Love Always Forever (Tanpamu , Bagaimana Aku?)

Love Always Forever (Tanpamu , Bagaimana Aku?)
Drama


__ADS_3

Malam yang sangat indah. Beruntungnya malam ini tidak ada hujan turun. Suasana pun sangat meriah dan penuh dengan lampu-lampu yang terang. Dan juga ramai sekali pengunjung yang memadati area ini.


Pukul tujuh ia berangkat ke Malioboro , tempat yang sangat menarik. Banyak sekali para penjual makanan serta berbagai jenis pakaian. Batik-batik yang menjadi motif utama di setiap pedagang selalu menggoda mata. Tak ketinggalan pula dengan pernak-pernik serta kerajinan tangannya.


Ada mall yang menarik pula. Malioboro Mall menjadi tempat yang ingin ia tuju. Dengan senang hati lelaki yang tetap setia tak pernah melepaskan jemarinya itu tersenyum mengikuti kemauannya.


"Wah bagus banget ya..." ucap Fany setelah masuk ke dalam.


"Kamu mau beli apa?" ucap Ardhi.


"Eumm... Nanti aja. Aku lihat dulu." ucap Fany dengan tersenyum sembari melihat kanan kiri.


"Kita beli baju couple yuk. Mau nggak?" ucap Ardhi dengan tersenyum.


"Boleh aja. Mau yang mana?" tanya Fany.


"Kita beli hoodie , kaos , sama batik. Semua harus couple." ucap Ardhi.


"Boleh deh. Mau cari disini atau diluar?" ucap Fany.


"Ntar aja , kita lihat dulu dari ujung sampe ujung. Kalo udah baru kita belanja." ucap Ardhi dengan santai.


"Astaga , kalo aku capek kamu mau gendong? Ha?" ucap Fany.


"Capek ya istirahat dong nyonya. Kamu nggak lagi hamil beneran ya jadi jangan manja mulu." ucap Ardhi dengan tenang. "Manja boleh tapi nanti aja kalo udah di hotel." ucap Ardhi dengan berbisik di telinga Fany.


"Iisshh , nyebelin banget sih jadi orang!" ucap Fany sembari berusaha melepaskan jemarinya yang digenggam.


"Eits gak boleh lepas , ntar ilang di bawa orang. Susah nyari yang kayak kamu tuh." ucap Ardhi yang membuat Fany menatapnya kesal.


"Ihh rese ya! Ngeselin banget!" ucap Fany dengan ketus.


"Udah ayo kita jalan di luar aja , pemandangannya diluar bagus sambil cuci mata." ucap Ardhi dengan tersenyum.


"Iya bagus , cuci mata ah kali aja ada yang lebih bening. Kan lumayan bisa buat cadangan." ucap Fany dengan santai.


"Apa kamu bilang? Buat apa?" ucap Ardhi.


"Buat cadangan. Kan kali aja yang satu sibuk sama masa lalunya yang dateng trus aku bisa sama yang satunya lagi dong." ucap Fany dengan tenang.


"Tunggu aja kalo udah sampai kamar." ucap Ardhi dengan santai.


"Bodo'amat!" ucap Fany yang semakin melangkah dengan cepat sampai akhirnya mereka berdua sudah sampai diluar.


"Yang bener?" ucap Ardhi dengan tersenyum.


"Apa?" tanya Fany heran.


"Kamu bilang katanya bodo'amat , bearti terserah aku dong mau ngapain aja." ucap Ardhi dengan tenang.


"Terserah aja. Kan aku nanti mau pesen kamar sendiri." ucap Fany dengan puas.


"Enak aja! Gak boleh lah. Ngapain di kamar sendiri-sendiri gitu?" ucap Ardhi dengan sedikit kesal.


"Ya karena emang kita belum menikah lah. Emang harus ya kita satu kamar? Kalau udah nikah mah oke aja." ucap Fany dengan tersenyum.


"Kamu itu tunangan aku. Inget itu. Kita bukan orang asing. Lagian sebentar lagi juga kita bakal nikah." ucap Ardhi dengan tenang.


"Ya kali nikah muda , aku aja mau ke luar negeri lanjutin S2 di Harvard." ucap Fany dengan tersenyum.


"Apa?" ucap Ardhi yang kemudian menghentikan langkahnya dan Fany pun juga terhenti. Ardhi berubah ekspresi.


