
Mobil yang ia tumpangi berhenti tepat di depan bangunan apartemen mewah.
"Aku turun disini aja." ucap Yuna yang kemudian keluar dari dalam mobil.
Ardhi pun ikut keluar. Ia membantu supir taksi itu menurunkan beberapa barang milik Yuna. Dan setelah selesai , supir kembali ke dalam mobil untuk menunggu Ardhi yang sedang berbincang dengan Yuna.
"Makasih ya kamu udah nganterin aku pulang." ucap Yuna dengan tersenyum tenang.
"Iya sama-sama. Kamu baik-baik ya , jaga diri dan jaga kesehatan. Jangan mikirin aku lagi. Kamu harus bisa buat hidup kamu lebih bahagia lagi. Dan mungkin suatu saat , kita masih bisa bertemu lagi." ucap Ardhi dengan tersenyum.
Yuna tampak tersentuh hatinya oleh ucapan Ardhi. Gadis itu pun mendekat dan memeluk Ardhi untuk benar-benar yang terakhir kalinya.
"Makasih kamu udah nurutin semua yang aku mau. Aku janji aku akan selalu baik-baik aja dan aku akan bahagia." ucap Yuna yang kemudian melepaskan pelukannya.
"Anak pintar. Semangat ya." ucap Ardhi dengan tersenyum sembari mengacak kening Yuna.
"Ya udah kamu masuk ke mobil. Aku mau lihat kamu pergi." ucap Yuna dengan senyum.
"Beneran? Kamu masuk aja dulu." ucap Ardhi.
"Enggak , aku mau lihat kamu pergi." ucap Yuna yang membuat Ardhi memandangnya sesaat.
"Ya udah. Aku pulang ya. Sampai ketemu lagi. See you..." ucap Ardhi dengan tersenyum dan kemudian masuk ke dalam mobil.
Ardhi membuka kaca jendela mobil dan melambaikan tangannya ke arah Yuna. Begitupun Yuna , ia juga melambaikan tangannya disertai senyuman manisnya untuk Ardhi.
Mobil perlahan melaju kembali ke jalanan , semakin menjauh dan akhirnya hilang dari pandangan.
Lelaki itu sudah pergi. Tanpa sadar , setetes air mata menuruni pipi mulusnya. Yuna pun segera mengusap air mata itu dan segera masuk ke apartemennya.
Kisah yang ia inginkan sudah terpenuhi dengan indah. Meskipun hanya sesaat , namun kisah itu akan ia kenang untuk selama-lamanya.
...----------------...
Lelaki itu menekan bel rumah mewah berlantai dua dengan halaman yang cukup luas. Ia melihat kanan kiri , sudah banyak perubahan yang signifikan. Jelas saja , sudah berapa tahun yang lalu ia tidak mengunjungi rumah ini.
"Eh si adek udah dateng , masuk gih." ucap lelaki tampan yang mungkin 5 cm lebih tinggi darinya.
Alexander , sang kakak yang tampangnya juga tak kalah dari Ardhi. Sama-sama tampan.
"Mama papa dimana?" tanya Ardhi pada lelaki itu sembari melangkah memasuki rumah.
"Ada di rumah. Nungguin lu dari tadi." ucap Alexander yang kemudian duduk di lebih dulu di sofa dan kembali menatap layar laptop.
"Sayang , kamu udah datang. Mama kangen banget sama kamu nak." ucap Anisa , sang mama yang terlihat anggun dengan kecantikan yang seakan tidak luntur meskipun sudah termakan oleh waktu.
Wanita paruh baya itu berjalan mendekati Ardhi dan langsung memeluknya untuk beberapa saat.
"Udah mama..." ucap Ardhi dengan tenang dan mamanya pun melepaskan pelukannya.
"Kamu ini di peluk mamanya sebentar aja udah gak mau. Kamu apa kabar sayang , gimana sama calon menantu mama?" ucap mama dengan antusias.
" Baik-baik aja ma , semua baik kok. Oh iya , papa dimana?" ucap Ardhi.
"Papamu udah berangkat ke kantor , ada meeting pagi jadi harus buru-buru tadi. Ayo duduk." ucap mama.
