
Masih di tempat yang sama dan keadaan yang sama pula. Dua insan yang saling mencintai itu masih terlarut dalam suasana yang sangat memabukkan itu.
Sampai Ardhi merasa kali ini apa yang ia lakukan sudah cukup. Ia pun merebahkan tubuhnya di samping Fany. Ia tak ingin terlalu lama dalam keadaan seperti ini karena ia tak yakin bisa menahan dirinya sendiri.
Melihat Ardhi yang sudah menjauhkan diri, Fany pun segera bangun dan terduduk merapikan tali br* dan dress atasnya yang sedikit terbuka karena ulah Ardhi. Ia tersenyum tenang karena tali br* yang turun itu tak membuat isi didalamnya terlihat. Ia bersyukur karena lelaki itu lebih memilih menyiksa dirinya sendiri dan menjaga kehormatan gadisnya dengan benar.
"Sayang, aku mandi dulu ya." ucap Ardhi sembari bangun dari tidurnya lalu mengecup pipi Fany dengan cepat dan langsung turun dari ranjang menuju kamar mandi. Ia ingin mendinginkan suhu tubuhnya yang memanas dan juga menuntaskan apa yang tertahan karena tak bisa ia sampaikan saat itu juga.
Fany tersenyum melihat Ardhi pergi ke kamar mandi dengan mengusap-usap lehernya yang terdapat bekas merah karena ulahnya.
Fany segera turun dari ranjang lalu merapikan tempat tidur itu seperti semula. Fany pun mengambil beberapa baju kaos rumahan, kemeja, setelan jas, dan celana pendek rumahan. Ia membiarkan koper itu terbuka, karena barangkali masih ada keperluan yang akan di tambahkan lagi.
Fany pun berdiri untuk merapikan dirinya di depan cermin besar dan keluar dari kamar. Ia menuju dapur dan membuka kulkas. Hanya ada beberapa buah apel, pier dan anggur. Disana juga terdapat beberapa sosis kemasan, roti tawar, selai, telur, dan berbagai macam minuman kaleng, botol serta susu uht.
Mungkin karena penghuninya adalah seorang lelaki jadi isi kulkas tak ada stok bahan makanan atau sayuran untuk dimasak. Fany pun menyadari hal itu. Ia membuka loker-loker lainnya dan menemukan satu ramen kemasan instan.
"Ini beneran gak ada bahan yang bisa gua masak? Trus dia kalo laper makannya apa coba? Masa delivery mulu!" ucap Fany mengeluh.
Dengan bahan yang ada, Fany mengambil ramen instan, telur serta sosis dan mulai memasaknya. Tak ada sayuran yang bisa ia masukkan ke dalam masakannya.
Dan tak butuh waktu lama, masakannya sudah jadi. Ia menuangkannya kedalam dua mangkok. Lalu ia meletakkannya di atas meja makan .
"Udah selesai belum sih mandinya lama banget!" ucap Fany pada dirinya sendiri.
Beberapa saat ia hanya berdiri mematung. Kemudian ia keluar dari dapur dan berniat kembali ke dalam kamar. Ia membuka pintu lalu menghela nafasnya, ia lihat Ardhi yang sudah mengganti pakaiannya menjadi celana jeans hitam namun belum memakai baju juga. Lelaki itu sedang mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil.
"Sayang... Aku cariin kamu loh..." ucap Ardhi begitu melihat Fany mendekatinya.
"Aku laper." ucap Fany.
"Aku pesenin makanan sekarang ya. Mau makan apa kamu?" ucap Ardhi dengan santai sembari meraih ponselnya.
"Ih kamu tuh habis mandi pake baju dulu dong." ucap Fany dengan memandangnya.
"Hehehe emang kenapa sih sayang... Ngeringin rambut dulu ini bentar lagi kok." ucap Ardhi dengan terkekeh. "Ayo kamu pengen makan apa biar aku pesenin sekarang." ucap Ardhi lagi sembari duduk ditepi ranjang.
