
....
"Ummm... Udah siang ya?" ucap Fany yang kini mulai membuka matanya.
Gadis itu menyingkap selimut yang masih membungkusnya. Lalu ia melihat ke arah jendela yang tampak begitu terang dari luar.
"Astagaaa! Udah jam berapa nih?! Haa! Jam sepuluh? Kok bisa sih bangun siang gini?" ucap Fany dengan panik.
Pagi itu ia bangun pukul lima , namun rasanya benar-benar masih ngantuk dan badannya pun terasa pegal-pegal semua. Fany pun lanjut tidur memeluk lelaki yang juga sedang memeluknya itu.
Jujur saja , Ardhi pun sudah bangun dan membuka matanya disaat gadis itu mengeratkan pelukan pada tubuhnya. Ia sengaja membiarkan gadis itu kembali terlelap dan tak ada niat untuk membangunkannya.
Niatnya ingin menunggu gadis itu bangun , namun ia justru ketiduran sampai ia kini terbangun gara-gara suara Fany yang panik itu. Ia pun mengerjap-ngerjapkan kedua matanya sembari melirik Fany yang kini sudah terduduk sedang memeriksa ponselnya.
"Kamu ngapain sih teriak-teriak segala , ada apa?" tanya Ardhi yang masih rebahan.
"Kamu juga ngapain gak bangunin aku dari tadi? Sengaja ya?" ucap Fany dengan kesal.
"Sengaja apanya? Aku juga tidur sayang..." ucap Ardhi dengan tenang.
"Ya udah , ayo bangun udah siang nih!" ucap Fany dengan menarik selimut yang melilitnya.
"Aku kok capek banget ya , pegel semua nih badanku." ucap Ardhi dengan memijit-mijit bahunya sendiri.
"Jangan bilang kalau kamu nggak mau ajakin aku pergi." ucap Fany dengan wajahnya yang datar.
"Jadi dong sayang jadi. Tapi , udah siang. Panas dong." ucap Ardhi dengan tenang.
"Nanti sore deh." ucap Fany.
"Terus kita kapan pulangnya?" ucap Ardhi dengan bingung.
"Ya gimana aku pengen kesana dulu." ucap Fany yang kemudian terdengar ponsel Ardhi berdering.
Fany pun mengambilkan ponsel itu dan melihat Bima sedang melakukan panggilan video. Fany pun menyerahkan ponsel itu pada pemiliknya. Lalu Ardhi pun menjawab panggilan itu.
"Apaan?" ucap Ardhi dengan menyandarkan tubuhnya pada tempat tidur.
"Lu dimana sekarang? Widihhh , lu di hotel ya? Sama siapa?" ucapan Bima benar-benar membuat Ardhi geram. Apa lagi disaat ia melirik gadisnya yang sudah pasang muka masamnya akibat ucapan Bima.
"Iya gue di hotel. Kenapa? Kalo lu tanya gue sama siapa , nih lihat aja sendiri." ucap Ardhi yang kemudian menarik lengan Fany hingga terbawa ke sampingnya tepat.
Dapat ia lihat , Bima menganga melihat itu semua. Otaknya yang sudah rusak itu kini semakin rusak saja. Pikirannya berkelana entah kemana.
"Kalian... Eh kalian yang bener aja dong. Ngapain aja coba berdua di hotel?" ucap Bima.
"Emang kenapa sih? Lu iri ya?" ucap Ardhi dengan santai.
"Astaga ya Tuhan , kalian emang bener-bener udah bikin otak gue makin rusak." ucap Bima.
"Lagian lu ngapain telpon gue segala? Ganggu aja deh!" ucap Ardhi dengan gayanya yang seakan sedang kesal.
"Ya gue tau gue pasti lagi ganggu aktivitas lu berdua. Tapi lu perlu gue kasih informasi , noh si mantan lu itu nyariin lu mulu. Sehari sampai dateng tiga kali loh kemaren. Lu ngomong baik-baik deh sama dia biar dia gak dateng-dateng mulu ke kantor." ucap Bima yang membuat Fany memalingkan wajahnya.
Fany pun melarikan diri dengan cepat dan masuk ke dalam kamar mandi.
"Nah kan , lu bikin bini gue ngambek lagi tau gak! Baru aja gue sama dia baikkan. Lah lu malah bikin masalah lagi! Lu tau gak perjuangan gue biar baik lagi ke gue gimana? Gue bawa dia Yogyakarta woy! Biar dia seneng , biar dia maafin gue. Tapi sekarang... Astaga... Hancur lagi gue gara-gara lu!" ucap Ardhi dengan kesal dan berbicara dengan penuh kesabaran.
