
Awal yang buruk. Itulah yang dipikirkan oleh Rifki. Mungkin kali ini ia benar-benar harus dengan cara lain. Ia harus menjaga sikapnya dan lebih berhati-hati lagi untuk melakukan sesuatu. Ia takut akan benar-benar selamanya tak bisa melihat orang yang ia cintai.
Kini Rifki berada di sebuah apartemen pribadinya. Ia sebenarnya tinggal di rumah keluarganya yang tak jauh dari sini. Namun ia lebih memilih sendiri. Ia lebih suka ketenangan. Baginya sama saja di rumah maupun di apartemen. Karena setiap harinya orang tuanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Selama lulus SMP , ia memang melanjutkan sekolahnya di luar kota karena mengikuti orang tuanya pergi untuk menyelesaikan pekerjaan. Dan kini ia yang tengah kelas tiga SMA yang harus pindah lagi karena lagi-lagi pekerjaan orang tuanya yang berada disini.
Rifki masuk ke SMA ini benar-benar tidak pernah menyangka bahwa ia akan kembali bertemu dengan masa lalunya. Ia benar-benar tak pernah tahu jika Fany ternyata bersekolah di sini. Dan usahanya untuk melupakan Fany seketika runtuh hancur berantakan ketika ia melihat wajah Fany yang semakin cantik kini ada didepannya.
Rasa ingin memiliki itu entah mengapa hadir kembali. Perempuan itu sudah sukses membuat hatinya berantakan dan tak beraturan. Dan entahlah karena hal itu ia terlalu terobsesi untuk mendapatkannya.
"Kenapa gue nggak bisa lupa sama lo?! Kenapa gue nggak bisa melihat dan nerima cewek lain di hati gue? Kenapa cuma Lo yang selalu gue pikirin?" ucap Rifki dengan frustasi saat berada di balkon kamarnya sembari menikmati keindahan malam.
Melupakan seseorang yang sangat di cintai itu memang tak mudah. Berusaha bagaimana pun caranya itu belum tentu berhasil. Ia mungkin bisa pergi meninggalkan semua , tapi didalam hati tetaplah selalu ada. Bukan tentang apapun , tapi rasa itu selalu ada dan akan tetap selalu ada.
Terkadang , ia selalu memaksakan hatinya untuk mengubur dalam-dalam perasaan itu. Tapi ia selalu gagal. Itu sangat berat baginya untuk ia lakukan. Ia sebenarnya sudah lelah dengan perasaannya. Ia serasa ingin pergi , namun hatinya lagi-lagi memaksa untuk kembali.
"Apa gue harus menderita terus kayak gini seumur hidup gue?" ucap Rifki dengan mengeluh.
Ia yang tengah berdiri di balkon kamarnya , ia menikmati udara malam dan menutup matanya sejenak. Lalu ia masuk kedalam kamar dan duduk di meja belajarnya dengan memperhatikan layar laptopnya.
...----------------...
Seusai makan malam bersama kedua orangtuanya ,Fany naik ke kamarnya. Fany menyibakkan tirai di jendela kamarnya. Ia memandang keluar melihat beribu bintang dan lampu kota. Pandangannya menerawang jauh kedepan. Pikirannya entah lah sedang fokus pada apa. Ia mengirim pesan singkat kepada kekasihnya , namun kini sampai pukul sembilan malam belum juga ada balasan. Ia pun kembali termenung , ia merindukannya.
Sore tadi kedua orang tua Ardhi beserta kakaknya sudah sampai di kediaman. Dan besok sore Ardhi pun juga sudah pulang dari luar kota. Ia sudah tak sabar ingin segera bertemu. Entah lah , ia sangat menyayangi dan mencintainya. Rasanya menahan rindu itu memang susah.
Fany menutup jendela dan merapatkan tirai itu kemudian melangkahkan kakinya menuju ranjang. Ia merebahkan tubuhnya dan ia mencoba merilekskan pikirannya yang terasa penat sekali karena kejadian hari ini. Tak berapa lama , ia pun sudah terlelap.
Fany tengah tertidur , namun ia nampak tak bisa tidur dengan nyenyak. Ia selalu merasa gelisah dalam tidurnya. Lalu tiba-tiba ponselnya yang berada di atas meja belajarnya berdering menandakan adanya panggilan telpon masuk. Kemudian ia membuka matanya perlahan , ia melirik jam dinding yang ternyata sudah pukul dua puluh dua lewat tiga puluh menit.
