Love Always Forever (Tanpamu , Bagaimana Aku?)

Love Always Forever (Tanpamu , Bagaimana Aku?)
Kacau


__ADS_3

Flashback--


"Kamu kenapa sih kayak happy banget deh dari tadi." ucap kak Irfan dengan melirik Fany.


"Aku gak tau juga kenapa , mungkin akan ada sesuatu yang indah. Oh iya , mama papa kan gak ada dirumah. Aku mau disini aja seharian ya. Boleh kan?" ucap Fany dengan tersenyum.


"Astaga , nih bocah! Boleh aja lah , asal gak bikin ribut. Kali aja mau bantuin kakak juga boleh." ucap kak Irfan dengan santai.


"Apaan , gak mau ah. Aku cuma mau lihat-lihat doang. Kak Fika kemana? Kenapa nggak kesini?" tanya Fany.


"Ya dia kerja juga lah , emang kamu pikir karena kita sekantor trus bisa bebas pacaran semaunya gitu?" ucap kak Irfan dengan heran.


"Ya kali aja , kan CEO bisa ngapain aja kan?" ucap Fany dengan santai.


"Nih anak ngarang aja yah! Sana masuk , tidur aja biar nggak gangguin gue!" ucap kak Irfan yang mulai kesal. Bisa ditebak , lelaki itu jika mulai kesal akan merubah aku kamu menjadi lu gue. Dan itu membuat Fany menahan tawanya karena sukses menjahilinya.


"Kak , udah siang. Nggak istirahat ya? Ayolah makan dulu." ucap Fany mengajak kakaknya makan.


"Masa sih? Jam berapa?" ucap kak Irfan sembari melirik jam di pergelangan tangan kirinya. Ternyata sudah pukul 11.50 wib. "Ya udah deh , yuk... Mau makan di mana?" ucap kak Irfan sembari meraih ponsel serta kunci mobil.


"Terserah kakak aja mau makan dimana. Sama kak Fika juga dong kak..." ucap Fany sembari berdiri dan mengikuti langkah sang kakak keluar dari ruangan.


"Iya bawel!" ucap kak Irfan dengan gemas sembari mengacak puncak kepala Fany.


"Hiss nyebelin , bikin berantakan aja bisanya." ucap Fany dengan menyisir rambutnya dengan jemarinya.


Kakak beradik itu pun berhenti di depan ruang kerja Fika. Tanpa mengetuk pintu , Fany langsung saja membukanya.


"Kak ayo kita makan dulu." ucap Fany mengajak calon kakak iparnya.


"Astaga , kamu disini? Sejak kapan?" tanya Fika dengan heran melihat Fany yang hanya memanggilnya di pintu saja.


"Dari tadi sih sebenarnya kak hehe..." ucap Fany dengan terkekeh.


"Hem kalian ini... Bentar ya." ucap Fika yang masih mengetik sesuatu di papan keyboardnya.


"Kak istirahat kak , kerja mulu gak capek apa? Minta di nikahin aja kak sama si do'i. Daripada si do'i ntar di ambil orang lho..." ucap Fany dengan santai dan membuat Fika menahan tawanya.


Kakaknya yang menyaksikan sang adik mengoceh seperti itu hanya mampu berserah.


"Ada aja kamu tuh , emang ada yang mau sama dia?" ucap Fika dengan tersenyum.


"Nah itu kak Fika sendiri." ucap Fany.


"Kakak aja nggak tau kenapa bisa kayak gini..." ucap Fika sembari berjalan menghampiri kedua orang yang menunggunya di pintu.


"Aku udah kenyang nih , kalian aja ya yang pergi makan." ucap kak Irfan dengan tenang.


"Kenyang apaan? Makan angin?" ucap Fany.


"Kenyang dengerin kalian tadi. Lapernya udah ilang." ucap kak Irfan.


"Apaan sih kak , kita harus makan bertiga! Titik." ucap Fany tak mau di bantah lagi


"Kalian dulu waktu kecil berantem mulu gak sih?" tanya Fika dengan tersenyum.


"Enggak kak , dulu pas aku kecil dia sayang banget ke aku. Jagain aku terus. Main bareng. Gak tau sekarang pas udah gede makin pengen buat dia naik darah aja , hehe..." ucap Fany dengan terkekeh.


"Kamu tanya yang lain aja napa sih." ucap lelaki itu dengan sabar.


"Kalian emang lucu banget ya..." ucap Fika.


Mereka bertiga pun masuk ke dalam lift dan turun ke lantai bawah. Lanjut berjalan menuju parkiran dan sampailah di mobil.


