
Hari-hari berlalu terasa begitu cepat. Kini masa liburan sekolah telah usai. Fany dan siswa siswi lainnya kembali ke sekolah seperti semula.
Fany begitu semangat menjalani hari pertamanya di sekolah. Ia masuk ke sekolah di antar oleh sahabat kecilnya yang kini sudah sangat dekat dengan keluarga Fany seperti dahulu. Dan hari-hari Fany kini terasa terisi dengan kebahagiaan. Entah karena apa yang jelas Fany merasa bahagia selama Ardhi kembali ke kehidupannya setelah sekian lama bertahun-tahun ia menanti.
Ardhi keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil di samping Fany. Fany keluar sembari membawa tasnya.
"Eh hai Fany , selamat pagi..." ucap Reza sambil tersenyum menyapa Fany dan menatap penasaran dengan laki-laki yang berada di depan Fany.
Ya , Ardhi yang memakai celana panjang jeans hitam dengan kaos birunya yang membuat ia terlihat begitu keren. Apalagi banyak cewek-cewek yang lewat di sekitarnya untuk masuk ke sekolah sambil menatap Ardhi dengan tatapan suka.
"Iya Za , pagi juga." ucap Fany dengan tersenyum pula.
"Ehm bentar , aku ada jepit nih buat kamu. Aku pakai'in ya." ucap Ardhi mengabaikan Reza yang mematung memperhatikannya.
"Kamu dapet dari mana?" tanya Fany pada Ardhi yang sedang memasang jepit berbentuk kupu-kupu di kening Fany.
"Kemaren pas kita ke mall aku beli ini. Udah , kamu masuk ke kelas sana. Inget jangan nakal ya . Nanti pulangnya aku jemput. Oke!" ucap Ardhi tanpa memperdulikan Reza disana.
"Iya iyaa , yaudah aku ke kelas ya. Kamu pulang sana hati-hati dijalan." ucap Fany dengan tersenyum ke arah Ardhi.
"Iya , belajar yang bener ya..." ucap Ardhi sambil merapikan poni rambut Fany di dahinya.
"Iya deh. Za , duluan ya..." ucap Fany pada Ardhi dan berpamitan pada Reza untuk berjalan duluan ke kelas.
Setelah Fany hilang dari pandangan , Ardhi menatap Reza dengan tersenyum manis lalu pergi masuk ke dalam mobil. Reza semakin penasaran siapa laki-laki itu dan mempunyai hubungan apa dengan Fany. Perempuan yang sangat di sayanginya itu sampai saat ini.
Sampai di kelas , Fany bertemu dengan sahabatnya. Yaitu Airin dan Zahra. Kedua sahabat Fany yang paling dekat dengan dirinya diantara yang lainnya.
"Hai kalian... Ngomongin apa sih pagi-pagi gini." ucap Fany pada kedua sahabatnya itu.
"Eh Fany ... Hai apa kabar.. Kita lagi ngomongin liburan kemaren Fan.. Gimana liburan lu?" Ucap Airin dengan memeluk Fany .
"Baik kabar gue , kalian gimana? Ehm hehehe gue nggak liburan kemana-mana kok kemaren." ucap Fany dengan tenang dan tersenyum.
"Kita juga baik-baik aja Fan..." ucap airin.
"Masa sih lu ngga liburan? Gak percaya gue!" Ucap Zahra.
"Iya serius gue nggak kemana-mana. Ih pada gak percaya ya lu!" Ucap Fany terkekeh geli melihat sahabatnya yang terlihat lucu.
"Ya kan biasanya setiap ada libur semester lu pasti liburan kan. Aneh aja kali ini sampe lu ngga liburan. Ya nggak Rin..?" ucap Zahra dengan mulutnya yang suka ceplas-ceplos saat berbicara.
"Hehehe dulu pas awal liburan ke pantai doang . Abis itu gue tinggal di apartemen kakak gue. Bosen dirumah jadi sementara waktu di apartemen kakak gue. Udah gitu doang kok." ucap Fany bercerita sambil tersenyum manis.
Bel masuk sekolah pun berbunyi nyaring diikuti siswa siswi yang masuk kelas dan tak lama kemudian Guru masuk ke dalam ruang kelas itu.