"Apa?" tanya Fany dengan tenang.


"Kamu serius mau lanjut di Harvard?" ucap Ardhi dengan menatap Fany dalam.


"Kalau iya kenapa? Kalau enggak gimana?" ucap Fany.


"Enggak mau. Kamu mau bales dendam ya karena aku dulu ninggalin kamu lama? Iya?" ucap Ardhi dengan wajah yang masam.


"Aku malah gak kepikiran soal balas dendam. Tapi kamu malah ngingetin soal itu." ucap Fany dengan tenang yang membuat Ardhi menghela nafasnya kasar.


"Ayo kita balik aja." ucap Ardhi sembari berbalik dan menarik jemari Fany.


"Eh kenapa balik?" ucap Fany dengan heran.


"Mood aku ilang!" ucap Ardhi dengan menatapnya sedetik.


"Oh gitu... Ya udah sih pulang aja sendiri , aku masih mau disini belum puas keliling-keliling." ucap Fany dengan tersenyum. Ia sengaja membuat Ardhi naik darah. Salah sendiri , karena dirinya pun sering kali dibuat kesal pula.


"Jangan sampai aku marah ya! Aku bilang pulang ya pulang." ucap Ardhi dengan menatapnya dengan wajah datar.


"Enggak mau." ucap Fany yang menahan dirinya.


"Aku nggak mau kamu kayak gitu. Kamu dulu bilang kan gak akan lanjut kuliah ke luar negeri. Kenapa sekarang tiba-tiba gitu?" ucap Ardhi dengan mendekat agar tak di dengar orang lain.


'Astaga , dia marah beneran? Padahal gue cuma asal ngomong aja tadi.' ucap Fany dalam hati.


"Ya gimana? Ah udah , dibahas ntar aja itu. Kan katanya kamu mau beliin baju couple? Gak jadi dong? Kita beli baju dulu abis itu pulang deh." ucap Fany dengan pasang wajah imutnya.


Ardhi tak bisa menyembunyikan rasa sayangnya. Dengan hati kesal , ia pun kembali berjalan.


"Kita beli trus langsung balik hotel." ucap Ardhi dengan datar namun tangannya tetap tak melepaskan jemari Fany.

__ADS_1


Fany tersenyum melihat kelakuan lelaki itu. Hingga akhirnya mereka berdua keluar masuk beberapa toko baju yang terlihat menarik.


Akhirnya keduanya sudah memilih beberapa baju yang menurutnya menarik. Dua pasang Hoodie berwarna biru gelap dan merah marun. Tiga pasang kaos oblong bergambar tugu Jogja yang masing-masing berwarna hitam , biru donker , dan putih. Juga ada tiga pasang pula baju batik dengan motif dan warna berbeda.


"Aku mau itu dong..." ucap Fany sembari menunjuk baju seperti daster yang panjangnya selutut bermotif batik.


"Iya udah beli aja. Mau berapa? Yang mana aja?" ucap Ardhi dengan sabar padahal di tangannya udah menenteng belanjaan yang tadi sudah dibeli.


"Ini." ucap Fany dengan mengambil tiga baju daster dengan warna dan motif beda.


"Ya udah bayar , sama apa lagi?" ucap Ardhi.


"Udah aja deh. Sini aku bantu bawa." ucap Fany sembari meraih kantong belanjaan yang dipegang Ardhi.


"Enggak usah. Aku aja yang bawa." ucap Ardhi dengan tenang.


"Sayang , gimana kalau kita naik itu dulu." ucap Fany dengan tersenyum sembari memanggil dengan panggilan sayang.


Setahun sekali mungkin gadis itu memanggil dengan panggilan sayang alias bisa dihitung atau bahkan tidak pernah sama sekali. Mungkin ketika hanya ada maunya saja ia memanggil sayang.


Ardhi pun tersenyum sedetik saja lalu mengangguk dan berjalan mendekati kuda yang berjejeran. Delman , salah satu alat transportasi yang menarik. Sangat cocok sekali berkeliling dengan delman ini.


Kini Ardhi dan Fany pun sudah naik dan mereka akan di bawa berkeliling dari Malioboro , melewati titik nol kilometer Yogyakarta , alun-alun Utara sampai alun-alun Selatan.


