Love Always Forever (Tanpamu , Bagaimana Aku?)

Love Always Forever (Tanpamu , Bagaimana Aku?)
Gaun


__ADS_3

Bukan hal baru untuk Bima ketika ia diminta bosnya segera datang. Ketika ia sibuk dengan komputernya, bosnya tiba-tiba menyuruhnya cepat datang. Pekerjaan yang seharusnya hanya tersisa sedikit untuk selesai, kini terbengkalai sudah.


Bima mengetuk pintu dan masuk kedalam ruangan bosnya tanpa menunggu jawaban. Ia melihat bosnya tengah berjalan menuju meja untuk meraih kunci mobil.


"Mau kemana lagi sih lo?" ucap Bima mengeluh.


"Lo kan tau seminggu lagi gua tunangan, jadi gua harus pergi sebentar ada yang perlu gua urus. Dan lo, lo disini aja gantiin gua." ucap Ardhi dengan santai.


"Tapi lo besok ambil cuti juga nggak?" ucap Bima.


"Buat apa?" ucap Ardhi dengan heran sembari duduk di kursinya.


"Yah buat seneng-seneng dong. Barangkali lo mau ajak Fany ke luar negeri gitu..." ucap Bima dengan senyum-senyum.


"Lo gila apa? Gua baru tunangan belum nikah. Mana bisa gua ajak dia kemana-mana?" ucap Ardhi dengan santai.


"Bisa. Udah tunangan tuh santai aja, kalian udah bisa main..." ucap Bima yang Ardhi mengerutkan keningnya.


"Apa lo bilang? Main? Main apaan?" ucap Ardhi.


"Ah sok polos banget lo! Lo itu kalo udah tunangan, lo boleh lakuin..." ucap Bima terputus.


"Tutup mulut lo ya. Gua gak kayak lo yang udah cobain cewek mana-mana." ucap Ardhi dengan santai.


"Eh lo sembarangan kalo ngomong! Ntar Aera denger mampus gua!" ucap Bima dengan kesal.


"Ya biarin lah, orang gua omong apa adanya." ucap Ardhi dengan tenang.


"Gak lah. Sok tau lo!" ucap Bima dengan ketus.


"Jadi gimana? Enak gak?" ucap Ardhi dengan meliriknya.


"Apanya sih?" ucap Bima bingung.


"Ya lo kan udah pernah coba, udah berpengalaman juga jadi berbagi cerita dong sama gua." ucap Ardhi dengan senyum-senyum tak jelas.


"Lo beneran belum pernah sama pacar lo?" ucap Bima.


"Sumpah demi Tuhan ya gua belum pernah ngapa-ngapain. Percaya gak percaya terserah lo deh." ucap Ardhi dengan tersenyum.


"Oke gua percaya. Tapi gua gak perlu cerita lah ya, kayak gitu tuh lo gak perlu belajar udah pinter dengan sendirinya. Tapi lo hebat sih bisa jaga diri lo, padahal lo pernah tidur bareng sama dia kan? Gua yakin itu ujian terberat buat lo..." ucap Bima dengan tersenyum.


"Gua bisa dong jaga diri." ucap Ardhi dengan tenang.


"Emangnya lo gak pengen gituh pas sama dia?" ucap Bima.


"Ya gimana yah, gua nggak bisa maksa dia. Ah udah lah lama-lama otak gua keracunan sama omongan lo. Gua pergi aja deh. Inget, tugas lo apa." ucap Ardhi dengan lekas berdiri.


"Iya iya gua disini." ucap Bima dengan masam.


"Oke gua pergi dulu." ucap Ardhi setelah membawa laptop serta ponselnya dan melangkahkan kakinya.


"Eh tapi tugas gua gimana tinggal sedikit itu..." ucap Bima.


"Lo bawa aja kesini." ucap Ardhi dengan singkat lalu menghilang di balik pintu.


