Love Always Forever (Tanpamu , Bagaimana Aku?)

Love Always Forever (Tanpamu , Bagaimana Aku?)
Beautiful Night with You


__ADS_3

Kejutan demi kejutan yang ia siapkan telah tersampaikan dengan sempurna. Di lanjutkan dengan makan malam bersama bertema romantis benar-benar membuat kekasihnya merasa bagaikan seorang ratu.


Dan malam ini adalah malam dimana ia mendapatkan ciuman pertamanya. Ciuman yang ia jaga untuk orang yang benar-benar ia cintai dalam hidupnya.


Seusai makan malam , mereka duduk berdua di taman. Melihat betapa indahnya bintang yang bertaburan di angkasa sana. Bertukar cerita dan saling melukiskan sebuah harapan untuk masa yang akan datang.


"Tadinya aku mau kuliah ke luar negeri sih , tapi aku pikir-pikir lagi. Kayaknya sama aja sih , kuliah dimana pun itu tergantung kitanya yang nangkep materi itu bener atau enggak." ucap Fany dengan tersenyum.


"Dan walaupun kamu tetep mau kuliah di luar negeri , aku gak akan pernah izinin kamu. Ingat itu." ucap Ardhi dengan tatapan mata serius tak ingin terbantahkan.


"Loh emang kenapa?" tanya Fany menatapnya pula.


"Nggak boleh ya gak boleh dong. Jangan bikin susah kamu tuh." ucap Ardhi.


"Hah? Maksudnya apa sih?" ucap Fany tak paham.


"Iya susah dong sayang , ntar kalau aku kangen gimana?" ucap Ardhi dengan senyum-senyum tak jelas.


"Kan bisa video call , bisa skype , nggak susah kok.." ucap Fany dengan mudahnya yang membuat Ardhi merangkul bahunya.


"Aku nggak mau kamu pergi. Pokoknya kamu harus ada di Indonesia. Nggak boleh kemana-mana. Dan kamu nggak boleh deket-deket sama cowok lain." ucap Ardhi.


"Emmm..." ucap Fany terhenti.


"Aku kurang apalagi coba buat kamu?" ucap Ardhi yang langsung mengecup bibir Fany tanpa memberi aba-aba.


Fany tak bisa apa-apa selain memukul-mukul lengan Ardhi agar melepaskannya. Namun sayang, kekuatan laki-laki nyatanya memang lebih kuat. Mendorongnya hanya semakin membuatnya terdesak. Ciuman itu benar-benar memabukkan. Namun ia tetap sadar.


Fany hanya bisa tertunduk malu karena wajahnya yang memerah bagai kepiting rebus. Satu detik kemudian , tanpa ragu ia menyandarkan kepalanya di dada laki-laki itu dan memeluknya. Lalu ia memejamkan matanya menikmati degup jantung Ardhi.


"Kamu ini gimana sih? Tadi dicium ngga mau sekarang main peluk-peluk aja... Maunya apa sih sayang?" ucap Ardhi sambil mengelus punggung Fany dengan lembut.


"Apaan sih kamu tuh diem deh , aku cuma pengen peluk sebentar." ucap Fany tanpa membuka matanya.


"Yaudah iya peluk aja kapan pun kamu mau. Aku siap." ucap Ardhi dengan tersenyum. Namun tiba-tiba Fany menyudahi pelukannya lalu menarik lengan kiri Ardhi untuk melirik jamnya. Jam telah menunjukkan pukul 21.15wib.


"Kita pulang yuk... Udah malem." ucap Fany menatap sang empunya jam.


"Nggak tidur sini aja?" ucap Ardhi dengan tersenyum.


"Nggak mauk. Habis ntar aku gak ada sisa." ucap Fany tanpa sadar akan apa yang ia bicarakan dan itu sukses membuat Ardhi menatapnya heran.


"Maksudnya..." ucap Ardhi terpotong.


"Ehh udah udah! Gak penting dibahas. Ayok pulang sekarang. Kayak jadi horor lama-lama disini." ucap Fany sambil berdiri dengan menenteng tas kecilnya. Perlakuan Fany membuat Ardhi tersenyum.


"Yuk kita pulang..." ucap Ardhi sambil berdiri dan melingkarkan tangannya di pinggang Fany.