"Aku itu udah masak. Nungguin kamu doang nih buat makan bareng. Ayo cepetan sini aku bantuin keringin rambut kamu." ucap Fany sembari merebut handuknya dan mengusap-usap rambut di kepala Ardhi dengan pelan.
"Makasih ya sayang..." ucap Ardhi dengan tersenyum sembari memandang Fany yang berada di hadapannya. Ardhi pun tanpa ragu melingkarkan tangannya di pinggang Fany.
"Jangan pegang-pegang! Lepasin gak!" ucap Fany dengan ketus sembari menatapnya.
"Iya iya aku gak ngapa-ngapain, udah cepetan biar kering." ucap Ardhi dengan santainya namun tak juga melepaskan tangannya dari pinggang Fany.
"Emang kamu gak pernah masak ya kenapa kulkas kamu gak ada isinya yang bisa di masa sih..." ucap Fany.
"Aku lebih sering makan diluar atau pesen. Udah capek kerja jadi males kalo masih mau masak." ucap Ardhi.
"Dasar malesan! Lebih sehat masak sendiri tauk." ucap Fany.
"Ya iya sih... Coba kamu disini tiap hari. Emmm... Aku udah gak sabar pengen ajakin kamu pindahan kesini." ucap Ardhi dengan tersenyum.
"Bayangin aja sendiri." ucap Fany dengan tenang.
"Udah ah sayang. Ayo makan aku laper." ucap Ardhi dengan meraih handuk kecil di tangan Fany dan meletakkannya disampingnya.
Fany memundurkan tubuhnya dan melihat Ardhi yang tengah berjalan menuju almari untuk mengambil baju. Ardhi pun mengambil kaos dan memakainya.
Tanpa sadar Fany terkekeh geli menahan tawanya tatkala ia melihat leher kekasihnya itu ternyata masih jelas terdapat tanda merah yang terlihat dari jauh.
"Ngapain ketawa? Lucu ya? Kamu nakal tauk, gara-gara kamu besok aku nggak bisa pergi ngantor." ucap Ardhi dengan merangkul pinggang Fany berjalan keluar dari dalam kamar.
"Kenapa? Malu? Atau takut ketauan?" ucap Fany dengan tersenyum.
"Kamu tau sendiri Bima itu kayak gimana orangnya. Habis ntar riwayatku didepan manusia itu." ucap Ardhi dengan mengusap-usap lehernya.
"Iya sih. Aku kasih fondation bedak deh besok biar ketutup warna merahnya." ucap Fany dengan sedikit tertawa.
"Kamu sih beneran rese banget siapa yang ngajarin?" ucap Ardhi dengan gemas mencubit hidung Fany.
"Kan kamu yang ngajarin aku... Emang mau belajar sama siapa lagi coba? Ngaco deh nanyanya!" ucap Fany dengan mendongakkan kepalanya menatap Ardhi.
"Tiap sama kamu itu bikin aku lupa diri tau gak." ucap Ardhi yang kemudian langsung mencium pipi Fany dengan cepat. "Aku nggak mau ke kantor besok." ucap Ardhi.
"Kamu harus ke kantor dong. Nggak boleh bolos." ucap Fany.
"Enggak mau. Aku bisa kerja dari rumah kok." ucap Ardhi dengan tersenyum.
"Ya udah deh gapapa gak kekantor malah bisa nemenin aku. Udah nihh kamu makan dulu. Seadanya aja nih tapi kayaknya lumayan kok rasanya." ucap Fany dengan tersenyum sembari menarik kursi untuk kekasihnya.
Fany menyodorkan mangkok didepan Ardhi lalu ia duduk di kursi.
"Serasa kayak udah nikah ya kalo kayak gini. Besok aku pasti jadi gemuk." ucap Ardhi dengan tenang sembari mengaduk makanannya.
"Kenapa gemuk?" ucap Fany dengan heran.
