
Hari-hari berlalu dengan cepat dan kini para siswa siswi melaksanakan ujian nasional serentak. Semua berharap mereka dapat lulus dengan nilai yang memuaskan untuk selanjutnya melanjutkan studi pembelajaran yang lebih dalam di universitas yang di inginkan.
Dan hari ini hari terakhir melaksanakan ujian nasional. Dengan semangat yang tinggi Fany masuk ke dalam ruang perpustakaan. Ia sengaja berangkat sekolah lebih pagi di hari terakhir ini. Ia membaca sedikit demi sedikit buku tebal itu untuk memastikan ingatannya tentang materi yang ia pelajari semalam agar sukses menjawab soal ujian.
...----------------...
Dibalik kursi kebanggaannya itu , ia menyandarkan punggungnya sambil menatap layar ponselnya. Pukul 09.30 pagi. Ia berharap semoga kekasihnya bisa lolos dalam ujian sekolah dengan nilai sempurna.
Tok...Tok...Tok...
Tanpa sempat menjawab , orang di balik pintu itu masuk dengan sendirinya.
"Gue capek!" Ucap sobatnya dengan muka suntuknya. Ya , di Bima. Lagi lagi ia masuk ke ruang bosnya tanpa menunggu jawaban. Dan Ardhi pun sudah hafal dengan watak sobatnya ini.
"Kenapa lagi sih lo? Kayak cewek aja deh dikit-dikit ngeluh padahal kayaknya kerjaan lo hari ini gak banyak." Ucap Ardhi masih dengan posisi yang sama sembari melirik Bima.
"Bukan urusan kerjaan tauk! Soal kerjaan mah udah di luar kepala gua!" Ucap Bima sambil membuka akun Instagram miliknya.
"Gaya banget lo!" Ucap Ardhi.
Bima pun berdiri dan berjalan ke depan meja Ardhi. Ia menunjukkan sebuah postingan foto seorang cewek dan cowok sedang berpelukan di sertai ungkapan kalimat cinta.
"Lo lihat nih , cewek yang kemaren- kemaren jalan sama gua udah jadian sama cowok lain! Lagi-lagi cewek yang gua incar di pacarin sama orang lain! Gimana perasaan lo kalo jadi gua?!" Ucap Bima dengan nada kesal.
Ardhi hanya tersenyum kecil melihat sobatnya yang ternyata sedang patah hati.
"Apaan sih lo senyum gitu doang? Lo mau senyum gimana gua gak tertarik sama lo ya!" Ucap Bima membuang muka memandang ponselnya lagi.
"Lo pikir gua minat sama lo? Najis!" Ucap Ardhi bergidik ngeri.
"Cariin gua pacar dong , cewek lo kan banyak!" Ucap Bima dengan santainya.
"Sembarangan lo ya kalo omong! Cewek gua satu! Dan gak akan ada lagi. Lagian lo itu terlalu welcome sih ke setiap cewek. Kesananya lo tuh kayak playboy. Mana ada cewek yang mau seriusan sama lo. Intinya gini , lo harus jaga sikap lo dan nggak semua cewek lo ajak jalan." Ucap Ardhi sambil melirik Bima.
"Gua tuh nggak playboy , cuma sifat gua aja yang emang udah baik dari lahir kesemua orang." Ucap Bima yang membuat Ardhi membuang muka.
"Masalahnya sifat lo itu lebihnya ke cewek doang bukan ke semua orang. Cewek aja lo milih yang cantik doang kan? Hhahaha cowok apa lo... Cari cewek tuh yang apa adanya aja. Gak cantik gak masalah yang penting sefrekwensi sama lo!" ucap Ardhi dengan tenang sambil melangkah ke sofa dan duduk.
"Lo juga gak usah munafik deh , dulu lo dikejar banyak cewek tapi lo milih Fany yang lebih cantik. Itu bearti lo juga milih-milih. Dasar lo ya..." ucap Bima tak mau kalah.