"Depan satu belakang satu. Aku nggak mau di depan sendiri." ucap kak Irfan yang kemudian masuk ke dalam mobil.


"Astaga , kakakmu memang benar-benar ya..." ucap Fika.


"Aku di belakang aja." ucap Fany yang kemudian masuk kedalam mobil.


Kini mereka bertiga sudah berada di dalam mobil yang sedang melaju di jalan raya. Mereka akan menuju sebuah restoran favoritnya.


...***...


...*...


...***...


Dalam perjalanan , ia berharap tak turun hujan lagi untuk hari ini. Ia ingin bersenang-senang menikmati waktu liburnya. Ia yang merasa haus , sesaat kemudian menepikan mobilnya dan berhenti. Ia pun pergi ke supermarket dan membeli sebotol minuman dingin.


Melanjutkan perjalanan lagi , ia terus saja memikirkan kekasihnya. Entahlah , ia ingin segera bertemu. Bukan karena rindu , tapi entahlah ia juga tidak mengerti.


Sampai di kantor , ia berjalan masuk.


"Permisi mbak , Bosnya dateng nggak hari ini?" tanyanya pada resepsionis yang sudah hafal padanya.

__ADS_1


Namun , pegawai itu seperti terlihat ragu untuk menjawab.


"Emm ada mbak. Tapi sedang ada tamu." ucap pegawai itu dengan sedikit kikuk.


"Ah iya , nanti saya tunggu di atas aja. Makasih ya mbak." ucapnya dengan tersenyum tanpa menyadari ekspresi dari pegawai resepsionis itu.


Dengan tenang , ia menuju lift dan naik ke lantai atas dimana ruang kekasihnya berada.


Langkah yang santai itu telah sampai di depan pintu. Ia menyentuh gagang pintu. Dengan yakin , ia mendorongnya perlahan.


Ia yang datang bermaksud untuk mengejutkannya , namun justru ia sendiri yang mendapatkan kejutan luar biasa. Ia tak bisa berkata apa-apa , ia hanya menatapnya dalam diam.


Sayang sekali gadis yang berada di dalam pelukan kekasihnya itu membelakangi pintu. Ia tak tahu siapa dia.


Ia melihat Ardhi yang hendak melepaskan pelukannya , namun terlihat pula gadis itu masih menahannya dengan kuat.


Dengan rasa yang entahlah sudah seberantakan apa , ia mundur satu langkah dan berlalu tanpa menutup pintu. Langkahnya terasa sangat ringan sekali. Dengan cepat ia masuk lift untuk turun.


Ia berusaha sekuat mungkin untuk menahan air matanya sampai di luar kantor. Bahkan ketika ia melewati resepsionis , ia hanya tersenyum saja.


Dengan cepat , ia menyalakan mesin mobil dan melaju. Sampai di gerbang , ia melirik kaca sepion mobilnya. Terlihat Ardhi berlari keluar dari dalam kantor.


Akhirnya , ia keluar dari gerbang dan dengan cepat melaju di jalan raya. Seperti suasana hatinya yang mulai pedih , rintik hujan pun seolah mengerti. Turunlah rintik-rintik hujan yang mulai memenuhi kaca di bagian depan mobil.


Kini ia menguji nyalinya sendiri. Entahlah , mungkin karena hatinya sedang kacau. Ia mengemudikan mobil dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Dalam perjalanan itu , ia tetap berusaha untuk tidak berfikir buruk. Walaupun itu susah.


Ditengah fokusnya mengemudi , ponselnya tiba-tiba bernyanyi. Ia sempat meliriknya sesaat. Ya , itu kekasihnya. Ia bingung harus menjawab atau tidak. Tapi jika tidak menjawab , itu akan membuat dirinya terlihat sedang marah.


Fany menarik nafas dalam-dalam dan hembuskan perlahan. Ia menenangkan diri dahulu sebelum menjawab. Sebelum panggilan berakhir , Fany menjawab panggilan itu dengan earphone.


"Sayang , kamu dimana? Tunggu aku." ucap Ardhi yang terdengar panik.


"Kamu kenapa?" ucap Fany dengan setenang mungkin.


"Kamu mau kemana , tolong berhenti dulu." ucap Ardhi.


"Memangnya ada apa? Aku lagi buru-buru." ucap Fany beralasan.


"Jangan bohong , aku tau kamu lagi nahan marah. Aku bisa jelasin semuanya." ucap Ardhi yang membuat Fany diam.


"Sayang... Ayolah berhenti. Kamu dimana sekarang?" ucap Ardhi lagi. Ia bingung harus kemana. Ia kehilangan jejak dan tak tahu kemana Fany melajukan mobilnya.