"Em gitu , Fany nitip salam ma." ucap Ardhi dengan santai sembari menyandarkan punggungnya pada sofa.
"Oh menantu kesayangan mama , salam balik ya. Mama tuh kangen banget sebenarnya. Anak kecil yang dulu udah mama anggap seperti anak sendiri , sekarang justru mau jadi istri kamu. Kamu jangan pernah jahatin dia loh , pokonya jangan sampai kamu lukai hatinya. Ingat itu." ucap mama dengan sungguh-sungguh.
"Iya ma, aku tau kok. Aku gak mungkin aneh-aneh." ucap Ardhi dengan santainya.
"Yakin?" ucap Alexander tanpa mengalihkan pandangannya namun ucapannya sukses membuat wajah Ardhi terkejut.
"Ya yakin lah. Ngapain sih lu ikut campur. Lu kerja aja yang bener." ucap Ardhi.
"Gue udah bener kerjanya. Gue cuma mau meyakinkan aja." ucap Alexander dengan tenang.
"Kakak , udah ya jangan ribut jangan cari gara-gara. Kalian udah gede bukan anak kecil lagi." ucap mama menengahi.
Sang kakak pun hanya menampilkan senyuman termanisnya.
"Aku nggak lama disini ma , sebentar lagi juga aku mau pulang." ucap Ardhi dengan santainya.
"Loh kok buru-buru banget?" ucap sang mama.
"Besok aku harus ke Singapore ma 3 hari. Aku mau pulang cepat trus istirahat biar besok nggak kecapekan." ucap Ardhi dengan tenang.
"Hem , kamu sibuk banget ya nak? Kamu pasti capek terus disana." ucap mama dengan mengelus bahu puteranya itu.
"Enggak kok ma , mama tenang aja. Aku nggak apa-apa aku baik-baik aja. Mama nggak perlu mikirin itu." ucap Ardhi dengan tenang.
"Iya sudah , kamu udah sarapan? Ayo makan dulu." ucap mama.
"Ah udah ma , tadi udah makan kok." ucap Ardhi dengan tersenyum. "Aku mau pamit deh ma , tadi aku udah pesen tiket pesawat tapi adanya jadwal keberangkatan pagi aja. Em dua jam lagi terbang." ucap Ardhi dengan tersenyum.
"Lu tuh bener-bener anak rese ya , tau gitu gak usah kesini langsung aja pulang ke Jakarta." ucap Alexander.
"Eh , gue kesini niatnya baik tauk. Harusnya lu bersyukur gue sempatin waktu gue yang berharga itu kesini." ucap Ardhi dengan tenang.
"Kamu ini tega sekali , mama tuh masih kangen banget loh." ucap mama yang kini memeluk lengan Ardhi.
"Mama pulang aja deh ke Jakarta. Ya soalnya aku nggak bisa lama-lama ninggalin kerjaan." ucap Ardhi.
"Kerjaan atau tunangan? Itu sama-sama nggak bisa di tinggal terlalu lama. Iya nggak sih?" ucap Alexander dengan santainya.
__ADS_1
"Apa kata lu deh." ucap Ardhi. "Ya udah ma , aku harus berangkat sekarang takutnya nanti malah ketinggalan pesawat." ucap Ardhi dengan menenangkan mamanya tersayang.
"Ya sudah. Kak Alex , ayo antar mama sama adikmu ke bandara sekarang." ucap sang mama.
"Mama mau ikutan ke Jakarta?" ucap Alexander.
"Enggak. Masa mama ke Jakarta sendiri , nanti gimana sama papamu. Kita anterin adikmu yang tampan ini." ucap mama yang membuat Ardhi tersenyum puas.
"Ma , aku lebih tampan dari dia tauk." ucap Alexander yang tidak terima.
"Hem... Kalian putra mama yang hebat yang paling tampan. Mama nggak akan bedain kalian. Kalian itu jagoan mama , pelindung mama. Oke?" ucap mama dengan tersenyum.
"Udah ayo cepetan berangkat. Kayak anak kecil lu gitu aja iri." ucap Ardhi dengan tenang.