"Gila apa gua suruh bawa seperangkat komputer ke sini? Gitu yah enaknya jadi bos." ucap Bima bicara dengan dirinya sendiri.


 ...


Sampai di parkiran, Ardhi masuk ke dalam mobil dan mengemudikan mobilnya keluar dari area perusahaannya. Di jalanan, ia kesal karena harus terjebak macet. Ia pun melirik jam tangannya, pukul 09.45 wib. Ardhi menghela nafasnya dengan kasar.


Sekitar lima belas menit berlalu dengan menunggu berakhirnya kemacetan, akhirnya mobil-mobil kembali berjalan dengan ramai lancar. Ardhi mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan memilih jalur sepi agar cepat sampai tujuan.


Tak sampai setengah jam perjalanan, Ardhi memasuki area kampus untuk menjemput kekasihnya. Dapat ia lihat, di sebuah kursi panjang Fany tengah duduk sendirian sembari membaca sebuah buku.


Ardhi tersenyum setelah memberhentikan mobilnya tepat didepan Fany. Ardhi memakai masker terlebih dahulu ia pun turun dari mobil dan menghampirinya.


Banyak sekali cewek-cewek yang melirik Ardhi dengan tersenyum manis berharap Ardhi membalas senyuman mereka satu persatu. Namun nyatanya, Ardhi hanya fokus berjalan menghampiri kekasihnya.


"Ayo..." ucap Ardhi begitu sampai di hadapan Fany.


Fany menatapnya sesaat dan melihat mobilnya. Lalu Fany pun menutup bukunya dan berdiri.


"Astaga ngapain pake masker segala? Aku kira siapa tadi..." ucap Fany dengan heran.


"Nggak apa-apa, tadi dijalan banyak debu doang. Udah ayo cepetan." ucap Ardhi yang kemudian menarik lengan Fany dan membukakan pintu mobil lalu menyuruhnya masuk. Ardhi pun berjalan mengitari mobil dan kembali masuk untuk mengemudikan mobilnya kejalan raya.


"Kenapa dilepas? Katanya banyak debu?" ucap Fany dengan heran ketika ia melihat lelaki itu mencopot maskernya setelah jarak dari kampus sudah lumayan jauh.


"Debunya udah ilang sayang." ucap Ardhi dengan tersenyum.


"Terus kita mau kemana?" ucap Fany.


"Ke butik." ucap Ardhi.


"Ngapain?" ucap Fany lagi.


"Cari baju dong sayang... Kamu lagi kenapa sih?" ucap Ardhi dengan heran.


"Iya aku tau, tapi kan kemaren janjiannya sama Tante. Kenapa jadinya kamu yang nongol?" ucap Fany dengan menatapnya.

__ADS_1


"Iya tadi mama harus pergi. Ada acara di luar kota sama papa. Jadi kita disuruh pilih baju sendiri aja." ucap Ardhi dengan tenang.


"Oh gitu, bilang dong dari tadi!" ucap Fany dengan menyandarkan kepalanya ke belakang.


"Kamu udah selesai kan mata kuliah hari ini?" ucap Ardhi bertanya.


"Belum lah." ucap Fany.


"Kapan lagi?" ucap Ardhi.


"Harusnya sekarang. Tapi aku bolos." ucap Fany dengan tersenyum.


"Bagus yah. Bolos aja terus..." ucap Ardhi dengan tenang.


"Sekali ini doang tauk. Ini aja aku bolos karena ada kepentingan sama kamu. Ya udah kalo gitu balikin aku ke kampus aja." ucap Fany dengan kesal.


"Enak aja suruh balikin. Udah gak bisa. Bentar lagi nyampe." ucap Ardhi.


"Tuh kan aneh." ucap Fany dengan masam.


"Apa sih sayang... Udah lah kita harus cari baju, waktu kita nggak lama lagi loh..." ucap Ardhi dengan meraih jemari Fany dan digenggamnya.


