
Tampak dari ufuk barat , langit senja sangat menawan. Rasa lelahnya benar-benar terasa seolah mumukul-mukul punggungnya. Namun ia tak pernah menyerah. Ada hati yang harus ia temui saat ini juga.
Bel rumah berbunyi dua kali. Menandakan bahwa ada seseorang yang datang. Pintu pun di buka oleh sang art dirumah itu.
Begitu pintu terbuka , tamu itu memberikan isyarat kepada art itu untuk diam tak bersuara apapun. Art pun hanya tersenyum dan mengangguk mengerti.
"Bi , mama papa ada di rumah enggak ?" ucap lelaki itu dengan suara seolah berbisik.
"Enggak ada tuan. Ada urusan di luar kota , baru tadi pagi berangkat." ucap bibi dengan suara yang lirih.
"Kalau putrinya ada di mana ?" ucapnya lagi.
"Ada tuan. Dari tadi ada di kamar mulu." ucap bibi.
"Aku boleh naik kesana bi?" ucapnya.
"Oh boleh dong tuan. Silahkan." ucap bibi dengan tersenyum.
Pintu tertutup kembali. Bibi pun kembali ke belakang karena ia tadi tengah mencuci.
Pintu yang tertutup rapat itu ia ketuk-ketuk tiga kali. Namun dari dalam tidak ada suara apapun. Lalu , ia mengulang ketukan pintu lagi.
"Siapa ?" ucap seseorang dari dalam kamar. Suara yang biasa ia dengar itu kini terdengar seperti tidak bersemangat.
Tak lama kemudian , pintu terbuka. Betapa kagetnya gadis itu kala melihat siapa yang tengah berdiri di depan pintu kamarnya.
Tak terduga , gadis itu menutup pintu kembali dengan kencang.
"Kok di tutup lagi?" ucap seseorang itu pada dirinya sendiri.
"Sayang..." ucap lelaki itu dengan suara tenangnya.
Pintu pun terbuka kembali , muncul juga gadis itu dengan wajah lebih tenang.
"Kamu kenapa pulang gak bilang-bilang?" ucap Fany dengan wajah ketus.
"Kalau aku bilang , nggak lucu dong." ucap Ardhi dengan tersenyum. "Ini buat kamu. Kemaren aku juga sempatin beli sesuatu." ucap Ardhi lagi dengan memberikan buket bunga dan paper bag kepada Fany.
"Emm... Makasih." ucap Fany dengan tersenyum sembari menerima pemberian lelaki itu.
"Salam balik dari mama buat kamu. Mama kangen banget sama kamu loh." ucap Ardhi dengan mengelus kening Fany.
"Oh ya? Aku juga kangen." ucap Fany dengan tersenyum.
"Kamu nggak kangen aku gitu?" ucap Ardhi dengan menatap wajah Fany.
"Enggak sih. Biasa aja." ucap Fany dengan tenang yang kemudian masuk ke dalam kamar meletakkan pemberian Ardhi itu ke atas meja , lalu ia kembali lagi.
"Ya udah kalau gitu. Aku pulang dulu ya." ucap Ardhi dengan tenang namun sukses membuat Fany kaget.
"Pulang?" ucap Fany yang tidak percaya.
Ardhi hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Kok pulang?" ucap Fany dengan tatapan mata yang tak bisa bohong.
"Kenapa? Enggak boleh?" tanya Ardhi.
"Ya udah nggak apa-apa kalau mau pulang , kamu mungkin capek jadi kamu perlu istirahat kan." ucap Fany dengan tenang.
Lelaki itu sebenarnya menahan perasaannya yang kesal. Ia membuang nafas berat.
Baru saja lelaki itu ingin berbalik untuk pergi , namun seketika ia urungkan niatnya. Lelaki itu benar-benar tak mampu menahan rasa rindunya.
Ditariknya gadis itu masuk kedalam kamar dan menutup pintu. Tampak lelaki itu kini meraih tubuh gadis yang sangat ia rindukan lalu memeluknya erat-erat.
"Aku kangen banget sama kamu." ucap Ardhi tepat di depan telinga Fany lengkap dengan suaranya yang candu disaat berucap seperti ini.
Fany merasa tenang. Hatinya kembali menghangat. Ia tersenyum meski lelaki itu tidak bisa melihat senyumannya.
"Sayang..." ucap Ardhi memanggilnya tanpa melepaskan pelukannya.
"Iya , ada apa ?" ucap Fany dengan tenang.
"Aku kangen." ucap Ardhi lagi tanpa melepaskan pelukannya.
Fany hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Ardhi melepas pelukan dan menatap wajah Fany yang tampak begitu tenang.
"Kamu nggak kayak biasanya. Kenapa sih sayang ?" ucap Ardhi dengan selembut mungkin mengatur nada bicaranya.
