
Hari ini , Fany ada pelajaran tambahan di sekolahnya. Ia pun harus pulang sore pukul 16.00. Padahal ia sudah menyusun rencana manis di dalam kepalanya untuk menjemput kekasihnya di bandara dengan tepat waktu. Namum ia justru ada tambahan pelajaran yang sukses menggagalkan rencana itu.
Kini Fany bersama dengan Zahra dan Airin menuju kantin untuk makan siang mengisi perutnya yang sudah lapar sejak tadi. Setelah memesan makanan minuman , mereka bertiga duduk di meja paling pojok. Mereka bercanda tawa sebelum pesanan datang.
Tak lupa , Fany mengirim pesan singkat kepada kekasihnya bahwa ia tak bisa menjemput di bandara. Ia juga menjelaskan alasan padanya mengapa ia tak bisa menjemputnya. Dan Ardhi pun tak mempermasalahkan itu , baginya sekolah itu memang lebih penting.
Dari kejauhan , terlihat Rifki memasuki kantin dan memesan makanan juga minuman. Zahra yang memperhatikan kedatangan Rifki tersebut akhirnya melambaikan tangannya agar Rifki ikut bergabung di mejanya. Dan Rifki pun tersenyum mengangguk mengiyakan ajakan Zahra.
Di satu sisi , Fany tampak fokus pada layar ponselnya. Ia sedang berusaha sebisa mungkin untuk mengalihkan perhatian dari Rifki yang kini sedang melangkah menuju mejanya. Dan sialnya , Rifki duduk didepannya pula.
"Mampus gue! Mampus! Tuh orang ngapain harus ikut duduk di sini sih!" Ucap Fany dalam hati.
"Hai , apa kabar kalian?" Sapa Rifki dengan ramah.
"Baik , Lo sendiri gimana?" ucap Zahra dan berbalik bertanya.
"Baik juga. Kalian udah pada pesen makan?" tanya Rifki.
"Udah dong , bentar lagi juga dateng makanannya." ucap Zahra.
"Nah itu dia makanan kita dateng. Eh Fany , lu dari tadi sibuk mulu sama tuh hp. Makan noh , katanya lu laper!" ucap Airin sembari menepuk pundak Fany pelan.
"Iya iya gue tau , ah bawel lu!" ucap Fany dengan meletakkan hpnya di meja lalu mengaduk-aduk makanan yang ia pesan.
Sebelum mulai makan , Fany berniat meraih minum yang berada di tengah meja. Namun entah sengaja atau memang kebetulan , minuman yang ia pesan itu sama dengan minuman yang dipesan Rifki. Dan sialnya lagi , kedua telapak tangan Fany dan Rifki saling bertemu. Lebih tepatnya tangan Fany berada dalam genggaman tangan Rifki.
Sontak keduanya saling tatap lalu Fany yang kini wajahnya mulai salah tingkah menarik tangannya dengan cepat. Kedua sahabat Fany yaitu Airin dan Zahra memandang Fany dan Rifki bergantian.
"Kalian kenapa?" ucap Zahra pada Fany lalu memandang Rifki pula.
"Eh maaf ya Fany , nggak sengaja aku tadi nggak tau kalo kamu mau ambil yang ini juga. Sorry ya." ucap Rifki yang tanpa sadar menyebut panggilan 'aku kamu' untuk Fany.
Fany sukses membelalakkan matanya mendengar Rifki mengucapkan panggilan 'aku kamu' di depan kedua sahabatnya. Begitu pula dengan Zahra dan Airin yang juga kaget mendengar ucapan Rifki.
"Mampus gue! Dasar cowok gila ngomong gak dipikir dulu , gak tau tempat banget sih!" ucap Fany dalam hati meruntukki kebodohan Rifki.
"Apa-apaan ini barusan? Aku kamu ... Hahaha..." ucap Zahra yang kemudian tertawa sambil menatap wajah Fany dan Rifki bergantian.
"Ada apa ya ? Kok gue ngerasa sesuatu yang berbeda deh disini... Emm apa yah..." ucap Airin dengan tersenyum-senyum menggoda Fany dan Rifki.
