
...
Masih dengan keadaan yang sangat miris , Rifki membawa Laura ke dalam apartemen miliknya. Ia tak ingin membiarkan kekasihnya sendirian. Karena mungkin ia akan berbuat hal buruk atau bahkan akan membahayakan keselamatan janin yang berada di dalam rahimnya yang tak lain adalah calon anaknya.
Rifki duduk di tepi ranjang sembari menunggu Laura keluar dari dalam kamar mandi. Ia sibuk memikirkan hal apa yang pertama kali harus ia lakukan.
Tak lama , Laura keluar dari kamar mandi dengan wajah yang tampak memerah dan air mata pun mengalir dipipi mulusnya. Rifki pun menghampirinya dan seketika Laura langsung melingkarkan tangannya pada tubuh lelaki itu.
Jemari kanannya masih menggenggam tespeck itu. Sedangkan Rifki , hatinya benar-benar tersentuh melihat kekasihnya menangis sesenggukan di dadanya.
"Gimana sayang , apa hasilnya masih sama?" tanya Rifki dengan hati-hati.
Dan Laura tidak menjawab , ia hanya menganggukkan kepalanya sembari melepaskan pelukannya. Kemudian , ia memberikan tespeck itu pada Rifki. Ya , hasilnya masih tetap sama. Positif.
Tak disangka , Laura hampir saja terjatuh. Untung saja Rifki segera meraih tubuhnya. Rifki membopong Laura dan menidurkannya pada ranjang. Dapat Rifki rasakan , tubuh Laura sangat lemas. Tak ada kekuatan karena ia hanya menangis dan menangis tiada henti.
"Aku ambil minum dulu ya sebentar." ucap Rifki yang kemudian keluar dari kamar. Tak butuh waktu lama , Rifki sudah kembali dengan segelas air putih dan membantu Laura untuk minum.
"Sayang , maaf ya. Aku tau ini semua salahku. Tapi kamu nggak perlu takut. Semua akan baik-baik aja. Jaga baik-baik kandungan kamu. Kita jaga anak kita bersama-sama ya. Aku akan tepatin semua janji aku. Aku akan tanggung jawab." ucap Rifki dengan lembut agar Laura bisa tenang.
"Kamu beneran mau tanggung jawab?" ucap Laura dengan memandang wajah Rifki.
"Iya sayang. Kan aku udah janji. Aku hanya akan menjadi milik kamu , dan kamu juga hanya akan menjadi milik aku. Aku akan nikahi kamu secepatnya." ucap Rifki dengan tersenyum.
"Kenapa kamu mau pertahankan janin ini?" pertanyaan Laura membuat Rifki mengerutkan keningnya.
"Apa kamu pikir aku akan lari? Aku nggak akan pernah nyuruh kamu buat gugurin kandungan kamu. Aku nggak sekejam itu sayang. Aku mau tanggung jawab kok. Aku mau nikah sama kamu. Udah ya jangan berfikir buruk kayak gitu dong." ucap Rifki sembari mengecup kening Laura yang masih tiduran.
Laura kembali meneteskan air mata dari kedua sudut matanya.
"Aku masih gak percaya , aku gak siap." ucap Laura dengan suaranya yang parau.
"Awalnya emang sama. Aku juga gak siap. Tapi aku harus siap. Karena emang itulah resikonya dari perbuatan aku yang mungkin terlalu maksa kamu." ucap Rifki dengan tersenyum tenang.
"Tapi gimana kalau temen-temen aku tau?" ucap Laura.
"Kamu tenang , biar aja mereka tau kalo kita menikah. Ini hidup kita berdua. Lagian kuliah kita juga sebentar lagi selesai kan. " ucap Rifki yang memang kuliah mereka tinggal dua bulan lagi.
Dalam waktu dua bulan itu kemungkinan perut Laura masih belum terlihat membesar dan ia masih bisa menyelesaikan kuliah dengan baik.
