
"Apa? Papa nggak pernah ngajarin kamu jadi anak nakal Rifki! Kenapa kamu malah melakukan itu! Udah papa bilang berulang kali , kalo kamu mencintai anak orang itu dijaga baik-baik dulu. Akan ada waktunya sendiri untuk itu. Kenapa kamu melanggar semua omongan papa?!" ucap om Harris , papanya Rifki.
Kedua orang tua Rifki shock seketika disaat mereka mendengar bawa putra semata wayangnya itu minta menikah.
"Maafin Rifki pa , emang semua ini salah aku. Tapi aku serius pa , aku mau nikah sama dia secepatnya." ucap Rifki dengan tenang.
Rifki sebenarnya pun juga takut , tapi ia berusaha setenang mungkin dan terlihat santai di depan kedua orang tuanya. Itu semua ia lakukan agar Laura tidak semakin takut.
Ya , pagi ini Rifki membawa Laura ke rumah orangtuanya. Rifki akan berkata sejujurnya kepada mereka.
Kini , Laura benar-benar merasa takut melihat kedua orang tua Rifki kaget itu. Ia pun meneteskan air mata yang sudah tak bisa ia tahan saking takutnya.
Tante Stevia , mama Rifki itu bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Laura. Ia pun duduk disamping Laura. Dengan tenang , Tante Stevia mengusap lembut kedua bahu Laura.
"Kamu jangan menangis nak. Tante yakin kamu perempuan yang baik. Tante juga udah kenal kamu kok. Tenang dulu sayang." ucap Tante Stevia sembari membawa tubuh Laura ke dalam pelukannya.
Hati Laura menghangat. Ada rasa nyaman disana. Ia benar-benar berharap calon mertuanya itu akan menerimanya dengan lapang dada.
"Udah berapa lama kalian pacaran?" tanya om Harris dengan suara yang sudah mulai tenang.
"Udah dua tahun lebih pa , mungkin hampir tiga tahunlah." ucap Rifki dengan gaya bicaranya yang santai.
"Untung aja sebentar lagi kalian lulus. Dan sekarang sudah berapa minggu dia mengandung anakmu?" ucap om Harris pada Rifki.
Rifki pun tersenyum sembari menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal.
"Belum lama kok pa. Seminggu atau dua minggu mungkin." ucap Rifki sembari melirik Laura yang masih bersandar pada mamahnya.
Jujur saja , Rifki senang dengan perlakuan mamahnya itu. Ia memang sudah yakin jika sang mama akan menerima kehadiran Laura dengan senang hati.
"Kamu ini , emang anak nakal kalo udah sama cewek." ucap Tante Stevia pada putranya.
"Ya gimana , namanya juga cinta." ucap Rifki tanpa ada rasa bersalahnya sedikitpun.
"Lebih baik kalian harus menikah secepatnya." ucap om Harris.
"Iya pa. Aku tau dan aku siap kok." ucap Rifki.
"Kalau sudah menikah , kamu harus kerja. Ingat , kamu harus bisa menggantikan posisi papa." ucap om Harris.
"Iya lah pa kerja , kalo gak kerja anak istri aku mau aku kasih makan apa?" ucap Rifki yang membuat Laura heran.
Laura meluruskan duduknya dan menatap lelaki yang benar-benar keterlaluan itu. Masalah besar seperti ini tapi cara menyikapinya seperti itu? Sungguh anak yang nakal.
"Kalo gitu , sekarang kita ke rumah orangtuanya Laura aja. Kita bahas masalah ini biar cepat selesai. Dan kamu , siap-siap aja kalo nanti kamu digebukin. Papa gak akan nolongin!" ucap on Harris pada putranya yang terlihat selalu tenang.
"Iya deh pa. Aku siap kok." ucap Rifki.
"Om Tante , maaf ya. Kita udah bikin masalah besar." ucap Laura pada Tante Stevia dan Om Harris.
"Nah kan. Harusnya anak itu yang minta maaf , bukan kamu nak. Yang paling salah itu dia! Sembarangan aja mainin anak orang. Tapi mama sebenarnya bersyukur sih sama kalian. Karena biasanya , banyak lelaki yang nggak bertanggung jawab terus lari. Dan yang milih gugurkan kandungan juga banyak. Tapi kalian milih jalan yang benar dengan bertanggung jawab dan menjaga calon anak kalian. Mama benar-benar senang kalian berdua jujur." ucap Tante Stevia dengan tersenyum.
"Itu karena aku sama dia emang anak yang baik-baik ma. Cuma sayangnya aku terlanjur bikin satu kesalahan aja." ucap Rifki dengan tersenyum.
"Ck , awas aja kalo sampe kamu ulangin lagi!" ucap om Harris.
