Love Always Forever (Tanpamu , Bagaimana Aku?)

Love Always Forever (Tanpamu , Bagaimana Aku?)
Pertemuan


__ADS_3

Tiga hari telah berlalu semenjak acara jalan-jalan bersama kak Irfan di mall. Selama tiga hari itu pula kak Irfan menginap di rumah. Kini Fany bersiap untuk ikut pergi ke apartemen kakaknya. Mereka berdua berpamitan dengan Mama dan Papanya yang sudah datang dari tugasnya diluar kota dua hari yang lalu.


Kakak beradik itupun pergi meninggalkan rumah menuju apartemen mewah kakaknya yang lumayan jauh dari rumahnya.


Setelah menempuh perjalanan kurang dari satu jam, akhirnya mobil mereka masuk ke dalam kawasan apartemen. Mereka turun dari mobil dan kak Irfan membawakan koper yang berisi keperluan perlengkapan menginap milik Fany.


Fany mengikuti kemana kakaknya berjalan. Kak Irfan pun menuju lift dan masuk kedalam.


"Kakak apartemennya dilantai berapa sih emang?" tanya Fany .


"Dilantai lima dek. Kenapa ?" ucap kak Irfan.


"Nggak apa-apa , eh kak tadi dibawah kenapa sih pada lihatin aku mulu. Ada yang aneh ya sama aku ?" Ucap Fany sambil melihat-lihat bajunya dikanan kiri depan belakang.


"Hhehe nggak ada yang aneh dek , mungkin mereka kaget aja . Mereka semua kenal kok sama kakak. Mungkin mereka mikir aja kalo kamu itu pacar kakak. Terus kakak ajakin nginep toh ini bawa koper juga kan pasti mereka mikirnya aneh-aneh. Kan kakak sebelumnya ngga pernah bawa cewe kesini hhaha..." ucap kak Irfan dengan tertawa . Fany yang melihat kakaknya tertawa itupun hanya diam dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ada aja ini orang!" ucap Fany menepuk keningnya sendiri.


Pintu lift pun terbuka kemudian kak Irfan berjalan keluar lebih dulu. Tak jauh dari sana , kak Irfan menuju pintu apartemen nomor 04 . Dengan menekan angka password-nya , pintu pun terbuka lebar . Mereka berdua masuk kedalam dan pintu tertutup kembali.


"Password-nya tanggal bulan sama tahun lahir kakak ya. Misalnya besok kamu mau keluar pas kakak ngga ada. Tapi hati-hati kalo mau keluar , bilang dulu sama kakak. Oke!" ucap kak Irfan sambil duduk disofa depan tv .


"Iya kak . Ehm disini ada berapa kamar sih kak?" ucap Fany sambil melihat-lihat ruangan pertama itu.


"Kamar ada 2 , nanti kamu tidur di kamar kakak aja biar lebih nyaman. Biar kakak yang tidur di kamar sebelah. Dapurnya sama ruang makan ada di sebelah sana ya. Dan disebelah situ ada ruangan buat kakak kerja." ucap kak Irfan sambil menunjukkan dimana letak ruangan yang ia sebutkan. "Dan kalau misalnya kamu membutuhkan sesuatu , di bawah sana ada supermarket . Nggak jauh kok cuma disebelah gedung apartemen tepat soalnya itu supermarket emang dikhususkan buat pengguna apartemen. Kamu bisa kesana misalnya butuh sesuatu. Paling ya gak sampe 10 menit udah sampe." ucap kak Irfan menjelaskan lagi.


Fany mengangguk mengerti. Ini pertama kalinya ia berada di apartemen kakaknya yang mewah ini.


Selesai mendengarkan penjelasan dari kakaknya , Fany pun masuk kedalam kamar dan menata membereskan perlengkapannya di kamar kakaknya. Tak seperti yang ia pikirkan sebelumnya , karena ia sempat berpikir bahwa seisi ruangan yang berantakan namun kini yang dilihatnya seluruh isi apartemen milik kakaknya itu tertata dengan sangat rapi.


 ----


Hari-hari berlalu kini disebuah kamar apartemen di lantai 7 tepatnya kamar nomor 02 , terdapat seseorang yang baru selesai mandi dan mengganti pakaiannya dengan pakaian kantor yang rapi. Ia bersiap dengan jas hitamnya dan menenteng tasnya ditangan kiri. Ia meraih ponselnya dan berjalan keluar kamar.


Ia tampak berjalan santai dan memasuki lift untuk turun ke lantai dasar. Setelah pintu lift terbuka yang menandakan bahwa ia telah sampai di lantai dasar , ia pun berjalan keluar.