"Tuh kan ma , dia rese banget kan? Jadi adek gue lagi! Parah emang. Ayo deh berangkat ntar ketinggalan pesawat bisa-bisa nangis dia." ucap Alexander sembari berdiri dari duduknya.
"Aduh kalian berdua , udah ya udah. Please jangan bikin ribut mulu. Ayo kita berangkat sekarang." ucap sang mama yang tampak begitu sabar menghadapi dua putra tampannya.
Bertiga pun masuk ke dalam mobil yang di kemudikan oleh sang kakak dan melaju menuju ke bandara.
"Sebentar lagi kan kamu mau menikah. Gimana? Kamu selama ini udah bener-bener yakin kan sama pilihan kamu?" ucap mama pada Ardhi.
"Iya ma , aku udah yakin kok. Yakin banget." ucap Ardhi dengan tenang.
"Menikah itu , cukup sekali saja untuk seumur hidup. Jangan pernah kamu main-main. Inget ya jangan karena kamu itu ganteng dan jadi CEO , bukan berarti kamu gampang gonta-ganti pasangan. Kamu harus seperti papamu yang cukup dengan satu wanita. Mama bilang gini bukan cuma buat Ardhi ya , tapi kamu juga Alex. Suatu saat kamu juga pasti akan menemukan seorang wanita yang menjadi pilihanmu." ucapan sang mama yang bijak membuat Ardhi tersenyum mendengarnya.
"Siap mama." ucap Alexander dengan tegas seolah ia baru saja menerima perintah.
"Iya ma , mama tenang aja. Soal itu , aku lelaki yang paling setia kok. Aku gak mungkin sejahat itu , aku udah yakin dan aku gak mungkin salah pilih." ucap Ardhi dengan tenang.
"Bagus. Kalian udah sama-sama dewasa , udah paham dong kalau jadi seorang lelaki itu harus gimana baiknya. Kalian harus menjaga diri kalian dengan baik." ucap mama dengan sungguh-sungguh.
"Mama nggak perlu khawatir , kita udah ngerti kok. Pokoknya mama tenang aja , putra mama ini nggak akan pernah membuat mama kecewa ataupun bikin rusak nama baik keluarga." ucap Alexander dengan tenang.
"Baru kali ini gue dengerin lu ngomong bijak. Serasa punya kakak yang baik." ucap Ardhi dengan tersenyum.
"Gue itu emang udah jadi kakak yang baik buat lu. Udah dari dulu. Lu aja yang gak ada bersyukurnya sama sekali." ucap Alexander.
"Ah iya deh iya gue bersyukur kok punya kakak sebaik lu , sepengertian dan seperhatian lu. Terimakasih kakak." ucap Ardhi yang akhirnya berhenti membuat sang kakak naik darah.
"Mama itu bahagia sekali melihat kalian akur." ucap mama.
"Mama harus bahagia terus dong , biar awet muda biar cantiknya nggak luntur." ucap Ardhi dengan tersenyum.
"Kamu itu bisa aja." ucap mama dengan tersenyum.
Ardhi tampak menatap langit , tak di sangka di kota ini ia sudah meninggalkan banyak sekali kenangan pada seseorang.
Entah sedang apa dan bagaimana gadis itu kini. Mungkinkah dia bahagia? Atau justru malah sebaliknya?
Namun apapun yang sudah terjadi , ia tetap tidak bisa memilih. Karena ia sudah memiliki seorang gadis yang dengan luar biasa ia perjuangkan. Dan kini hanya tinggal satu langkah saja ia benar-benar dapat memiliki gadis itu seutuhnya.
Tak akan pernah ia sia-siakan. Gadis yang ia pilih sungguh gadis yang luar biasa dan apapun yang terjadi tidak akan pernah ia tinggalkan.
.
.
.
Tak terasa , pesawat sudah di depan mata. Ardhi pun sudah siap meninggalkan negara yang penuh cerita namun singkat ini. Dari hotel menuju apartemen Yuna yang membutuhkan waktu satu jam , dan sekarang ia harus terbang dengan waktu kurang lebih tujuh jam.