"Yang aku takuti sekarang cuma orang tua aku. Gimana kita ngomongnya?" ucap Laura.
"Aku yang akan bilang. Kamu diam aja. Tapi palingan aku cuma dipukulin sebentar. Hehehe..." ucap Rifki dengan terkekeh.
"Aku takut kalau nanti ke rumah kamu. Orang tua kamu pasti mikir kalau aku cewek murahan atau gampangan atau semacam itu. Aku malu..." ucap Laura dengan mengusap wajahnya.
"Enggak sayang. Mama aku baik kok. Apa lagi aku anak satu-satunya mereka. Apapun keputusanku , mereka pasti dukung aku. Mereka akan memperlakukan kamu seperti anaknya sendiri. Ya , dari dulu mama papa ku pengen punya anak perempuan. Tapi setelah aku lahir , ada gangguan di kesehatan rahim mama. Akhirnya rahim mama di angkat. Itulah sebabnya setelah aku lahir mereka udah gak bisa punya anak lagi. Dan sekarang , aku bawa perempuan cantik ke dalam keluargaku. Mereka pasti akan sangat menerima kamu. Percayalah." ucap Rifki dengan tersenyum sembari menutup ceritanya.
"Jadi kamu bener-bener cuma anak tunggal ya? Aku baru tau." ucap Laura.
"Iya sayang , aku gak punya saudara kandung lagi." ucap Rifki.
"Oh gitu." ucap Laura sembari mencoba ingin bangun dari tidurnya.
"Kamu istirahat aja sayang. Kamu kebanyakan nangis jadi kecapekan nih. Tubuh kamu lemes gitu." ucap Rifki.
"Aku gak apa-apa kok." ucap Laura.
"Kamu mau makan apa sekarang? Aku pesenin ya." ucap Rifki.
"Aku gak laper." ucap Laura.
"Terakhir kamu makan nasi kapan?" ucap Rifki.
"Emm... Lupa , kayaknya kemaren pagi aku sempet makan sedikit." ucap Laura dengan polosnya.
"Astaga sayang , kasian anak kita nih." ucap Rifki dengan menyentuh permukaan perut Laura. Namun tanpa sengaja , Laura menepisnya pelan.
"Maaf , aku masih geli aja kamu sentuh." ucap Laura.
"Tapi kan aku papahnya sayang. Dia juga butuh papahnya tauk." ucap Rifki dengan tersenyum sembari memandang kedua mata Laura.
Meskipun sudah sejauh ini saling mengenal , bahkan hampir menikah namun detak jantung Laura masih saja berdebar seolah habis lari maraton.
Ia tak menyadari bahwa kini lelaki itu sedang mendekatinya dan kemudian yaps , bibir itu mengecup bibirnya. Laura memejamkan matanya sesaat. Namun , tiba-tiba ia mendorong tubuh Rifki dengan kuat. Sampai Rifki pun kaget.
"Ada apa? Kenapa kamu dorong aku?" Ucap Rifki dengan heran.
"Aku , aku takut aja." ucap Laura.
"Takut apanya sih?" tanya Rifki.
"Ya ntar kalo kamu khilaf lagi. Aku gak mau kamu macem-macem lagi." ucap Laura.
__ADS_1
"Aduh sayang , aku bisa aja sih sebenernya lakuin itu lagi. Tapi aku juga takut. Bukannya takut khilaf. Tapi takut nanti yang ada di dalam sini malah terganggu. Jadi besok lagi aja ya." ucap Rifki dengan tersenyum sembari menunjuk arah perut Laura. Laura pun tiba-tiba memeluk tubuh Rifki.
"Kamu itu sebenarnya baik banget. Tapi sayangnya kenapa kamu bikin aku hamil dulu sih. Kenapa enggak besok aja hamilnya pas udah nikah gitu. Ihh resenya kelewatan!" ucap Laura dengan memukul dada Rifki.
"Biar nggak di milikki cowok lain. Kalo udah gini kan udah beneran jadi milik aku." ucap Rifki dengan terkekeh.