"Aku enggak apa-apa. Aku baik-baik aja kok." ucap Fany dengan tenang.
"Enggak. Aku tau gimana perasaan kamu." ucap Ardhi.
"Aku cuma nggak nyangka aja kamu pulang lebih cepat. Urusan kamu beneran udah selesai ?" ucap Fany dengan menatap mata Ardhi.
"Kamu nggak perlu pikirin dia lagi. Dia nggak akan ganggu kita." ucap Ardhi dengan tersenyum.
"Ya itu pasti karena mungkin dia udah puas nikmati hari yang indah sama kamu. Iya kan ?" ucap Fany dengan tersenyum.
"Kamu jangan mikir kalau aku ngelakuin yang enggak-enggak sama dia. Aku nggak kayak gitu. Kamu tau aku." ucap Ardhi dengan wajah yang terlihat serius.
"Nggak ada yang gak mungkin kan." ucap Fany dengan tenangnya.
__ADS_1
"Percaya sama aku sayang , aku nggak ngapa-ngapain disana." ucap Ardhi dengan sabar.
"Kalau kamu nggak ngapa-ngapain , kamu sibuk apa ? Kenapa nggak sempat kasih kabar ke aku?" ucap Fany dengan menatap wajah Ardhi.
"Sayang , ayolah jangan kayak gini. Kemaren aku cuma nemenin dia ke taman sakura trus ke pantai. Aku nggak sadar kalau handphone aku lowbat. Nggak ada tempat buat charger." ucap Ardhi menjelaskan meskipun ada sesuatu yang ia tutupi.
"Aku antar dia pulang ke apartemennya. Trus karena udah malem kalau mau ke rumah papa , aku tidur di hotel. Malem aku keluar kan , dan ternyata ketemu sama temen yang hpnya aku pinjam buat telpon kamu semalem itu." ucap Ardhi dengan tersenyum dan jujur saja ia sangat membenci dirinya sendiri karena sudah berbohong.
"Udah ya sayang jangan ngambek lagi , aku tuh masih utuh tau nggak kurang satupun." ucap Ardhi dengan tersenyum.
"Apaan sih , siapa yang ngambek ? Aku cuma kesel aja kamu kayak bodo'amat gitu ke aku." ucap Fany tanpa ekspresi.
"Ah sayang , enggak gitu. Maafin aku ya. Oh iya , nanti ikut aku ya? Harus mau gak boleh nolak." ucap Ardhi dengan santai.
"Kemana ?" ucap Fany.
"Singapore. Cuma 3 hari aja. Aku ada kerjaan disana dan kamu bisa liburan sepuasnya. Gimana ?" ucap Ardhi dengan tersenyum sembari berharap gadis itu akan mengatakan iya.
"Gimana ya , aku ada janji sama temen-temen." ucap Fany.
"Janji apa emang , di tunda dulu lah sayang. Ikut aku aja dulu." ucap Ardhi dengan memohon.
"Janji mau ke salon sama mall." ucap Fany dengan tenang.
"Ya ampun sayang , besok kalau udah pulang dari Singapore aja ya. Please..." ucap Ardhi dengan wajahnya yang lucu.
"Aku bilang dulu sama temen-temen." ucap Fany.
"Oke sayang." ucap Ardhi dengan tersenyum.
"Kapan berangkat ?" tanya Fany sembari mengetik pesan untuk sahabatnya.
"Nanti jam tujuh. Kan malam bisa istirahat , paginya aku ada kerjaan." ucap Ardhi sembari duduk di tepi ranjang.
"Kamu kerja , trus aku ngapain ?" ucap Fany dengan heran sembari menatap wajah Ardhi.
Fany pun melihat , kini lelaki itu tampak mengeluarkan dompetnya.
"Ini buat kamu. Kamu bawa sendiri aja ya , kalau kamu mau beli apa-apa kamu tinggal bayar. PIN nya udah aku ganti jadi tanggal tunangan kita." ucap Ardhi dengan tersenyum manis sembari memberikan black card kepada Fany.
"Enggak mau." ucap Fany yang tak percaya dengan apa yang diberikan oleh lelaki itu. Kartu yang isinya tak terbatas.
"Kok enggak mau ? Enggak apa-apa sayang ini buat kamu. Kamu mau beli apapun terserah. Apa yang kamu suka , beli aja. Kamu kan tau aku kadang sibuk di kantor. Jadi ini mending kamu yang pegang. Biar lebih mudah." ucap Ardhi dengan santai.
"Dan besok kalau aku kerja , kamu bisa belanja. Kalau aku udah pulang , kita jalan-jalan berdua. Jadi ini kamu aja yang bawa." ucap Ardhi dengan tersenyum.
"Iya oke makasih, tapi jangan marah kalau isinya habis." ucap Fany dengan menerima kartu pemberian lelaki itu.