"Eh gua itu emang udah di takdirkan berjodoh sama dia , dan hubungan gua sama Fany bukan urusan lo jadi gak usah bawa-bawa hubungan gua." ucap Ardhi.
"Iya iya gua tauk! Tapi gimana ya..." Ucap Bima dengan mengacak-acak rambutnya menjadi berantakan.
"Udah lah , cari yang lain aja. Masih banyak tuh cewek kantor." Ucap Ardhi dengan santainya.
"Gada yang sefrekwensi sama gua." Ucap Bima dengan malas.
"Gua heran deh , lo itu maunya yang kayak model apa sih? Kalo nggak lo bikin audisi aja sana!" Ucapan Ardhi sukses membuat Bima membelalakkan matanya.
"Apa? Emang lo pikir segitu gak lakunya ya gua? Gak mau lah!" Ucap Bima seolah kesal.
"Ehmm... Eh ada meeting gak ntar?" Tanya Ardhi.
"Gak ada , hari ini free." Ucap Bima dengan melirik bosnya itu.
"Yaudah kalo gitu gua keluar bentar ya." Ucap Ardhi dengan lekas berdiri.
"Mau kemana lo?" Tanya Bima.
"Jemput sekolah." Ucap Ardhi tersenyum.
"Yah elah , udah kayak bapak-bapak jemput anaknya aja lo." Ucap Bima sedikit tertawa.
"Bentar lagi juga gua jadi bapak-bapak." Ucap Ardhi terkekeh.
"Lo gila apa , pacar lo baru selesai ujian udah mau lo nikahin? Sabar napa , umur lo juga belum tua!" Ucap Bima dengan melirik bosnya yang sibuk mencari kunci mobil.
"Ya nggak gitu juga , maksud gua ya mungkin tiga atau empat tahun lagi gitu nikahnya. Gua juga tau kali kalo dia mau kuliah juga. Otak lo emang agak geser kali yah..." Ucap Ardhi sembari merapikan rambutnya.
"Terserah lo deh. Cepetan balik kantor loh ya, awas lo kalo sampe sore gak balik! Nih perusahaan gua ganti pake nama gua!" Ucap Bima yang membuat Ardhi menatapnya dengan tatapan membunuh.
"Bawel lo!" ucap Ardhi yang kemudian pergi meninggalkan ruangannya.
"Punya bos serasa kayak nggak punya bos!" Ucap Bima dengan berdiri dan pergi dari ruang itu menuju ruangannya sendiri.
...----------------...
Didepan gerbang sekolah , Ardhi menunggu kekasihnya dari dalam mobil. Tak lama kemudian , para siswa siswi pun terlihat berhamburan keluar. Ardhi pun tersenyum melihat wajah cantik kekasih hatinya sudah menampakkan diri. Dan dari jauh , terlihat Fany tersenyum mengetahui mobil Ardhi sudah terparkir di depan untuk menjemput dirinya.
"Kalian berdua udah di jemput belum? Kalau belum , ikutan gua aja..." ucap Fany mengajak kedua sahabatnya.
"Gila lu Fan ngajakin gua sama dia , yang ada pacar lu ngambek karena gak bisa mesra-mesraan sama lu nanti. Hhahaha..." ucap Zahra tertawa dan Airin pun juga ikutan tertawa.
"Mulut lu yah kagak ada aturannya kalo omong!" ucap Fany dengan kesal karena candaan sahabatnya.
"Iya biasanya sih gitu kita sekarang akan kuliah , itu berarti kan kita udah menginjak dewasa dimana masa sulit ada didepan kita. Kita benar-benar akan dihadapkan pada dewasa yang sebenarnya. Kedewasaan akan di uji sampai mana lu bisa jaga diri dan berjuang. Iya kan..." ucap Airin dengan bijaknya.