Ardhi tampak melihat jam tangannya , pukul 09.45 WIB. Pesawat pun lima belas menit lagi akan terbang. Sudah di pastikan ia akan sampai di Jakarta sore bahkan malam.
"Ma , aku pulang dulu ya. Papa nanti kalau udah pulang , bilangin maaf aku karena nggak sempet ketemu." ucap Ardhi pada mamanya.
"Iya nak nanti mama bilangin ya. Kamu hati-hati di jalan. Kalau udah sampai dirumah nanti kamu kabarin mama ya." ucap mama yang kemudian memeluk putranya itu.
"Iya ma nanti aku kabarin kalau udah sampai." ucap Ardhi dengan tersenyum.
"Jangan lupain omongan mama yang tadi ya. Salam untuk Fany dan semua keluarga disana ya." ucap mama sembari melepaskan pelukannya.
"Iya nanti aku salamin." ucap Ardhi pada mamanya yang kemudian menoleh ke arah Alexander di sampingnya. "Kak , gak pengen ikut?" ucap Ardhi pada kakaknya.
"Enggak deh , makasih. Gue ke Jakarta besok pas lu nikah." ucap Alexander dengan santainya.
"Gitu , bagus deh. Ya udah gue pamit." ucap Ardhi dengan menepuk pundak sang kakak.
"Hati-hati lu." ucap Alexander.
Ardhi tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. Ia pun melambaikan tangan dan akhirnya berjalan meninggalkan ibu dan kakaknya.
Ardhi terus berjalan meski ada banyak sekali perempuan yang meliriknya dengan tatapan kagum. Ia pun semakin ingin cepat pulang dan bertemu dengan sang pujaan hati. Entahlah , ia rasa dirinya benar-benar rindu.
...----------------...
"Sayang , kamu kepengen makan apa? Biar aku beliin." ucap Rifki sembari duduk di samping Laura.
"Eumm... Apa ya? Enggak tau deh." ucap Laura yang fokus menonton televisi.
"Kue mau? Atau buah gitu , mau buah apa? Di kulkas tinggal jeruk sama apel doang. Kalau kamu pengen yang lain , aku cariin deh." ucap Rifki dengan tersenyum.
"Buah stroberi sama anggur. Anggurnya kalau ada yang hijau ya." ucap Laura dengan tersenyum seperti anak kecil.
"Oke. Kamu nggak pengen ikut?" ucap Rifki bertanya.
__ADS_1
"Enggak deh. Aku pengen tidur." ucap Laura.
"Ya udah kamu tidur aja sekarang. Kalau udah capek duduk , tidur aja. Nggak usah banyak gerak dulu." ucap Rifki dengan perhatian.
"Iya sayang. Tapi aku mau nonton itu , sebentar lagi juga selesai kok." ucap Laura dengan tersenyum.
"Ya udah kalau gitu aku pergi sekarang ya." ucap Rifki yang kemudian mengecup kening Laura sesaat.
"Hati-hati di jalan ya. Jangan lama-lama." ucap Laura.
"Siap sayang." ucap Rifki yang kemudian mengambil kunci mobil serta ponsel di atas meja.
Rifki keluar dari apartemennya dan mengemudi mobil untuk membelikan apa yang di minta oleh calon istrinya itu.
Tak lama , Rifki pun sampai di pusat perbelanjaan. Dihadapannya kini sudah tertata rapi berbagai macam buah-buahan. Ia pun mulai memilih buah apa saja yang di sukai Laura.
Tak cukup sampai disitu saja , Rifki juga tampak membeli beberapa cake brownies kesukaan Laura. Setelah dirasa cukup , lelaki itu cepat-cepat pulang karena tidak tega meninggalkan Laura di apartemen seorang diri.
.
.
.
Ruangan tampak sepi , televisi pun sudah dimatikan. Rifki pun meletakkan belanjaannya di atas meja.
Lelaki itu membuka pintu kamar , dapat ia lihat Laura kini tengah tertidur. Rifki masuk ke dalam dan duduk di tepi ranjang. Ia menatap wajah cantik Laura yang tampak begitu nyaman dalam tidurnya.
