya aku masih menunggumu disini. Kenapa sekarang kau bilang tidak akan kembali? Ayolah cepat kemari." ucap Yuna yang seolah sedang kesal diseberang sana.
Ucapan Yuna benar-benar membuat telinga Fany seolah terbakar. Ia pun membalikkan badannya dan menjauhi Ardhi.
"Aku ada urusan yang lebih penting. Pulanglah dan jangan menggangguku lagi." ucap Ardhi yang kemudian menutup telepon sepihak.
"Sayang... Dengerin aku , kamu cuma salah paham. Lagian juga aku tau , aku udah punya kamu dan aku udah bersyukur banget bisa sama kamu. Aku nggak mungkin ngerusak hubungan kita yang udah seserius ini. Keluarga kita udah cocok. Aku nggak akan pernah merusak itu." ucap Ardhi dengan memeluk tubuh Fany dari belakang dan berusaha memberikan pengertian padanya.
"Ihh apaan sih peluk-peluk segala! Lepasin gak!" ucap Fany dengan kesal.
"Aku tau aku salah , tapi maafin aku dong. Aku janji nggak akan pernah ulangi hal kayak gitu lagi." ucap Ardhi dengan memohon dan , semakin mengeratkan pelukannya.
"Jangan peluk aku , aku nggak mau kamu peluk aku dengan bekas pelukan mantan mu itu." ucap Fany yang meronta untuk melepaskan diri.
"Astaga..." ucap Ardhi dengan tabah dan melepaskan pelukannya. "Kalo gitu , aku akan mandi dulu bersihin seluruh tubuh aku. Dan kamu jangan pergi kemana-mana. Tunggu aku , aku belum selesai ngomong." ucap Ardhi yang kemudian langsung keluar dari dalam kamar Fany.
Fany pun melemparkan tubuhnya ke atas ranjang dan tengkurap.
"Sial! Sial! Sial! Kenapa sih dengan perasaan gue? Gue kesel banget sama dia! Tapi kenapa gue gak mau dia ninggalin gue juga sih?" ucap Fany dengan dirinya sendiri sembari memukul-mukul bantal.
Lalu , apa yang akan Ardhi lakukan setelah ini?
Yuukkk lanjut...
❤️
❤️
❤️
❤️
❤️l.a.f🌻❤️
__ADS_1