"Yups bener! Atau jangan-jangan lu abis kelulusan mau married?" tanya Zahra menatap Fany dengan tawanya.
"Aduhh makin ngarang aja lu! Belum cocok gua jadi mamah muda Zahraaa!" ucap Fany yang membuat kedua sahabatnya tertawa bersama.
"Semoga aja kita besok bisa kuliah di kampus yang sama ya. Gua gak mau kita bertiga pisah" ucap Airin dengan merentangkan kedua tangannya merangkul bahu Fany dan bahu Zahra.
__ADS_1
"Tenang aja kita besok pasti satu kampus lagi kok." ucap Fany tersenyum.
"Iya besok kita bakal sekampus lagi , kita bakal nerusin persahabatan kita sampai tua. Hehehe..." ucap Zahra terkekeh membuat Fany dan Airin juga tertawa.
"Iya iyaa , yaudah Fan lu udah di tungguin tuh. Masuk gih..." ucap Airin begitu mereka bertiga sampai di dekat mobil.
Dari dalam mobil , Ardhi keluar dengan kemeja putihnya. Masih banyak para murid yang lalu-lalang dan meliriknya.
"Astaga , pacar orang emang gantengnya kebangetan yah... Ada kembarannya gak cowok kayak lu tuh? Di belahan bumi mana biar gua samperin!" ucap Zahra terkekeh melihat Ardhi berdiri di hadapan mereka. Yah , mereka sudah akrab layaknya sahabat sendiri. Ardhi pun tersenyum manis.
"Gak akan ada cowok yang kayak gua ya. Cuma ada satu di dunia ini. Cuma gua doang." Ucap Ardhi yang ikutan bercanda dan membuat Fany membuang muka karena heran kenapa pacarnya sePD itu.
"Udah woy udah , kalian pulang sana deh ntar di cariin nyokap bokap kalian. Dah huss huss pulang sana!" ucap Fany mendorong-dorong bahu Airin dan Zahra bersamaan.
"Ah lu Fan Fan bisa aja lu yaa..." ucap Airin.
"Yaudah iyaa gua pulang , dah lo juga pulang. Hati-hati kalian berdua jangan macem-macem loh di mobil!" ucap Zahra dengan mengedipkan sebelah matanya menggoda Fany. Terlihat wajah Fany berubah menjadi tatapan membunuh dan kedua sahabatnya itu cepat-cepat pergi menjauh dengan tertawa.
"Udah sayang ayo kita masuk mobil." ucap Ardhi segera merangkul bahu Fany mengajaknya masuk ke dalam mobil.
"Gak ada akhlak emang sobat gua!" ucap Fany sembari memasang seat belt nya sendiri dengan raut wajah masam.
Ardhi pun masuk ke dalam mobil dan memandang wajah Fany sesaat yang membuat Fany salah tingkah sendiri. Kemudian Ardhi pun tersenyum.
"Kenapa sih sayang? Gara-gara mereka tadi muka kamu jadi jelek gitu?" ucapan Ardhi membuat Fany menatap wajah Ardhi tanpa ekspresi.
"Enggak. Emang udah jelek aja mukaku dari dulu. Baru nyadar ya?" ucap Fany yang membuat Ardhi mengusap-usap wajahnya. Lalu Ardhi pun mengemudikan mobilnya ke jalan raya.
"Udah ah , kamu itu jangan ngambekan gitu dong. Oh iya gimana ujiannya tadi? Gampang kan?" ucap Ardhi sesekali memperhatikan kekasihnya.
"Ehm.. Ya lihat aja besok gimana hasilnya. Moga aja nilainya bagus bisa lanjutin ke kampus yang sama dengan kampus kak Irfan." Ucap Fany dengan sedikit tersenyum.
"Eummm... Mau kuliah ya?" tanya Ardhi dengan fokus memandang kedepan.
"Ya iya kuliah , emang kenapa?" ucap Fany dengan heran dan menatap wajah Ardhi.