Dengan susah payah ia bangun dari tidurnya dan beranjak menuju meja belajarnya. Dilihatnya panggilan video call itu sudah berakhir. Fany duduk di kursi dan menyalakan lampu belajarnya. Lalu ia mencoba menelpon kembali karena ia sangat merindukan dirinya.
Tak butuh waktu lama , panggilannya pun dengan cepat terjawab. Layar ponselnya menampakkan seseorang yang sedang ia rindukan. Ardhi sedang tersenyum memandangnya sembari terduduk dan bersandar di atas ranjang.
"Hai Sayang... Aku kira kamu udah tidur. Maaf ya baru sempat kasih kabar. Aku baru pulang." ucap Ardhi dengan tersenyum namun menyembunyikan rasa lelahnya.
"Iya Sayang , nggak apa-apa kok." ucap Fany dengan tersenyum.
"Kamu kenapa belum tidur?" ucap Ardhi.
"Hem aku tadi udah tidur tapi kebangun soalnya handphone nya bunyi." ucap Fany.
"Oh maaf ya kalau aku gangguin kamu tidur. Ya udah kamu lanjut tidur lagi aja, besok malah kesiangan." ucap Ardhi disana.
"Nggak apa-apa kok , nanti aja. Aku kangen. Kamu kapan pulang?" ucap Fany dengan bertopang dagu.
"Aku juga kangen banget sama kamu. Sabar ya Sayang besok sore aku udah sampai situ kok." ucap Ardhi dengan tersenyum manis. Andai saja ia berada di samping gadisnya itu , ia ingin sekali memeluknya dengan erat dan mencium keningnya seperti biasanya.
__ADS_1
"Rasanya kayak lama banget ya kamu pergi." ucap Fany yang semakin rindu.
"Masa sih? Kangen banget ya sama aku hehehe..." ucap Ardhi dengan terkekeh lalu tersenyum , ia benar-benar gemas sekali melihat wajah manja kekasihnya itu.
"Kok kamu gitu sih! Kamu nyebelin , cowok mah di kangenin tapi gak pernah peka!" ucap Fany dengan kesal.
"Hehehe... Sayang kamu bikin aku gak bisa tidur nanti. Kalau seandainya aku ada disitu , udah pasti aku bakal peluk kamu dan gak akan aku lepasin. Aku tuh disini sibuk kerja biar cepet selesai trus balik lagi kesitu. Untuk apa aku lama-lama disini tapi yang selalu aku perjuangin ada disitu?" ucap Ardhi dengan tenang.
"Ya udah deh , kalau gitu kamu tidur sana. Kamu pasti capek banget kan? Biar besok pagi nggak kesiangan juga." ucap Fany dengan tersenyum.
"Eh bentar deh , kamu kenapa sih Sayang? Dari tadi aku perhatiin kok kayak ada yang beda. Kamu lagi mikirin apa? Lagi ada masalah ya?" ucap Ardhi yang membuat Fany menatap ke arah layar.
"Ah nggak kok , aku nggak apa-apa Sayang." ucap Fany dengan tenang dan tersenyum.
"Hemm... Kalau lagi ada sesuatu yang ganggu kamu , kamu bisa cerita semua itu ke aku. Aku emang sibuk. Tapi buat kamu , aku akan tetap berusaha untuk selalu ada. Aku sayang sama kamu dan aku nggak mau terjadi sesuatu yang buruk sama kamu." ucap Ardhi dengan tenang dan tatapan mata yang penuh keseriusan.
"Iya aku ngerti Sayang. Makasih ya buat semuanya. Tapi aku sekarang lagi nggak kenapa-kenapa. Aku cuma mikirin kamu , aku cuma kangen aja sama kamu. Udah itu aja." ucap Fany dengan tatapan mata polosnya dan membuat Ardhi tersenyum.
"Iya Sayang , aku janji aku akan segera pulang dan nemuin kamu secepatnya. Dan besok lagi kalau aku ada tugas jauh , aku gak mau tau pokoknya kamu harus ikut aku aja." ucapan Ardhi itu sukses membuat Fany membelalakkan matanya.
"Apa! Kenapa harus ikut?" tanya Fany dengan heran.
"Iya lah kamu harus ikut. Aku gak bisa tenang kalau ninggalin kamu gitu aja. Aku kayak nggak bisa jauh dari kamu. Jadi lebih baik kamu harus aku bawa." ucap Ardhi dengan tersenyum manis.
"Nggak perlu segitunya kali! Mana bisa aku ninggalin sekolahku? Sembarangan aja kamu." ucap Fany dengan memanyunkan bibirnya.
"Nggak ah , ntar kamu malah jadi ngapa-ngapain aku!" ucap Fany bergidik ngeri.