Jujur saja , ini berat untuk Rifki. Tapi ia berusaha bagaimanapun caranya untuk membuat Laura tak bersedih lagi. Ia tidak ingin Laura meneteskan air matanya lagi.
Meskipun ia nanti akan babak belur karena di pukul oleh ayahnya dan juga dari pihak keluarga Laura , tapi ia akan menerima itu semua. Ia memang pantas menerima itu.
"Sayang , besok malam kita kerumah ya. Kerumahku dulu. Aku akan bilang sama mama papa ku." ucap Rifki dengan tenang pada Laura yang masih berada di dalam dekapannya.
"Secepat ini?" tanya Laura.
"Karena lebih cepat akan lebih baik." ucap Rifki dengan penuh keyakinan.
"Terserah kamu aja deh mau gimana. Yang penting , anakku ini ada papahnya." ucap Laura.
"Iya sayang , jelas-jelas papahnya sekarang lagi meluk mamahnya kan." ucap Rifki dengan mengecup kening Laura dengan tulus.
Dan entahlah , hanya saat-saat ia berada dalam dekapan Rifki hatinya bisa tenang dan menghangat. Rasanya nyaman sekali.
...-...
.........
...-...
Sementara itu , tampak wajah yang ceria berseri-seri penuh dengan rasa bahagia. Bagaimana tidak , lelaki itu sukses menculiknya ke tempat yang jauh.
Tak disangka , Ardhi membawanya ke bandara Internasional Sukarno Hatta dan terbang menuju Yogyakarta Internasional Airport pada jadwal penerbangan pagi. Setelah sampai di Yogyakarta , ia check in di Hotel Tentrem Yogyakarta yang merupakan hotel bintang 5.
Di kamar hotel , Ardhi meletakkan koper di samping ranjang. Langsung saja ia menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Fany yang melihat itu hanya tersenyum.
"Ini cowok kalo lihat kasur kenapa bawaannya mau tidur mulu sih? Kamu capek ya? Aku aja gak capek." ucap Fany sembari duduk di tepi.
"Sebentar aja sayang gak lama kok sambil nunggu mobilnya dateng. Sini dulu , istirahat. Biar nanti gak capek kalo mau jalan-jalan." ucap Ardhi dengan posisi tidur tengkurap.
"Geseran dikit." ucap Fany yang kemudian naik ke atas ranjang lalu merebahkan tubuhnya.
"Gimana? Kamu suka nggak aku ajak kesini?" tanya Ardhi sembari membenarkan posisi tidurnya.
"Iya , aku suka. Suka banget soalnya aku belum pernah kesini." ucap Fany dengan tersenyum. "Emm makasih ya sayang." ucap Fany yang kemudian mendekat ke arah Ardhi lalu mengecup pipinya dengan cepat. Dan setelah itu , ia kembali ke posisi semula
Ardhi yang mendapat sebuah perlakuan manis itu tersenyum senang. Kemudian ia menggulingkan tubuhnya hingga tepat memeluk Fany.
"Aku gak ganggu sayang. Cuma mau kasih kamu kenyamanan aja. Udah gak usah banyak bicara , tidur dulu sekarang. Tapi jangan lama-lama ya." ucap Ardhi dengan terkekeh.
"Iya nanti kamu bangunin aku." ucap Fany yang kemudian memejamkan kedua matanya.
Dapat ia rasakan , Ardhi mengecup keningnya dengan tenang. Lalu Ardhi ikut tertidur pula.
.....
Ia sudah mengagendakan banyak sekali tempat wisata saat masih di villa. Namun sayangnya , di sini banyak sekali tempat wisata yang menarik. Dan tujuan utama adalah Malioboro , Titik Nol Kilometer Yogyakarta , dan mengelilingi alun-alun Utara serta alun-alun selatan. Ikon kota Yogyakarta yang paling ramai dikunjungi.