__ADS_1
"Karena terlalu bahagia. Tiap hari juga pasti kamu buatin aku makanan dong...." ucap Ardhi dengan tersenyum.
"Ya aku pasti masak buat kamu, nyuciin baju, beres-beres rumah, nyapu, ngepel... Gitu kan?" ucap Fany dengan tersenyum.
"Ya nggak gitu juga kali. Aku nikahin kamu bukan untuk jadi pembantu. Tapi buat aku. Buat nemenin aku. Buat bahagiain aku. Dan yang terpenting, kamu itu adalah ibu dari calon anak-anakku." ucap Ardhi dengan tersenyum yang membuat telinga Fany geli ketika mendengar ucapan tentang anak.
"Aduh udah deh cepetan di makan dulu, ntar kalo udah dingin gak enak." ucap Fany.
"Iya sayang ini aku makan kok." ucap Ardhi yang kemudian mulai makan.
Ardhi memakan makanan itu dengan lahap karena rasanya yang enak pas di lidahnya. Tak butuh waktu lama untuk menghabiskan semangkok ramen itu karena rasanya yang enak dan juga perutnya yang lapar. Fany pun berdiri dan mengambil minuman dingin di kulkas dan juga gelas. Ia menuangkannya untuk Ardhi dan juga untuknya sendiri.
Ardhi tak habis pikir karena rencana habis dari mall hanya sekedar mampir ke apartemen lalu ingin makan malam di restoran, tapi ternyata berubah haluan. Ia tersenyum memandang gadis cantiknya. Ia tak menyangka atas apa yang sudah ia lakukan tadi. Namun ia tak menyesal, karena kekasihnya pun juga mengikuti permainan yang ia mulai.
Tanpa sadar Fany melirik Ardhi yang tengah menopang dagu sembari menatapnya. Fany pun berdiri mengabaikan tatapan Ardhi, ia mengambil mangkok lalu di tumpuk serta gelas yang kemudian ia bawa ke wastafel untuk dicuci.
"Sayang masih laper nggak?" ucap Ardhi sembari memperhatikan Fany dari belakang.
"Enggak." ucap Fany tanpa menoleh dan fokus mencuci.
"Mau pulang jam berapa nih?" ucap Ardhi lagi.
"Terserah." ucap Fany dengan singkat.
"Apa?" ucap Ardhi tak percaya. Ia tak yakin dengan apa yang didengarnya, jika benar begitu apa mungkin Fany mau menginap di apartemen?
"Terserah kamu aja." ucap Fany lagi.
"Kalau gitu, mau dong tidur sini aja." ucap Ardhi dengan tersenyum.
"Enggaklah!" ucap Fany dengan tegas.
"Tadi bilang terserah. Kenapa sekarang bilang nggak?" ucap Ardhi dengan heran.
"Kamu tadi nanya mau pulang jam berapa bukan nanya mau pulang apa enggak ya! Jadi kalo mau pulang jam berapa ya terserah kamu. Tapi kalo pulang apa enggak ya pulanglah!" ucap Fany dengan menatap Ardhi yang tengah menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal.
"Iya iya. Nanti kita pulang deh." ucap Ardhi dengan tenang.
"Aku gerah banget, pengen mandi. Ayo pulang sekarang aja." ucap Fany memohon kepada Ardhi.
"Mandi disini aja napa?" ucap Ardhi.
"Aku gak ada baju ganti. Masa iya aku harus pakai pakaian kamu? Gak mungkin lah!" ucap Fany.
"Ya udah, kalau gitu aku pulang sendiri." ucap Fany yang kemudian hendak melangkah pergi.
"Iya sayang iya ayo pulang. Eh tapi tadi koperku dikamar belum selesai. Ayo ke kamar dulu." ucap Ardhi yang kemudian menggandeng pergelangan tangan Fany dan mengajaknya kembali ke dalam kamar.