"Lu pada aneh banget sih! Jadi kenyang gue!" ucap Fany dengan meraih ponselnya lalu berdiri dan berlalu pergi.
"Waittt lu mau kemana , makanan lu masih utuh tau!" ucap Rifki yang dengan cepat berdiri dan meraih pergelangan tangan Fany untuk menahannya agar tidak pergi.
"Eh apa-apaan sih lu! Lepasin tangan gue dan jangan pernah sentuh gue!" ucap Fany tegas dengan tatapan tidak suka terpancar dari kedua matanya.
"Fany lu kenapa sih jadi aneh gini?" ucap Zahra yang ikut berdiri dan memandang Fany yang baginya kini ada keanehan yang tersembunyi padanya.
"Gue gak apa-apa. Gue pergi dulu." ucap Fany yang kini bingung sendiri dengan perasaannya. Ia memilih pergi dari hadapan mereka. Ia ingin sendiri. Ia tak mau berada di dekat laki-laki itu. Ia takut sesuatu yang buruk terjadi.
"Fany aneh ah , Rin kenapa sih dia?" ucap Zahra pada Airin yang juga bingung.
"Ya mana gue tau Zahra , tadi dia baik-baik aja kok sekarang berubah gitu ya gue gak ngerti lah." ucap Airin dan ia menatap Rifki.
"Apa lu lihatin gue gitu?" ucap Rifki yang menyadari tatapan Airin tertuju padanya.
"Lu apain Fany? Dia tadi bilang sama lu kalo lu gak boleh sentuh dia lagi. Emangnya kalian ada apa sih? Jangan-jangan..." ucap Airin menggantungkan ucapannya.
"Jangan-jangan apa? Gausah mikir aneh-aneh deh lu kalo gatau apa-apa tentang gue!" ucap Rifki yang kemudian dengan santainya ia meminum minuman yang ia pesan tadi.
"Eh lu tau kan kalo Fany udah punya pacar? Jangan-jangan lu suka sama Fany ya?" ucap Zahra dengan menatap wajah Rifki. Namun Rifki memasang wajah biasa saja.
"Gue tau itu. Kalian kenapa sih pengen tau banget urusan orang. Makan tuh makanan kasian di kacangin mulu!" ucap Rifki yang mulai makan makanannya dengan tenang.
"Lu itu yah ganteng-ganteng tapi nyebelin tau gak! Orang gue seriusan nanyanya!" ucap Zahra dengan kesal namun kemudian menyendok makanan didepannya.
"Apa? Baru nyadar ya? Gue emang udah ganteng dari lahir tauk!" ucapan Rifki membuat kedua gadis itu memutar bola matanya dengan malas. Namun dapat diakui pula bahwa Rifki itu memang benar-benar tampan.
"Ada aja manusia model gini , over PD tauk lu itu!" ucap Airin dan fokus melanjutkan makan.
...----------------...
Dengan cepat langkahnya terus melangkah menjauh dari kantin menuju taman disamping sekolah. Sesampainya di taman , ia duduk di kursi putih panjang dan menatap langit biru yang sedang cerah-cerahnya.
Entahlah ia seperti sedang bingung memikirkan sesuatu. Tapi apa dia pun tak tahu. Fany menatap layar ponselnya , sepuluh menit lagi bel yang menandakan jam istirahat selesai akan berbunyi.
Fany duduk sendirian tanpa siapapun. Taman tampak sepi hanya ada beberapa orang saja yang mungkin juga sedang mencari ketenangan.
Rifki. Nama itu terus mengusik pikirannya. Fany takut Rifki akan berbuat macam-macam dengannya. Dan itu artinya ia pun takut pula suatu saat Ardhi mengetahui permasalahannya dengan Rifki. Ia tak mau terjadi kesalahpahaman.
Fany sangat mencintai Ardhi. Seseorang yang begitu lama ia tunggu dan selalu ia rindukan setiap waktu. Ia benar-benar menyayangi dan bersyukur karena Tuhan mempertemukannya dengan pujaan hatinya itu. Sangat beruntung karena penantiannya tidak sia-sia begitu saja.
