
Perayaan perpisahan kelulusan menjadi moment yang paling ditunggu-tunggu oleh para siswa siswi. Wajah-wajah bahagia tampak terpancar dari sudut-sudut sekolah. Acara kelulusan itu diisi dengan berbagai pentas seni dari adik-adik kelas mereka.
Ada pula yang membaca puisi perpisahan yang teramat sedih yang membuat menangis. Kenangan-kenangan pahit dan manis di masa SMA yang sangat berkesan menjadi bekal mereka untuk masa depan dan menjadi kisah yang tak pernah terlupakan.
Banyak para cewek-cewek merayakan bersama kekasih karena mereka satu angkatan. Banyak pula para kekasih dari luar sekolah yang hadir menemui pujaan hatinya memberikan selamat dan bunga-bunga yang cantik.
Dan Fany hanya bisa tersenyum melihat para teman-temannya berbahagia. Ia ingin kekasihnya datang , namun apa ada ia tak mau merepotkan orang yang ia cintai. Ardhi pun juga sudah memberitahu jika ada meeting penting di kantornya.
Acara perpisahan itu selesai pada pukul 15.00wib. Semua siswa siswi pun pulang ke rumah masing-masing karena lelah.
Fany masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya. Memasuki rumah hanya ada bibinya karena mama papanya sedang keluar kota.
Fany ketiduran satu jam dan terbangun di kala ia tersadar mendengar ketukan di pintu kamarnya. Dengan malas , ia bangun tanpa peduli seragam sekolahnya serta rambut panjangnya berantakan karena bangun tidur. Ia pun sempoyongan menuju pintu.
Fany membuka pintu dan betapa kagetnya ia melihat sosok didepannya sedang tersenyum memandangnya. Fany mengucek-ucek kedua matanya tampak tak percaya.
Ardhi berdiri didepan pintu melihat sang empunya kamar tertegun karenanya. Kemudian ia mengusapkan tangannya di kepala Fany.
"Kok bisa ada disini?" Tanya Fany dengan heran.
"Udah lah gak usah kaget gitu. Tadi aku didepan , bibi nyariin kamu tapi bibi gak berani bangunin kamu. Trus aku disuruh ke sini sendiri." ucap Ardhi melihat Fany masih heran.
"Kabarin dulu kali tadi tuh." ucap Fany.
"Mana handphone kamu? Coba kamu cek berapa kali aku telpon kamu? Berapa chat aku yang nggak kamu baca?" Ucap Ardhi membuat Fany bingung harus menjawab apa. Fany pun hanya mundur perlahan dan masuk ke kamar membiarkan Ardhi berdiri di tempat.
Fany berdiri di samping ranjang kesayangannya sambil mengecek ponselnya. Dan benar saja , ada tujuh kali panggilan tak terjawab dan juga ada sepuluh pesan whatsApp yang belum ia baca.
Ardhi masuk ke dalam kamar dan memperhatikan kekasihnya.
"Udah gak apa-apa sayang. Itu kancing baju kamu benerin dulu. Kebuka tuh..." Ucap Ardhi dengan tersenyum santai menatap wajah Fany.
Dengan cepat Fany pun memutar badan dan membelakangi Ardhi. Fany menundukkan kepalanya melihat bahwa memang benar kancing bajunya yang atas terlepas satu. Ia mengelus dadanya bersyukur karena dadanya masih terbilang cukup aman.
Ardhi pun menyilangkan kedua tangannya di dadanya dan menatap Fany.
"Abis ngapain kamu tadi? Sama siapa?" Pertanyaan Ardhi benar-benar membuat Fany tak habis pikir.
Belum sempat Fany mengancingkan bajunya , ia kembali menoleh karena ucapan Ardhi yang sembarangan.
"Apa kamu bilang? Maksud kamu apa coba bilang kayak gitu? Hah?" ucap Fany sambil memukul-mukul dada Ardhi karena tak terima.
"Eh eh enggak sayang enggak gitu... Udah dong..." ucap Ardhi dengan terkekeh melihat kekasihnya marah. Ia pun berusaha memegang kedua tangan Fany agar berhenti memukulnya.
"Kamu tuh nyebelin banget yah jadi orang! Ngapain juga kamu lihat-lihat , dasar mesum!" ucap Fany dengan mengancingkan kancing bajunya yang tadi terlepas.
Melihat itu Ardhi memegang kedua bahu Fany. Fany pun menatapnya panik.