Ardhi tampak tersenyum mendengar ucapan tunangannya itu. Entahlah , gadis itu sangat menggemaskan sekali.
"Ngaco aja ngomong udah kemana-mana. Anggap suami istri , gak mau lah nikah aja belum." ucap Fany sembari duduk di sofa untuk menyimpan Black card itu kedalam dompetnya.
Ardhi menatapnya dengan tersenyum. Kemudian ia melangkah mendekati Fany lalu duduk di sampingnya.
"Kamu kenapa bisa cantik banget gini sih ? Padahal kamu lagi gak pakai bedak." ucap Ardhi dengan heran sembari menatap wajah mulus Fany.
"Apaan sih , biasa aja kok." ucap Fany.
"Beneran sayang , nih cantiknya nggak luntur loh." ucap Ardhi sembari mencubit pelan kedua pipi Fany.
"Ya ampun aku gak mungkin pake susuk loh ya." ucap Fany dengan santainya.
"Ada aja kamu." ucap Ardhi sembari melingkarkan tangannya di bahu Fany.
"Lagian kamu aneh banget nanya kayak gitu." ucap Fany.
"Iya habis kamu sesempurna ini sih." ucap Ardhi dengan tersenyum.
"Apa sih , kamu gak usah lebay deh." ucap Fany dengan menatap wajah Ardhi , ia pun justru mulai merasa salah tingkah sendiri. "Jangan dekat-dekat." ucap Fany sembari mengulurkan tangannya untuk mendorong dada Ardhi. Namun ternyata , tangan mungilnya di pegang oleh lelaki itu dan ditahannya.
Tangan di bahu itu memudahkan Ardhi untuk mencoba merengkuh tubuh gadis itu dan menepis jarak yang ada. Lelaki itu tersenyum menatap wajah cantik di hadapannya yang selalu menggoyahkan imannya.
Tak mau membuang waktu dan kesempatan yang ada , lelaki itu memberikan kecupan singkat tepat di bibirnya. Fany terdiam tak menolak. Ia tau , lelaki itu merindukan moment ini. Begitupun dirinya.
Ardhi tersenyum , ia bahagia dengan respon baik tunangannya ini. Ia pun mengulurkan tangannya untuk menahan tengkuk Fany dan kembali mengecup bibir ranum itu untuk waktu yang lebih lama lagi.
Rasanya jauh lebih menggairahkan berciuman dengan tunangannya sendiri dibandingkan dengan Yuna. Entahlah , ia rasa Fany adalah candu untuknya. Tidak ada yang semanis ini selain sang calon istri.
Fany mencoba mendorong tubuh Ardhi agar menyudahi ciuman yang dilakukannya. Perlahan lelaki itu mengakhiri ciumannya yang sebenarnya masih terasa menarik hatinya. Tak cukup sampai disitu , agar lebih lengkap Ardhi pun mengecup pipi dan kening dengan lembut.
Usai itu , Ardhi meraih jemari Fany. Lelaki itu pun mengecup punggung tangan tunangannya tersebut.
"Meskipun cincin ini sangat indah , aku selalu berdoa. Semoga secepatnya aku bisa mengganti cincin ini dengan cincin pernikahan yang jauh lebih indah." ucap Ardhi dengan tersenyum.
"Sabar aja , nggak perlu buru-buru juga." ucap Fany dengan tenang.
"Sayang , kalau kita kayak gini terus , dosa kita tambah banyak tauk. Aku juga gak yakin bisa menahan rasa..." ucap Ardhi terhenti karena mulutnya di bekap oleh telapak tangan Fany.
"Udah cukup sayang. Kita nggak mungkin berbuat yang enggak-enggak. Kecuali kamu yang mulai duluan. Itu berarti kamu yang banyak dosa." ucap Fany dengan tenang.
"Itu juga gara-gara kamu." ucap Ardhi dengan wajah datarnya.
"Gak usah gitu juga kali mukanya." ucap Fany dengan santai.
__ADS_1
"Sayang... Kamu gak ngerti apa yang aku rasain." ucap Ardhi dengan mengeluh.
"Terus ? Aku harus gimana emang ?" ucap Fany.
"Kapan kamu siap aku nikahin ? " ucap Ardhi dengan menatap Fany.
"Aku harus wisuda dulu sayang." ucap Fany dengan tersenyum.
"Kalau wisuda udah selesai , kita nikah ya." ucap Ardhi dengan tersenyum pula.
"Iya kita lihat keadaan besok lah ya." ucap Fany dengan tenang. 'Jujur , aku juga menunggu hari bahagia itu. Aku akan sangat bersyukur di nikahi kamu , lelaki yang baik , yang ngerti caranya memperlakukan wanita sesungguhnya, penuh perhatian dan tanggung jawab. Kamu lelaki yang paling tampan , lelaki hebatku. Sabar ya sayang.' ucap Fany dalam hati yang kemudian tersenyum.