"Terus habis ini, ngapain lagi?" ucap Fany dengan memandangnya.


"Terserah, kamu maunya apa? Ayo aku turutin." ucap Ardhi dengan tersenyum.


"Nggak mau apa-apa." ucap Fany.


"Mau jalan, makan, atau pergi kemana gitu..." ucap Ardhi.


"Males ah." ucap Fany.


"Kalo gitu kamu harus ikut aku aja." ucap Ardhi.


"Ngapain? Kemana?" ucap Fany dengan cepat.


"Yah pokoknya ikut aja. Gak boleh nolak ajakan dari aku." ucap Ardhi dengan tegas yang kemudian membelokkan mobilnya ke depan butik dan berhenti.


"Selama itu nggak merusak harga diri aku, oke nggak masalah aku ikutin apa yang kamu mau." ucap Fany dengan tersenyum.


"Beneran?" ucap Ardhi dengan menatap Fany.


"Iya." ucap Fany dengan menganggukkan kepalanya.


"Baiklah. Kalau gitu, kita turun sekarang." ucap Ardhi dengan tersenyum.


Ardhi pun keluar dari dalam mobil dan Fany pun juga keluar sendiri lalu menghampiri Ardhi. Ardhi menggenggam jemari Fany dan mengajaknya masuk kedalam butik terkenal itu.


Di dalam butik, Ardhi dan Fany disambut ramah oleh pemiliknya langsung. Bu Hanna, ia adalah pemilik butik itu yang ramah sekaligus teman baik Mamanya Ardhi.


"Terimakasih banyak Bu atas pujiannya. Iya Bu mari kita lihat..." ucap Fany dengan tersenyum manis pula.


Mereka bertiga menuju sebuah VIP room yang menampilkan berbagai jenis gaun dan jas berkelas. Fany kagum melihat banyak gaun yang sangat cantik dan menarik. Fany pun melihat-lihat gaun yang mencuri perhatiannya.


"Ini ada beberapa gaun yang udah di siapkan sama mama kamu kemaren, kamu coba dulu ya. Sini ibu bantu. Dan kamu coba sendiri ya, itu ruang ganti prianya." ucap Bu Hanna mengajak Fany masuk ke ruang ganti.


Ardhi pun membawa setelan jas berwarna hitam itu dalam ruang ganti. Didalam, Ardhi segera melepaskan kemejanya dan mulai mengganti pakaian barunya. Beberapa menit kemudian, Ardhi telah selesai memakai setelan jasnya. Ia berdiri di depan kaca yang besar dan melihat dirinya sendiri. Ia pun tersenyum.


Ardhi keluar dari ruang ganti namun Fany belum juga keluar. Ia pun berkeliling mencoba melihat-lihat gaun lain yang semua memang tampak menarik perhatian.


"Coba kamu lihat calon istri mu ini... Bagaimana?" ucap Bu Hanna yang mengagetkan Ardhi.


Ardhi menatap Fany tanpa kedip beberapa saat. Namun kemudian ia tersadar dan mendekati Fany. Ardhi memperhatikan tubuh Fany dari ujung kaki hingga pandangan matanya berhenti di dada. Ia bingung harus berkata apa.


Gaun itu sebenarnya sangat cantik, namun Ardhi tak suka karena belahan dadanya terlalu terbuka hingga memperlihatkan sedikit isi didalamnya. Itulah yang membuat Ardhi tak menyukai gaun itu, ia tak rela bagian tubuh yang sangat spesial baginya itu harus dilihat pula oleh orang lain.


"Emm... Ada gaun yang lain mungkin?" ucap Ardhi dengan kikuk.


"Oh ada dong, sebentar ya. Ayo kita coba gaun yang kedua." ucap Bu Hanna dengan ramah.


Fany pun hanya diam tak protes apapun karena ia juga tampak tak nyaman dengan gaun yang membuat dadanya terlihat. Ia pun kembali masuk ke dalam ruang ganti dan mencoba gaun yang kedua.