"Kita ke tempat yang lain aja dulu. Gimana kalau kita ke sini." ucap Ardhi dengan menunjuk gambar sebuah pantai berpasir putih yang teramat luar.
Kini mereka sudah berada di dalam mobil. Supirnnya pun orang asli Yogyakarta. Pak Hadi namanya , ia adalah kerabat dari asisten pribadi di rumahnya. Pak Hadi akan dengan senang hati mengantarkan Ardhi dan Fany berkeliling sepuasnya selama berada di Yogyakarta ini.
"Ini pantai apa? Kayak pernah lihat deh." ucap Fany pada Ardhi.
"Ini pantai Parangtritis yang bersebelahan sama pantai Parangkusumo. Kita ke sana dulu ya. Jalan-jalan di Malioboro nanti malem aja." ucap Ardhi memberi ide.
"Boleh , terserah kamu aja kamu kemana." ucap Fany dengan tersenyum.
"Baik pak , kita ke pantai Parangtritis dulu aja ya." ucap Ardhi pada pak Hadi.
"Baik mas. Kita akan kesana. Sekarang mungkin agak sepi mas , tapi kalo hari Minggu rame banget." ucap pak Hadi yang kemudian mengemudikan mobilnya menuju pantai.
"Oh gitu ya pak. Kira-kira jauh nggak pak dari sini?" ucap Ardhi bertanya.
"Ya lumayan jauh lah mas. Belum lagi kalo macet mungkin butuh waktu dua jam. Ya semoga aja jalanan nggak macet." ucap pak Hadi dengan ramah.
Selama perjalanan , Fany terlihat sangat menikmatinya. Ini adalah pertama kalinya ia berkunjung ke Yogyakarta. Dan ia tak kan pernah melupakan perjalanan yang spesial ini selama hidupnya.
Hampir dua jam berlalu , mobil pun telah terparkir di parkiran khusus mobil. Mobil melaju dalam perjalanan dengan kecepatan sedang karena Fany meminta kepada bapak sopirnya agar tidak ngebut. Ia ingin menikmati perjalanannya. Dan tunangannya yang berada di jok sebelah itu tersenyum melihat gadis yang ia cintai bahagia.
"Pak , bapak bisa istirahat dulu sambil makan minum atau gimana terserah bapak aja. Paling disini nggak lama juga pak. Ya udah saya kesana dulu ya pak." ucap Ardhi dengan ramah sembari memberikan amplop berwarna coklat yang berisi sejumlah uang tunai untuk pak Hadi.
Pak Hadi menerima uang itu lalu menyimpannya kedalam tas kecil miliknya. Tanpa ia tak menyadari maksud dari Ardhi. Ardhi pun menyusul Fany yang sudah berjalan lebih dulu.
Rasanya benar-benar segar. Udara lautan yang menerpa wajah cantiknya membuat ia merasa mencium bau kebebasan. Ia melihat betapa luasnya samudera , dan jauh didepan sana ada sebuah kapal yang sedang menyeberang.
__ADS_1
"Anginnya gede banget ya disini , jadi gak kerasa panas." ucap Fany dengan tersenyum sembari menyatukan rambutnya untuk di kuncir.
"Gak usah di kuncir segala. Lebih cantik gini." ucap Ardhi sembari merebut kuncir rambut milik Fany lalu memasukkannya ke dalam kantong celana jeans-nya.
"Ah nih anak banyak aturan banget." ucap Fany dengan ketus.
"Inget , gak boleh marah. Kita selama disini harus bahagia." ucap Ardhi dengan tenang.
"Iya iya aku tau , tapi ya jangan nyebelin gitu lah." ucap Fany dengan malas.
"Tapi emang beneran kok kamu lebih cantik kalo gak pake kunciran." ucap Ardhi dengan tersenyum.
"Tauk deh , serah!" ucap Fany dengan perlahan ia berjalan menyusuri pasir putih yang terbentang luas.
"Mau naik kuda gak? Biar gak capek." ucap Ardhi sembari mensejajarkan langkahnya.
