Love Always Forever (Tanpamu , Bagaimana Aku?)

Love Always Forever (Tanpamu , Bagaimana Aku?)
Pergi Lagi


__ADS_3

Pagi ini jam menunjukkan pukul 05.00 wib. Ardhi sudah sibuk menyiapkan beberapa berkas penting dan beberapa pakaian saja untuk ia bawa. Ardhi harus berangkat ke luar kota selama tiga hari untuk menghadiri sekaligus memimpin suatu acara di kantor cabang perusahaan milik papanya.


Ardhi mewakili sang Papa karena Papanya kini masih berada di luar negeri. Dan dua hari lagi Mama Papa juga kakaknya itu akan pulang ke Indonesia. Ardhi sebenarnya tidak mau pergi ke luar kota karena ia tak mau berjauhan dari kekasihnya.


Namun , kekasihnya menyuruhnya pergi. Menurut Fany itu adalah sebuah tugas juga untuknya. Dan sebagai pemimpin yang baik , akan lebih baik jika Ardhi ikut menghadiri acara itu. Dan besok Fany lebih memilih diantar supir dirumahnya karena ia tak boleh berangkat sendirian tanpa di dampingi satu orang terdekat dalam keluarga.


Fany sebenarnya tak ingin dimanja. Namun keluarga besarnya sangat menyayangi dirinya. Bagaimana pun juga ia adalah putri satu-satunya di keluarga tercintanya. Dan hal itu membuat dirinya terkesan selalu dijaga. Dan ya sudah mungkin ini memang takdirnya diciptakan diantara orang-orang yang sangat menyayangi dan disayangi olehnya.


Dan pagi ini Ardhi berangkat dari bandara pukul 08.00 wib. Ia masih ada waktu untuk mengantarkan kekasihnya ke sekolah. Ia selalu merindukannya walaupun setelah bertemu.


Fany telah siap dengan seragam sekolahnya. Ia sedang menunggu kedatangan Ardhi dirumahnya. Ardhi mengajak Fany berangkat lebih awal agar ia tak telat nantinya.


Bel rumah pun berbunyi tanda ada orang yang datang. Dan Fany membuka pintu sendiri karena ia sudah tahu siapa yang datang. Begitu pintu terbuka , ada Ardhi disana berdiri dengan tersenyum manis.


"Selamat pagi Sayang..." ucap Ardhi.


"Pagi juga..." Ucap Fany juga dengan tersenyum manis.


"Mama Papa dimana? Aku mau pamit sekalian aja." ucap Ardhi.


"Ada tuh di dalem , ayo masuk dulu." ucap Fany menarik lengan Ardhi untuk menyuruhnya masuk ke dalam rumah.


Ardi mengikuti kemana Fany membawanya. Fany membawa Ardhi menuju ruang keluarga karena disana Mama dan Papanya berada. Mama Vina tersenyum melihat putri cantiknya itu sedang jatuh cinta. Ardhi dan Fany pun masuk ke ruang itu.


"Pagi om tante ..." ucap Ardhi dengan bersalaman lalu duduk di sofa.


"Tumben pagi-pagi gini udah dateng?" ucap Mama Vina.


"Iya Tante , nanti aku mau pergi ke luar kota selama tiga hari. Jadi ini mau sekalian pamit sama Om Tante." ucap Ardhi dengan tersenyum. Ardhi memang sudah terbiasa dengan Mama Papa Fany. Bahkan Mama Vina memintanya untuk memanggil sebutan 'Mama' beberapa waktu lalu.


"Oh gitu , Arya sama Anisa kapan pulangnya? Kakakmu juga." ucap Papa Farhan bertanya.


"Kebetulan dua hari lagi mereka akan pulang Om. Pasti mereka juga akan kesini kok." ucap Ardhi dengan santai.


"Ya sudah Ma Pa kita berangkat dulu ya. Kasian nanti dia terlambat sampai di bandaranya." ucap Fany.


"Oh ya sudah kalau begitu. Kamu hati-hati selama di sana ya , jaga kesehatan kamu jangan sampai kecapekan. Jangan sampai sakit juga nanti nggak ada yang ngurusin." ucap Mama Vina tersenyum.


"Ya ampun Mama, gitu amat!" ucap Fany dengan melihat Mama Vina seperhatian itu pada Ardhi.