Fany hanya terdiam mengikuti langkah Ardhi. Sampai di dalam kamar, Ardhi melihat kopernya yang masih terbuka namun sudah berisi pakaian yang tertata rapi.
"Kamu yang siapin bajuku ya?" ucap Ardhi dengan menatap Fany.
"Kalau bukan aku emang siapa lagi? Gak mungkin kalo hantu kan?" ucap Fany dengan tersenyum sembari menyilangkan tangannya depan dadanya.
"Emmm... Makasih ya sayang..." ucap Ardhi dengan tersenyum sembari mencium pipi Fany dengan cepat yang membuat Fany membelalakkan matanya kaget.
Belum sempat Fany membalas perbuatan Ardhi, lelaki itu sudah menjauhkan dirinya dengan cepat. Fany pun hanya menatapnya dengan tatapan mata seakan ingin membunuh.
Tak lama kemudian, Ardhi mengajak Fany turun dari apartemen dan menuju basemen untuk masuk ke dalam mobil. Ardhi pun mengemudikan mobilnya ke jalan raya dan menuju rumah Fany.
...----------------...
Keesokan paginya, Ardhi tampak bingung dengan apa yang akan ia lakukan. Ia habis mandi dan kini berdiri di depan cermin. Ia memperhatikan lehernya yang putih bersih itu ternyata masih membekas jelas kiss mark itu. Padahal ia sudah mengusap-usapnya.
Ardhi pun mencari ponselnya dan searching di google tentang bagaimana cara menghapus kiss mark itu. Kemudian, ia berdiri hendak membuka pintu. Namun langkahnya terhenti seketika. Ia ingin pergi ke dapur namun ia takut bertemu dengan bi Ina. Pasti bi Ina sudah datang karena sekarang sudah pukul 06.30 wib.
Ardhi bingung harus bagaimana. Ia pun mencoba membuka pintu perlahan. Ia melihat keadaan di luar. Sepi, tak ada orang sama sekali. Ia pun keluar dari kamar sembari memegang lehernya agar tak terlihat. Ia pun berjalan menuju pintu kamar Fany dan mengetuknya.
Selang berapa detik setelah Ardhi mengetuk pintu, sang empunya kamar pun membuka pintu dan menatapnya heran.
"Ngapain kayak gitu?" ucap Fany heran ketika ia melihat Ardhi yang terus memegangi lehernya dengan satu tangannya.
"Lupa? Ayo masuk sebentar." ucap Ardhi dengan menerobos Fany yang berdiri mematung.
Ardhi memasuki kamar Fany dan melepaskan tangan dari lehernya. Fany pun menutup pintu dan membalikkan badannya menatap Ardhi.
"Apaan sih?" tanya Fany.
"Ambilin bawang putih satu aja. Please..." ucap Ardhi dengan tersenyum.
"Buat apa? Ambil aja sendiri didapur banyak tuh!" ucap Fany.
"Buat ini. Ayolah kamu aja yang ambilin. Nanti bi Ina malah lihat." ucap Ardhi sembari menunjukkan lehernya. Fany pun tersenyum.
"Oh itu... Iya iya aku ambil. Mau berapa kilo?" ucap Fany becanda.
__ADS_1
"Sayang..." ucap Ardhi memohon.
"Iya iya bawel, bentar." ucap Fany yang kemudian keluar dari kamarnya menuju dapur.
Di dapur, Fany bertemu dengan bi Ina yang tengah membersihkan meja makan dengan kemoceng.
"Pagi bi... Bibi kok sekarang kerjanya cuma dari pagi sampai sore sih Bi? Kenapa nggak nginep aja kayak kemaren?" ucap Fany dengan polos seperti anak kecil.
"Iya non, cucu bibi ada dirumah. Ditinggal suaminya kerja. Jadi bibi bantuin rawat cucu. Kalo cuma dirawat ibunya sendirian ya kewalahan non. Jadi bibi ngga bisa nginep lagi kayak dulu non." ucap Bi Ina dengan tersenyum.