"Kamu udah jadi milik aku ya , ingat itu!" ucap Ardhi dengan tersenyum.
"Aku baru jadi pacar loh ya!" ucap Fany dengan tenang.
"Ya tapi kamu kan calon istri aku." ucap Ardhi dengan tersenyum.
"Masih calon ya! Belum sah dan aku masih sekolah." ucap Fany dengan tersenyum puas.
"Emang bener ya , debat sama bini itu mau tujuh hari tujuh malem pun gak bakal kelar juga. Dan aku percaya itu sekarang." ucap Ardhi dengan santai dan tersenyum menahan tawanya.
Fany hanya memanyunkan bibirnya melihat kekasihnya menahan tawanya karena dirinya itu.
"Gak usah manyun gitu bibirnya , minta dicium ya? Hah?" ucap Ardhi yang lagi-lagi membuat Fany ingin menonjok nya seandainya Ardhi ada di depannya.
"Dasar cowok! Bisanya bikin darah tinggi aja!" ucap Fany dengan raut wajah seolah-olah sangat kesal.
"Salah siapa kamu nggak mau ngalah?" ucap Ardhi dengan santai.
"Yang salah siapa!" ucap Fany dengan menatapnya tajam.
__ADS_1
"Iya aku udah tau kalo cewek itu paling benar dan selamanya akan tetap selalu benar. Iya kan nona?" ucapan Ardhi dengan tersenyum dan hal itu membuat Fany bingung .
"Terserah apa kata kamu aja deh. Aku ngantuk mau tidur lagi aja." ucap Fany sambil menguap dan menutup mulutnya.
"Sayang sebentar dong , aku masih kangen tau! Kamu nggak kangen sama aku ya? Atau jangan-jangan kamu disitu ada cowok lain ya?!" ucap Ardhi yang tadinya terdengar suara manjanya , langsung berubah menjadi tajam.
"Hah?" Ucap Fany kaget dengan ucapan Ardhi barusan itu.
"Kenapa bengong? Bener ya apa yang aku ucapin?" ucap Ardhi masih menatap.
"Ngomong apa sih , klo ngomong yang penting aja dong. Buang-buang tenaga aku aja!" ucap Fany dengan santainya.
"Aku serius Sayang...!" ucap Ardhi.
"Emangnya aku kelihatan kalo bohong ya?" ucap Fany balik bertanya.
"Iya!" ucap Ardhi singkat dengan tatapan mata fokus pada Fany.
"Ah masa sih? Tapi gue gak bohong kok!" ucap Fany dengan polosnya.
"Sejak kapan kamu ganti panggilan jadi Lo gue gini?" ucap Ardhi dengan heran.
"Astaga aku lupa hehe... Ah udah lah ya , besok lagi kita telpon. Aku udah ngantuk beneran nih." ucap Fany yang terlihat lucu dan membuat Ardhi ingin tertawa namun ditahannya.
"Hemm... Iya iya deh sayang , ya udah kamu tidur yang nyenyak ya. Jangan lupa mimpi'in aku." ucap Ardhi dengan tersenyum manis.
"Iya , aku bakal bawa senyuman kamu ke mimpiku nanti. Ya udah kamu juga tidur ya , biar besok ngga kesiangan bangunnya." ucap Fany dengan tersenyum pula.
"Siap ibu negara yang terhormat." ucap Ardhi dengan tersenyum dan sedikit terkekeh geli dengan ucapannya sendiri.
"Bucin kamu!" ucap Fany yang kemudian langsung memutuskan sambungan video call nya secara sepihak.
Fany tersenyum seorang diri menatap bingkai foto berisi dirinya dan kekasihnya itu terpampang jelas di depan mata.
"Gue masih gak nyangka aja , kenapa gue sama Lo bisa pacaran ya? Padahal kita kan sahabatan walau tertunda waktu yang cukup lama. Untung perasaan kita sama , coba kalo cuma gue doang. Lah mampus gue makan hati mulu tiap hari pas lihat Lo di deketin cewek lain!" ucap Fany dengan senyum-senyum tak jelas sembari mengusap-usap foto di bingkai itu.
"Ah udah , gak tidur-tidur gue kalo gue kebanyakan mikir mulu nih!" ucap Fany sembari meletakkan foto itu ke tempat semula dan berdiri. Ia melangkahkan kakinya menuju ranjang kesayangannya dan membaringkan tubuhnya lalu menarik selimut tebalnya.
Dan tak lama kemudian , ia pun dengan cepat terlelap.
❤️
❤️
❤️
❤️
__ADS_1
❣️❣️❣️