"Ulangin gimana maksudnya pa? Apanya yang mau di ulangin?" ucap Rifki dengan polosnya yang membuat om Harris diam sesaat lalu meminum teh hangatnya.
"Sudahlah , ayo pa kita siap-siap dan berangkat ke rumah Laura." ucap Tante Stevia.
"Iya." ucap om Harris yang kemudian berdiri.
"Mama siap-siap dulu ya sayang." ucap Tante Stevia dengan tersenyum lalu berdiri.
Kedua orang tua Rifki pun meninggalkan ruang tamu yang hanya menyisakan Laura dan Rifki saja. Rifki pun menatap Laura yang juga menatapnya.
"Apa?" tanya Laura datar.
"Orang tua aku baik kan? Semoga aja orang tua kamu nanti juga sama. Moga aja aku gak dipukulin. Nanti wajah ganteng ku ilang." ucap Rifki dengan percaya diri.
"Pd!" ucap Laura dengan ketus.
"Umm sayang jangan marah-marah mulu dong." ucap Rifki dengan tersenyum.
"Aku masih belum bisa tenang kalau belum lihat reaksinya mama papa ku. Aku masih takut." ucap Laura dengan memanyunkan bibirnya.
"Nggak apa-apa. Semua udah terjadi , aku yakin mama papa kamu juga bisa menerima." ucap Rifki dengan tenang yang kemudian memeluk Laura ya mulai lagi akan menangis. "Udah dong jangan nangis mulu sayang." ucap Rifki yang melihat air mata bening itu mengalir lagi di pipi mulusnya.
__ADS_1
"Kakak pasti marah besar ke kamu. Aku yakin papaku gak akan mukul kamu , tapi aku gak yakin sama kakak. Dia pasti emosi terus mukulin kamu." ucap Laura dengan wajah sendunya.
"Nggak apa-apa aku dipukulin. Aku kan emang pantes di pukul. Tapi yang terpenting , niat aku baik. Aku mau bertanggung jawab. Segalanya tentang kamu akan aku tanggung selamanya. Dan kemanapun aku pergi , kamu akan tetap aku bawa." ucap Rifki dengan tenang sembari membelai rambut panjangnya Laura yang halus.
"Apapun yang terjadi nanti atau bahkan kalau sampai aku di suruh pergi dari rumah , tolong kamu harus janji. Kamu harus bawa aku kemanapun kamu pergi." ucap Laura dengan tatapan mata polosnya.
"Iya sayang aku janji. Aku gak akan pernah pergi tanpa kamu. Udah ya jangan nangis terus. Sebentar lagi kita mau berangkat." ucap Rifki menenangkan Laura yang masih sesenggukan.
"Laura , kamu kenapa nangis terus nak?" ucap Tante Stevia yang baru saja datang.
Ia pun menghampiri Laura dan memeluknya sembari mengusap-usap punggungnya.
"Dia takut ma. Takut keluarganya marah besar." ucap Rifki dengan tenang.
"Enggak sayang , kamu yang tenang ya. Walaupun marah , mereka pun pasti akan mengerti dengan keadaan ini. Jadi jangan nangis terus ya nak." ucap Tante Stevia dengan ramah.
"Tante , terimakasih banyak ya udah baik banget sama Laura walaupun Laura bikin masalah besar." ucap Laura sembari memandang Tante Stevia dengan tatapan penuh rasa syukur.
"Iya sayang , dan mulai sekarang jangan panggil Om Tante lagi. Panggilnya mama dan papa. Ya?" ucap Tante Stevia dengan tersenyum.
"Iya ma." ucap Laura yang kemudian dipeluk lagi oleh calon mama mertuanya itu.
"Ya sudah , kita berangkat yuk. Kamu tenang ya. Semua akan baik-baik aja kok." ucap Tante Stevia dengan ramah.
Lalu mereka berempat pun berangkat. Kedua orang tuanya Rifki membawa mobil sendiri serta dengan driver pribadi. Sedangkan Rifki , ia mengemudikan mobilnya sendiri berdua saja dengan Laura.
Jantung Laura semakin berdetak cepat seolah ingin loncat dari dalam dadanya tatkala mereka berjalan kurang lebih sudah satu jam. Itu artinya , mereka sudah hampir sampai di kediamannya.
Dan akhirnya , dua mobil sampai di depan rumah mewah nan megah. Mobil pun dipersilahkan masuk dan berhenti di halaman depan rumah.
"Sini aku gandeng." ucap Rifki yang kemudian menggenggam jemari Laura.
Dengan sopan , semua pun masuk kedalam rumah setelah di persilahkan orang asisten pribadi rumah itu.
"Silahkan duduk semuanya saja." ucap pak Rohman , papa Laura.
