
Singkat cerita , pagi menjelang siang dengan cerah ini memang sangat menyenangkan.
Kini Ardhi sedang bersama mantan kekasihnya , ya ia tengah berada di dalam pesawat. Pagi ini ia akan memenuhi satu permintaan terakhir dari gadis yang duduk di kursi sampingnya itu.
Ardhi melihat ke luar jendela , ia menatap awan dengan perasaan yang tak menentu. Betapa tidak , ia kini meninggalkan tunangannya dan pergi bersama sang mantan. Ia pun juga mengerti bagaimana perasaan gadisnya saat ini.
Tanpa aba-aba , Yuna menyandarkan kepalanya pada bahu Ardhi. Sontak , Ardhi pun merasa tak nyaman.
"Duduk yang bener dong." ucap Ardhi dengan meliriknya.
"Kasih aku kebahagiaan untuk yang terakhir kalinya. Kamu lupa?" ucap Yuna dengan tersenyum sembari menatap wajah tampan lelaki yang sudah tak mungkin lagi bisa ia miliki.
"Kamu mau kemana dulu nanti?" tanya Ardhi dengan mengalihkan pandangannya dari wajah cantik gadis itu.
"Ke mana aja aku mau." ucap Yuna.
"Langsung aja aku anterin pulang ya?" ucap Ardhi.
"Pulang? Enggak mau. Kamu udah janji mau main sama aku." ucap Yuna sembari menatapnya lengkap dengan melingkarkan tangannya pada lengan Ardhi.
"Iya iya deh iya. Ya udah lepasin deh. Siap-siap gih sebentar lagi kita mau turun." ucap Ardhi.
"Iya sebentar aja." ucap Yuna masih dengan posisi yang tidak berubah.
Ardhi menatap wajah mulus Yuna yang sedang memejamkan mata di bahunya. Sedetik kemudian , ia tersadar. Ia mengusap wajahnya dengan asal. Entahlah , rasa di hatinya benar-benar canggung.
Lima belas menit berlalu , pesawat mendarat dengan selamat. Lanjut , kini agenda berikutnya adalah jalan-jalan. Taksi yang mereka pesan pun telah tiba. Mereka pun masuk ke dalam mobil untuk menuju ke suatu tempat.
Taman Nasional Shinjuku Gyoen , taman bunga sakura yang pertama kali di minta oleh Yuna untuk di kunjungi. Dengan tenang , Ardhi pun mencoba menikmati suasana yang ada.
Perjalanan yang lumayan jauh sama sekali tak membuat Yuna patah semangat. Entahlah , ia sangat merindukan sosok lelaki di sampingnya itu. Ia ingin mengakhiri perasaannya dengan rasa bahagia.
"Aku lupa di mana tempat yang indah disini." ucap Ardhi dengan tenang.
Kini mereka berdua sudah masuk ke dalam taman. Yuna mendongakkan wajahnya menatap wajah tampan Ardhi yang kini berdiri tegak di hadapannya.
"Aku tau. Ayo." ucap Yuna dengan tersenyum sembari meraih jemari Ardhi dan mengajaknya pergi.
"Kamu masih sering ke sini ya?" ucap Ardhi.
"Udah lama. Terakhir kesini ya tahun lalu." ucap Yuna dengan tersenyum.
"Sama siapa kamu kesini?" ucap Ardhi.
"Sama temen , tapi kadang ya sendirian aja." ucap Yuna.
"Kamu sekarang kerja dimana?" ucap Ardhi.
"Di perusahaan papa. Ya intinya aku cuma bantu-bantu kerjaan kantor aja." ucap Yuna.
"Ya bagus dong." ucap Ardhi.
"Awalnya aku mau kerja di perusahaan lain. Tapi papa nggak bolehin. Ya udah lah." ucap Yuna.
"Kamu juga aneh aja , punya perusahaan sendiri ngapain kerja di tempat lain." ucap Ardhi.
"Ya pengen mandiri aja di jalanku sendiri punya karir sendiri." ucap Yuna.
"Eh ikut aku yuk." ucap Ardhi dengan berganti menggandeng pergelangan tangan Yuna untuk mengikutinya.
"Kemana?" ucap Yuna.
"Udah ikut aja." ucap Ardhi.
Tak lama , Ardhi berhenti tepat bawah pohon bunga sakura yang sedang bermekaran.
"Kayaknya ini tempat yang indah. Gimana , kamu capek nggak? Istirahat aja dulu itu ada kursi." ucap Ardhi dengan tenang.