Dapat dilihat , Keraton Yogyakarta berdiri megah dan kokoh serta kedua pohon beringin kembar yang sangat indah dipandang. Dan begitu sampai di alun-alun Selatan , di sekeliling kedua pohon kembarnya banyak sekali para orang yang sedang bermain.


Ada muda mudi yang hanya duduk bercerita , ada sebuah keluarga yang juga sedang bermain bersama anaknya , dan masih banyak lagi. Disini juga menyajikan berbagai macam jenis makanan dan minuman pula. Kini mereka pun kembali ke tempat awal.


Pukul sepuluh lewat lima belas menit , Fany sudah merasa kantuk sekali. Tubuhnya pegal-pegal semua. Ardhi yang tadi sudah menelpon supirnya pun kini hanya menatap Fany dengan sabar. Dan benar , mobil yang di bawa pak Hadi berhenti di depan mereka.


Pak Hadi pun turun dan membuka bagasi untuk memasukkan belanjaan. Kini Fany dan Ardhi pun juga masuk ke dalam mobil dan pak Hadi mengemudikan mobilnya ke hotel tempatnya menginap.


"Pak nanti belanjaannya biar di dalam bagasi aja ya." ucap Ardhi.


"Baik mas." ucap pak Hadi.


Sengaja agar tidak mondar-mandir membawa belanjaan. Karena besok disaat ia pulang juga akan diantar pak Hadi pula.


Karena perjalanan menuju hotel tidak jauh , maka mereka pun dengan cepat sudah sampai.


"Pak terimakasih banyak ya hari ini. Sampai ketemu besok ya pak." ucap Ardhi dengan ramah pada pak Hadi.


"Iya mas , sama-sama. Selamat beristirahat dan selamat malam saya pamit pulang dulu ya mas." ucap pak Hadi dengan suaranya yang khas orang Jogja.


Pak Hadi pun pulang , lalu Ardhi dan Fany pun juga masuk ke dalam hotel.


"Sayang , mau mandi lagi nggak?" ucap Fany dengan tenang pada Ardhi yang sedang minum air mineral.


"Enggak ah." ucap Ardhi yang kemudian berjalan ke arah tempat tidur.


"Dia cuek banget deh , masa sih gitu aja ngambek? Marah beneran , ih padahal gue kan cuma asal ngomong aja mau kuliah di Harvard. Percaya amat sih? Emang segitu gak maunya ya kalo gue tinggal pergi? Ya ampun calon suami gue kalo udah bucin kebangetan deh." ucap Fany di depan cermin kamar mandi dengan senyum-senyum tak jelas.


Setelah selesai dari kamar mandi , lalu ia pun keluar lagi. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Ardhi yang sudah tidur dengan posisi tengkurap.


"Tidur tuh ganti baju dulu." ucap Fany sembari menarik tangannya agar bangun.


"Apa sih." ucap Ardhi yang terdengar malas tanpa merubah posisinya sedikit pun.


"Kamu bersih-bersih dulu kek , ganti baju , cuci muka atau gimana gitu. Langsung main merem aja." ucap Fany yang kemudian menarik-narik lengan Ardhi lagi.


Ardhi pun akhirnya terbangun dan duduk ditepi ranjang. Matanya menatap kedua mata Fany dengan tatapan yang datar.


"Kenapa?" tanya Fany dengan gayanya yang sok polos.


"Ck , bikin semangat aku ilang aja!" ucap Ardhi dengan masam dan bergegas ke dalam kamar mandi.


"Mampus gue , beneran marah tuh orang." ucap Fany dengan menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal.


"Heh , ngapain bengong disitu? Ambilin bajuku di dalam koper." ucap Ardhi memerintahnya dan sukses membuat Fany kaget.


Ada-ada saja cowok itu , kenapa tidak mengambilnya sendiri?


"Yang mana?" ucap Fany bertanya.


"Terserah." ucap Ardhi dengan singkat.


"Ini aja." ucap Fany sembari melangkah kedepan pintu menyerahkan pakaian di tangannya.


Tak disangka , Ardhi menarik baju beserta tangannya pula. Fany membulatkan matanya seketika saat ia melihat dada bidang yang terpampang di depan matanya. Dan beruntungnya ia bisa berpegangan pada pintu.