"Kamu suka banget yah bilang kalo aku mesum? Emang mesum itu menurut kamu kayak gimana sih? Kayak yang tadi karena aku lihat dada kamu? Iya iya aku tadi udah lihat. Tapi itu bukan salahku ya, bukan aku yang buka kancing baju kamu sayang." ucap Ardhi dengan tenang yang membuat Fany terdiam sesaat.
"I-iya iya aku tau." ucap Fany tak berani menatap Ardhi karena merutukki kelalaiannya sendiri dan betapa malunya ia. Ia berpikir mungkin otak lelaki dihadapannya itu sedang traveling.
Tiba-tiba Ardhi mendekatkan wajahnya ke dekat telinga Fany , dapat ia lihat kini Fany terpaku terdiam membisu dan menutup matanya.
"Sayang , satu jam lagi aku mau ajak kamu pergi , kamu cepetan siap-siap aku tunggu di taman." ucap Ardhi ditelinga Fany. Suara itu benar-benar membuat Fany merinding seketika.
Fany langsung membuka matanya dan merasakan laki-laki itu mencium pipinya secepat kilat. Dilihatnya , Ardhi tersenyum manis melihat wajah cantik Fany tampak merona.
"Cantiknya calon istriku... Tapi sayang masih bau , mandi sana cepetan." ucap Ardhi yang membuat Fany menatapnya tajam.
"Udah ah kamu keluar sana!" ucap Fany tanpa basa-basi langsung menarik lengan Ardhi untuk keluar dari dalam kamarnya. Setelah Ardhi berada di luar pintu , Fany cepat-cepat menutup pintu lengkap dengan menguncinya pula.
"Yah ampun sayang , harus di kunci segala ya?" ucap Ardhi dari luar pintu namun masih terdengar oleh telinga Fany.
"Jaga-jaga aja ntar bahaya kalo gak dikunci!" Teriak Fany dari dalam.
"Iya ya udah cepetan sayang jangan lama-lama!" Ucap Ardhi yang kemudian turun ke lantai bawah menuju taman.
Ia terduduk di kursi taman dan tampak terdiam sesaat.
'Astaga , hampir aja. Untung gua tetep sadar.' ucap Ardhi dalam hati saat otaknya tiba-tiba terlintas bayangan ketika di kamar tadi. Perempuan yang sangat ia cintai hampir saja membuat ia hilang kendali.
Ardhi pun mengusap wajahnya dan tersenyum sesaat. Ia melihat gitar di sudut taman yang tampak nganggur , Ardhi pun meraihnya lalu memainkan dengan bernyanyi.
...----------------...
Bima tampak keluar dari ruang kerjanya. Ia berjalan dan melewati ruang kerja Aera. Terlihat dari kaca , Aera kini sedang fokus pada layar komputer di hadapannya. Bima pun masuk tanpa mengetuk pintu karena sekarang sudah waktunya pulang sedangkan Aera masih bekerja.
"Pak Bima? Ada keperluan apa?" tanya Aera saat mengetahui Bima masuk kedalam ruangan kerjanya.
"Nggak ada perlu apa-apa. Kenapa nggak pulang? Mau lembur sampai jam berapa?" ucapan Bima membuat Aera tersenyum kecut dan kembali duduk.
"Emm... Sampai malem kayaknya." Ucap Aera sambil mengetik papan keyboard dengan fasih.
"Emang banyak banget ya?" tanya Bima sambil mendekati meja Aera kemudian duduk di kursi seberangnya.
__ADS_1
"Iya nggak banyak sih pak , cuma karena tadi tertunda meeting aja jadi numpuk." Ucap Aera tanpa memandang Bima.
"Ini malam Minggu loh , yakin mau lembur sendirian di kantor? Kelihatan banget kalo nggak ada yang ngajak jalan." ucap Bima yang membuat Aera memasang muka masam.
Memang semenjak kejadian dimana mereka makan siang berdua , hubungan mereka sampai saat ini terlihat lebih akrab.
Kini Bima pun mendekati Aera dan mendorong kursi sampai di sampingnya.
"Kamu geser aja." ucap Bima sambil menggeser Aera beserta kursi nya.
"Loh pak , pak Bima mau ngapain? Jangan bikin masalah deh ntar gak kelar-kelar nih kerjaan saya." ucap Aera sambil menatap Bima yang sudah duduk menggantikan posisinya.
"Diem aja kamu. Biar cepet selesai nih." Ucap Bima dengan fokus melanjutkan pekerjaan Aera.
"Pak Bima kalau pulang duluan gak apa-apa kok , saya aja yang kerjain ini. Ini kan kerjaan saya. Nanti kalau pak bos tau saya gimana dong? Lagian saya juga nggak buru-buru pulang , nggak ada janji sama siapapun jadi saya lembur aja gak apa-apa pak. Pak... Pak Bima..." ucap Aera dengan panjang lebar yang membuat Bima berhenti mengetik. Bima pun menoleh menatap Aera.