...----------------...
Hari ini hari yang begitu melelahkan untuk Ardhi. Ia sibuk bergelut dengan tumpukan maps di meja kerjanya. Otaknya terus diputar untuk menyelesaikan tugasnya itu sebelum jam menunjukkan pukul 14.00 wib. Karena jam dua nanti ia harus menjemput Fany ke sekolah. Ia juga sudah meminta izin kepada orang tua Fany untuk mengantar jemput nya.
Ardhi ingin menjadi seseorang yang selalu ada di hari-hari Fany. Entahlah , baginya Fany itu adalah seseorang yang mampu membuat semangatnya kian membara. Fany adalah alasan baginya karena bisa sampai sebahagia ini.
Ia juga sebenarnya bingung dengan perasaannya sendiri , persahabatan yang ia jalin kini rasanya sudah beda. Bukan lagi rasa sebagai sahabat , tapi rasa ingin selalu bersama selamanya. Namun , ia tahu akan perasaannya itu. Ia menyadari perasaannya. Dan ia memilih menahan untuk sementara waktu , ia tak ingin mengungkapkannya dulu sampai di waktu yang benar-benar tepat.
Waktu sudah menunjukkan pukul 13.20 wib. Ia sudah menyelesaikan tugasnya dengan cepat dan tepat. Ia pun berdiri dari kursinya dan meraih handphone serta kunci mobil di mejanya. Namun ia menuju ruang pribadinya dulu untuk mengganti pakaian kantor menjadi pakaian biasa. Ia tak ingin banyak orang tau tentang siapa dirinya.
__ADS_1
Setelah selesai mengganti pakaian , ia bergegas keluar ruangan. Ia memilih berangkat menjemput Fany lebih cepat , baginya ia lebih baik menunggu daripada membuat Fany yang menunggu. Ia tahu bagaimana jenuhnya menunggu. Apalagi karena dirinyalah Fany sudah menunggu bertahun-tahun. Dan ia masih merasa bersalah selama ini karena hal itu.
Setelah 30 menit kemudian , mobil Ardhi berhenti didepan gerbang sekolah Fany. Masih 10 menit lagi Fany keluar. Ia pun memainkan ponselnya didalam mobil sambil menunggu Fany.
Sepuluh menit telah berlalu , kini siswa siswi berhamburan keluar melewati gerbang sekolah. Ia melihat Fany bersama dua teman perempuan berjalan keluar. Ardhi pun keluar dari mobilnya dan berdiri bersandar pada depan mobilnya.
Banyak cewek-cewek melirik ke arahnya. Tak terkecuali dua sahabat Fany pula. Airin dan Zahra juga terpana memandang Ardhi dari kejauhan. Dan entah kenapa , Fany seperti tak rela melihat Ardhi yang kini mendapat tatapan suka dari cewek-cewek di sekolahnya.
Fany mendekat ke arah dimana Ardhi sedang berdiri menunggunya. Begitu sampai dihadapannya , Ardhi tersenyum manis.
"Oh ternyata pacar lu ya Fan? Keren , ganteng banget. Cocok nih kalian." ucap Zahra dengan tak sadar mengucapkan kalimat yang membuat Ardhi tersenyum.
"Lu pacaran gak pernah bilang sama gue ya! Ratu jomblo ternyata udah punya pacar. Wah parah lu Fan , kita ini sahabatan udah lama kok lu gak cerita kalo lu udah punya pacar sekeren ini sih!" ucap Airin dengan berbicara tanpa henti dan membuat Ardhi menahan tawanya.
Dan dengan cepat Fany seketika menjawab.
"Bawel ya lu berdua , ini tuh asisten pribadi gue. Udah ayo pulang. Kalian pulang sana." ucap Fany sambil mendorong-dorong tubuh Ardhi untuk masuk ke mobil.
"Gila lu ya Fan , daripada jadi asisten lu mending jadi pacar gue aja kalo gitu." ucap Zahra dengan tertawa melihat ekspresi wajah Fany yang menatapnya.