"Ya udah gak apa-apa. Kamu siap-siap packing barang sekarang aja , trus ikut ke apartemenku. Kita berangkat dari sana sekalian." ucap Ardhi memberi saran namun juga berharap.
"Tapi kan..." ucap Fany terjeda.
"Tinggal sekitar satu setengah jam lagi kita terbang , nanti sekalian bantuin aku packing barang-barang juga. Mau ya..." ucap Ardhi dengan memohon.
"Aku izin dulu deh sama mama papa." ucap Fany yang hendak mengambil ponselnya.
"Aku udah minta izin sayang. Mana berani aku ajak kamu kalau nggak bilang mama papa dulu. Papa tuh udah izinin aku mau bawa kamu kemana aja." ucap Ardhi dengan tersenyum puas.
"Seriusan?" ucap Fany dengan tatapan mata yang tak percaya.
"Ngapain aku bohong , serius lah. Udah ayo kamu kemasin barang bawaan kamu." ucap Ardhi dengan tenang.
"Kok bisa sih papa kasih izin semudah itu ? Astaga!" ucap Fany sembari bergegas menuju ruang ganti. Fany pun tampak heran dengan kedua orang tuanya. Percaya sekali dengan lelaki ini.
"Sayang gak boleh gitu , orang tua kamu itu percaya sama aku ya karena aku itu emang anak baik-baik." ucap Ardhi yang tengah membela dirinya sendiri sembari mengikuti langkah Fany.
"Eh ngapain masuk ? Gak boleh. Ini ruangan khusus cewek dan cowok gak boleh kesini." ucap Fany yang tampak menghadang Ardhi di ambang pintu.
"Astaga sayang , aku calon suami kamu." ucap Ardhi dengan gemas.
"Sama aja. Belum waktunya dan kamu gak boleh lihat ruangan ini. Ini terlarang buat mata cowok." ucap Fany yang tetap bersikeras tak mau lelaki itu memasuki ruangan pribadinya.
"Cewek emang banyak teka-teki yang disimpan ya. Oke kalau gitu aku tunggu kamu di bawah." ucap Ardhi yang kemudian tanpa aba-aba langsung mengecup bibir ranum itu dengan cepat.
Fany yang kaget oleh serangan tiba-tiba itu hanya terdiam.
"Aku tunggu di bawah , jangan lama-lama. Sepuluh menit dari sekarang harus udah turun." ucap Ardhi dengan tersenyum yang kemudian pergi meninggalkan kamar Fany.
"Nyebelin ih! Tapi kenapa aku deg-degan mulu sih , padahal kan dia cium aku udah sering. Ah dasar cowok emang seenaknya doang." ucap Fany dengan mengelus dadanya.
.
.
.
Sementara di ruang tamu , Ardhi terlihat mengotak-atik ponselnya. Lalu ia menghubungi Bima.
"Iya halo." ucap Bima.
"Udah siap kan tiketnya ? Jam berapa ntar?" tanya Ardhi.
"Udah siap semua kok , ntar terbang jam tujuh." jawabnya.
"Oh ya Bim , lu nanti langsung ke bandara aja." ucap Ardhi.
"Iya gue tau. Gimana ntar jadi kan bawa tunangan lu?" ucap Bima.
"Jadi dong. Ya udah , lu siapin dokumen buat besok ya." ucap Ardhi dengan santai.
"Ini udah selesai. Tinggal packing barang bawaan gue." ucap Bima.
"Oke bagus lah. Ya udah gue ada urusan." ucap Ardhi yang kemudian memutuskan telpon sepihak.
Ia tampak memandang jam di pergelangan tangannya , terhitung sudah delapan menit berlalu. Gadis itu belum juga keluar dari kamar.
Ardhi pun menyandarkan punggungnya pada sofa dan memejamkan matanya. Namun saja ia dikagetkan oleh suara Fany dari atas.
"Sayang!" ucap Fany memanggil.
"Ada apa ?" tanya Ardhi dengan memandang gadis di lantai atas itu.
"Sini..." ucap Fany dengan melambaikan tangan.
Ardhi tersenyum sembari melangkahkan kakinya menaiki anak tangga.
"Ada apa sayang ?" ucap Ardhi setelah sampai di atas.
"Tolong bantu turunin koper. Aku takut kepleset." ucap Fany dengan tenang.
"Oke , sini aku bantuin." ucap Ardhi dengan tersenyum.
Gadis itu tersenyum menatap lelaki itu yang mulai menuruni anak tangga sembari membawa koper miliknya.
❤️
❤️
❤️
__ADS_1
❤️
❤️l.a.f🌻❤️