"Baik , terimakasih banyak atas sambutan baiknya kepada kami." ucap om Harris dengan tersenyum.
"Iya pak. Apa maksud dari kunjungan beliau kemari?" ucap pak Rohman yang sepertinya sudah merasa hawa yang tidak beres.
"Jadi , langsung saja. Maksud dari kedatangan kami kemari , untuk membahas satu masalah ini dan segera menyelesaikannya secara baik-baik." ucap pak Harris.
"Putra saya , ingin menikah dengan putri bapak." ucap pak Harris.
"Tunggu dulu , menikah? Ada apa ini? Kenapa sepertinya mendadak sekali?" ucap pak Rohman dengan kaget.
"Laura , kenapa kamu mau menikah secepat ini? Bilang sama mama , apa yang sudah terjadi?" ucap ibu Anni setenang mungkin.
"Laura..." panggil pak Rohman tatkala melihat putrinya menunduk saja.
"Om Tante , saya minta maaf yang sebesar-besarnya. Tolong maafkan kami berdua. Karena kami sudah membuat keluarga besar ini malu." ucap Rifki yang terhenti ketika ia melihat Laura yang langsung memeluk kaki ibunya dengan derai air mata yang sudah tidak bisa terbendung lagi.
Pedih sekali rasanya melihat perempuan yang ia cintai bersimpuh di lantai.
"Mama , maafin Laura. Laura udah bikin malu keluarga. Laura pasti bikin mama papa kecewa. Ma , maafin Laura." ucap Laura dengan isak tangis tiada henti.
"Kamu , apa kamu hamil?" tanya ibu Anni dengan wajah yang sulit diartikan.
Laura pun semakin menangis sejadi-jadinya.
"Jawab mama , Laura!" ucap ibu Anni dengan sedikit tegang sembari memegang kedua bahu Laura.
"Iya ma. Tolong maafin Laura. Maaf ma... Auhhh..." ucap Laura yang terjatuh terhempas karena didorong oleh ibunya.
"Om Tante , disini saya yang benar-benar salah. Om Tante boleh kok marah , tapi marah aja ke saya. Dan tolong jangan sekasar itu ke Laura. Karena biar bagaimanapun keadaannya , Laura tetap anak Om dan Tante." ucap Rifki dengan berjongkok membantu Laura duduk kembali ke sofa bersama dirinya.
Rifki menenangkan Laura yang tampak gemetar karena menangis hebat disertai rasa takut yang luar biasa. Terlebih lagi disaat ia menatap ibunya yang meninggalkan mereka semua tanpa pamit.
Hati Tante Stevia tergerak dan ikut merasakan kepedihan. Ia pun meraih tubuh Laura dan memeluknya. Mengingat ia tak punya anak perempuan. Ia pun berjanji akan merawat Laura seperti anak kandungnya sendiri.
"Kenapa kalian sampai berbuat seperti itu?" ucap pak Rohman dengan tegas.
"Saya mencintainya om. Tapi..." ucap Rifki terputus.
"Tapi tidak begitu cara kamu mencintainya!" ucap pak Rohman dengan nada tinggi.
"Saya tau om saya salah dan saya minta maaf atas semua perbuatan saya. Maka dari itu , saya membawa kedua orang tua saya kemari karena saya akan bertanggung jawab. Saya tidak akan lari om. Saya akan benar-benar bertanggung jawab atas segala sesuatu tentang Laura." ucap Rifki dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
"Kami juga tau pak , anak remaja jaman sekarang memang perlu pengawasan. Tapi kebebasan itu semakin menyebar kemana-mana." ucap om Harris.
"Saya juga sepertinya sudah gagal memantau anak saya sendiri." ucap pak Rohman yang mulai tenang.
"Putra saya akan bertanggung jawab atas kejadian ini. Tolong maafkan putra saya. Mungkin ini memang sudah takdir mereka. Dan bagaimanapun juga , mereka harus segera dinikahkan. Apa pak Rohman setuju?" ucap om Harris yang membuat pak Rohman menarik nafasnya dalam.
"Iya. Memang sudah seharusnya begitu pak." ucap pak Rohman.
"Baiklah , saya yang akan menanggung semua persiapannya." ucap om Harris.
"Pa , aku mau ketemu mama." ucap Laura dengan suaranya yang parau sembari menatap wajah papanya.
"Iya. Temuilah , mamamu pasti ada di kamarnya." ucap pak Rohman dengan tenang.
Dan benar , bagaimanapun keadaannya , Laura tetaplah anaknya. Dan ia bisa merasakan betapa sakitnya hati anak perempuannya itu saat ini.