"Udah udah , ayo kita pulang ya. Kami pulang dulu ya. Kalian juga pulang sana , hati-hati dijalan ya." ucap Ardhi dengan tersenyum tenang sembari merangkul pundak Fany menuju pintu mobil dan masuk kedalam.
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang di jalan raya. Ardhi tersenyum memandang Fany yang sibuk memandang lurus kearah depan.
"Aku baru tau kalo jabatan aku sekarang berubah dari sahabat jadi asisten." Ucap Ardhi tanpa melirik Fany yang salah tingkah sendiri mendengar ucapannya itu.
"Ya kalo aku bilang ke mereka kalau kamu sahabat aku , mereka nggak mungkin percaya." ucap Fany dengan memandang Ardhi yang sedang santai mengemudi.
"Ya udah kenapa nggak di iya'in aja omongan mereka tadi? Biar simpel kan. Masa ganteng-ganteng gini dibilang asisten , kayak kurang kerjaan aja aku bisa turun pamor dong!" ucap Ardhi dengan santainya sembari sesekali melirik Fany.
"Emang nggak mau pacaran sama aku?" tanya Ardhi yang terus menggoda Fany yang kini wajah Fany sudah bagaikan kepiting rebus dan jantungnya yang seolah mau loncat keluar.
"Astaga ! Bisa pingsan gue kalo dia godain gue mulu ! Kenapa juga perasaan gue ini kayak gini ! Ya Tuhan tolong aku..." ucap Fany dalam hati merutuki dirinya sendiri.
"Udah udah deh , aku tuh becanda tadi... Jangan ngambek dong ntar cantiknya ilang lho." ucap Ardhi dengan tersenyum sambil menepuk pundak Fany pelan. Dan Fany hanya terdiam menetralkan detak jantungnya.
Entahlah meski laki-laki disampingnya itu merupakan orang yang paling dia rindukan selama ini , tapi Fany masih merasa canggung dengannya. Ia tak mampu menyembunyikan perasaannya. Sejak pertama kali pandangan mata mereka bertemu di mall dulu , rasanya jantung Fany terus berdetak kencang tak beraturan.
Ardhi memang sahabat Fany sejak kecil , namun kini mereka sudah sama-sama dewasa. Mereka bisa merasakan apa itu perbedaan antara persahabatan semata dan persahabatan yang didalamnya ada rasa kasih sayang.
Dan tak dapat dipungkiri , perasaan Fany kini kian menghangat tatkala sedang bersama dengan Ardhi. Sebelumnya Fany tak pernah merasakan apa yang ia rasakan seperti saat ini.
Seperti halnya saat disekolah tadi , ada rasa tak rela dihati Fany melihat Ardhi dilirik banyak cewek. Apa mungkin cemburu?
Mungkinkah persahabatannya kini telah melibatkan perasaannya?
"Aku pengen nanya , boleh nggak?" ucap Fany menoleh dan memandang Ardhi yang fokus menyetir dengan santai.
"Hemm , boleh. Apaan?" ucap Ardhi dengan menaikkan satu alisnya.
"Pacar kamu dimana? Di Tokyo ya?" ucap Fany yang sukses membuat Ardhi menginjak rem secara mendadak. Untung saja mobilnya berjalan di tepi dan saat itu jalanan tak begitu ramai. "Ehh kenapa sih?" tanya Fany lagi karena kaget.
"Eh kamu gapapa kan? Ada yang sakit ngga?" ucap Ardhi yang khawatir sambil memeriksa keadaan Fany.
"Nggak apa-apa kok , lagian kenapa berhenti mendadak gitu!" ucap Fany sambil menatap Ardhi.
__ADS_1
"Kamu sih kalo ngasih pertanyaan tuh yang bener aja dong!" ucap Ardhi dengan menyandarkan tubuhnya.
"Emang aku salah nanya ya? Apanya yang salah sih?" ucap Fany dengan polosnya.
"Ya iyalah salah. Gada pertanyaan lain apa? Aku tuh kerjain tugas kantor aja gak ada selesai-selesainya , mana ada aku punya waktu buat cari pacar?" ucap Ardhi dengan entengnya sambil memandang Fany yang juga memandangnya.