"Iya , kamu juga cepet-cepet balik lagi kesini. Kasian anak manja satu ini. Nanti kalau dia nangis gara-gara kangen sama kamu kan satu keluarga yang repot." ucap Papa Farhan dengan tersenyum menjahili putrinya. Dan hal itu membuat Ardhi tersenyum menahan tawanya melihat ekspresi wajah Fany yang malu itu dan sangat menggemaskan.


"Astaga Papa tuh ya!" ucap Fany dengan kesal. "Sudah ayo kita pergi. Kita berangkat sekarang aja." ucap Fany dengan menarik lengan Ardhi agar berdiri dan pergi dari ruangan ini.


"Iya iya sebentar. Ya udah Om Tante kami berangkat dulu ya." ucap Ardhi berpamitan dengan bersalaman kembali pada orang tua Fany.


"Baiklah , kalian hati-hati. Nanti juga kamu hati-hati ya kalau berangkat ke luar kota." ucap Mama Vina dengan tersenyum.


"Iya Tante." ucap Ardhi kemudian mengikuti Fany yang terus menariknya keluar.


"Kamu itu kenapa sih Sayang? Biasa aja dong." ucap Ardhi dengan tersenyum tenang melihat Fany memanyunkan bibirnya atas bully-an Papanya tadi.


"Abis papa nyebelin banget tadi. Udah yuk kita berangkat." ucap Fany dengan meraih tasnya yang sudah ia siapkan di sofa.


Ardhi dan Fany pun keluar dari rumah menuju ke mobil Ardhi yang terparkir di halaman depan rumah. Mereka berdua pun masuk ke mobil dan berangkat ke sekolah.


"Sebenarnya aku pengen ngajakin kamu ikut pergi nanti. Tapi kamu harus sekolah kan." ucap Ardhi dengan menggenggam jemari Fany sembari terus fokus mengemudikan mobilnya.


"Hemm... Kamu yang penting hati-hati aja selama disana. Jaga mata jaga hati juga jaga pikiran. Inget , udah ada aku disini." ucap Fany dengan tersenyum manis menghadap Ardhi.


"Kamu itu sembarangan aja , kayak aku bakal cari cewek sampingan aja disana hahaha..." ucap Ardhi dengan tertawa.


"Ya mungkin aja kan?" ucap Fany.


"Aku bakal jaga hati aku cuma buat kamu aja. Aku udah nggak mau sama yang lain." ucapan Ardhi itu membuat Fany serasa ingin muntah.


"Itu adalah ucapan terfavorit para buaya darat yang pernah aku dengar selama ini." ucap Fany dengan tersenyum manis.

__ADS_1


"Termasuk aku? Gitu?" tanya Ardhi dengan meliriknya.


"Aku nggak bilang itu , tapi kalau kamu merasa dengan tersendirinya ya bukan salahku kan?" ucap Fany dengan tersenyum-senyum geli tanpa menatap kekasihnya.


"Aku rasanya jadi pengen cepet-cepet nikahin kamu deh! Biar kamu nggak bawel mulu kayak sekarang ini!" ucap Ardhi dengan gemas sambil mengacak rambut dipucuk kepalanya Fany.


"Tapi itu ngga mungkin terjadi , aku masih sekolah dan aku juga ingin melanjutkan kuliah Sayang." ucap Fany sambil merapikan rambutnya yang berantakan.


"Ya ampun Sayang , kamu itu! Udah kamu nggak usah kuliah deh." ucap Ardhi seakan mengeluh.


"Nggak lah , aku tetep kuliah dong!" ucap Fany dengan santainya.


"Kelamaan Sayang , kita kapan nikahnya dong?" ucap Ardhi dengan sesekali menatap Fany disampingnya itu.


"Ya sabar lah , kita masih muda. Kamu kenapa sih pengen banget nikah muda? Udah siap jadi seorang ayah apa?" ucap Fany dengan menatap Ardhi pula.


"Siap kok. Aku udah siap banget. Kenapa?" ucap Ardhi dengan tersenyum seolah menantang Fany.


'Astaga ini cowok bener-bener ya!' ucap Fany dalam hati.


"Beneran udah siap nikah?" tanya Fany menatapnya.


"Siap." ucap Ardhi dengan entengnya.


"Nikah aja sana sama banci kaleng dipinggir jalan noh!" ucap Fany dengan tersenyum puas.


"Ya nggak gitu juga kalik. Maksud aku itu biar kamu bener-bener percaya sama aku kalau aku itu cinta sama kamu Sayang!" ucap Ardhi dengan penekanan.


"Tapi kan kamu udah janji buat setia nungguin aku?" ucap Fany dengan polosnya.