Akhirnya mereka berdua pun masuk mobil dan melajukan mobilnya untuk pulang.


"Kalau kamu ngantuk , tidur aja dulu. Nanti aku bangunin kalo udah sampai." ucap Ardhi melirik Fany yang tengah menyandarkan kepalanya dan memandang luar.


"Nggak , Belum ngantuk kok aku." ucap Fany dengan tersenyum kemudian membuka tas mengambil ponselnya.


Fany membelalakkan matanya ketika ia baca pesan dari bibinya yang masuk dari jam delapan tadi. Bi Ina mengirim pesan singkat untuk memberitahu bahwa ia harus pulang karena saudaranya meninggal.


'Mampus lah gua , gua dirumah sama siapa? Mana baru kemaren tetangga sebelah juga ada yang meninggal...' ucap Fany dalam hati.


"Kamu kenapa?" ucap Ardhi ketika ia melihat Fany tengah setengah melamun.


"Ahh nggak , nggak apa-apa kok." ucap Fany dengan tersenyum.


"Pesan dari siapa itu?" tanya Ardhi penasaran karena ponsel Fany masih menunjukkan pesan dalam whatsApp-nya.


"Dari bi Ina doang." ucap Fany dengan menunjukkan layar ponselnya yang bertuliskan bi Ina berada di urutan pesan paling atas.


"Ohh ... Ada apa sama bi Ina?" tanya Ardhi dengan fokus mengemudi.


"Emm izin pulang. Saudara bi Ina ada yang meninggal." ucap Fany.


"Wait... Terus kamu sama siapa dirumah?" tanya Ardhi dengan memandang Fany sesaat. Dan Fany tersenyum kecut.


"Sendiri aja." ucap Fany.


"Berani? Seriusan berani?" ucapan Ardhi dengan tertawa benar-benar membuat Fany kesal.


"Iya berani gak berani harus berani dong. Kenapa pake ketawa segala..." ucap Fany dengan malasnya.


"Aku mau kok temenin kamu kalau kamu yang minta. Tapi kalo udah berani beneran sih yaudah syukurlah..." ucap Ardhi yang membuat Fany berpikir.


Seandainya ia meminta padanya untuk menemaninya , mungkinkah kekasihnya berpikir yang macam-macam tentangnya? Namun jika tidak ada yang menemani, ia benar-benar takut. Traumanya tak bisa hilang sejak kecil.


"Nggak usah deh , aku berani kok di rumah sendiri. Lagian besok kamu juga harus ke kantor kan? Ntar jadi ribet kalo nginep rumahku segala" ucap Fany dengan tersenyum.

__ADS_1


Dalam hati , Ardhi tahu rasa ketakutan dalam diri kekasihnya itu. Ia takut kegelapan dan kesunyian. Saat masih kecil ia pernah beberapa kali menemani Fany yang tengah menangis karena mati listrik dan suasana yang gelap. Dan sampai sekarang trauma itu masih tetap ada dibenaknya.


"Yaudah kamu tenang ya, aku akan pastikan semua aman. Gak akan ada apa-apa." ucap Ardhi dengan tenang.


"Hemm Kenapa mereka pada pergi , aku doang nih yang ada di Jakarta sendiri." ucap Fany mengeluh.


"Ya emang gitu , yang namanya urusan bisnis selalu di nomor satukan kecuali ada hal yang bener-bener gak bisa ditinggal sama sekali." Ucap Ardhi dengan tersenyum sambil fokus pada jalan.


Fany mengangguk mengerti dan matanya memandang keluar melihat kendaraan yang juga melintas.


Sekelebat bayangan dari kejadian tadi pun terlintas di otaknya. Dan itu sukses membuat pikiran Fany kemana-mana. Begitu sulit untuk tenang.


Ia takut jika meminta Ardhi untuk menemaninya. Ia takut Ardhi akan mengulangi hal yang sama seperti tadi.


Meskipun ia memang sepasang kekasih , tapi rasanya masih canggung karena ciuman itu adalah yang pertama kalinya mereka lakukan. Ia tak tau Ardhi sudah pernah ciuman dengan berapa perempuan saat belum bertemu dengannya.


Fany pun melirik Ardhi yang tengah fokus mengemudi. Entahlah rasanya benar-benar semakin canggung. Dan itu membuat Fany memalingkan wajahnya ke samping karena wajahnya mulai merona. Sayangnya Ardhi tak menyadari semua itu.