Disaat ia sampai di pintu keluar masuk apartemen utama , ia tak sengaja melihat seorang perempuan cantik. Ingatannya kembali terputar pada saat berada di mall beberapa waktu lalu.


"Apa dia tinggal di apartemen sini juga ? Tapi kenapa gua baru lihat sekarang ya." ucapnya dalam hati.


Dilihatnya , perempuan itu sedikit kaget saat melihatnya pula. Kemudian ia berlalu begitu saja menuju mobilnya dan pergi kekantor. Selama perjalanan pun ia juga masih memikirkan perempuan tadi. Lalu ia tersenyum sekilas.


"Cantik. Ah udah deh, apaan sih gua!" ucapnya dengan cepat ia tersadar dan fokus mengemudikan mobilnya.


 ---


"Jantung gua please deh normal aja dong detaknya! Masa lihat tuh cowok aja bikin jantung gua mau copot gini !" Ucap Fany begitu sampai didalam lift sambil mengelus dadanya.


Pintu lift terbuka dan Fany pun keluar lalu menuju pintu apartemennya. Ia menekan password-nya kemudian masuk kedalam setelah pintu terbuka. Fany meletakkan kantong plastik yang berisi belanjaannya di atas meja dan merebahkan tubuhnya di sofa besar itu. Ia memejamkan matanya sejenak.


Fany membayangkan bila suatu saat ia bisa bertemu kembali dengan laki-laki tampan itu. Ia hanya ingin tau satu hal. Yaitu tentang kalung yang dikenakan laki-laki itu.


"Ah udah lah gausah dipikirin , kayak kurang kerjaan aja deh gua! Toh banyak juga yang pakai kalung kayak gituan!" ucap Fany dengan berdiri dari duduknya sambil meraih belanjaannya menuju dapur.


Pagi itu Fany memasak makanan yang biasa ia makan bersama keluarga dirumahnya. Ia memang tidak begitu mahir memasak , namun ia tentu bisa sedikit demi sedikit. Lelah memasak dan kini masakannya pun sudah jadi. Ia merasa puas dengan masakannya itu dan berharap sang kakak akan menyukainya.


Pukul 12.15 wib , kak Irfan pun pulang ke apartemen. Ya hari ini kak Irfan kuliah masuk kelas pagi sampai siang. Begitu kak Irfan masuk ke ruang tengah , ia melirik ke dapur sebentar. Di dapur ada Fany yang sedang duduk di kursi makan membelakangi pintu yang tak ditutupnya.


Kak Irfan melangkah masuk ke dapur. Ide jahil muncul di kepalanya. Kak Irfan mencabut satu helai rambut di keningnya dan sukses membuat Fany menjerit kesakitan juga karena kaget. Setelah itu kak Irfan pun lari menuju ruang tengah.


"Kakak nyebelin banget sih! Sakit tauk!" ucap Fany berteriak lalu bangkit dari duduknya dan berlari menghampiri kakaknya. Fany memukul lengan kakaknya karena jengkel dengan ulahnya.


"Auhh udah dek udah! Sakit woyy!" ucap kakaknya pura-pura kesakitan namun dengan tertawa.


"Rasain tuh! Makanya jangan cari gara-gara!" ucap Fany seolah tampak kesal dan berhenti memukul kakaknya.

__ADS_1


"Iya-iya maafin kakak deh. Oh iya , nanti jam 2 kakak mau kekantor ada meeting sama klien. Mau ikut ngga? Ikut aja yuk." ucap kak Irfan dengan tersenyum.


"Aku ngapain harus ikut?" tanya Fany bingung.


"Ya daripada mau ngapainn di apartemen sendirian? Ikut kakak aja biar tau kantor papa kayak gimana." ucap kak Irfan dengan santai.


"Trus aku pake baju kayak gimana kalau ke kantor kakak?" ucap Fany masih bingung.


"Biasa aja. Kamu suka pake dress kan? Pake dress kamu aja yang kemarin kakak beliin itu." ucap kak Irfan.


"Ehm oke deh , tapi lama nggak kak?" tanya Fany.


"Paling sampe malem. Makanya kakak nyuruh kamu buat ikut. Kakak gak tega aja ninggalin kamu sendirian disini." ucap kak Irfan dengan tersenyum.


"Oke deh nanti aku ikut aja. Yaudah kak ayo makan , tadi aku masak lho buat kakak." ucap Fany menarik lengan kakaknya menuju meja makan.


"Serius ini yang masak kamu dek? Kok kakak gak yakin ya." ucap kak Irfan dengan santai sambil melirik adiknya yang menatapnya tajam.