"Gak mau nikah muda aja?" Ucapan Ardhi sukses membuat Fany membelalakkan matanya.
"Hah? Kamu bilang apaan? Nikah?" tanya Fany tak percaya dengan ucapan pacarnya itu.
"Iya sayang." ucap Ardhi senyum-senyum tak jelas.
Terlihat Fany kini menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal sama sekali.
"Kamu mau nikah? Nikah aja duluan." ucap Fany dengan tenang.
"Kok suruh nikah duluan? Ya sama kamu dong..." ucap Ardhi menggoda Fany.
"Aduhh ih apaan sih kamu tuh. Makin hari makin aneh aja deh! Lagian umur aku baru berapa udah diajak nikah aja?" ucap Fany protes.
"Hemm... Gitu ya? Hukumannya apaan?" tanya Fany dengan suara pelan sembari sedikit melirik kekasihnya.
"Kenapa? Kalau mau tau apa hukumannya , langgar aja. Aku akan senang hati kasih kamu hukuman." ucap Ardhi dengan tersenyum santai.
"Enggak deh gak mau." ucap Fany dengan polosnya. Ardhi pun tersenyum penuh arti melirik kekasihnya.
"Takut?" ucap Ardhi dengan mengulurkan tangan kirinya dan menautkan di jemari tangan kanan Fany. "Aku nggak mungkin jahatin kamu kok. Tapi soal hukuman itu..." ucap Ardhi terputus.
"Stop! Aku udah tau ya apa yang ada di otak kamu itu! Dasar mesum!" Ucapan Fany dengan kesal sambil menatap wajah Ardhi yang kini tampak sedang tertawa.
"Apa sih sayang , ngga lah aku nggak mesum tauk! Kenapa kamu bilang kalo aku mesum? Emang kamu pernah aku apain?" ucap Ardhi tak terima dibilang cowok mesum sambil menarik tangan Fany agar mendekat padanya.
"Tapi emang bener kan pasti otak kamu mikirnya gitu! Dasar cowok yah!" ucap Fany dengan galak yang membuat Ardhi semakin gemas.
"Udah-udah sayang , ngga usah di bahas lagi. Intinya kalo besok kamu macem-macem di belakang aku , kamu harus terima apapun resikonya. Dah yuk kita makan dulu." ucapan Ardhi membuat Fany terdiam sesaat. "Sayang..." panggil Ardhi lagi dan Fany pun tersadar.
"Iya-iya bawel!" ucap Fany kemudian membuka seat belt nya.
Ardhi turun lebih dulu dan membukakan pintu mobilnya untuk Fany. Mereka pun masuk ke dalam restoran untuk makan terlebih dahulu sebelum pulang.
...----------------...
Bima sedang keluar dari ruangannya dan tak sengaja ada Aera yang hendak masuk ke ruangan bosnya. Aera yang bertanggung jawab dalam keuangan akan menyerahkan beberapa laporan keuangan bulan ini. Namun , Bima pun menghentikannya.
"Mau masuk kedalem ya? Pak bos lagi keluar." Ucap Bima dengan sedikit senyum.
"Oh baik Pak , kalo gitu saya serahkan nanti kalo Pak bos udah kembali aja." ucap Aera dengan tersenyum pula.
"Biar saya yang bawa , nanti saya kasih aja." Ucap Bima.
"Tapi Pak..." Ucap Aera menatap Bima.
"Nggak apa-apa , santai aja lah." ucap Bima tersenyum.
"Yaudah deh , ini Pak. Nitip ya tolong serahkan ke Pak bos." Ucap Aera sembari menyerahkan beberapa dokumen yang dibawanya.
"Oke siap." Ucap Bima tersenyum.
"Terimakasih Pak. Kalau begitu saya kembali ke ruangan dulu. Mari Pak..." Ucap Aera dengan sembari sedikit membungkukkan badannya memberi hormat.