__ADS_1
"Fany..." ucapan seseorang itu membuyarkan lamunan Fany. Fany menoleh kesamping dan disitulah terdapat Rifki berdiri menatapnya.
Fany membuang muka dan tak melirik Rifki lagi. Tanpa menunggu persetujuan , Rifki ikut duduk disamping Fany yang tengah terduduk.
Fany masih diam.
"Sorry , aku bener-bener minta maaf soal tadi. Maafin aku ya..." ucap Rifki dengan tenang dan menatap wajah Fany berharap ada reaksi darinya. Namun Fany tak kunjung berbicara juga.
"Aku janji nggak akan ulangin lagi kok. Maafin aku ya..." ucapan Rifki membuat Fany merasa bosan.
"Fany... Ayolah , jangan diem aja." ucap Rifki dengan sabar.
"Oke gue maafin." ucap Fany dengan ekspresi wajah datar sambil berdiri dan bersiap pergi kalau saja Rifki tak menahannya lagi.
Fany terhenti didepan Rifki yang tengah terduduk. Rifki menggenggam pergelangan tangan Fany dan berdiri disampingnya.
Fany muak dengan ini. Namun ia ingin tau apa yang akan Rifki lakukan padanya.
"Fany , kamu masih marah sama aku?" ucapan Rifki membuat Fany tak bergeming. Fany tetap diam.
"Fany , please izinin aku seperti dulu. Aku janji nggak akan..." ucapan Rifki terpotong oleh jawaban Fany sebelum Rifki menyelesaikan ucapannya.
"Cukup Rif! Gue nggak bisa dan ngga akan pernah bisa biarin itu terjadi. Menjauhlah dari gue , itu akan lebih baik buat lu. Jangan menyiksa diri lu sendiri. Gue gak mau lu ada di dekat gue karena gue gak mau ngecewain lu lagi. Semakin lu deket sama gue , semakin sulit lu menghapus rasa cinta lu ke gue. Gue gak mau nyakitin lu karena gue gak bisa membalas cinta lu. Jadi cukup Rif , jangan seperti ini." ucap Fany panjang lebar yang membuat Rifki nampak terpaku mendengarnya.
"Aku benar-benar sudah tidak punya tempat di hati kamu? Sedikit aja mungkin?" ucapan Rifki dengan hati-hati itu mendapat sebuah senyuman dibibir Fany.
"Sayangnya , dihati gue sudah tidak ada tempat lagi untuk orang lain. Maaf sekali lagi..." ucap Fany membuang muka.
"Aku akan berusaha lagi demi kamu sayang..." ucap Rifki yang kini di ambang keputusan asaan. Rifki benar-benar merasa jika Fany itu adalah perempuan yang tak pernah tergantikan di dalam hatinya.
"Gue gak peduli. Gue udah peringati lu berkali-kali. Terserah lu!" ucap Fany dengan menghempaskan tangannya yang sedari tadi berada pada cekalan Rifki. Fany dengan terburu-buru berlalu pergi meninggalkan taman dan kembali menuju kelas sebelum bel berbunyi.
Disamping itu , ada seseorang yang sedari tadi mengawasi mereka berdua. Dia tersenyum mengingat betapa bodohnya lelaki yang tanpa tahu putus asa itu berusaha mendapatkan cinta dari seorang yang sudah dimiliki oleh orang lain.
Reza. Ya , Reza berjalan dengan santainya menghampiri Rifki yang masih berdiri di taman dengan tatapan penuh berfikir.
Rifki sendiri belum mengenal dengan jauh siapa Reza ini.
"Jadi lu mantannya Fany?" ucap Reza begitu sampai di belakang Rifki. Rifki kaget dengan kehadiran Reza yang langsung to the point menanyakan hal itu yang tidak seorang pun tahu di sekolah ini.
"Lu siapa?" tanya Rifki bingung dengan menatap Reza.
"Lu pacar Fany?" ucap Rifki dengan mengabaikan uluran tangan Reza. Reza pun menarik kembali tangannya dengan tersenyum.