"Aku akan baik-baik aja dan selesaikan dulu urusanmu." ucap Fany dengan tenang dan memutuskan sambungan telepon secara sepihak.


Sementara itu , Ardhi mengemudikan mobilnya menuju rumah. Ia berfikir mungkin Fany akan pulang kerumahnya.


Beberapa saat kemudian , ia telah sampai dan berhentikan mobilnya didepan pintu gerbang. Ia keluar dari mobil dan masuk ke dalam.


Ardhi keluar lagi disaat ia tak melihat adanya mobil di garasi. Ia tampak kacau kali ini. Firasatnya yang buruk itu benar-benar tak salah.


Ardhi kembali masuk ke dalam mobil. Ia mencoba menghubungi nomor kekasihnya itu namun tak ada jawaban. Sepertinya , telepon darinya sudah diabaikan begitu saja.


"Gue harus kemana sekarang?" ucap Ardhi dengan mengusap wajahnya dan membuat rambutnya berantakan.


.


Berbeda dengan Fany , kini ia menepikan mobilnya. Gadis itu mencoba menghubungi sahabatnya dengan video call. Dan tak lama kemudian , di layar ponselnya terpampang jelas kedua sahabatnya itu.


"Hai... Eh Zahra lu ngampus ya hari ini?" ucap Fany.


"Iya gue ada kelas , tapi udah mau pulang kok bentar lagi. Ada apa nih?" ucap Zahra.


"Fany lu di mobil ya? Lu mau kemana?" ucap Airin yang sedang berada di kamar.


"Emm gue sebenernya mau minta tolong sih sama kalian." ucap Fany dengan sedikit ragu.


"Apaan?" ucap Airin dan Zahra yang hampir bersamaan.


"Gue mau nginep ke villa. Kalo ntar malem nyokap bokap atau kakak gue telpon kalian , bilang aja kalo kalian berdua emang lagi sama gue di villa. Tapi jangan kasih tau siapapun lagi ya. Termasuk cowok gue , kalo misalnya dia nanya kalian bilang aja nggak tau. Please ya bantuin gue , kali ini aja." ucap Fany dengan mohon.


"Lu lagi ada masalah ya?" tanya Airin.


"Coba deh lu cerita ke gue , kemaren aja lu masih baik-baik aja sama dia." ucap Zahra.


"Heemm gue... Gue gak apa-apa sih sebenernya. Gue cuma lagi kacau aja." ucap Fany dengan tersenyum.


"Kenapa bisa?" ucap Airin.


"Emm nanti kalo gue udah sampai di villa gue telpon lagi. Ntar gue ceritain. Gue jalan dulu ya." ucap Fany dengan tersenyum.


"Lu seriusan sendiri ke sana? Gue temenin deh." ucap Zahra


"Atau gini aja , lu tunggu di tempat lu berhenti sekarang. Gue sama Zahra nyusul kesitu. Kita temenin lu kesana. Gue takut lu disana aneh-aneh." ucap Airin yang justru membuat Fany tertawa.


"Gue gak akan bunuh diri juga kali , gue baik-baik aja kok. Gue cuma butuh bantuan kalian soal tadi aja." ucap Fany dengan tersenyum.

__ADS_1


"Beneran lu gak apa-apa? Awas aja lu kalo sampe macem-macem." ucap Zahra.


"Ya udah kalo gitu lu hati-hati dijalan. Gak usah ngebut. Ntar jangan lupa cerita sama kita." ucap Airin.


"Iya gue gak ngebut dan gue pasti cerita sama kalian. Ya udah kalo gitu gue jalan dulu , sampai nanti ya. Thanks bantuannya. Bye..." ucap Fany dengan tersenyum sembari mengakhiri panggilannya.


Ia ragu namun ia nekat melakukan hal itu. Ardhi tak mungkin akan bertanya pada orang tua serta kakak. Fany tahu , Ardhi tak ingin keluarganya tahu tentang permasalahannya.


Beberapa saat setelah ia kembali melaju di jalan raya , ponselnya berdering lagi. Rupanya sang kekasih tak lelah untuk berusaha menghubunginya. Fany pun menyentuh tombol warna hijau di ponselnya. Namun ia diam , ia tak mengatakan apapun.


"Sayang kamu dimana? Kamu jangan pergi kemana-mana. Aku mau jelasin semuanya sekarang juga." ucap Ardhi.


"Sayang... Kenapa kamu diem aja? Bilang kamu di mana sekarang. Biar aku kesitu." ucap Ardhi.


"Sayang..." ucap Ardhi memanggil.