Tak terasa , mobil kini memasuki halaman rumah mewahnya. Rumah yang tampak megah yang nyatanya tak ada penghuninya.


"Itu tadi kenapa banyak orang disana?" tanya Ardhi penasaran.


"Itu kemaren baru aja ada yang meninggal." ucap Fany.


"Ouhh gitu..." ucap Ardhi dan sudah ia pastikan bahwa Fany kini sangat ketakutan. Namun ia ingin tahu bagaimana Fany nanti di saat ia hendak pulang. Di biarkan pulang atau di tahannya untuk menemaninya.


Ardhi pun keluar dari mobil dan membuka pintu mobilnya untuk Fany. Fany pun turun sambil membawa buket bunganya tadi.


"Makasih ya buat malam ini." ucap Fany dengan tersenyum menatapnya sesaat.


"Iya sayang... Buat kamu tuh apa sih yang enggak..." ucap Ardhi sambil mengacak puncak kepala Fany. Perlakuan sayangnya membuat Fany tersenyum malu.


Ardhi pun mendekat kemudian mencium keningnya sesaat.


"Yaudah kamu masuk sana , dingin banget diluar." Ucap Ardhi dengan tersenyum manis.


"Emmm iya." ucap Fany dengan setenang mungkin namun tetap terdengar ragu.


"Yaudah kamu hati-hati ya dirumah. Kalo ada apa-apa telpon aku aja. Dan yang paling penting, jangan punya pikiran macem-macem. Oke..." ucap Ardhi dengan tersenyum tenang.


Fany pun mengangguk mengerti.


"Aku pulang dulu ya sayang..." ucap Ardhi berpamitan dan mundur untuk melangkah pergi.


Namun sudah seperti dugaannya. Kini Fany tiba-tiba meraih lengannya dan merangkulnya. Ardhi tersenyum ternyata memang ia ditahannya. Karena sebenarnya ia sangat ingin menjaga kekasihnya itu.


"Please , temenin aku sekali aja. Malem ini doang. Ya..." ucap Fany dengan menatap Ardhi dengan tatapan memohon.


"Seriusan? Katanya berani dirumah sendiri..." ucap Ardhi menggoda Fany dengan tersenyum manis.


"Tapi aku takut. Kalo ada bibi aku berani. Lah ini gak ada siapa-siapa yah aku gak bisa... Temenin ya... Sekali ini aja. Besok nggak lagi kok." Ucap Fany merengek seperti anak kecil.


"Kenapa nggak lagi? Tiap hari pun aku mau kok." ucap Ardhi dengan santai.


"Nggak usah cari kesempatan ya! Kalo nggak karena terpaksa aku juga gak akan minta kamu disini. Jadi jangan macem-macem." ucap Fany dengan tersenyum.


"Emm kita lihat nanti... Ayo kita masuk." ucap Ardhi .


"Kamu tutup dulu gerbangnya." ucap Fany memerintah.


"Hah sejak kapan aku jadi scurity kamu..." ucap Ardhi sambil mengacak poni Fany kemudian pergi menutup gerbang.


Di saat Ardhi pergi menutup pintu gerbang , saat itulah Fany melangkah ke arah pintu rumah.


"Astaga kenapa gelap? Kenapa lampunya pake di matiin segala sih bibi..." ucap Fany begitu membuka pintu.


"Ayo masuk ngapain berdiri disini? Ada hantu ya? Mana..." ucapan Ardhi benar-benar membuat Fany serasa ingin membunuhnya saat itu juga.


"Iya kamu itu hantunya! Kamu duluan masuk deh. Hidupin lampunya disana." ucap Fany mendorong bahu Ardhi untuk berjalan lebih dahulu kemudian Fany memegang kaosnya bagian belakang untuk berpegangan.


"Aku udah kayak tahanan aja ya..." ucap Ardhi terkekeh melihat kelakuan wanitanya.


"Udah gausah bawel deh..." Ucap Fany dibelakang.


Lampu telah menyala. Seluruh ruangan kini terlihat. Ardhi berbalik dan menatap Fany. Fany kehabisan akal. Ia hanya berpaling muka dan melangkah dari hadapan Ardhi.