Ardhi menunggu beberapa saat yang kemudian ia kembali melihat kekasihnya keluar dari ruang ganti. Lagi-lagi Ardhi mengerutkan keningnya sesaat ketika ia melihat gaun yang dikenakan Fany.


"Ini gaun yang dipilih mama ya Bu?" ucap Ardhi.


"Iya, ini yang nyiapin mama kamu kemaren. Gimana sama yang ini?" ucap Bu Hanna.


"Gimana ya... Bu aku suka sama gaun yang lain. Yang itu tuh, boleh di coba nggak?" ucap Ardhi dengan tersenyum.


"Yang mana? Sini ibu ambilkan..." ucap Bu Hanna.


"Yang ini kayaknya bagus deh Bu..." ucap Ardhi sembari menyentuh gaun berwarna putih bertabur mutiara. Gaun yang panjang tanpa lengan namun dengan bagian dada lebih tertutup.


Fany tersenyum dengan kelakuan lelaki yang benar-benar memperhatikan setiap lekuk tubuhnya. Yang tak pantas, pasti ia langsung menggantinya.


"Ayo sayang kita coba ini..." ucap Bu Hanna dengan ramah sembari membawa gaun itu kembali kedalam ruang ganti.


Ardhi pun duduk di sofa menunggu Fany berganti gaun. Ia pun memainkan ponselnya dan beberapa saat sampai Fany selesai.


"Agak sini sayang soalnya agak panjang nih belakang. Nah... Bagaimana menurut kamu? Menurut ibu sih ini cantik banget..." ucap Bu Hanna dengan tersenyum.

__ADS_1


"Cantik. Gimana, kamu juga suka kan?" ucap Ardhi dengan tersenyum sembari memandang Fany yang juga tersenyum.


"Iya aku suka." ucap Fany dengan menganggukkan kepalanya.


"Kamu itu calon suami yang sangat perhatian ya. Kamu pandai sekali memilih gaun yang sangat cantik dan juga cocok untuk calon istrimu." ucap Bu Hanna dengan tersenyum.


"Hehe ibu bisa aja. Ya udah kita ambil yang ini aja ya Bu. Udah bagus kok ini." ucap Ardhi dengan tersenyum.


"Baiklah kalau gitu ayo ibu bantu lepas gaunnya." ucap Bu Hanna dengan menggandeng lengan Fany mengajaknya masuk ke ruang ganti.


Setelah selesai berganti baju, mereka bertiga pun kedepan untuk melakukan pembayaran.


"Ibu terimakasih banyak ya atas bantuannya." ucap Fany dengan tersenyum.


"Iya sayang sama-sama. Semoga acara pertunangan kalian besok berjalan dengan baik ya. Dan semoga hubungan kalian juga baik-baik saja sampai tiba di hari bahagia kalian nanti." ucap Bu Hanna dengan tersenyum.


"Iya ibu makasih doanya ya Bu." ucap Fany.


"Besok jangan lupa dateng ya Bu..." ucap Ardhi dengan tersenyum pula.


"Pasti. Ibu pastikan besok akan datang di acara kalian." ucap Bu Hanna dengan antusias.


"Baik Bu terimakasih. Ya sudah kalau begitu kami pamit pulang dulu ya Bu." ucap Ardhi dengan tersenyum.


"Iya terimakasih udah ke butik ibu. Ya sudah kalian hati-hati ya dijalan." ucap Bu Hanna dengan ramah.


Ardhi dan Fany bersalaman dengan Bu Hanna secara bergantian yang kemudian melangkahkan kakinya keluar dari butik menuju mobil. Ardhi membuka pintu mobil untuk Fany agar Fany masuk lalu ia memutari mobil yang kemudian juga masuk ke dalam.


Ardhi meletakkan tas belanjanya di kursi belakang. Ia pun menyalakan mobil dan mengemudikannya ke jalan raya.