Yuna berdiri ditempat dengan pandangan kosong. Hatinya teriris. Ingin rasanya ia berteriak berharap pada Tuhan untuk mengubah takdir.
Wajah putih berseri itu kini terlihat merona. Hidungnya memerah , gadis itupun menarik nafasnya yang terasa berat.
"Hei , kamu kenapa?" ucap Ardhi dengan memegang kedua bahu Yuna.
"Please , jangan tanya kenapa. Kamu udah tau aku lagi enggak baik-baik aja kan?" ucap Yuna dengan senyum. Ya , itu adalah senyum kepedihan.
Mungkin satu kesempatan ini bisa membuat Yuna mengerti. Namun , ia tak pernah peduli sekalipun ia harus menangis di setiap harinya karena kenangan terakhir ini.
"Aku tau ini hal yang sama sekali nggak pernah kamu minta sama Tuhan. Tapi kali ini , kamu harus bisa ya." ucap lelaki di hadapannya dengan tenang.
Perlahan , Ardhi memeluk gadis itu mencoba untuk memberikan ketenangan padanya. Meskipun itu hanya menyisakan luka.
Sekuat tenaga , Yuna mencoba menahan air mata di kelopak matanya agar tidak terjatuh. Kedua tangannya pun melingkar pada tubuh Ardhi. Entahlah , nyaman sekali rasanya kembali berpelukan dengan pujaan hati.
"Aku janji aku akan tepatin apa yang kamu mau. Tenang ya , jangan sedih mulu dong." ucap Ardhi.
"Aku takut sama hari esok yang akan datang." ucap Yuna.
"Kenapa?" ucap Ardhi.
"Karena hari esok yang akan datang itu kamu udah gak ada disamping ku. Jadi aku pengen hidupku berakhir sampai disini." ucap Yuna dengan polos.
"Huss , jangan ngomong kayak gitu dong. Tunjukin ke aku kalau kamu bisa lanjutin hidup dengan sempurna." ucap Ardhi.
"Aku akan berusaha untuk itu." ucap Yuna.
"Kita duduk dulu yuk." ucap Ardhi.
__ADS_1
"Bilang sama tunangan kamu ya , aku benar-benar berterima kasih. Karena dia udah izinin kamu pergi sama aku. Aku tau dia orang yang baik dan benar-benar tulus sayang sama kamu." ucap Yuna dengan tersenyum.
"Iya. Nanti aku bilang ke dia ya." ucap Ardhi dengan tersenyum sembari meliriknya.
"Eumm... Aku mau lihat sunset di pantai. Kamu mau kan?" ucap Yuna masih dengan melingkarkan tangannya pada tubuh Ardhi sembari menatap Ardhi.
"Kamu mau ke pantai mana?" ucap Ardhi.
"Enoshima." ucap Yuna.
"Oke , nanti kita kesana ya." ucap Ardhi.
"Iya , makasih ya." ucap Yuna dengan tersenyum.
"Udah siang nih , kamu nggak laper? Kita makan ya." ucap Ardhi.
"Iya deh." ucap Yuna dengan tersenyum.
"Ayo... Mau makan apa kamu?" ucap Ardhi.
"Em... Apa aja deh , terserah kamu mau makan apa dan dimana." ucap Yuna dengan tersenyum.
"Ya udah , ayo." ucap Ardhi.
"Eh sebentar , kita foto ya. Sekali aja." ucap Yuna sembari melepas pelukan yang kemudian membuka tas dan mengambil ponsel miliknya.
"Senyum ya." ucap Yuna dengan bersiap-siap memotret.
Satu potret telah tersimpan di galeri foto. Foto dengan orang tersayang yang sangat sempurna.
...----------------...
"Sayang , malam ini dinner bareng mama papa kita. Kamu nggak kecapekan kan?" ucap Rifki pada Laura sembari meraih jemarinya lalu digenggam.
"Jam berapa? Aku baik-baik aja kok aku nggak kecapekan." ucap Laura dengan tenang dan menyandarkan kepalanya pada bahu Rifki yang sedang mengemudi mobil.
"Ya jam tujuh nanti kita berangkat aja." ucap Rifki.
"Iya oke. Nanti kamu jemput aku ya." ucap Laura.
"Sayang , udahlah kamu ikut ke apartemen aku aja dong. Kamu udah tau kan apartemen ku besar. Kamu bebas kok mau ngapain aja. Dan yang paling penting , aku bisa tau kamu selama 24 jam penuh. Aku tuh khawatir terus sama kamu loh." ucap Rifki dengan sesekali melirik wajah Laura.