"Mau kemana?" ucap Ardhi dengan tenang karena tak ingin membuat Fany takut sambil mencekal pergelangan tangannya.


"Mau itu ke atas. Ke kamar. Mau naroh bunganya di kamar." Ucap Fany sedikit gugup dan berusaha menekan getaran di dalam dadanya.


"Yaudah nanti turun lagi ya... Cepetan." ucap Ardhi melepaskan pergelangan tangan Fany dan membiarkan ia pergi ke kamarnya.


Ardhi pun pergi ke arah pintu taman yang terbuka. Ia masuk ke taman untuk mengecek apakah ada orang. Namun ternyata kosong. Tak ada orang disana. Lalu ia teringat tadi sore sebelum berangkat ia memang tak sempat menutup pintunya.

__ADS_1


Ardhi keluar dari taman itu dan mendapati kekasihnya sedang berjalan menuruni tangga. Fany yang kini sudah mengganti pakaiannya menjadi baju tidur piyama. Rambutnya yang tadi rapi tergerai kini tampak di kuncir kuda tak beraturan. Serta wajah polosnya yang justru semakin terlihat cantik natural.


"Kamu ngapain disitu?" Tanya Fany dari jauh.


"Nggak , tadi ngecek taman doang soalnya pintunya kebuka. Tapi gak ada apa-apa cuma tadi sore karena gak sempet aku tutup aja." ucap Ardhi dengan tersenyum.


"Oh gitu... Kamu laper gak? Mau makan apa biar aku bikinin sekarang." ucap Fany yang membuat Ardhi membuat menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal.


"Apa ya... Enggak deh. Masih kenyang." ucap Ardhi.


"Mau minum? Kopi? Susu? Teh? Atau apa gitu..." ucap Fany lagi.


"Emm nanti aja aku cari sendiri. Yang penting besok pagi bikinin aku sarapan. Latihan jadi istri yang baik buat suaminya. Oke..." Ucap Ardhi yang kemudian mengecup kening Fany.


Mendengar kata suami istri membuat telinga Fany terasa panas seketika. Ia mulai merasa gerah. Ia juga bingung harus berbuat apa lagi.


"Kalo gitu kita tidur aja ya. Besok aku siapin keperluan kamu. Kamu tidur di kamar sebelah ya. Kamarnya kak Irfan." ucap Fany dengan tersenyum dan berusaha setenang mungkin.


"Lampu bawah di matiin ngga?" tanya Ardhi.


"Matiin aja gak apa-apa , yang di nyalain yang itu." ucap Fany menunjuk lampu yang lebih redup cahayanya.


"Yaudah ayo.." ucap Ardhi menggenggam jemari Fany kemudian mereka mematikan lampu utama dan menyalakan lampu yang redup.


Kini suasana hanya terlihat remang-remang.


"Besok kamu udah nggak pergi ke sekolah kan?" tanya Ardhi sambil mereka berjalan menaiki tangga.


"Nggak. Besok ngga kemana-mana. Oh iya , mau di bangunin jam berapa besok?." ucap Fany.


"Jam 5 aja. Jam 5 juga aku udah bangun sendiri kok. Ini aku tidur kamar sebelah?" ucap Ardhi begitu sampai di lantai atas.


"Ya trus mau tidur dimana lagi?" tanya Fany menatapnya.


"Emm kamu gak perlu aku temenin?" ucap Ardhi dengan tenang namun membuat Fany mulai canggung.


"Aku berani tidur sendiri kok. Udah ya kamu tidur sana besok kan kamu harus kerja." ucap Fany dengan tenang dan memaksa untuk tersenyum.


"Ya udah deh. Iya aku tidur. Oh iya, hp aku di tas kamu kan? Soalnya dari tadi aku gak pegang deh..." ucap Ardhi dan Fany pun memutar bola matanya kesal karena sebenarnya ia ingin Ardhi segera masuk ke kamar kakaknya. Memang ia sendiri yang selalu membawa ponsel Ardhi ke dalam tasnya dan ia tak bisa menyalahkan Ardhi.


"Yaudah aku ambil dulu." ucap Fany kemudian masuk ke kamar.


Tanpa sepengetahuannya , Ardhi masuk kamarnya karena pintunya tak ditutup. Kehadirannya membuat Fany kaget dan langsung panik.