"Lepasin! Lepasin! Ih gak mau! Lepas!" ucap Fany berteriak sembari berusaha melepaskan tangannya. Karena Ardhi menariknya dengan erat , Fany pun semakin takut dan akhirnya ia menggigit lengan lelaki itu.


"Auuuhhh aduh , gila main gigit aja! Sakit tauk!" ucap Ardhi dengan menahan sakit akibat gigitan Fany di lengannya.


"Bodo'amat , rasain tuh!" ucap Fany sembari menutup pintu kamar mandi.


"Main tarik-tarik aja , sakit tauk! Ih sampe merah lagi! Emang dasar mesum tuh cowok!" ucap Fany sembari mengusap-usap pergelangan tangannya yang memerah dan terasa sedikit panas.


Beberapa menit kemudian , pintu kamar mandi terbuka dan memperlihatkan lelaki itu yang sudah memakai baju tidurnya.


Fany tengah berdiri di dekat jendela sembari melihat pemandangan luar. Ia bingung sendiri sekarang karena lelaki itu sepertinya benar-benar kesal padanya. Terlihat jelas dari raut wajahnya yang tampak datar. Dan sekarang pun ia sudah kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur tanpa menghiraukannya.


"Tidur! Besok pagi kita pulang." ucap Ardhi dengan meliriknya sesaat lalu kembali memejamkan matanya lagi.

__ADS_1


"Pulang?" ucap Fany memastikan.


"Kerjaan numpuk." ucap Ardhi datar yang membuat Fany harus mendekatinya. Fany pun naik ke atas ranjang.


"Eumm sayang kok udah mau pulang sih , padahal aku masih pengen disini loh... Pengen ke candi Borobudur dulu." ucap Fany sembari menarik-narik lengan Ardhi.


Jujur saja , dalam hati Ardhi benar-benar tak bisa menahan. Ingin rasanya ia menerkamnya saat ini juga. Mengingat gadis itu sedang merayunya dengan kata-kata sayang yang sama sekali tak pernah ia ucapkan. Sungguh , menggemaskan sekali dan sangat menguji kekuatan imannya.


"Bisa diem gak sih? Aku mau tidur." ucap Ardhi dengan menatapnya sesaat.


"Kamu kenapa sih marah mulu? Gara-gara aku mau kuliah di luar negeri?" ucap Fany dengan duduk bersila di samping Ardhi yang tengah tidur.


"Kamu yang kenapa bukan aku." ucap Ardhi dengan malas sembari menatap Fany.


"Ya kan aku pergi karena mau selesaiin pendidikan. Emang salah?" ucap Fany dengan sengaja memancing emosi lelaki itu lebih dalam.


Ardhi pun bangun dari tidurnya dan duduk menghadap Fany.


"Enggak ada yang salah. Cuma gak nyangka aja kamu mau ninggalin aku." ucap Ardhi dengan menatap wajah Fany yang terlihat tenang.


Fany pun menggigit bibir bawahnya melihat calon suaminya yang sepertinya memang sedang menahan kekesalannya.


"Ya gimana ya? Aku..." ucap Fany dengan sengaja menggantung ucapannya.


"Oke deh , terserah kamu aja kalo mau lanjut kuliah. Tapi sebelum kamu pergi , kita harus nikah dulu. Titik. Gak usah ngebantah!" ucap Ardhi dengan tegas dan kembali merebahkan tubuhnya.


"Ih dasar , kenapa sih cowok tuh hobi banget maksa-maksa." ucap Fany dengan menatap Ardhi yang tengah memejamkan matanya.


"Aku nggak maksa. Tapi kamu udah bilang dari dulu kalo udah lulus mau nikah. Terus kenapa sekarang malah mau lanjut lagi? Tau gak kenapa aku marah? Karena aku kecewa sama kamu!" ucap Ardhi sembari menatapnya kesal.


"Astaga , kamu tuh emang polos banget ya." ucap Fany yang kemudian tiba-tiba tubuhnya ditarik.


Sedetik kemudian , Fany sudah terbaring dan Ardhi mengunci kedua tangannya.


'Yahh , kena gue! Mau diapain nih gue ntar?' ucap Fany dalam hati.


"Gak usah remehin aku , aku nggak sepolos yang kamu pikirkan. Dan apa kamu pikir aku akan percaya sama omongan kamu? Enggak sayang , karena kenyataannya kamu nggak akan pernah pergi dari sampingku. Percayalah , hanya Tuhan dan maut yang akan memisahkan kita." ucap Ardhi dengan tersenyum lalu mengecup dahi mulus Fany.