"Ya sebentar lagi kan kita mau nikah. Besok aja lah kalau udah nikah aku pasti ikut kamu." ucap Laura.
"Kelamaan sayang... Aku tuh nggak mau kalau kamu nanti kenapa-kenapa." ucap Rifki.
"Aku tuh baik-baik aja sayang. Kamu tenang aja lah." ucap Laura.
"Ck , kamu tuh emang susah di bilangin. Anak aku loh itu , awas aja ya kalau sampai kenapa-napa." ucap Rifki.
"Iya lah gak mungkin lupain itu. Itu sesuatu yang sangat penting untuk kita ingat. Ah sayang aku jadi kangen deh." ucap Rifki dengan tersenyum.
"Apaan?" ucap Laura dengan tatapan polosnya.
"Sayang , nanti malem ya..." ucap Rifki yang kemudian mengecup kening Laura yang masih bersandar di bahunya.
"Apa sih! Enggak enggak! Diem deh bawel." ucap Laura dengan melepas jemarinya dari genggaman lelaki itu.
Laura pun kembali duduk dengan sempurna pada kursinya sembari memandang ke luar jendela.
"Yah sayang , jangan gitu dong. Gitu aja ngambek." ucap Rifki dengan kembali mencoba meraih jemari Laura.
Emosional sang ibu hamil memang berbeda. Rifki pun mengerti akan hal itu dan ia harus belajar memahaminya.
...----------------...
Lain tempat , Fany kini sedang berada di mall bersama kedua sahabatnya. Entahlah , perasaannya sedang tak menentu. Maka dari itu , ia ingin sekali menghibur diri bersama kedua sahabatnya.
"Wow , dress-nya cantik banget nih." ucap Airin sembari melihat-lihat dress biru berlian dengan pernak-pernik hiasan pada permukaan bajunya.
"Bungkus lah." ucap Zahra dengan santai.
"Berapa emang?" ucap Fany.
"450 ribu aja tuh , seriusan ini cantik banget sih. Dan gue rekomendasiin lu yang pakai." ucap Airin dengan tersenyum.
"Gue?" ucap Fany sembari menunjuk wajahnya sendiri.
"Iyalah." ucap Airin.
"Dress gue udah banyak bestie..." ucap Fany dengan menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal.
"Seriusan lu gak mau ambil? Gue ambil loh." ucap Zahra.
"Beneran?" ucap Airin.
"Iya beneran. Gue bayar deh." ucap Zahra.
"Udah kebanyakan baju gue tuh , sampe bingung kalau pergi mau pakai baju yang mana hehe..." ucap Fany dengan terkekeh.
Akhirnya Zahra pun pergi membeli dress cantik itu dan kembali lagi sembari menenteng tas belanja.
"Besok kalau lu mau ngedate , pakai dress itu aja." ucap Fany dengan tersenyum.
"Ya , bisa di coba." ucap Zahra.
"Alay lu! Kapan lu mau ngedate?" ucap Airin.
__ADS_1
"Yehh , emang kalau gue mau ngedate harus izin dulu sama lu? Gak mau lah." ucap Zahra dengan senyum-senyum.
"Nih anak udah mulai nyebelin yah!" ucap Airin.
"Huss huss diem lah! Gimana kalau kita nonton , pada mau gak?" ucap Fany .
"Boleh tuh." ucap Zahra.
"Film apa ya yang bagus?" ucap Airin.
"Jangan yang bucin loh." ucap Fany.
"Why?" ucap Zahra dengan tersenyum.
"You know!" ucap Fany dengan masam.
"Strong baby." ucap Airin dengan memeluk tubuh Fany.
"Gak usah galau-galau ah , yuk kita nonton apa nih?" ucap Fany dengan santai.
"Gimana kalau kita nonton kartun hahaha..." ucap Zahra dengan tertawa.
"Kartun? Ya kali udah kayak anak kecil aja lu!" ucap Airin.
"Dah lah , gue yang milih. Yuk kita ke bioskop." ucap Zahra sembari menarik kedua sahabatnya menuju bioskop.
Akhirnya , ketiga gadis cantik itu pun pergi menuju ke bioskop yang berada di mall itu untuk menghibur diri dari tekanan batin masing-masing.
...----------------...
Keinginan Yuna pun tercapai. Namun , di gazebo indah ini hati gadis itu semakin lama semakin pedih saja.
Kemilau ombak lautan saling berkejaran tiada henti. Hamparan pasir yang luas berwarna keemasan itu terlihat sangat cantik.
