Love Always Forever (Tanpamu , Bagaimana Aku?)

Love Always Forever (Tanpamu , Bagaimana Aku?)
Salah Paham


__ADS_3

Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Tak ada yang memulai pembicaraan. Sepi. Suasana benar-benar canggung. Fany yang terdiam tak berani berkata-kata. Ardhi pun sibuk menata hatinya untuk tenang.


Menit demi menit berlalu. Membosankan memang. Fany tampak melirik Ardhi. Namun yang ia lirik sedang fokus mengemudikan mobil dengan wajah datarnya. Hati Fany semakin menjerit. Ia tak mampu bertahan dalam keadaan seperti ini terlalu lama.


Fany semakin nampak gelisah ketika ia merasa perjalanannya sudah cukup jauh namun tak juga sampai. Jalanan sore yang ramai itu tidak ia ketahui dimana.


"Kita mau kemana?" ucap Fany dengan hati-hati sembari melirik ke arah Ardhi yang sedang fokus mengemudi.


"Kita jalan sebentar." ucap Ardhi tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.


Fany terdiam beberapa saat karena ia bingung harus berkata apalagi. Ia takut karena ia tahu Ardhi sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja.


"Aku nggak ada hubungan apa-apa sama dia." ucap Fany dengan memberanikan diri berucap. Butuh waktu beberapa saat untuk mendapatkan jawaban.


"Apa kamu yakin dan bisa pastikan kalo dia bakal baik-baik aja tanpa mengusik hubungan kita?" ucap Ardhi dengan tenang.


Satu kalimat yang terucap itu membuat Fany terdiam beberapa saat. Ia tak mengerti harus menjelaskan apa. Apalagi tentang email itu, ia sama sekali tidak mengerti apa isi dari email tersebut.


Mobil pun berhenti dan Fany menyadari ia dibawa kemana.


"Aku tau kamu marah. Tapi aku nggak ada main sama siapapun. Termasuk dia tadi." ucap Fany dengan menatap Ardhi yang tengah melepaskan sabuk pengamannya.


"Aku udah tau siapa dia." ucap Ardhi dengan tersenyum.


Senyuman itu bukanlah senyum bahagia. Senyuman itu sangat mengerikan baginya. Ardhi pun turun dari mobil dan berjalan memutari mobil membuka pintu mobil untuk Fany.


"Anterin aku pulang." ucap Fany dengan ekspresi wajah datar.


"Kita baru aja sampai." ucap Ardhi dengan sabar.


"Aku nggak mau turun, aku mau pulang!" ucap Fany masih dengan wajah datarnya.


"Sebentar aja sayang." ucap Ardhi dengan melepaskan seat belt Fany.


"Mau ngapain kesini?" ucap Fany masih didalam mobil.


"Sebentar aja nggak lama..." ucap Ardhi menarik pelan pergelangan tangan Fany dan mengajaknya turun.


Baru beberapa langkah setelah masuk kedalam villa, Fany langsung merasa hawa yang tidak nyaman. Ia takut Ardhi melakukan hal buruk padanya saat itu juga.


"Ayo pulang aku nggak mau disini." ucap Fany berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Ardhi.


"Kamu jangan bikin kesabaranku habis." ucap Ardhi yang tengah menatapnya dengan tatapan mata yang sulit di artikan.


"Kalau kamu mau marah, marah aja dari tadi. Percuma juga kamu marah ke aku, aku nggak tau apa-apa. Soal email dari dia pun aku gak tau sedikitpun. Dan yang kamu lihat tadi itu bukan apa-apa. Aku nggak pernah tau akan ketemu dia lagi." ucap Fany dengan berani. Ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak menjatuhkan air matanya.


"Aku nggak marah. Aku cuma nggak bisa tenang selama dia masih ada di dekat kamu." ucap Ardhi dengan menatapnya tenang.


"Dia emang mantan aku. Tapi aku nggak ada perasaan apapun ke dia. Dari dulu aku udah berusaha menghindar. Tapi aku nggak pernah tau kalau dia sekarang ada di kampus yang sama juga. Aku harus gimana lagi? Aku harus apa?" ucap Fany dengan menatap kedua mata Ardhi dengan intens. Terlihat jelas kedua mata Fany tampak ada genangan.


"Aku nggak mau lihat kamu deket sama dia. Aku tau dia akan tetap ngejar kamu sampai dapat. Dia bukan minta menjadi teman yang benar-benar hanya teman." ucap Ardhi dengan mengelus rambut panjangnya Fany yang tergerai.