"Ups! Sorry , eh by the way lu lagi di Jogja beneran? Gak tanggung-tanggung emang. Ya udah deh , lu susul bini lu sana. Mumpung lagi di hotel. Jangan lupa nanti malem , jangan buang kesempatan yang ada." ucap Bima berbicara dengan mulut laknatnya.
"Enggak dulu deh , besok first night gue mau di luar negeri." ucap Ardhi dengan santai.
"Gue ikut boleh nggak?" ucap Bima dengan cengengesan.
"Gak sudi gue ajakin lu! Lu tuh cuma ngerusak moment berharga gue doang!" ucap Ardhi dengan tenang.
"Yahh lu tega sama gue ya!" ucap Bima seolah sedang kecewa.
"Apaan sih udah deh urus kantor gue yang bener. Ntar gue kasih bonus." ucap Ardhi.
"What? Serius? Awas lu kalo bohongin gue!" ucap Bima.
"Iya gue beneran! Dah lah , gue ada urusan!" ucap Ardhi sembari meluruskan duduknya.
"Urusan apaan? Paling juga ngurus bini lu doang!" ucap Bima.
__ADS_1
"Ya iyalah , masa ngurus elu sih! Ogah banget!" ucap Ardhi yang kemudian memutuskan panggilan video itu secara sepihak.
Ardhi langsung turun dari ranjang dan mendekati pintu kamar mandi. Terdengar suara kemericik air yang mungkin didalam sana gadis itu sedang mandi.
Ardhi duduk di sofa dan menatap layar laptopnya yang berada di meja. Ia pun memeriksa dengan teliti beberapa email yang masuk.
Beberapa menit berlalu , Fany pun sudah keluar dengan dress yang dihiasi mutiara yang panjangnya selutut tanpa lengan berwarna hitam pekat.
Ardhi memandangnya tanpa berkedip beberapa detik. Ia pun berdiri dan menghampirinya dengan tersenyum.
"Ngapain kayak gitu?" ucap Fany dengan ketus tatkala ia melihat Ardhi yang berdiri di depannya sembari melipat kedua tangannya di depan dada. Lelaki itu tersenyum dan mendekatkan wajahnya.
"Kamu cantik banget." ucap Ardhi berbisik di depan telinga tepat.
"Apaan sih bisik-bisik segala! Emang ada yang mau denger omongan kita? Aneh deh." ucap Fany.
"Sayang , jangan marah lagi. Ntar aku tinggal pulang duluan loh." ucap Ardhi dengan santai.
"Aku nggak peduli , pulang aja duluan gak apa-apa. Kasian noh mantan mu nungguin. Pulang aja sana , pulang!" ucap Fany dengan tak kalah santainya.
"Sayang kok gitu sih , aku janji udah gak akan pernah ketemu dia lagi." ucap Ardhi dengan melas.
"Aku pun kasian juga sama dia. Nungguin sesuatu yang gak pasti itu sakit banget." ucap Fany sembari menyisir rambut panjangnya.
"Kamu masih sayang nggak sih sama aku? Kenapa omongan kamu kayak gitu terus sih?" ucap Ardhi dengan sabar.
"Aku sayang sama kamu tapi aku nggak ngerti lagi sekarang. Intinya , aku nggak akan pernah mau nikah sama kamu kalo mantan mu itu masih berkeliaran di dekat kamu. Dan kamu harus tau , kalau sampai aku lulus nanti dia masih belum kembali ke negara asalnya , aku pastikan kalo aku beneran lanjut lagi kuliah di luar negeri." ucap Fany dengan puas.
Entahlah , ucapan Fany memang sedikit pedas jika sudah termakan cemburu. Bibir manisnya itu pasti sudah berucap sesuka hati mengikuti kekesalannya.
"Kamu nggak boleh pergi sayang , karena aku yakin aku bisa buat dia pulang. Kamu jangan kayak gini dong. Aku udah gak ada perasaan sedikit pun ke dia." ucap Ardhi dengan tenang sembari mencoba meraih tubuh Fany berniat untuk merangkulnya.
"Lepas! Aku mau turun." ucap Fany yang kini meraih tas kecilnya.
"Enggak boleh. Kamu nggak boleh pergi tanpa aku." ucap Ardhi yang semakin mengeratkan tangannya yang melingkar di pinggang Fany.
"Aduhh sakit tauk! Lepasin gak!" ucap Fany dengan berusaha melepas tangan itu.
"Enggak. Kita harus pergi sama-sama. Aku gak akan pernah biarin kamu pergi sendirian." ucap Ardhi dengan tegas.