"Iya udah deh bi, ngga apa-apa kok. Yang penting bibi jaga kesehatan ya soalnya harus bolak-balik mulu." ucap Fany dengan perhatian.
"Iya nona. Bibi akan baik-baik aja kok. Oh iya , non Fany kesini cari apa?" ucap Bi Ina yang membuat Fany bingung.
"Oh ini bi, ngecek aja aku kira bibi ngga dateng." ucap Fany yang kemudian mengambil satu siung bawang putih.
"Dateng lah non. Ini mau masak buat non Fany. Non Fany, calon suaminya ada disini kan?" ucap bi Ina.
"Iya Bi, itu ada di kamar kak Irfan." ucap Fany dengan tersenyum.
"Itu bawang buat apa non?" ucap bi Ina bertanya dengan heran.
"Ah ini... Itu lho bi buat tugas, buat penelitian gitu..." ucap Fany dengan tersenyum dan hanya sembarangan mencari alasan.
"Ohh gitu non... Iya deh non." ucap bi Ina dengan menganggukkan kepalanya percaya.
"Iya bi, ya udah bi di lanjut aja aku ke atas dulu ya." ucap Fany dengan tersenyum yang kemudian keluar dari dapur.
Fany segera menuju kamar dan ia melihat Ardhi duduk di depan meja riasnya dengan bercermin. Fany pun tersenyum melihat itu.
"Nih... Caranya gimana?" ucap Fany sembari berdiri di sampingnya.
"Tumbukkin sedikit aja, trus kamu olesin." ucap Ardhi.
"Kenapa aku? Kamu aja sendiri." ucap Fany.
"Sayang... Kamu lupa? Kamu yang buat ini, jadi kamu yang harus tanggung jawab!" ucap Ardhi dengan santai.
"Apaan sih... Enggak, kamu sendiri aja." ucap Fany dengan bergidik..,a
"Ayolah..." ucap Ardhi memohon.
"Ah kamu sih ribet banget!" ucap Fany mengeluh sembari mengambil secuil dan menumbuk bawang putih itu di dimeja.
Ardhi tersenyum melihat Fany yang mau melakukan permintaannya.
"Udah nih. Kamu olesin sendiri." ucap Fany.
"Aku nggak bisa, tolonglah sayang." ucap Ardhi.
"Aduhh kamu tu nyebelin yah!" ucap Fany dengan mengambil tumbukan bawang putih itu dengan jarinya lalu mengoleskan pada leher Ardhi.
Ardhi hanya tersenyum memandang Fany yang tengah memperhatikan kiss mark itu sembari mengoleksinya.
"Dah tuh!" ucap Fany yang kemudian mengambil tissue basah untuk mengelap tangannya.
"Berapa lama ya ilangnya... Emm oh iya nanti siang aku ke kantor. Kamu ikut ya..." ucap Ardhi dengan tersenyum.
"Ngapain aku harus ikut?" ucap Fany dengan heran.
"Daripada dirumah sendiri. Mending ikut aku. Sebagai calon istri CEO, kamu harus siap temenin calon suami kamu kemanapun ia pergi." ucap Ardhi dengan tenang.
"Ya besok lah kalau udah nikah, kan baru calon jadi nggak diharuskan." ucap Fany menentang.
"Ya itu harus dibiasakan dari sekarang dong sayang..." ucap Ardhi.
"Iya iya deh iya nanti aku ikut. Jam berapa?" ucap Fany.
"Gitu dong sayang gak usah pake ribut mulu. Nanti kita berangkat jam satu ya." ucap Ardhi dengan tersenyum.
"Iya deh." ucap Fany menganggukkan kepalanya.
Ardhi mendekati Fany lalu mengecup keningnya dengan lembut.
Ia menunggu beberapa saat sampai bekas kemerahan itu sedikit demi sedikit menghilang.
❤️
❤️
❤️
❤️
❤️l.a.f🌻❤️
__ADS_1