"Iya aku masak sendiri kakak! Ih kakak kok gak percaya sih , nyebelin banget deh!" ucap Fany dengan memanyunkan bibirnya.


"Yaudah ambilin sini kakak cobain. Kalau enak bearti kmu beneran adiknya kakak." ucap kak Irfan sambil menyodorkan piring kosong pada Fany minta di ambilkan.


Fany menatap tajam kakaknya atas ucapannya yang benar-benar menjengkelkan. Lalu ia mengambil nasi dan memberikan lauk buatannya itu pada kakaknya. Kemudian ia mengambil sendiri untuk makan dirinya.


Fany makan sambil sesekali mengamati kakaknya yang sedang mengunyah makanan.


"Ehm , enak ini. Kamu masak sambil nonton YouTube ya?" ucap kak Irfan yang sukses membuat Fany tersedak lalu ia buru-buru mengambil gelas berisi air putih itu dan meneguknya hingga habis.


"Astaga kakak! Sembarangan ya kalo ngomong! Anaknya Mama bukan sih kakak nih , heran gua!" ucap Fany benar-benar kesal karena ulah kakaknya.


"Sorry dek sorry yaa , jadi keselek gitu hahaha..." ucap kak Irfan yang berdiri mendekati Fany dan menepuk-nepuk punggungnya dengan pelan.


"Tinggal di apartemen kakak tuh berasa kayak tinggal di rumah mertua tau gak!" ucap Fany dengan kesal sambil menatap tajam kakaknya yang sudah duduk di kursi makannya.


"Sok tau lu kayak Tuhan aja tau jodoh gua yang mana!" ucap Fany tak mau kalah.


"Udah ah kakak laper , dengerin lu ngomel jadi tambah laper." ucap kak Irfan sambil menambahkan makanan ke piringnya.


"Hahaha bilang aja kalau masakan aku tuh enak!" ucap Fany dengan tertawa melihat kakaknya makan dengan lahap.


"Udah diem! Habisin makanan kamu trus siap-siap ikut kakak kekantor!" ucap kak Irfan dengan tenang.


Kakak beradik itupun melanjutkan makan siang dengan tenang.


 


Disebuah ruang kerja dengan fasilitas yang lengkap dan mewah , bersandarlah seorang laki-laki muda pada kursi kebanggaannya itu. Ia lelah karena harus bersiap untuk menemui kliennya bersama asistennya. Asisten yang sekaligus menjadi orang paling dekat dengannya di kantor maupun diluar kantor juga menjadi orang yang sering menggantikan posisinya saat ia tak bisa kekantor.


"Bos ayo kita berangkat sekarang aja, nanti kalau macet malah telat kita." ucap asistennya.


"Oke" ucap seseorang yang dipanggil bos itu sambil berdiri dan meraih handphonenya. Lalu ia pergi keluar ruang kerjanya menuju lift bersama asistennya.


Mereka berdua melajukan mobilnya menuju perusahaan ternama untuk membahas kerja sama diantara keduanya. Setelah perjalanan kurang lebih 30 menit , mobil yang ia tumpangi akhirnya masuk ke area perusahaan dan memarkirnya.


Mereka berjalan masuk dan disambut dengan ramah para pegawai dan staff kantor itu. Lalu mereka masuk ke lift menuju lantai atas untuk bertemu sang pemimpin perusahaan.


Begitu sampai di lantai teratas , pintu lift terbuka dan keluar dari lift.


"Selamat siang pak , ada yang perlu saya bantu?" ucap Fika , sekretaris yang sudah lama berkerja sama di perusahaan ini.


"Kami sudah ada janji dengan bos." ucap sang asisten dengan tersenyum manis.


"Baiklah , mari saya antar." Ucap Fika dengan tersenyum juga lalu mengantarkan kedua tamu terhormatnya ke ruang atasannya.


"Tok...Tok...Tok..." suara ketukan pintu.

__ADS_1


"Masuk." ucap seseorang dari dalam.


"Silahkan masuk pak." ucap Fika dengan ramah dan kedua tamu itu tersenyum mengangguk.


"Siang pak Irfan." ucap tamunya itu yang sukses membuat yang disapanya kaget bukan main.


"Siang juga pak , selamat datang kembali di perusahaan Papa saya." ucap Irfan dengan tersenyum namun menahan rasa gugupnya. Ia mengira akan bertemu dengan sang pemilik perusahaan. Namun yang ia temui justru puteranya. Dan begitu pula sebaliknya dengan tamunya itu.