"Saya tau kamu nggak punya janji sama siapapun. Makanya saya bantu kamu biar cepat selesai. Kamu tau karena apa? Karena saya yang mau ajakin kamu jalan nanti. Jadi , kamu cukup diam disitu jangan gangguin saya. Paham kan?" ucapan Bima itu membuat Aera terdiam. Ia tak menyangka Bima akan melakukan hal itu. Mengerjakan tugasnya , dan mengajaknya keluar untuk jalan.
Tanpa sadar , Aera tersenyum kecil memandang Bima yang tengah fokus pada komputer.
'Mimpi apa gua semalem , bisa-bisanya pak Bima jadi kayak gini ke gua? Oh Tuhan terimakasih banyak.' ucap Aera dalam hati.
Tak terasa kini telah satu setengah jam berlalu. Dan Bima sukses membuat Aera tertegun. Bima telah menyelesaikan tugas itu dengan baik.
"Pak Bima hebat banget ya , cepet banget kerjain semua ini." ucap Aera memuji Bima. Bima tersenyum pada Aera dan menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Capek..." ucap Bima tanpa menoleh ke Aera.
"Emm capek ya pak? Mau saya buatkan kopi?" Ucap Aera yang merasa tak enak hati.
"Nggak perlu. Sebagai imbalannya... Kamu harus mau jalan sama saya. Ayok..." ucap Bima sambil berdiri dan mengulurkan tangannya didepan Aera.
"Sekarang pak?" tanya Aera yang membuat Bima melihat jam. Pukul 17.25 wib.
"Iya sekarang. Udah ayo cepetan. Keburu malam. Katanya disini horor lho kalo malem. Ada yang bilang kalau di sini tuh ada..." ucapan Bima terputus ketika tiba-tiba Aera langsung meraih lengannya dan berdiri.
"Udah gak usah diterusin! Ayok kita keluar." Ucap Aera yang kemudian meraih tas serta handphone nya.
Bima tersenyum karena berhasil membuat perempuan itu takut. Mereka berdua pun berjalan dengan bergandengan tangan keluar dari kantor menuju parkiran. Akhirnya mereka akan jalan bersama malam ini.
...----------------...
Di dalam mobil , Fany masih penasaran kemana Ardhi akan membawanya. Dalam balutan dress selutut lengan pendek berwarna biru malam , sepatu flat hitam serta rambut panjangnya yang tergerai bebas. Penampilan memukau itu berhasil membuat Ardhi tak berpaling lagi.
Ardhi tampak tersenyum melirik Fany dan kemudian ia meraih jemari Fany untuk di genggamnya. Ia mengemudikan mobil dengan santai dan tenang.
"Nggak apa-apa sayang aku bisa kok. Tenang aja." ucap Ardhi meyakinkan.
"Nih kamu mau bawa aku pergi kemana sih? Rasanya kok kayak jauh ya..." ucap Fany dengan penasaran.
"Nggak jauh-jauh amat kok . Nanti kamu juga tau sendiri..." ucap Ardhi dengan tersenyum.
Fany kini tampak memandang luar dimana itu adalah pemandangan malam hari di tempat yang belum ia ketahui sebelumnya. Ia pun melirik jam di ponselnya , waktu menunjukkan pukul 18.50 wib.
"Sayang... Kamu diem mulu deh dari tadi , biasanya cerewet banget lho." ucap Ardhi dengan sesekali melirik.
"Gak apa-apa. Emm... Besok kamu ke kantor jam berapa?" tanya Fany dan membuat Ardhi bingung.
"Aku kalo berangkat paling jam 6 , kenapa emang? Mau ikut aku kekantor?" ucap Ardhi.
"Enggak enggak. Yaudah deh nanti kalo pulang anterin ke apartemen kak Irfan aja ya." ucap Fany.
"Loh emang ada apa?" tanya Ardhi.
"Emm itu mau ambil barang ketinggalan kemaren pas aku kesana." ucap Fany.
"Jauh sayang... Besok aja aku bawain ya. Kan apartemen nya sama. Besok biar aku yang ambilin ya." ucap Ardhi yang kemudian membelokkan mobilnya dan berhenti.
"Ya iya sih jauh. Yaudah deh." ucap Fany dengan suara pelan.
"Penting banget ya?" tanya Ardhi dengan memandangnya.
"Ah enggak sayang , enggak kok. Eh kita udah sampai ya?" tanya Fany dengan melihat-lihat luar.