"Yang bener aja kalo ngomong!" ucap Fany tak percaya dengan ucapan cowok didepannya ini. Cowok sekeren dan setajir ini tak punya pacar??? Sungguh sulit baginya untuk percaya.
"Apa sih yang bikin kamu nggak percaya sama aku?" tanya Ardhi dengan menatap kedua mata Fany dengan tatapan teduhnya.
"Nggak yakin aja sih hahaha... Jaman sekarang tuh cowok tampan kayak lu itu udah punya koleksi cewek yang tersebar dimana-mana." ucap Fany dengan santainya.
"Ohh jadi menurut kamu aku ini tampan? Baru sadar ya kalo aku tampan? Aku emang udah tampan dari dulu. Tapi sayang , aku nggak seperti yang kamu pikirkan. Aku nggak suka mempermainkan cewek." ucap Ardhi dengan tersenyum manis yang membuat Fany salah tingkah sendiri karena ditatap Ardhi.
Kemudian Ardhi melanjutkan perjalanan yang sempat terhenti tadi. Ardhi mengemudi dengan kecepatan sedang.
"Cowok yang tadi pagi nyapa kamu di gerbang sekolah itu siapanya kamu?" tanya Ardhi tanpa menoleh ke arah Fany.
"Temen aku itu , satu kelas yang sama juga. Kenapa?" ucap Fany .
"Oh gitu , kamu suka sama dia?" ucap Ardhi lagi.
"Ah nggak lah , aku suka sama dia sebagai teman dan ngga lebih kok dari itu." ucap Fany dengan tersenyum.
"Yang bener?" tanya Ardhi memastikan.
"Iya serius . Ngapain bohong?" ucap Fany yang membuat hatinya terasa lega dan bersyukur.
"Tapi aku lihat kalo dia itu suka sama kamu deh." ucap Ardhi lagi.
"Aku tau itu. Dari dulu banyak yang bilang kalau dia suka sama aku. Ya tapi masalahnya aku nggak ada rasa gimana-gimana ke dia , aku suka sama dia itu sebagai sahabat dan ngga bisa lebih. Apa mungkin hati aku udah mati rasa kali ya?" ucap Fany dengan polosnya.
"Mati rasa? Kok bisa? Emang kamu nggak mau pacaran? Tadi temen kamu bilang kalo kamu itu ratu jomblo kan? Emang nggak pernah pacaran sebelumnya?" ucap Ardhi yang membuat Fany bingung mau menjawab bagaimana.
"Iya , aku nggak pernah pacaran. Aku kayak belum nemuin seseorang yang tepat aja. Dan ya udah deh aku mau fokus ke sekolah dulu. Besok aja pacarannya kalo udah kuliah." Ucap Fany dengan tenang. Ia menjawab dengan jawaban yang paling tepat baginya.
"Ya udah kalo gitu , belajar yang bener ya. Ingat , jangan nakal kalo lagi di sekolah." ucap Ardhi juga dengan tenang sembari tersenyum. "Makan dulu ya , bentar. Belum makan aku dari tadi." ucap Ardhi lagi.
"Lagian ngapain juga sampe jam segini belum makan?" tanya Fany dengan heran.
"Beresin tugas biar cepet selesai. Terus jemput kamu deh. Sampe lupa makan tadi." ucap Ardhi dengan tersenyum yang membuat Fany iba.
"Ya udah deh yuk makan dulu aja , ntar kamu pingsan kan susah aku-nya." ucap Fany yang membuat Ardhi terkekeh geli mendengarnya.
"Heh kamu pikir aku cowok apaan? Aku nggak selemah itu ya! Sembarangan aja." ucap Ardhi tak terima dengan ucapan Fany yang seperti meremehkannya. Dan hal itu membuat Fany tertawa melihat Ardhi seperti anak kecil.
"Ya bisa aja dong kayak gitu hehehe..." ucap Fany tertawa ringan melihat raut wajah Ardhi yang tampan itu menjadi sangat lucu baginya.
Mereka terdiam kembali sampai tak lama kemudian mobil mereka masuk area restoran cepat saji untuk makan siang dulu dan barulah kembali melanjutkan perjalanan pulang mengantarkan Fany kerumah.
*
*
*
__ADS_1
*❣️❤️