"Kenapa ya Tuhan kasih aku jalan yang kayak gini? Aku masih mikir aku bisa atau enggak." ucap Yuna dengan tersenyum pedih.
Ardhi tampak menghela nafas berat dan bingung harus bagaimana dengan gadis disampingnya ini.
"Udah lah , lihat tuh sunsetnya. Indah banget loh , sayang kalau enggak di nikmati." ucap Ardhi dengan tersenyum.
"Hiks... Aku gak ngerti lagi." ucap Yuna yang justru malah meneteskan air matanya. Sedetik kemudian , ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Terasa , tubuh lelaki itu kini mendekap tubuh Yuna. Entahlah , Yuna benar-benar masih berharap sesuatu akan terjadi.
"Peluk aku , gak apa-apa kok." ucap Ardhi dengan tenang sembari menatap senja yang kian menghilang.
Yuna pun melingkarkan kedua tangannya dan rasanya seolah tak akan pernah ia melepaskan tubuh lelaki itu. Nyaman sekali dan teramat sangat menenangkan.
"Jangan pergi lagi. Please..." ucap Yuna disela-sela tangisnya.
"Yuna..." ucap Ardhi memanggil.
Perlakuan lembut yang Ardhi berikan pada Yuna , membuat Yuna merasa seolah ia adalah gadis yang gagal. Gagal memperjuangkan perasaan dan kisah cintanya. Betapa beruntungnya gadis yang sebentar lagi akan di nikahi oleh lelaki yang tengah memeluknya ini. Dan pada kenyataan , gadis itu adalah orang lain yang sama sekali tidak pernah ia kenal.
Baru kali ini ia menangis sedalam ini. Sesedih ini ia kini. Mengingat esok adalah hari yang kembali seperti hari-hari lalu. Namun sepertinya , esok mungkin akan menjadi hari yang lebih pedih.
Pelukan hangat serta telapak tangan lelaki itu yang terus mengelus kepalanya dengan lembut itu sukses membuat jantung berdebar. Tak hanya salah satu , dua-duanya pun sama.
"Yuna..." ucap Ardhi memanggil lagi.
Namun , entah kenapa kini tubuh Yuna terasa sangat berat dan tak berdaya. Ardhi pun mencoba menyadarkan Yuna , namun tubuh gadis itu tetap tak ada reaksi apapun. Hanya sisa air mata yang berlinang di wajah mulusnya.
Ardhi pun panik begitu tahu kondisi Yuna. Kini Yuna tengah pingsan dan tak sadarkan diri. Ia melepaskan tubuh gadis itu dan ia letakkan pada pangkuannya.
"Yuna... Bangun , kamu jangan bikin aku panik. Ayo bangun." ucap Ardhi sembari menepuk-nepuk pipi mulus Yuna berharap ia segera bangun.
Kali ini Ardhi benar-benar bingung harus berbuat apa. Mengantarkan Yuna pulang , namun rumah Yuna lumayan memakan waktu cukup lama. Membawa ke rumah sakit , apa itu tidak berlebihan?
Membawa pulang kerumah pun ia takut akan mendapatkan respon bagaimana jika mengetahui Yuna pulang dalam keadaan pingsan tak sadarkan diri.
Penginapan. Didekat pantai ada banyak sekali hotel. Mungkin kini ia harus membawa Yuna ke hotel. Ia yakin bahwa Yuna hanya kecapekan dan juga karena terlalu sering menangis. Sehingga tubuhnya lemas tak ada kekuatan.
"Kalau gue bawa ke hotel , aman gak ya? Gimana kalau ntar dia mikir gue bakal ngapa-ngapain dia." ucap Ardhi dengan menatap wajah mulus Yuna yang terpejam.
Tanpa ragu lagi , Ardhi pun membopong Yuna dan bergegas mencari hotel terdekat.
Usai check in , Ardhi membawa Yuna ke kamar hotel lantai dua. Ia membaringkan tubuh Yuna pada ranjang king size putih itu dengan berhati-hati.
"Yuna , bangun yuk... Kamu kenapa sih kok tiba-tiba pingsan gini." ucap Ardhi dengan merapikan rambut Yuna yang berantakan.
"Yuna..." ucap Ardhi memanggil. "Kenapa kejadiannya jadi kayak gini sih? Harusnya besok pagi gue udah terbang ke Jakarta. Tapi ini cewek gimana?" ucap Ardhi dalam hati.
Harus bagaimana menghadapi gadis yang tengah terbaring di ranjang itu?
Entahlah...
❤️
❤️
❤️
❤️
❤️
❤️l.a.f🌻❤️
__ADS_1