"Nggak usah , aku takut. Lagian aku gak suka menyiksa. Aku tuh berat , kasian kudanya. Mending aku jalan aja." ucap Fany yang membuat Ardhi mengerutkan keningnya.
Gadis itu benar-benar beda dari gadis yang lain. Mood yang bisa berubah 180 derajat celcius dan sangat menggemaskan sekali untuknya. Ardhi kemudian tersenyum , ia pun meraih jemari tangan Fany dan menggandengnya erat.
Saat tiba di dekat sebuah bangunan seperti tugu bentuk wayang yang dibawahnya bertuliskan Pantai Parangkusumo , Fany pun mendekat ke sana dan meminta Ardhi untuk memfotonya.
"Oh iya , kamu mau beli apa disini?" tanya Ardhi.
"Mau beli es kelapa muda." ucap Fany dengan polosnya seperti anak kecil.
"Terus apa lagi?" tanya Ardhi lagi.
"Itu aja dulu. Kalo kamu nyuruh aku buat habisin isi ATM kamu , nanti malam aja. Aku habisin di Malioboro." ucap Fany dengan tersenyum.
"Oke. Siapa takut. Sekarang kita cari minum dulu." ucap Ardhi yang kemudian berjalan menyusuri deretan rumah makan .
Setelah memilih satu tempat makan , Ardhi dan Fany pun duduk sembari menunggu dibuatkan es kelapa muda.
"Mau makan apa kamu , laper nggak?" ucap Ardhi.
"Emm , nanti deh belum laper. Haus aja aku." ucap Fany.
Beberapa menit menunggu , akhirnya minuman segar itu diantarkan ke meja.
Tanpa sadar , jam tangan yang ia gunakan ternyata sudah menunjukkan pukul 11.45 wib. Pantas saja udara terasa semakin menghangat.
Setelah dirasa sudah cukup puas berjalan-jalan di pantai , ketiga orang itu masuk kedalam mobil.
"Kamu beneran belum laper? Udah siang loh ini nanti kamu sakit gara-gara telat makan. Kita makan dulu ya." ucap Ardhi sembari membujuk Fany.
"Hem... Ya udah deh iya terserah kamu aja." ucap Fany.
"Kamu pengen makan apa?" tanya Ardhi.
"Apa aja aku mau kok. Oh iya , bakso aja deh. Kayaknya seger." ucap Fany dengan tersenyum.
"Beneran?" ucap Ardhi memastikan.
"Iya. Tapi yang gede. Bukan yang biasa." ucap Fany.
"Oke. Pak kita cari bakso ya , berhenti aja didepan kalo ada yang jual." ucap Ardhi.
"Siap mas. Tapi nggak makan ke restoran aja mas?" tanya pak Hadi yang tampak heran , kedua orang itu adalah orang yang kaya dan berasal dari kalangan atas. Tapi kenapa mereka sederhana sekali? Luar biasa memang.
"Ah enggak pak , sama aja kok. Lagian istri saya mintanya bakso doang." ucap Ardhi yang membuat Fany menatapnya heran.
Istri? Fany benar-benar tak mengerti apa yang ada dalam pikiran lelaki itu.
"Oh gitu. Apa lagi hamil mas? Maklum sih mungkin istrinya mas lagi ngidam." ucap pak Hadi yang membuat Fany semakin bingung.
Astaga apa-apaan ini? Kenapa sampai seperti ini?
"Oh iya pak , mungkin aja gitu ya pak ya." ucap Ardhi dengan cengengesan.
Lelaki disampingnya itu sepertinya butuh pelajaran. Fany pun kini sedang memutar otaknya berusaha mencari cara untuk membuat lelaki itu kapok.
Sedetik kemudian , senyum puas tersungging disudut bibirnya. Rencana sudah tertata dengan sangat rapi.
Apa rencana itu?
Next yukk...
❤️
❤️
❤️
__ADS_1
❤️
❤️l.a.f🌻❤️