"Iya aku janji bakal setia nunggu kamu sampai kamu siap jadi istri aku. Sampai kapan pun itu aku bakal nunggu. Tapi kamu jangan godain aku terus dong!" ucapan Ardhi itu justru membuat Fany tersenyum. Kemudian Fany menyandarkan kepalanya di bahu kekasihnya itu yang tengah mengemudi.


"Ehm... Ditinggal pergi lagi... Pasti aku bakalan kangen deh selama kamu pergi nanti. Kamu baik-baik disana ya." ucap Fany dengan memandang lurus kedepan menatap mobil-mobil didepannya.


"Aku juga bakalan kangen sama kamu tauk! Kan aku tadi bilang , kalau kamu nggak sekolah pasti udah aku ajakin. Tapi kan kamu lagi sekolah. Besok-besok lagi aja ya aku pasti ajakin kamu kemanapun aku pergi." ucap Ardhi dengan tenang.


"Iya aku nggak akan lupa itu kok. Kamu tenang aja , kamu juga sekolah yang bener. Nggak usah mikir aneh-aneh tentang aku. Aku nggak bakal macem-macem disana. Aku akan baik-baik aja sampai aku pulang lagi kesini." ucapan Ardhi membuat Fany entah mengapa merasa tenang.


"Iya deh aku ngerti kok." ucap Fany dengan tersenyum sembari mendongakkan wajahnya menatap wajah Ardhi.


Sempat terbersit dipikiran Ardhi , ada rasa ingin menyentuhnya. Melihat wajah cantik Fany berada dihadapannya tepat dengan jarak yang sangat dekat. Ia ingin sekali untuk menciumnya. Tapi ia tahu saat ini bukanlah waktu yang tepat.


Ardhi mungkin saja bisa melakukan hal itu pada kekasihnya. Namun ia tak mau melakukan itu dulu. Ia tahu bagaimana Fany. Dan kemungkinan besar Fany belum pernah melakukan hal itu pada siapapun. Sama seperti dirinya. Ia memang belum pernah melakukan hal itu pada perempuan manapun termasuk seseorang dimasa lalunya dulu sewaktu masih tinggal di luar negeri.


Mobil pun berhenti tepat di depan gerbang sekolah Fany. Namun Ardhi pun tak turun dari mobilnya.


"Aku masuk ke kelas dulu ya. Kamu hati-hati nanti jangan lupa sama apa yang aku omongin tadi." ucap Fany dengan menatap wajah Ardhi yang juga memandang dirinya.


"Iya Sayang." ucap Ardhi dengan tersenyum.


"Ya udah aku keluar ya. Sampai ketemu lagi besok kalau kamu udah pulang." ucap Fany yang hendak keluar dari dalam mobil.


Namun seketika lengan Fany ditahan oleh Ardhi dan membuat Fany kembali menghadapnya.


"Kenapa?" tanya Fany dengan heran.


Ardhi kemudian menarik tubuh Fany untuk mendekat pada dirinya. Lalu Ardhi mengecup kening Fany dengan tulus. Cukup lama seolah Ardhi enggan untuk melepaskannya.


"Kamu baik-baik ya , jangan nakal." ucap Ardhi setelah selesai mencium kening Fany dan kini ia mencubit pipi kanannya.


"Yah ampunnn , iya iyaa kamu juga itu!" ucap Fany sambil memegangi pipinya yang kemerahan karena ulahnya pacarnya itu.


Kemudian Fany keluar dari dalam mobil dan berdiri disamping mobil. Ia menunggu Ardhi melajukan mobilnya. Dan setelah mobil Ardhi menghilang dari pandangannya , Fany pun masuk dengan perasaannya yang entah mengapa terasa sesak.


...----------------...


Ardhi kini sudah sampai di hotel tempatnya menginap selama tiga hari kedepan. Hotel dengan fasilitas mewah yang terdapat dua tempat tidur dan telah siap ia gunakan.

__ADS_1


Ardhi pun merebahkan tubuhnya di ranjang king size itu sembari mengirim pesan singkat untuk kekasihnya agar kekasihnya disana tak memikirkan dirinya.


"Bro kita sekalian liburan dulu ya disini, sehari aja." ucap Bima , asisten Ardhi. Ya , Ardhi ke luar kota bersama Bima.


"Emang lo ngga pernah liburan apa?!" ucap Ardhi dengan santai.


"Sembarangan lo! Ya maksud gue itu mumpung kita lagi disini. Kapan lagi kita mau kesini?" ucap Bima seolah memohon kepada bosnya itu.