Fany pun terdiam beberapa saat. Lalu ia menarik nafas lalu menghembuskan kasar.


"Aku siap kalau kamu minta kita tunangan." ucap Fany tanpa ekspresi yang membuat Ardhi tersenyum.


"Enggak sayang." ucap Ardhi yang membuat Fany menatapnya heran.


"Kenapa? Kamu meragukan aku? Oh atau bahkan kamu udah gak percaya sama aku lagi?" ucap Fany yang tersenyum dan tanpa sadar menjatuhkan air matanya mengalir pada pipi mulusnya.


"Bukan. Bukan itu alasanku. Belum tepat waktunya aja. Aku pasti akan melamar kamu suatu saat nanti. Aku percaya sama kamu. Aku percaya kamu bisa menjaganya untuk aku bukan untuk orang lain." ucap Ardhi dengan tenang sembari menghapus air mata dipipi Fany dengan ibu jarinya.


"Aku selalu jaga diri aku baik-baik. Aku nggak pernah punya niat untuk pergi dari kamu. Kamu itu udah lebih dari cukup buat aku. Aku udah bersyukur banget bisa mencintai dan dicintai kamu. Kamu orang yang membuatku selalu berharap bahwa penantianku nggak akan pernah sia-sia." ucap Fany dengan sedikit terisak.


"Maaf. Aku nggak akan mengecewakan kamu yang udah sabar nungguin aku bertahun-tahun." ucap Ardhi dengan mengecup kening Fany.


"Tolong jangan berpikir buruk tentang aku. Aku nggak ada maksud lain. Aku nggak pernah punya pikiran seburuk itu." ucap Fany dengan menatap Ardhi.


"Aku sayang sama kamu. Makanya aku takut kamu pergi. Aku akan lakukan apapun demi menjaga kamu untuk tetap ada di sampingku. Jangan ada yang lain dihati kamu." ucap Ardhi dengan tersenyum.


"Iya aku janji nggak akan ada siapapun yang ada di hati aku selain kamu." ucap Fany yang tenang sembari menyentuh dada Ardhi dengan jemarinya.


Sentuhan jemari Fany dengan lembut itu membuat perasaannya tenang. Dadanya berdesir, ia menatap Fany dalam-dalam dan menciumnya. Ia sangat merindukan moment seperti ini. Seakan meluapkan rasa kangen yang ia pendam.


Fany mengikuti permainan itu. Jujur saja ia juga merindukannya sentuhan dari kekasihnya ini.


Sesaat kemudian, Fany mendorong dada Ardhi mengisyaratkan agar ia menyudahinya.

__ADS_1


Ardhi mengerti itu dan mengakhiri ciumannya. Ia mencium dahi Fany sesaat lalu menatapnya.


"Sekarang kamu harus fokus menyelesaikan kuliah kamu, setelah kamu lulus aku akan menikahi kamu." ucap Ardhi dengan tegas.


"Soal pertunangan itu gimana?" ucap Fany.


"Kamu sabar ya, aku akan memikirkan itu dan mencari waktu yang tepat." Ucap Ardhi dengan tersenyum dan menarik tubuh Fany membawanya kedalam pelukan.


Fany memejamkan matanya beberapa saat di dalam pelukan itu. Pelukan yang membuat dirinya merasa nyaman dan tenang. Bukan lagi sebuah paksaan yang ia rasa. Fany kini benar-benar merasa percaya dengan kekasihnya itu. Ia adalah lelaki yang baik yang mampu menjaganya dengan sempurna.


Fany melingkarkan kedua tangannya memeluk tubuh Ardhi. Ardhi tersenyum merasakan itu. Ia tak akan melepaskan pelukannya sebelum Fany meminta untuk melepaskan.


"Ada kepentingan apa lagi kita disini?" ucap Fany tanpa merubah posisinya.


"Ada yang perlu aku selesaikan aja." ucap Ardhi dengan tenang.


"Apa?" ucap Fany dengan mendongakkan kepalanya memandang wajah Ardhi.


"Kamu." ucap Ardhi dengan singkat.


"Aku udah tau! Maksudnya selain itu?" ucap Fany.


"Mau ambil berkas aku yang ketinggalan , kemaren aku sempet tidur disini terus lupa." ucap Ardhi.


"Udah? Itu aja?" ucap Fany.


"Emang kamu mau apa lagi?" ucap Ardhi dengan tersenyum menatap Fany yang gelagapan sendiri mendengar ucapan Ardhi.