"Iya. Kita udah sampai sayang." ucap Ardhi yang kemudian melepaskan seat belt nya lalu keluar duluan untuk membukakan pintu mobil untuk Fany.
Ardhi menggandeng jemari Fany. Fany pun tampak kebingungan melihat sekeliling yang begitu sepi. Didepan matanya terdapat sebuah bangunan megah dan di kelilingi pagar yang tinggi. Ia merasa ada rasa takut karena ia belum pernah mengetahui tempat ini.
"Kita dimana?" ucap Fany sambil menatap Ardhi dengan muka yang was-was.
"Ayok kita kesana." ucap Ardhi mengajak Fany melangkah.
"Enggak! Aku takut. Ini dimana?" ucap Fany yang kini terlihat tampak tak tenang.
"Takut sama siapa sayang? Aku janji gak akan ngapa-ngapain. Serius." ucap Ardhi dengan tersenyum yang kemudian memegang kedua bahu Fany agar kekasihnya bisa tenang.
__ADS_1
"Bukan takut sama kamunya!" ucap Fany sambil melirik kanan kiri dan belakang. Ardhi pun terlihat bingung dengan sikap Fany.
"Kamu kenapa sih ? Emang takutnya sama siapa kalo bukan sama aku?" ucapan Ardhi itu membuat Fany menatapnya sesaat.
"Disini gak ada hantu kan? Aku takut kalo ada hantu..." Ucap Fany dengan memegang lengan Ardhi.
"Nggak ada hantu sayang... Ah udah lah , kamu ini ada-ada aja. Udah ayok..." ucap Ardhi kemudian merangkul pinggang Fany mengajaknya jalan. Fany pun melangkah mengikuti kemana Ardhi membawanya.
"Ini villa ya? Villa siapa?" Tanya Fany penasaran.
"Iya ini villa. Oh iya , boleh aku tutup mata kamu nggak? Sebentar aja kok." ucap Ardhi yang membuat Fany menatapnya tajam serta menggelengkan kepalanya tanda tak mau.
Bagaimanapun juga Fany tetap takut. Ia kini hanya berdua dengan kekasihnya. Walaupun ia tahu kekasihnya pria yang baik , ia tetap takut karena ia tak pernah tau apa yang akan dilakukannya ketika sedang berdua.
"Aku nggak akan jahatin kamu sayang , aku janji." ucap Ardhi yang sepertinya ia tahu apa yang ada di dalam pikiran Fany. "Sayang... Sebentar aja. Percaya sama aku." ucap Ardhi lagi meyakinkan Fany.
"Ya udah cepetan deh." ucap Fany yang akhirnya mengizinkan matanya ditutup.
"Nah gitu dong sayang... Bentar ya sayang aku tutup dulu." ucap Ardhi dengan tersenyum puas. Namun bagaimanapun juga , tak dapat Fany tutupi rasa takutnya.
"Dah , sekarang pelan-pelan kita jalan sebentar. Yuk aku jagain." ucap Ardhi sembari merangkul bahu Fany dengan tangan kiri nya , sedangkan tangan kanannya untuk membuka daun pintu.
Setelah pintu terbuka , mereka berdua pun masuk. Ardhi masih tetap setia merangkul bahu Fany tatkala tangan kanannya meraih sesuatu. Sesuatu yang sangat spesial telah sudah ia siapkan sebelumnya.
Ardhi tersenyum sesaat.
"Sayang... Sekarang kamu bantu aku buka tutup mata kamu dong..." ucap Ardhi yang kemudian tangan Fany mulai terulur untuk membuka tutup matanya.
Matanya perlahan terbuka , dan yang pertama kali ia lihat adalah kekasihnya yang tersenyum manis tengah membawa buket bunga warna-warni. Ia pun terpukau dengan pemandangan di sekelilingnya. Banyak bunga-bunga yang tampak begitu cantik. Lampu hias bertebaran di mana-mana. Balon berbentuk love juga tersebar diberbagai sudut. Fany kembali menatap Ardhi dengan tersenyum.
"Selamat ya Sayang atas keberhasilan kamu bisa lulus dengan sempurna. Maaf ya tadi aku nggak bisa dateng pas ada acara di sekolah kamu. Jadi aku siapin ini buat kamu. Cuma sederhana tapi semoga kamu suka ya..." ucap Ardhi dengan suaranya yang lembut. Ia pun memberikan buket bunga itu untuk kekasih hatinya.
Fany menerima rangkaian bunga itu dengan hati yang bahagia.
"Makasih ya... Aku suka kok. Suka banget..." Ucap Fany dengan mencium bau wangi yang semerbak dari bunga itu.