Dengan langkah yang terasa berat , Laura menaiki anak tangga untuk menuju kamar ibunya. Setelah sampai di depan pintu , ia membuka pintunya dengan perlahan. Ia melihat ibunya menangis dengan duduk di tepi ranjang.
"Mama..." ucap Laura memanggil ibunya.
Suara serak Laura membuat ibunya semakin menangis. Laura pun mendekati ibunya dan kembali bersimpuh di lantai. Ia menangis dan menangis tiada henti.
"Mama , maafin Laura ma. Laura udah jadi anak yang nakal. Laura udah bikin mama kecewa. Maafin Laura ma..." ucap Laura mengucapkan maaf berulang kali dengan wajah yang tertunduk pada lutut ibunya.
"Sudah nak , jangan menangis lagi. Sini..." ucap ibu Anni sembari membantu putrinya berdiri dan duduk di sampingnya.
Laura dibawa ke dekapan ibunya. Laura pun mengeratkan pelukannya pada tubuh malaikat itu. Baginya , ibunya adalah malaikatnya yang nyata. Namun kali ini , malaikatnya benar-benar terpukul dengan ulahnya.
"Orang tua mana yang hatinya tidak sakit melihat putrinya seperti ini nak? Mama nggak marah , mama cuma nggak nyangka ini terjadi padamu. Kamu putri mama yang kemaren masih mama manja-manja , sebentar lagi sudah akan menjadi seorang ibu. Cepat sekali ini terjadi , dan bagaimana dengan kuliah kamu nak?" ucap ibu Anni dengan menahan isak tangisnya.
"Ma , Laura masih tetap bisa selesaikan kuliah. Sebentar lagi Laura lulus ma." ucap Laura yang kini sudah jauh lebih tenang.
Hatinya benar-benar terasa sangat lega dengan sikap ibunya. Mungkin ibunya memang hanya butuh waktu untuk menerima keadaan ini.
"Ya sudah. Hapus air mata kamu sayang. Mama tau kamu pun tidak siap dengan ini. Tapi berjanjilah , jaga anak ini dengan sebaik mungkin ya. Bagaimanapun kamu , kamu tetaplah menjadi anak kesayangan mama. Mama sayang sama Laura." ucap ibu Anni dengan tenang dan kemudian tersenyum menghapus air mata yang masih tersisa di pipi Laura dengan ibu jarinya.
"Terimakasih ma , Laura juga sayang sama mama. Laura akan jaga dia dengan sebaik-baiknya ma. Laura janji." ucap Laura dengan merangkul ibunya kembali.
"Laura anak mama yang cantik , sekarang nggak ada yang perlu di tangisi lagi ya. Bahagialah dengan lelaki yang sudah kamu pilih. Jangan bersedih lagi , karena calon anak kamu juga pasti akan bersedih." ucap ibu Anni.
"Iya mama. Aku udah nggak akan nangis lagi kok." ucap Laura dengan senyumnya yang samar.
"Kita turun yuk..." ucap ibu Anni mengajak Laura turun.
Melihat Laura mengangguk , sang ibu pun membantu Laura berdiri dan melangkah pelan keluar dari kamar. Mereka saling merangkul dan menuruni anak tangga sampai akhirnya ibu dan anak itu duduk di sofa.
"Nak , tolong jaga Laura dengan baik ya. Kami akan percaya padamu." ucap ibu Anni pada Rifki.
Rifki tersenyum , akhirnya semua akan berjalan dengan baik.
"Iya Tante , saya berjanji akan menjaga Laura. Saya akan segera menikahinya. Dan saya akan membawanya kemanapun saya pergi. Karena saya ingin selalu menjaga dia dengan baik. Tante , terimakasih banyak atas restu yang sudah Tante berikan kepada kami." ucap Rifki dengan tenang dan jauh di dalam lubuk hatinya sana ia benar-benar merasa bahagia.
Rasanya memang sangat pedih untuk diterima. Namun keadaan sudah tidak bisa di abaikan. Kedua orang tua pun kini membahas tentang rencana tanggal pernikahan.
Sampai akhirnya , pernikahan akan di langsungkan satu bulan lagi. Karena menurutnya , pernikahan itu lebih cepat akan lebih baik sebelum kandungan Laura semakin membesar.
:note- jangan bermain dengan cinta jika kamu belum siap dengan resikonya...
seberat inilah yang perlu di tanggung jika itu terjadi...
buat ciwi-ciwii , jaga diri baik-baik ya...
dan buat cowo-cowo , jagalah dirimu baik-baik...
jangan merusak masa depan para putri yang di jaga oleh kedua orang tuanya...
cinta boleh , tapi halalkan dulu ya ganteng...☺️
❤️
❤️
❤️
❤️
❤️
__ADS_1
❤️l.a.f🌻❤️