"Hah apaan..." ucap Fany.


"Mau ngapain lagi sayang? Ayo aku turutin selama aku bisa..." ucap Ardhi dengan tenang.


"Enggak mau apa-apa. Ya... Ya udah kalo gitu kamu ambil aja berkas kamu yang ketinggalan itu. Aku tunggu sini." ucap Fany dengan perlahan-lahan melepaskan dirinya dari pelukan kekasihnya.


Ardhi menghembuskan nafasnya kasar.


"Aku masih kangen sayang..." ucap Ardhi dengan kembali menarik tubuh Fany lalu dipeluknya lagi dengan erat.


Fany tak tahu harus bagaimana lagi, ia hanya cukup diam dan tak berulah. Ia membiarkan Ardhi memeluknya tanpa mengganggunya. Fany kembali memberikan pelukan untuknya.


...----------------...


...----------------...


Hari demi hari berlalu terasa begitu cepat. Fany semakin sibuk memfokuskan dirinya pada mata kuliah yang ia ikuti. Ardhi pun demikian, ia sibuk dengan perusahaan yang ia pimpin.


Namun itu berbeda dengan Rifki. Ia masih berusaha mengambil hati Fany secara diam-diam. Ia tak putus asa walaupun ia tahu bahwa Fany sudah jelas-jelas memiliki kekasih. Ia benar-benar tak bisa menghapus rasa cintanya untuk wanita itu.


Fany mencari buku di perpustakaan, ia tampak memilih beberapa buku. Ia sendirian karena kedua sahabatnya sedang ada kelas masing-masing. Ia mengambil satu buku dan mengembalikan sisanya pada tempatnya. Buku tebal artikel tentang psikologi itu ia bawa ke meja lalu membacanya.


Ditengah-tengah konsentrasinya dalam membaca, Fany terkejut tatkala ia menyadari ada lelaki yang duduk di sebelahnya. Rifki lagi. Ya lelaki itu lagi-lagi mengusiknya entah yang ke berapa kali. Fany kesal harus menahan kesabarannya terus menerus karena lelaki itu tak juga mengundurkan diri dari permainannya.


"Gua yakin lo akan menghindar lagi. Tapi please kali ini jangan pergi, gua gak ganggu lo. Lanjutin aja bacanya." ucap Rifki yang melihat Fany sedang menutup bukunya hendak pergi.


Fany tak jadi pergi hanya saja ia menggeser duduknya lebih jauh dari Rifki. Ia pun melanjutkan membaca.


Dari jauh , tampak Raffa lihat adik dari Irfan itu didekati oleh lelaki yang sudah diceritakan kepadanya. Ia berjalan menggambil buku asal-asalan lalu duduk di samping Fany. Raffa sengaja duduk di antara Fany dan Rifki untuk membuat Rifki kesal karena ulahnya.


"Kak Raffa? Ada disini juga?" ucap Fany kaget yang mengetahui Raffa tiba-tiba duduk disampingnya.


"Iya nih lagi pengen baca buku aja tadi. Sendirian aja lo?" ucap Raffa dengan akrab.


"Iya kak sendiri aja." ucap Fany dengan tersenyum.


"Oh iya, ikut gua bentar yuk." ucap Raffa dan Fany pun bingung.


"Kemana kak?" tanya Fany.


"Tadi di cariin abang lo. Yuk..." ucap Raffa yang kemudian mengedipkan sebelah matanya.


Fany pun tahu apa yang di maksud Raffa. Ia menutup bukunya dan mengembalikannya pada tempat semula. Setelah itu, Raffa mengajak Fany keluar dari ruangan tersebut.


Terlihat jelas kekesalan pada wajah Rifki saat itu. Ia benar-benar tak terlihat di mata orang yang ia cintai untuk kesekian kalinya. Ia juga heran kenapa Fany bisa akrab dengan mudah pada lelaki lain sedangkan dengannya, dekat layaknya seorang teman pun tak pernah.


Di koridor kampus, Fany dan Raffa berjalan beriringan yang membuat mahasiswa juga mahasiswi lain saling pandang. Raffa mengajak Fany jalan ke arah kantin dan menemui kakaknya.


Sampai di belakang Irfan, Raffa menepuk bahu Irfan dan itu sukses membuatnya kaget.

__ADS_1


"Nih gua bawain hadiah." ucap Raffa dengan terkekeh melihat Irfan kaget.