"Kamu beneran udah suka kan sama gaun yang aku pilih tadi?" ucap Ardhi bertanya.


"Iya, aku suka kok. Cantik banget gaunnya cocok trus sesuai juga sama tubuh aku." ucap Fany dengan tersenyum.


"Iya dong pilihan aku selalu tepat. Ah mama rese banget ya milih gaun gitu amat." ucap Ardhi.


"Emang kenapa pilihan mama kamu tadi?" ucap Fany dengan heran.


"Ya aku gak suka, terlalu terbuka diatas." ucap Ardhi dengan santai sembari menatap lurus kedepan.


"Ya emang udah gitu modelnya." ucap Fany.


"Ya aku gak ikhlas dong dada kamu itu dilihat banyak orang." ucap Ardhi dengan menatapnya sesaat.


"Astaga... Jadi gitu? Bilang dong dari tadi." ucap Fany dengan terkekeh geli.


"Ya aku malu lah kalo mau bilang kayak gitu. Kamu juga udah tau bajunya terbuka gitu gak protes." ucap Ardhi dengan berlagak kesal.


"Aku sebenarnya tau apa yang ada di dalam otak kamu. Tapi aku diem dulu cuma karena pengen lihat reaksi kamu aja dulu gimana." ucap Fany dengan tersenyum.


"Oh gitu... Kalau mau tau reaksi aku gimana, jangan di butik dong sayang pakainya. Nanti aja di apartemen kamu pakai baju yang lebih terbuka lagi. Dan kamu akan lihat reaksi aku yang sebenarnya gimana..." ucapan Ardhi membuat Fany menatapnya dengan tatapan mata membunuh.


"Aku mau pulang bukan ke apartemen." ucap Fany dengan ketus.


"Siapa yang mau anterin kamu pulang?" ucap Ardhi dengan tenang.


"Kamu. Ayolah jangan bawa aku kemana-mana dulu." ucap Fany dengan memohon.


"Kamu udah bilang loh tadi kalo mau ikutin apa kemauan aku. Iya kan?" ucap Ardhi dengan tersenyum.


"Coba deh bilang, apa sih mau kamu?" ucap Fany seolah menantang.


"Ehmmm.... Aku cuma mau kamu ikutin apa yang aku mau. Nggak aneh-aneh, aku tau kok kamu mikir apa. Tenang aja, aku bisa jaga diri aku baik-baik." ucap Ardhi dengan tersenyum tenang sembari meraih jemari Fany untuk digenggamnya.


"Aku masih nggak yakin. Takut aja kamu khilaf gitu..." ucap Fany dengan polosnya.


"Apa? Enggak lah. Kita udah berapa kali tidur bareng sih sayang? Dan kamu juga tau, nggak terjadi apa-apa kan?" ucap Ardhi dengan memandang Fany sesaat.


"Iya enggak ada apa-apa sih. Tapi kan gak tau besok-besok gimana. Tau sendiri kamu makin hari makin berani aja." ucap Fany dengan tenang.


"Berani apanya? Biasa aja tauk..." ucap Ardhi dengan tersenyum.


"Ah udah deh terserah kamu aja." ucap Fany dengan membuang muka lalu menyandarkan kepalanya ke belakang.


"Kita ke mall ya..." ucap Ardhi dengan santai.


"Ngapain lagi?" ucap Fany dengan mengerutkan keningnya.


"Ngapain aja terserah kamu." ucap Ardhi.


"Ntar aku habisin loh isi ATM kamu." ucap Fany berharap Ardhi tak jadi membawanya ke mall


"Terserah, habisin aja kalo bisa." ucap Ardhi dengan tersenyum.


Fany menghela nafas panjang. Ia bingung harus bagaimana lagi. Mau tak mau ia harus mengikuti kemauan lelaki disampingnya ini.


❤️


❤️


❤️

__ADS_1


❤️


❤️l.a.f🌻❤️


__ADS_2