"Iya aku mandi sekarang. Tapi kamu gak boleh pergi kemana-mana dulu. Kamu harus janji tungguin aku." ucap Ardhi dengan wajahnya yang serius.
"Iya deh iya! Dah sama cepetan!" ucap Fany dengan kesal.
"Janji dulu!" ucap Ardhi.
"Astaga , iya janji. Ih ribet amat sih! Udah dong lepasin , sakit tauk!" ucap Fany dengan memukul-mukul lengan yang masih berada di perutnya itu.
"Awas aja kalo pergi duluan! Kalo ilang , aku gak akan cari." ucap Ardhi dengan perlahan melepaskan tangannya.
"Gak di cari ya udah , kalo emang udah gak sayang sama aku tuh bilang!" ucap Fany dengan kesal lalu duduk di sofa sembari menampakkan wajahnya yang sedang malas.
Ardhi yang mendengar ucapan gadis itu semakin kesal. Dengan cara lembut dia masih saja sulit untuk diatasi. Jika ia kasar , ia tak tega sendiri karena ia tak mau menyakiti gadis yang sangat ia sayangi itu.
"Terserah kamu aja deh mau gimana." ucap Ardhi dengan datar lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Di dalam kamar mandi , ia mengguyur tubuhnya di bawah shower dengan air dingin. Otaknya pusing memikirkan tentang bagaimana caranya membuat mantannya itu benar-benar pergi dari kehidupannya.
Sementara itu , Fany di luar terlihat sangat kacau. Ia menyandarkan tubuhnya di sofa dan memandang dengan pandangan kosong. Hatinya kembali berantakan gegara lelaki itu.
Ia sedikit merasa sesak tatkala ia mendengar Ardhi yang mengucapkan kalimat 'terserah' padanya. Ia sangat mencintai lelaki itu. Lelaki yang sangat ia harapkan di dalam hidupnya. Ia sebenarnya tidak mau hubungannya berantakan.
Namun , kehadiran Yuna membuat seluruh isi hatinya kacau saja. Ia sebagai seorang perempuan pasti tahu bagaimana rasanya menjadi Yuna. Tapi disisi lain , ia sangat mencintai Ardhi.
Biar bagaimanapun juga , lelaki itu sudah memilihnya. Lelaki itu sudah melamarnya. Dan ia hanya tinggal menunggu waktu dimana ia akan segera di nikahi oleh lelaki itu.
Rasanya semakin sesak saja di saat ia teringat dengan apa yang ia lihat di kantornya. Bagaimana jika saat itu ia tak datang? Apa mereka hanya akan berpelukan saja? Atau mereka akan melakukan lebih? Entahlah.
Kini ia sudah memaafkan tunangannya itu. Namun tidak dengan Yuna. Ia tidak membenci gadis itu , tapi ia hanya kesal. Kenapa ia datang di saat hubungannya sudah seserius ini? Apa mungkin Yuna tidak akan berbuat macam-macam? Apakah dengan lapang dada Yuna akan mengalah membiarkannya bahagia bersama dengan lelaki yang di cintainya pula?
Ia berpikir , tidak akan semudah itu. Yuna adalah sosok perempuan yang kuat dengan seluruh perjuangannya. Berjuang sendiri itu tidaklah mudah. Namun kenyataannya , Yuna kini sedang ada di posisi itu. Dan kini ia hanya tinggal menunggu hasil dari perjuangan yang ia lakukan.
Disaat Fany masih larut dalam pikirannya yang melayang , pintu kamar mandi terbuka dan Ardhi pun keluar dari sana. Ardhi melirik Fany yang wajahnya kini tampak sendu. Otaknya berputar kembali. Apa lagi kesalahan yang sudah ia buat?
Ardhi berjalan mendekat ke arah Fany duduk. Ia pun juga ikut duduk disampingnya tepat.
__ADS_1
"Jadi jalan nggak? Ayo kita berangkat." ucap Ardhi dengan suaranya yang tenang.
Fany terdiam. Ia tahu bahwa lelaki itu sedang menahan kekesalan padanya dan dengan sekuat tenaga lelaki berusaha sesabar mungkin.
"Sayang..." ucap Ardhi lagi sembari meraih jemari Fany.
"Nggak. Kita pulang aja." ucap Fany dengan sedikit rasa takut.
Fany takut jika lelaki itu akan marah padanya karena merasa dipermainkan. Kini pun terlihat , Ardhi tampak menghela nafas berat.