"Ampun nih anak dari tadi ngilang ternyata lo nyariin adek gua? Ngapain lo bawa anak manja ini kesini?" ucap kakaknya Fany yang membuatnya kesal.


"Sembarangan ya kalo ngomong? Katanya kakak nyariin? Ada apaan?" ucap Fany.


"Mau nraktir lo Fany, sini duduk aja dulu." ucap Ericko dengan mempersiapkan kursi disampingnya.


"Enggak enggak! Sana lo, lo pindah sana! Fany yang duduk sini." ucap Irfan menyuruh Yodi pindah dari sampingnya lalu menyuruh Fany duduk disampingnya.


"Ah elah gua juga yang kena." ucap Yodi sembari duduk di samping Ericko.


"Mau makan apa? Kakak yang bayar deh." ucap Irfan dengan santai.


"Kenyang! Minum aja deh." ucap Fany dengan tersenyum.


"Ya udah pesen sendiri sana. Nih..." ucap Irfan sembari memberikan selembar uang seratus ribu rupiah kepada Fany.


Fany pun beranjak untuk pergi memesan minuman. Tak butuh waktu lama, Fany kembali dengan segelas chocholate drink lalu ia letakkan di atas meja.


"Nih kembaliannya." ucap Fany menyodorkan beberapa uang kembalian itu pada Irfan.


"Simpen aja buat jajan. Oh iya sejak kapan bawa mobil sendiri?" ucap Irfan dengan menatap Fany yang tengah meminum minumannya.


"Baru semingguan, kenapa?" ucap Fany dengan menatap balik kakaknya.


"Gak usah bawa mobil sendiri gitu, supir rumah kemana?" ucap Irfan.


"Ada kok. Lagian kenapa bawa mobil sendiri? Gak ada masalah kok." ucap Fany.


"Ya takut aja, anak cewek bawa mobil sendiri ntar kenapa-napa di jalan gimana coba..." ucap Irfan dengan perhatian.


"Calon suami lo anak kampus mana? Suruh nganterin dong." tanya Raffa dengan tersenyum.


"Iya, kenalin kita juga dong ya..." ucap Yodi.


"Atau malah satu kampus sama kita juga cuma lagi lo sembunyiin aja?" ucap Ericko yang membuat Fany kebingungan.


"Bukan. Dia itu CEO-nya perusahaan..." ucap Irfan terputus ketika tiba-tiba Fany menggampar keras lengan kakaknya itu. "Aduh! Sakit gila!" ucap Irfan mengeluh sakit sembari mengusap-usap lengannya yang terasa panas.


Fany menatap tajam kakaknya. Lalu tersenyum ke arah Raffa, Ericko, dan Yodi.


"Gak usah didengerin, dia mah sok tau doang. Hhehehe..." ucap Fany.


"Emang gua beneran tau!" ucap Irfan.


"Apaan sih!" ucap Fany ketus.


"Jujur aja napa? Apa sengaja di sembunyiin biar gak ada yang tau kalo lu punya pacar? Atau malah biar kelihatan jomblo biar dapet pacar lagi? Gua bilangin tau rasa luu..." ucap Irfan dengan santainya.


"Kak apaan sih! Iya iya oke. Tapi cukup 3 temen kakak ini aja ya yang tau. Awas aja di bilangin ke yang lain!" ucap Fany dengan kesal.


"Iya kita mah bisa jaga rahasia. Ayolah gua penasaran nih siapa cowok yang sukses menangin hati adek cantik lo ini..." ucap Raffa dengan antusias.


"Dia itu CEO-nya Pratama Group. Kalian pasti udah taulah siapa pimpinannya." ucap Irfan dengan tenang diikuti oleh muka masamnya Fany.


"Ah yang bener aja? Seriusan?" ucap Yodi dengan membelalakkan matanya.


"Bentar deh, adek gua kayaknya juga kerja di sana." ucap Raffa mengingat-ingat.


"Kalo gitu kalian beneran sama-sama beruntung dong..." ucap Ericko.


"Kalian tau? Kenal?" ucap Fany dengan tatapan polosnya.


"Ya nggak kenal banget, tapi tau lah ya... Siapa sih yang nggak kenal dia. Orang perusahaannya makin maju gitu..." ucap Yodi.


"Emmm ya gitu deh..." ucap Fany.


Alhasil, Fany hanya terdiam mengalah dan membiarkan mereka berkata apa.


❤️


❤️


❤️


❤️

__ADS_1


❤️l.a.f🌻❤️


__ADS_2