Fany terdiam bukan karena malas untuk berbicara. Namun , ia menangis dalam diam yang membuat dadanya terasa sesak dan hal itu yang membuat bibirnya tak mampu berucap. Ia berusaha setenang mungkin agar tak ada suara tangisannya.


"Aku udah bilang , aku baik-baik aja. Udah dulu ya , aku lagi dijalan." ucap Fany dengan menyembunyikan isakannya.


"Kamu mau pergi kema..." ucap Ardhi yang ternyata sambungan telepon sudah terputus lagi.


Hal itu membuat Ardhi menghela nafasnya kasar. Ia kesal dengan dirinya sendiri. Ia menyesal kenapa harus memeluk Yuna pula.


"Astaga sayang... Kamu dimana sekarang? Gue harus kemana ini?" ucap Ardhi dengan melonggarkan dasi yang melilit di kerahnya.


Tak sampai di situ , ponselnya berdering lagi. Nama Bima tertera disana.


"Lu ada masalah ya? Dimana lu sekarang?" ucap Bima yang langsung to the point.


"Lagi cari cewek gue , tapi gue gak tau dia perginya kemana." ucap Ardhi dengan suaranya yang lemah.


"Astaga , emang dia lihat lu sama mantan lu pas lagi ngapain sih? Kok sampai kayak gini?" ucap Bima yang penasaran.


"Besok aja gue cerita. Gue lagi pusing tauk mau cari dia kemana. Dia nggak pulang ke rumah." ucap Ardhi.


"Suatu tempat. Mungkin dia butuh tempat yang damai buat tenangin suasana hatinya. Lo tau nggak tempat kesukaan dia? Mungkin ke taman , ke apartemen atau ke hotel gitu." ucap Bima memberi arahan.


"Bisa jadi sih , ya udah gue jalan dulu. Tolong handle kantor ya." ucap Ardhi dengan memutuskan telpon.


Ardhi kembali mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju taman. Mungkin saja kekasihnya pergi ke tempat itu. Dalam perjalanan , hujan pun mengguyur.


Hujan yang semakin deras , membuat perasaan Ardhi semakin cemas. Ia ingin bertanya , tapi pada siapa? Ia tak ingin orang lain tahu tentang apa yang terjadi , terlebih lagi keluarganya.


Sampai di taman , taman tampak sepi karena hujan deras masih saja belum reda. Sampai ia menyusuri parkiran dengan harapan ada mobil Fany disana , namun kenyataannya disana tak ada mobil yang ia cari.


Ardhi keluar dari taman dan kembali melaju di jalan raya. Ia bingung karena suasana semakin gelap karena hujan. Ia pun melirik jam tangannya yang ternyata sudah menunjukkan pukul 15.05 wib.


"Apa dia ke apartemen ya?" ucap Ardhi menebak. Mungkin ia pergi ke apartemen kakaknya. Ia pun mengambil ponselnya dan hendak mencari nomor bang Irfan , begitulah panggilnya.


Sedetik kemudian , ia berfikir kembali. Ia tak mau jika sang kakak mengetahui pertengkaran mereka.


"Astaga , bisa gila nih gue!" ucap Ardhi dengan putus asa.


Otak di dalam kepala tampannya terus saja berputar mencari cara. Sampai terlintas sesuatu , ia pernah berkirim pesan lewat email pada Zahra. Dan sekarang ia akan bertanya padanya barangkali ia tahu sahabatnya dimana.


"Zahra , lu sekarang lagi sama Fany nggak?" tulis pesannya dan ia sukses mengirimkannya.


Ia benar-benar berharap pada sahabatnya itu , dan semoga saja mereka tahu.


Sementara di seberang sana , Zahra ternyata sedang bersama Airin di mall. Zahra pun menunjukkan email itu pada Airin.


"Gue sebenernya gak tega lihat mereka kayak gini. Mereka udah tunangan loh , hubungan mereka udah serius." ucap Airin.


"Gue juga , apa kita kasih tau aja ya? Biar masalah mereka cepet selesai. Biar mereka baikan lagi kayak dulu." ucap Zahra.


"Tapi kan kita gak tau masalahnya apa. Kalo Ardhi selingkuh gimana?" ucap Airin.


"Ya soal itu bodo'amat aja. Ya yang penting mereka ketemu dan saling bicara baik-baik. Kalau gue yakin sih tuh cowok nggak sebrengsek itu." ucap Zahra.


"Feeling gue juga gitu sih , dari dulu tuh cowok emang baik." ucap Airin.


Apakah Airin dan Zahra akan memberitahukan tentang keberadaan Fany?


Next eps...


❤️


❤️


❤️


❤️


❤️l.a.f🌻❤️

__ADS_1


__ADS_2