"Iya sama-sama. Iya silahkan." ucap Bima dengan memandang Aera berlalu.
Bima pun kemudian bergegas kembali ke ruangan kerjanya dengan menenteng beberapa dokumen dari Aera. Sampai di ruangan , ia duduk di kursinya. Namun entah kenapa ia masih terus kepikiran perempuan yang ia sukai itu karena telah menjadi milik orang lain.
__ADS_1
Bima mengusap wajahnya kasar dan tampak terlihat berantakan. Ia pun berdiri keluar ruangan untuk membuat kopi. Meminum kopi disaat sedang stress memang membuatnya tenang. Ia membuat kopi sendiri karena office girl nya sedang libur.
Begitu sampai didalam , dia kaget karena ternyata disana juga ada Aera sedang membuat cokelat panas. Dan begitu pula dengan Aera , ia juga kaget melihat Bima masuk dengan raut muka dan rambutnya yang sedikit berantakan. Aera tak berkedip beberapa saat , penampilan Bima membuatnya sedikit terpesona.
"Ehmm... Lagi bikin apa kamu?" Ucap Bima mencairkan suasana.
"Hah? Oh saya? Ini lagi buat cokelat panas. Pak Bima mau?" Ucapan Aera yang sedikit gugup membuat Bima sedikit tersenyum.
Bima pun mendekat dan berdiri di samping Aera yang sedang mengaduk cokelatnya.
"Ehmm... Kayaknya enak ya..." Ucap Bima melihat cokelat panas di gelas.
"Kalau Pak Bima mau saya buatkan aja sekalian. Atau mau saya buatkan minuman lainnya?" Ucapan Aera sembari menatapnya dengan tersenyum.
"Pacar kamu suka minuman apa?" Tanya Bima yang membuat Aera tersenyum.
"Saya nggak punya pacar Pak." Ucap Aera.
"Yang bener aja , masa cewek secantik kamu nggak punya pacar?" ucap Bima yang tanpa sadar membuat hati Aera senang karena di puji cantik.
"Ya apa untungnya juga saya bohong Pak?" Ucap Aera.
"Yaudah tolong bikinin cokelat panas seperti yang kamu bikin aja ya." ucap Bima dengan tatapan teduhnya.
"Baik Pak , saya buatkan dulu. Nanti saya antarkan ke ruangan Pak Bima." Ucap Aera sembari mengambil gelas.
"Nggak usah di anterin." Ucap Bima.
"Pak Bima mau nungguin disini?" Tanya Aera.
"Iya. Kenapa? Nggak boleh? Emang kamu bikin cokelat nya mau di campur racun gitu?" ucap Bima dengan asal-asalan.
Dan tanpa sadar Aera melayangkan tangannya memukul bahu Bima.
"Auhhh!" ucap Bima.
Mereka berdua sama-sama kaget. Seketika , Bima mengelus bahunya yang terasa sedikit sakit oleh gamparan tangan mungil Aera.
"Aduh Pak , sorry ehh maaf maaf... Refleks tadi jadi nggak sengaja Pak. Maaf ya Pak abisnya Pak Bima ngomongnya sembarangan aja!" Ucap Aera yang panik karena menggampar Bima. Aera pun mengelus bahu Bima dengan perasaan campur aduk. Ia tak menyangka akan seberani itu pada Bima yang namanya berada dibawah sang bos. 'Aduh , mati gua! Bakal di pecat nih gua! Ah bodoh lo Ra!' ucapan Aera dalam hati yang merutukki kebodohannya.
Bima memegang tangan Aera dan mengisyaratkan untuk berhenti mengelusnya.
"Pak..." ucap Aera yang terlihat takut melihat Bima diam tak berbicara.
"Kamu bikin cokelatnya , dan antar ke ruangan saya." Ucap Bima dengan menatap kedua mata Aera tanpa ekspresi , lalu ia meninggalkan ruangan tersebut.