"Gue udah bilang , gue sahabat Fany bukan pacarnya. Fany itu udah gue anggep sebagai adik gue sendiri di sekolah maupun di luar." ucap Reza dengan tenang.
'Fany bilang dihatinya udah gak ada tempat buat orang lain. Itu berarti dia emang udah punya pacar. Tapi kalau bukan Reza ini , siapa dong?' ucap Rifki dalam hati.
"Sorry gue tadi gak sengaja denger kalian lagi ngobrol. Gue gak mau ikut campur sih sebenarnya , tapi karena Fany itu sahabat gue yang paling gue sayangi jadi gue cuma mau bilang sama lu. Jangan macem-macem sama dia. Selama lu belum masuk sekolah ini , dia baik-baik aja gak ada beban yang membuat dia tertekan seperti sekarang. Tapi setelah ada lu , dia jadi kayak ketakutan gitu. Aneh tau gak. Jadi akan lebih baik kalau lu menjauh dari dia." ucap Reza yang membuat Rifki terdiam lagi. Rifki tak tahu harus bagaimana.
"Gue nggak bisa lupain dia." ucap Rifki dengan lirih.
"Gue pernah di posisi lu kayak gini. Ingat , kalau lu mencintainya lu harus bisa relain dia untuk mencari kebahagiaannya sendiri. Meski lu bakal sakit melihat dia dengan orang lain. Dan yakin aja , lu pasti dapet seseorang yang juga mencintai lu dengan tulus." ucap Reza sambil menepuk bahu Rifki pelan.
Ditengah-tengah obrolan kedua cowok tampan disekolah itu , tiba-tiba bel tanda istirahat selesai itu berbunyi nyaring. Para siswa siswi pun kembali kedalam ruang kelas untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar yang selanjutnya.
......................
Malam tiba. Jam menunjukkan pukul 19.00 wib. Fany masih terdiam di meja belajarnya. Ia baru saja menyelesaikan tugas dari sekolah. Kedua orang tuanya belum pulang dari kantor membuat Fany kesepian.
Fany juga menunggu kabar dari kekasihnya yang belum juga memberikan pesan atau telpon. Pesan singkat yang ia kirimkan juga belum terbaca.
Tak lama kemudian , ponselnya menampilkan notif yang menandakan adanya pesan singkat masuk.
"Nak jangan lupa makan ya , mama sama papa ada lembur di kantor nanti pulang jam 10 malam." Itulah pesan dari Mama Vina.
"Gue kira Ardhi , dia kemana sih? Kok nggak ngabarin gue..." ucap Fany dengan memanyunkan bibirnya. Lalu Fany membalas pesan dari mamanya itu.
Fany bangkit dari kursi belajarnya dan melangkah menuju ranjang. Ia merebahkan tubuhnya dengan malas. Ia merindukan Ardhi. Ia ingin bertemu.
Tiba-tiba terdengar nada dering panggilan masuk di ponselnya yang membuatnya kaget. Karena hampir saja ia tertidur. Fany berjalan menuju meja belajar untuk mengambil ponselnya dan menjawab panggilan masuk itu.
Betapa senangnya ia menerima panggilan itu. Karena itu dari sang kekasih yang dirindukannya. Fany pun kembali ke ranjang dan menjawab panggilan itu.
"Hai Sayang..." ucap Ardhi duluan.
"Iya sayang..." jawab Fany.
"Maaf ya aku baru kasih kabar , aku baru sampai nih..." ucap Ardhi.
"Loh katanya udah sore tadi pulangnya? Emang kamu kemana aja?" ucap Fany dengan heran.
__ADS_1
"Aku nggak kemana-mana sayang... Marah ya? Jangan marah dong sayang..." ucap Ardhi dengan tenang.
"Enggak kok aku nggak marah." ucap Fany.
"Kamu nggak sibuk kan?" tanya Ardhi.
"Enggak. Kenapa?" ucap Fany.
"Coba kamu ke balkon kamar kamu trus kamu lihat keluar deh." ucap Ardhi dengan tersenyum diseberang sana.