"Liburan aja sana sendiri. Gue tetep tiga hari doang. Habis acara selesai gue harus pulang. Lo kalo mau liburan ya udah liburan aja sendiri. Gue pulang duluan." ucap Ardhi dengan tenang.


"Ah Lo gak asik tauk! Lagian kayak Lo ninggal istri aja dirumah buru-buru mau pulang!" ucap Bima yang nampak kesal sembari mendudukkan tubuhnya di sofa besar.


"Iya emang bener gue lagi ninggalin dia, Kenapa? Syirik aja Lo! Makanya punya pacar sana!" ucap Ardhi yang membuat Bima kehabisan kata-kata.


"Bucin banget ya Lo sekarang! Baru tau gue kalo seorang Ardhi Putra Pratama itu ternyata bisa kemakan sama yang namanya cinta , hahaha..." ucapan Bima membuat Ardhi menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal.


"Gue cowok normal ya! Gak kayak lo!" ucap Ardhi dengan tersenyum yang sukses membuat Bima berpikir keras untuk merangkai kata-kata pembalasan.


"Terserah Lo aja deh! Mau sehari semalem debat sama Lo juga gak ada faedahnya!" ucap Bima mengalah daripada terus berdebat , hanya buang-buang tenaga dan ia tak kan pernah menang bila berdebat dengan bosnya itu.


"Kan Lo duluan yang mulai , bukan gue!" ucap Ardhi dengan tersenyum penuh kemenangan melihat asistennya sedang menahan kekesalan.


"Udah ah diem lo! Bikin panas telinga gue aja!" ucap Bima yang semakin kesal pada Ardhi.


Begitulah kedua lelaki muda itu jika disatukan. Mereka memang sahabatan sejak Bima berkuliah di universitas yang sama dengannya. Andai mereka sedang berada dalam tenda , pasti tenda mereka bisa hancur seketika. Tak ada yang saling mendukung , namun malah saling mengalahkan.


"Hai Sayang... Aku udah di hotel ini..." ucap Ardhi dengan tersenyum sambil berbicara dengan ponselnya dan hal itu membuat Bima meliriknya. Ardhi sedang melakukan video call dengan Fany.


Melihat Ardhi tengah sibuk dengan kekasihnya , Bima memutuskan untuk masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya yang terasa lelah.


...----------------...


Setelah selesai melakukan video call dengan kekasihnya , Fany pun kembali meletakkan ponselnya di atas meja. Fany sedang berada di kantin saat itu karena ia sedang beristirahat bersama Airin dan juga Zahra. Kemudian Fany melanjutkan makan siangnya yang sempat tertunda sesaat.


"Eh eh dia ya yang siswa baru itu? Keren ya..." ucap Airin sembari memandang arah sudut kantin. Di sana ada seorang lelaki dengan tampang yang tampan dan terlihat cool.


"Sejak kapan sih ada siswa baru? Kok gue baru denger sekarang ya." ucap Fany dengan heran.


"Baru dua hari yang lalu deh kayaknya. Seangkatan juga kok sama kita. Tapi gue gak tau dia di kelas apa." Ucap Zahra sambil menatap wajah lelaki itu dengan tatapan kagum.


"Oh gitu..." ucap Fany sambil terus melahap makanannya.


"Lu nggak tertarik apa Fan? Ganteng begitu lho..." ucap Zahra yang sukses membuat mata Fany melotot tajam ke arahnya.


"Eh lu kalo ngomong dipikir dulu dong , gue udah ada yang punya. Kalian aja sana yang ngejar-ngejar dia. Gue udah nggak minat." ucap Fany dengan tersenyum kemudian menyedot milkshake cokelat yang ia pesan.


"Gaya banget lu mentang-mentang udah laku yak!" ucap Airin menyenggol bahu Fany dengan tertawa.


"Ya udah lu embat aja sana , buat kalian berdua sana. Gue mau ke kelas." ucap Fany dengan tersenyum dan lekas berdiri.


"Eh eh gue ikut!" ucap Airin dan Zahra hampir bersamaan.


Mereka pun kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya dan Fany sangat fokus memperhatikan materi yang disampaikan oleh gurunya.


Di tempat lain , ada seorang lelaki yang sedang tersenyum manis dengan pikirannya.


"Gue pasti bisa dapetin lo!" ucap lelaki itu dalam hati.


#Siapakah dia?


*


*


*


*

__ADS_1


*❤️❣️


__ADS_2