"Dan ada satu lagi. Ini spesial buat kamu tapi kamu merem lagi yah." ucap Ardhi memohon dengan tersenyum.
"Emm iya deh." ucap Fany yang kemudian memejamkan matanya.
Lagi-lagi Ardhi kini menyiapkan sesuatu yang sangat spesial untuk Fany.
"Aku hitung sampai tiga kamu buka mata ya. Satu... Dua... Tiga... Buka mata kamu..." ucap Ardhi.
Betapa terkejutnya Fany pada saat itu juga. Ia mendapati kekasihnya menunjukkan sebuah perhiasan cincin didepan matanya. Cincin emas yang berlapis berlian berbentuk love. Sungguh indah luar biasa. Benda kecil yang sangat di inginkan oleh kaum hawa.
"Karena kita udah punya kalung yang sama , jadi aku beri kamu cincin. Ini emang belum seberapa , tapi aku janji besok aku akan kasih semua apa yang kamu mau." ucap Ardhi yang membuat Fany benar-benar merasa sebagai perempuan yang paling beruntung. Malam ini adalah malam yang sangat berkesan untuknya. Sampai-sampai ia bingung harus berkata apa.
"Aku gak nyangka kamu kasih aku hal sesempurna ini..." ucap Fany kehabisan kata-kata. Ardhi pun tersenyum melihatnya.
"Itu karena kamu emang yang terindah buat aku. Yaudah sekarang aku pake-in ya... Eh tapi bunganya aku taroh meja dulu." ucap Ardhi yang kemudian menaruh bunga itu di meja .
Kini Ardhi mengambil cincin itu lalu meraih jemari Fany dan memasangkan cincinnya di jari manis. Benar-benar terlihat sangat cantik. Tak lupa , Ardhi mencium punggung tangan Fany dengan lembut.
Fany melihat cincin itu melingkar di jari manisnya. Sungguh , bahagianya dia.
"Sayang makasih ya buat semuanya , aku bingung harus bilang apa lagi..." ucap Fany yang kemudian langsung memeluk Ardhi. Ardhi pun juga , ia membalas pelukan hangat dari wanita yang dicintainya.
"Nggak perlu bilang apa-apa sayang. Selama kamu tetap ada di sisi aku pun aku udah bersyukur banget. Karena aku yang akan buat kamu selalu bahagia sepanjang hari sampai tua." ucap Ardhi sembari melepas pelukan kemudian tersenyum.
Detak jantung yang sama-sama berdetak tak beraturan pun mereka rasakan. Ardhi kini mendekatkan wajahnya ke wajah Fany. Ia pun mengecup kening Fany dengan lembut.
"Sayang , jangan ada laki-laki lain di dalam hati kamu ya... Aku mencintaimu , dan kamu hanya milikku." ucap Ardhi yang suaranya tepat terdengar ditelinga kirinya.
Fany tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya menganggukkan kepalanya dengan jantung yang berdebar-debar.
Ardhi melanjutkan apa yang ia inginkan. Ia mengecup pipi Fany yang membuat wajahnya merona seketika. Dilihatnya , Fany tampak membiarkan dan mengikuti. Ia pun tersenyum , sesaat kemudian ciumannya berlanjut ke pipi sebelah.
Fany tampak salah tingkah dan bingung harus bagaimana. Tak dapat ia pungkiri , meski ia takut namun jujur saja ia juga senang diperlakukan lembut oleh laki-laki yang dicintainya.
Begitu bahagia perasaan Ardhi saat ini. Ia melihat Fany tersenyum kecil. Tanpa aba-aba , Ardhi mendekat lagi dan merasakan hembusan nafas kekasihnya.
"Sayang..." ucap Ardhi menatap Fany dengan tatapan teduhnya. Fany tak tak tahan lagi dengan tatapan yang terlalu dekat itu , akhirnya ia memejamkan mata. Ia merasakan bibirnya tersentuh dengan pelan dan penuh kelembutan. Ya , Ardhi mencium bibir ranumnya dengan tenang.
Tak terlalu lama , laki-laki itu menyudahi ciumannya. Ia harus mengakhiri karena ia tak mau sesuatu yang buruk akan terjadi. Ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu menjaga wanitanya.
Kini mereka saling memeluk dengan mesra.
"Sayang... Aku sayang banget sama kamu... I love you..." ucap Ardhi dengan tulus sambil memeluknya erat seolah enggan untuk melepaskan.
"I love you too Sayang..." ucap Fany dari dalam pelukan.
❤️
❤️
__ADS_1
❤️
❤️l..a.f❤️