"Apaan emang?" tanya Fany yang masih berada di ranjang.
"Udah cepetan kamu lihat ke bawah." ucap Ardhi yang membuat Fany bingung.
"Iya iya bentar." ucap Fany sembari turun dari ranjang dan berjalan menuju balkon kamarnya.
Betapa terkejutnya Fany begitu ia melihat ke bawah. Didepan rumahnya tepat kini terdapat sebuah mobil terparkir dan didepan mobil itu berdirilah seseorang yang berada di dalam telpon itu.
Ya , Ardhi kini sedang tersenyum sembari memandang ke atas kearah kamar Fany dengan ponsel yang masih menempel di telinga.
"Itu beneran kamu?" ucap Fany.
"Emang siapa lagi kalo bukan aku sayang?" ucap Ardhi.
"Yaudah tungguin aku keluar." ucap Fany dengan tersenyum.
"Enggak , kamu siap-siap dulu trus kita langsung jalan. Aku mau ajakin kamu jalan malam ini." ucap Ardhi.
"Tapi kamu nggak masuk rumah dulu?" ucap Fany.
"Gampang lah nanti aku masuk sendiri aja hehehe..." ucap Ardhi dengan tawanya.
"Hemm ya deh terserah kamu aja. Ya udah aku siap-siap bentar ya." ucap Fany dengan memutuskan sambungan telepon secara sepihak dan itu membuat Ardhi tersenyum.
Ardhi masih setia menunggu Fany di depan mobilnya. Ia merindukan kekasihnya itu. Ia selalu berdoa kepada Tuhan untuk selalu bisa membuat kekasihnya itu bahagia.
Sepuluh menit berlalu , Ardhi memandang pintu rumah besar milik keluarga Fany. Dengan langkah kecilnya , Fany kembali menutup pintu dan berjalan menghampiri Ardhi.
"Kenapa gak masuk dulu? Katanya tadi kamu mau kerumah..." ocehan Fany begitu sampai dihadapan Ardhi.
Dengan gemas , Ardhi mencubit kedua pipi Fany yang membuat si empunya pipi kaget.
"Ehh sakit tauk , lepas..." ucap Fany dengan mengelus pipinya.
Ardhi tertawa melihatnya.
"Lagian kamu tuh aneh aja , tau pacarnya dateng bukannya nanya kabar gitu..." ucap Ardhi dengan memandang Fany yang masih mengelus pipinya.
"Gimana kabarnya? Kayaknya baik-baik aja sih... Ya kan? Kalau nggak baik-baik aja nggak mungkin sampai sini malem-malem gini..." ucap Fany dengan tersenyum.
"Kamu itu bisa aja sih! Tau nggak , aku tuh kangen sama kamu. Makanya aku bela-belain kesini." ucap Ardhi dengan mengacak puncak kepala Fany.
"Kangen ya? Sama sih..." ucap Fany dengan tersenyum malu.
"Dasar cewek! Yaudah ayok kita pergi makan dulu nanti abis makan baru jalan-jalan." ucap Ardhi dengan tersenyum sambil menggenggam jemari Fany.
"Yaudah ayok..." ucap Fany dengan senang hati.
Mereka berdua pun masuk ke mobil. Mereka melajukan mobilnya menuju sebuah restauran untuk makan malam berdua.
Selesainya makan malam, Ardhi mengajak Fany jalan-jalan untuk mengobati rasa rindunya setelah beberapa hari tidak bertemu.
Sepanjang perjalanan yang mereka lalui , Ardhi tak pernah melepaskan jemari Fany agar tetap berada didalam genggamannya.
Ah , malam itu malam yang menyenangkan. Bercanda tawa bersama dan bercerita.
Entah Fany maupun Ardhi saling bersyukur dalam hati karena kebahagiaan ini.
Kenyamanan adalah hal utama dalam sebuah hubungan. Karena cinta dan kasih sayang itu akan tumbuh dengan sendirinya seiring waktu berjalan.
❤️
❤️
❤️
❤️
❣️l.a.f.story❣️
😊
__ADS_1