Ia masih tidak percaya , perempuan yang sedang tertidur di hadapannya ini adalah calon istrinya. Gadis yang dulu sama sekali tidak pernah ia bayangkan untuk di cintai. Kini , ada janin yang terus berkembang di dalam rahimnya. Dan itu adalah anaknya.
Rifki tampak tersenyum. Ia pun mengelus kening Laura dan mengecupnya sesaat.
Laura mulai merasakan sentuhan itu. Ia pun terbangun dan membuka matanya. Ia melihat Rifki yang tersenyum di hadapannya.
"Kamu udah pulang?" ucap Laura.
"Iya , baru aja kok." ucap Rifki sembari memijat lembut lengan Laura.
"Cepet banget." ucap Laura.
"Ya aku buru-buru pulang dong , aku khawatir kalau kamu sampai kenapa-napa." ucap Rifki.
"Aku nggak apa-apa , tenang aja." ucap Laura dengan santai.
"Oh iya , aku udah beliin buah sama aku tadi nemu kue yang enak banget. Aku yakin kamu pasti suka." ucap Rifki dengan tersenyum.
"Beneran ? Mau dong , mana?" ucap Laura yang kemudian bangun dari posisi tidurnya.
"Ada di depan dong. Ayo , kamu cobain deh." ucap Rifki sembari merangkul Laura.
"Banyak banget kamu belanja. Apa aja itu." ucap Laura sembari menatap plastik belanjaan di atas meja.
"Sekalian beli stok buat kamu itu. Kamu harus makan buah tiap hari biar kamu dan calon anak kita tetap sehat." ucap Rifki sembari mengecup kening Laura.
"Iya sayang aku tau kok. Makasih ya kamu peduli banget sama aku dan baby kecil ini. Semoga selamanya pun kamu akan tetap menjadi lelaki yang baik dan penuh tanggungjawab." ucap Laura dengan tersenyum manis.
"Amin sayang. Aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk tetap membahagiakan kalian. Ya udah , ini sekarang kamu cobain. Pasti enak." ucap Rifki dengan membukakan kotak kue.
"Kamu tau aja sih apa yang aku suka." ucap Laura sembari memotong kue dan di letakkan pada piring kecil.
Laura mencoba kue itu dan rasanya sangat enak. Ia memang sangat menyukai kue , apalagi kue cokelat dan brownies. Itu adalah salah satu makanan terfavoritnya.
"Enak banget loh , kamu harus cobain." ucap Laura sembari memberikan suapan kepada Rifki.
Rifki pun menikmati suapan dari Laura. Perasaannya terasa senang karena ia tidak salah membelinya.
Rifki kini pindah duduk di samping Laura dan kemudian menyalakan televisi. Hidungnya yang mancung itu menyium aroma wangi sekali dari rambut panjangnya Laura. Aroma itu sangat merilekskan dirinya.
Lelaki itu tampak tersenyum di belakang dan memandang Laura yang masih makan.
"Kamu makan lagi." ucap Laura sembari memberikan suapan lagi untuk Rifki.
"Udah , itu kue buat kamu aja. Kalau habis , nanti aku beliin lagi." ucap Rifki dengan tersenyum.
"Ini banyak tauk , masa iya kamu beli doang tapi gak ikut makan." ucap Laura.
"Iya udah deh , sini aku makan." ucap Rifki.
"Nah gitu dong." ucap Laura dengan tersenyum.
Berdua menikmati suasana baru. Ini masih dalam tahap pembiasaan. Ya karena baru dua hari ini Laura mau ikut satu apartemen dengan calon suaminya itu. Dengan begitu , Rifki akan leluasa untuk bisa mengawasi Laura lebih ekstra.
Meskipun ia tahu ini adalah sebuah kesalahan besar , namun Rifki yakin. Ia mampu hidup bahagia layaknya orang lain yang menikah dengan pasangan tercintanya.
Lelaki itu pun juga berjanji , ia akan menjaga wanita di sampingnya itu dengan sepenuh hati sampai akhir hayat nanti.
❤️
❤️
❤️
❤️
❤️l.a.f🌻❤️
__ADS_1