"Terus... Kenapa kamu marah-marah beneran?" tanya Fany sembari menatapnya dengan tatapan polosnya.


"Ya karena aku pengen kamu manggil aku sayang lah. Kan kamu setahun sekali mungkin manggil aku sayang." ucap Ardhi dengan tenang.


Ardhi tak mau membuang kesempatan yang ada. Langsung saja ia mencium bibir manis itu dengan penuh rasa sayang. Tak ada penolakan dari gadis yang berada di bawahnya itu , dengan senang hati ia pun semakin memperdalam ciumannya.


Mungkin karena gadis itu sudah kehabisan nafas , ia mencoba melepaskan tangan halusnya yang di kunci. Fany berusaha mendorong dada Ardhi untuk menyudahinya ciumannya.


"Sayang... Udah dong. Nggak boleh sekarang!" ucap Fany sembari menahan tangan Ardhi yang ingin membuka piyamanya di dadanya.


"Tapi , pengen... Sekali aja." ucap Ardhi memohon.


"Enggak ya enggak. Besok lah katanya kita mau Roma." ucap Fany.


"Oh gitu. Ya udah deh sekarang kita tidur aja." ucap Ardhi yang kemudian merebahkan tubuhnya di samping Fany.


Ardhi menarik selimut tebal itu dan menutupi tubuhnya dan juga tubuh Fany. Kemudian ia memeluk Fany seakan memeluk sebuah guling.


"Tapi aku besok pengen ke Borobudur , kita kesana dulu ya. Abis itu langsung pulang deh." ucap Fany merengek seperti anak kecil.


"Hem..." Ardhi hanya berdehem menanggapi ocehan gadis itu.


"Ayolah , mau ya... Please." ucap Fany sembari menarik-narik baju di lengan Ardhi.


"Cium dulu sama panggil sayang. Cepetan!" ucap Ardhi dengan tersenyum yang kemudian memejamkan matanya.


"Apa sih pake gituan segala deh!" ucap Fany protes.


"Ya udah kalo gak mau , besok pagi aku pulang sendiri deh." ucap Ardhi dengan santainya lalu tertidur.


"Ihh nggak mau! Kamu kok gitu sih!" ucap Fany dengan memanyunkan bibirnya.


"Ya lagian suruh manggil sayang sama cium doang gak mau emang apa susahnya sih? Sama calon suami gitu amat! Besok kalo mau ke sana ya udah sendiri aja. Aku mau pulang." ucap Ardhi dengan melepas pelukannya di tubuh Fany dan tidur membelakanginya.


Fany merasa dirinya harus mengalah. Baru kali ini lelaki itu membuat dirinya harus melakukan sesuatu yang baginya sulit.


Fany pun membalikkan tubuh Ardhi sampai miring menghadapnya. Lelaki itu tetap saja memejamkan matanya.


"Iya udah sayang , tapi besok beneran masih jalan-jalan disini ya." ucap Fany yang kemudian mengecup bibir lelaki itu.


Namun belum sempat ia menyudahinya , Ardhi menahannya lebih dulu dan kini ia sukses menggulingkan tubuhnya. Ia berada di posisi favoritnya dimana ia bisa menguasai gadis itu dibawahnya dengan sempurna.


Tak terlalu lama , Ardhi pun menyudahinya dan mengecup kedua pipi serta kening Fany dengan lembut. Lalu Ardhi kembali berbaring di samping Fany dengan memiringkan tubuhnya menghadap gadis itu.


"Iya sayang , sekarang kita tidur. Besok kita jalan-jalan ke tempat yang kamu mau." ucap Ardhi dengan tenang sembari merapikan rambut Fany yang berantakan di dahinya.


"Beneran ya. Makasih sayang." ucap Fany yang kemudian menyembunyikan wajahnya di dada laki-laki itu.


Ardhi tersenyum melihat tingkah gadis itu. Dengan tenang , tangannya pun bergerak mengusap-usap kepala Fany lembut sampai tanpa sadar akhirnya ia juga ikut tertidur.


❤️


❤️


❤️

__ADS_1


❤️


❤️l.a.f🌻❤️


__ADS_2