"Iya pak , senang bisa berkunjung kembali kesini." ucap asistennya memecah keheningan sesaat.


"Mari silahkan duduk." ucap Ericko dengan tenang dan tersenyum, dia adalah asisten Irfan dan mereka memang sudah lama bersahabat pula.


Mereka berempat akhirnya memulai pembahasan yang mereka rencanakan sebelumnya. Dan dengan seksama Irfan begitu memperhatikan laki-laki yang kini menjadi pemimpin perusahaan sahabat Papanya itu. Ia tak salah lagi.


 ----


Hampir satu jam sudah berlalu. Fany yang mulai bosan dengan artikel tentang perusahaan papanya itu perlahan menutup buku tebal di pangkuannya. Ia berjalan menyusuri ruangan pribadi di sana. Ada banyak foto dirinya bersama keluarga yang dipajang didinding ruangan itu.


Ia pun ingin keluar dari ruangan itu. Ia merasa kepalanya pusing membaca persoalan terkait bisnis papanya. Begitu ia keluar dari ruangan itu , ia tersentak kaget.


Fany melihat empat orang termasuk kakaknya itu sedang berdiri. Di lihatnya seperti mereka sudah selesai membahas kerja sama dan hendak berpamitan pulang.


Fany pun bingung dan malu lalu melihat-lihat dirinya sendiri apakah ada yang salah hingga mendapatkan tatapan dari orang-orang itu. Fany yang memakai dress silver dihiasi pita dengan sepatu flat warna putih serta make up naturalnya. Ia juga sengaja menggerai rambut panjangnya tanpa mengucirnya. Namun terlihat lebih cantik dan sempurna.


"Cewek itu yang tadi pagi gua lihat di apartemen kan? Bearti dia..." ucap tamu terhormat itu dalam hati sambil terus menatap Fany.


Tiga orang laki-laki itu menatap ke arah Fany dengan tatapan tak percaya. Begitu pula dengan Ericko yang juga tidak mengetahui bahwa ada perempuan di ruang bosnya ini. Ericko pun menatap bosnya memberi kode untuk segera mengatakan sesuatu.


"Oh maaf , dia adik saya. Adik kandung saya." ucap Irfan dengan tersenyum sambil melirik seseorang yang dari tadi diperhatikannya itu. Dan orang itu tersenyum simpul.


"Kirain tadi siapa bos boss! Bikin penasaran aja. Tapi cantik kok." ucap Ericko dengan tersenyum jahil.


"Ya iyalah cantik , adik gua tuh emang cantik. Makanya gak sembarangan cowok bisa gua izinin untuk deket sama dia." ucap Irfan dengan tersenyum manis dan membuat semuanya terdiam.


"Cowok itu! Ternyata kak Irfan bekerja sama dengan cowokk itu. Bearti mereka saling kenal dong. Kenapa gua makin penasaran ya." ucap Fany dalam hati dengan memandang cowok-cowok itu.


"Ehm , kakak ... Aku pulang duluan boleh kan?" ucap Fany sambil menghampiri kakaknya.


"Mau ngapain pulang duluan? Nanti di apartemen cuma sendirian loh." ucap kak Irfan .


"Engga apa-apa kak , bingung aku di sini mau ngapain juga." ucap Fany.


"Yaudah kakak anter ya." ucap kak Irfan sambil meraih kunci mobil diatas meja.


"Engga usah kak! Aku bisa pulang sendiri. Kakak kan lagi sibuk. Aku nggak apa-apa kok pulang sendirian." ucap Fany menahan kakaknya.


"Biar pulang sama saya aja, gimana?" ucap laki-laki yang sedari tadi memperhatikan Fany dalam diam. "Apartemen saya juga disana kok. Saya janji nggak akan berbuat jahat." ucapnya lagi dengan tersenyum pada Irfan dan Fany .


"Kok saya nggak pernah lihat anda kalau anda tinggal di apartemen sana juga?" tanya Irfan memastikan.


"Saya baru pindah beberapa hari yang lalu. Dan saya tadi pagi ngga sengaja bertemu sama adik anda di apartemen dasar." Ucapnya menjawab pertanyaan Irfan dengan tenang dan tersenyum.


"Kamu mau bareng dia?" tanya Irfan pada Fany.


"Ehm..." Fany berdehem bingung antara iya atau tidak antara mau atau menolak. Dan kakaknya itupun tersenyum mengerti.


"Ya sudah , kamu bareng sama dia. Jaga adik saya ya. Hati-hati dijalan." ucap Irfan dengan tersenyum menepuk pelan pundak laki-laki itu.


*


*


*


❤️

__ADS_1


__ADS_2