"Ngapain masuk? Aku cuma ambil hp kamu doang. Ini hp kamu..." ucap Fany sambil menyerahkan ponsel dan di terima baik oleh Ardhi.


Ardhi mengecek ponselnya apakah ada sesuatu yang penting atau tidak. Bukan nya disimpan, beberapa detik kemudian ponsel itu langsung di lemparkan ke tengah ranjang dan tak disangka-sangka Ardhi langsung mencium bibirnya.


Fany benar-benar tak habis pikir oleh kelakuan pacarnya ini. Ia kaget dan ia hanya terdiam. Ia pun memejamkan matanya tak sanggup menatap Ardhi yang tak berjarak. Melihat tak ada penolakan dari kekasihnya , Ardhi melingkarkan satu tangannya di pinggang Fany sedangkan satu tangannya lagi merangkul bahunya.


Fany mengangkat tangannya dan memegang pinggang Ardhi , kemudian menyentuh dadanya. Ia mendorongnya pelan karena kini ia merasa bahwa tenaganya kosong. Ia berusaha mendorongnya lagi dan Ardhi pun melepaskan ciumannya.


Ia tersenyum menatap Fany yang wajahnya merona karena ulahnya. Fany pun tiba-tiba memukul dada Ardhi.


"Udah berapa cewek yang pernah kamu cium? Dan aku cewek yang ke berapa?" pertanyaan Fany membuat Ardhi menatapnya tanpa berkedip.


"Aku selalu jaga apa yang aku punya. Dari dulu yang aku incar cuma kamu. Jadi aku pastikan apapun yang indah akan aku mulai sama kamu bukan sama yang lain. Sebenarnya aku pengen banget cium kamu dari dulu karena banyak kesempatan yang ada , tapi aku tetep berusaha sabar sampai kamu lulus dulu." ucap Ardhi dengan tenang kemudian mencium dahinya.


Ardhi merangkul tubuh Fany lalu membawanya ke dalam pelukan. Fany tampak nyaman dan entah kenapa hatinya terasa tenang. Kedua tangan Fany yang tadinya berada di dada Ardhi , kini tangan itu terulur melingkar di pinggang kekasihnya. Ia memeluknya dengan penuh rasa sayang.


"Makasih ya sayang... Aku bahagia bisa sama kamu. Dan malam ini malam yang nggak akan pernah bisa aku lupain. Sampai kapan pun. Jangan pernah pergi ninggalin aku ya..." ucap Fany dengan tersenyum mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah kekasihnya.


Bukannya menjawab ucapan Fany , Ardhi justru menatapnya tenang yang kemudian langsung menciumnya kembali. Fany pun hanya bisa mengikuti apa yang Ardhi lakukan. Ardhi menciumnya dengan santai tanpa paksaan karena ia melihat kekasihnya juga menikmati permainannya.


"Sayang udah..." ucap Fany dengan pelan dan berusaha menghindar dari ciuman Ardhi. Ia takut semakin lama akan semakin kemana-mana.


Ardhi memeluknya dengan erat lalu sesaat kemudian ia membiarkan Fany bernafas lega. Dan Fany pun benar-benar bersyukur mengingat lelaki yang sedang bersama dengannya mampu menjaganya dengan sungguh-sungguh.


Ardhi pun mengambil ponselnya.


"Makasih sayang... Besok lagi ya." ucap Ardhi tersenyum memandang Fany.


"Iya iya udah besok lagi. Sekarang kamu tidur sana." ucap Fany dengan tak sanggup jika lebih lama lagi bersama Ardhi.


"Iya aku keluar. Kalo ada apa-apa panggil aku ya... Selamat malam sayang." ucap Ardhi dengan tersenyum lalu mencium keningnya sesaat. Ardhi pun kemudian keluar menuju kamar kak Irfan untuk numpang tidur.


Dalam kamar masing-masing , mereka harus menekan menghilangkan getaran dalam dirinya. Sesuatu yang sangat sulit mereka lupakan.


---mencintaimu adalah pilihan dalam hidupku , bersamamu adalah suatu kebahagiaan dalam perjalananku dan karenamu , sempurnalah hidupku---


❤️


❤️

__ADS_1


❤️


❤️l.a.f❤️


__ADS_2