"Aku nggak mau kalo udah sampe Jakarta terus kamu nyesel. Ayo kamu mau jalan kemana lagi sekarang? Mumpung masih disini." ucap Ardhi dengan tenang.
"Aku nggak mau punya terlalu banyak kenangan." ucap Fany tanpa mengalihkan pandangannya sama sekali.
"Kenapa? Apa salahnya? Kita bikin kenangan itu juga nggak akan pernah terbuang sia-sia kan?" ucap Ardhi dengan menekan kata-katanya.
"Aku bingung. Aku gak ngerti sama perasaanku sekarang." ucap Fany dengan melirik ke arah Ardhi lalu sedetik kemudian ia menunduk.
"Hey kamu kenapa sih sebenernya? Bilang sama aku." ucap Ardhi.
"Aku tuh kasian sama Yuna. Dia pasti lagi sakit banget ngarepin kamu. Tapi aku sendiri nggak mau kamu pergi. Aku nggak mau kamu ketemu lagi sama dia." ucap Fany dengan menatapnya lalu menunduk yang kemudian memanyunkan bibirnya. "Kamu cuma punyaku." lanjutnya lagi dengan suara sendunya.
Seketika , Ardhi pun menahan tawanya. Ia hanya tersenyum melihat tingkah laku gadis itu. Benar-benar sangat menggemaskan.
"Ngapain senyum-senyum? Gak ada yang lucu!" ucap Fany dengan ketus sembari menatapnya tajam.
Ardhi pun kaget melihat perubahan yang teramat drastis itu. Dengan segera , Ardhi pun langsung menyambarnya. Ia mengecup bibir yang sudah menjadi candu untuknya itu. Dapat dilihat , Fany membulatkan matanya dengan perlakuan Ardhi.
"Bibirmu ini loh sayang lucu banget." ucap Ardhi dengan tersenyum sembari menatapnya lekat.
"Aku tuh cuma milik kamu. Dan selamanya pun juga akan tetap menjadi milik kamu bukan yang lain. Aku kurang gimana sih sayang buat kamu? Hem?" ucap Ardhi dengan tenang.
"Kamu itu udah lebih dari cukup buat aku. Tapi , gimana sama dia?" ucap Fany.
"Nggak ada yang perlu kamu khawatirkan. Banyak sesuatu yang lebih penting yang perlu kamu pikirkan. Dan untuk perempuan itu , aku janji akan buat dia ngerti sama kehidupan yang aku punya sekarang. Kamu pun boleh kok cemburu , tapi jangan sampai merusak hubungan kita. Karena sebentar lagi , aku akan segera persiapkan pernikahan kita." ucap Ardhi dengan tenang lalu tersenyum.
"Persiapan pernikahan? Kapan emang?" ucap Fany dengan heran.
"Iya , setelah kamu lulus aku akan nikahin kamu secepatnya." ucap Ardhi dengan tersenyum.
"Gila kamu!" ucap Fany dengan ketus.
"Aku nggak mau aja semakin lama hubungan kita semakin berantakan. Ntar kamu malah bisa-bisa pergi ke cowok lain. Ya udah lebih baik kita nikah aja." ucap Ardhi dengan santai.
"Enggak lah. Nggak ada cowok lain. Ih kamu kenapa sih harus buru-buru banget?" ucap Fany dengan menatapnya.
"Bukan buru-buru sayang , aku juga udah gak... Emm maksud aku , aku gak mau lagi nunggu terlalu lama. Lagian kan kalau kita udah nikah terus ada masalah , selesainya gampang nggak perlu ribet kayak sekarang." ucap Ardhi dengan santai.
"Kamu yang bikin ribet bukan aku. Dan aku pun juga gak minta kamu ajak kesini!" ucap Fany dengan tenang.
"Kalo kita udah nikah , dan kamu ngambek kayak kemaren itu , udah langsung aku makan tau gak! Ah kamu mah nyiksa aku mulu kerjaannya." ucap Ardhi mengeluh yang kemudian menyandarkan tubuhnya pada sofa.
"Aku nggak nyiksa. Emang kamunya aja yang suka banget nyiksa diri sendiri." ucap Fany dengan tenang.
"Ya udah kalo gitu , ayo! Kamu buktiin sekarang kalo emang kamu nggak mau nyiksa aku." ucap Ardhi yang kemudian meluruskan duduknya.
Ardhi berdiri sembari menatap Fany dan meraih tangannya.
"Apa?" tanya Fany yang kini sukses gagal fokus.
Apa?
Apa yang Ardhi maksud? Entahlah.
Yukk kepoin lagi...
❤️
❤️
❤️
❤️
❤️l.a.f🌻❤️
__ADS_1