"Mampus gua! Kelar hidup gua , bertahun-tahun kerja bakalan berhenti sampe sini kayaknya. Ya Tuhan , mau kerja dimana lagi gua besok..." ucapan Aera sambil membuat cokelat panas dengan cepat.
Setelah selesai , ia menutup gelasnya membiarkan cokelatnya berada di atas meja tanpa membawanya. Ia hanya membawa cokelat panas untuk Bima.
Begitu sampai di depan pintu ruangan Bima, Aera berhenti sejenak. Ia sedikit merasa takut. Namun akhirnya ia mengetuk pintu dan memberanikan diri masuk ke dalam.
Di dalam , Bima sedang duduk di sofa mengerjakan tugas dengan laptop dihadapannya. Ia melihat jas Bima di kursi , sedangkan Bima hanya memakai kemejanya.
Aera melangkah pelan mendekati meja di hadapan Bima.
"Pak , ini cokelatnya sudah siap." Ucap Aera dengan suara setenang mungkin.
"Iya , makasih ya." Ucap Bima masih fokus dengan layar laptopnya.
"Pak , maaf ya soal tadi. Saya beneran nggak sengaja Pak. Maaf ya Pak saya..." ucap Aera terputus begitu melihat Bima berdiri dari duduknya dan melangkah ke depan Aera. Aera terkejut melihat Bima meraih tangan kanannya.
"Gamparan tangan kamu ini kurang keras. Nggak sakit rasanya. Jadi nggak perlu lagi minta maaf." Ucap Bima dengan tersenyum yang membuat Aera terpaku.
"Tapi Pak , saya kan udah..." ucap Aera namun terputus lagi dikala Bima melepas tangannya kemudian menariknya untuk duduk disofa.
"Nggak usah minta maaf mulu. Gak capek apa?" ucap Bima dengan santai sambil mengetik keyboard laptopnya.
"Ya terus kenapa saya harus ikut duduk disini Pak?" Tanya Aera dengan heran.
"Kenapa? Nggak mau? Katanya nggak ada pacar , nggak ada hati yang lagi kamu jaga kan? Yaudah gapapa dong ?" Tanya Bima dengan menatap Aera sesaat dan sukses membuat wajahnya merona.
"Oh astaga... Kalian , yaudah nanti aja. Sorry ya udah ganggu. Lanjutin aja dulu..." ucap Ardhi dengan senyum-senyum tak percaya dengan pemandangan dihadapannya.
Ya , Ardhi yang baru saja datang ke kantor langsung menuju ruang Bima untuk mengecek beberapa hal. Namun , yang ia dapatkan kini jauh dari bayangannya.
Sobatnya yang baru saja patah hati dan kini tertangkap basah sedang bersama cewek baru dalam satu ruangan. Bahkan dalam satu sofa yang sama dan saling berhadapan. Dan hal itu membuat Ardhi berfikiran lain-lain.
Bima tampak tenang , namun Aera terlihat kaget dan panik. Aera pun langsung berdiri dan menundukkan kepalanya karena malu.
Tak ingin membuat kedua orang itu takut , Ardhi pun segera pergi menuju ruang kerjanya.
"Pak... Gimana ini?" tanya Aera takut. "Pak saya permisi ke ruangan saya ya Pak." ucap Aera kemudian melangkah pergi menuju pintu.
Bima pun tersenyum melihat Aera ketakutan.
"Yaudah kamu kembali ke ruangan kamu aja. Oh iya , nanti makan siang sama-sama ya. Saya tunggu di mobil." ucap Bima yang membuat Aera tak percaya, lalu Aera menoleh kearah Bima. Bima masih tersenyum.
"Ba-baik Pak." ucap Aera kemudian pergi keluar dari ruangan itu dengan mengelus dadanya. Berharap jantungnya tak lompat dari tempatnya.
❤️
❤️
__ADS_1
❤️
❤️laf🌻!!