Love Always Forever (Tanpamu , Bagaimana Aku?)

Love Always Forever (Tanpamu , Bagaimana Aku?)
Rain in Love


__ADS_3

Hujan itu indah.


Dia seperti mengingatkan sebuah kenangan pada sebagian orang.


Entah itu kenangan manis ataupun kenangan yang buruk sekalipun.


Padahal , hujan tak pernah mengerti dengan semua itu...


Tapi , kenapa harus selalu di kaitkan dengannya (hujan)?


Dari hujan , kita bisa belajar bahwa terjatuh dari ketinggian yang teramat tinggi itu bukan berarti akan terhenti disatu titik.


Tapi , seperti air hujan yang jatuh ke permukaan bumi.


Meski sempat terhempas dengan keras , ia akan terus mengalir...


.


'.'.'.💦


.


Dengan riang seperti balita yang sedang asyik bermain tanpa mengerti akan beban hidup , Fany masih saja berjalan-jalan ditengah hujan yang turun. Bahkan ia sama sekali tak peduli jika setelah ini ia akan sakit.


Ia tak menghiraukan situasi sekarang. Yang ia inginkan hanyalah ingin merasa sebebas mungkin. Ia ingin bahagia dengan apa yang ia lakukan. Ia ingin menikmati kesendiriannya.


Entah mengapa , kini hujan turun semakin deras saja. Namun itu tak membuat Fany berteduh. Ia masih duduk di ayunan sembari menikmati derainya.


%*%*%


Ardhi bangun dari ranjang dan duduk bersila ditengah. Ia ingin tertidur namun nyatanya ia tak bisa memejamkan matanya walau hanya sedetik pun. Ia melirik jendela , hujan masih turun dengan derasnya.


"Dia kemana sih? Kenapa gak nyariin gue ya? Jangan-jangan dia pulang ninggalin gue disini." ucap Ardhi dengan penasaran yang kemudian langsung turun dari ranjang.


Ardhi keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah.


"Sayang... Kamu dimana?" teriak Ardhi memanggil Fany sembari membuka pintu utama. Mobilnya masih ada. Ia bernafas lega karena Fany tak meninggalkan dirinya disini.


Ardhi kembali menutup pintu dan mengedarkan pandangannya ke kanan kiri. Ia melihat pintu taman sedikit terbuka. Dengan penasaran ia pun berjalan ke sana.


Begitu Ardhi membuka pintu dan melangkah masuk , ia seolah sport jantung. Ia membelalakkan matanya tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Udah gak bener tuh cewek!" ucap Ardhi dengan bingung.


Gadis itu duduk dengan santainya di ayunan yang berada ditengah taman. Bermain ayunan ditengah derai hujan yang turun , sungguh hal yang sangat membuat Ardhi panik.


Masih dengan setelan kantor , ia tak menghiraukan kemeja putih yang ia pakai basah. Ia hanya melepas sepatunya didepan pintu dan berlari ke arah Fany berada.


Fany tak menyadari sepanik apa Ardhi terhadapnya , karena ia berayun dengan posisi membelakangi pintu. Dress selutut dengan lengan pendeknya menyatu dengan bentuk tubuhnya. Entahlah , dibawah guyuran hujan itu membuatnya terlihat lebih indah dipandang.


"Sayang , kamu udah gila ya? Ngapain hujan-hujanan kayak gini?" ucap Ardhi begitu sampai dan berdiri di hadapan Fany.


Fany mengernyitkan keningnya dengan heran. Ada apa lagi dengan lelaki itu? Pikirnya.


"Aku suka hujan. Emang kenapa? Udah lama banget aku nggak main hujan-hujanan gini." ucap Fany dengan tenang.


"Aku tau kamu suka hujan , tapi nggak gini juga kali. Yang ada besok kamu cuma sakit doang. Lihat tuh baju kamu , udah basah gitu. Udah ayo kita berteduh aja." ucap Ardhi dengan meraih jemari Fany yang terasa dingin.


"Iya nanti aku berteduh. Kamu duluan aja masuk sana." ucap Fany dengan santai dan turun dari ayunan lalu berdiri di depan Ardhi.


"Kamu tuh hobi banget yah bikin aku marah! Sengaja mau bikin aku emosi lagi? Aku bilang masuk ya masuk sekarang juga. Cepetan!" ucap Ardhi dengan kesal karena gadis itu benar-benar menguras kesabaran lagi.


"Apa sih sebentar lagi aja. Please lah..." ucap Fany dengan memohon seperti anak kecil.


Tak sampai disitu , Fany meraih kedua bahu Ardhi. Ia berjinjit karena ia lebih pendek ditambah lagi ia tak menggunakan alas kaki. Dengan tenang Fany mendekati wajah tampan itu lalu mencium bibir lelaki yang sedang marah padanya itu.


Mau semarah apapun , nyatanya ia selalu mudah diluluhkan hanya dengan tingkah Fany yang menggemaskan itu. Gadis itu selalu saja bisa meredakan emosi yang sudah naik sampai di ubun-ubunnya dengan mudah.


Godaan berat sedang ia rasakan saat ini. Ia terdiam beberapa saat melihat apa yang dilakukan gadis itu padanya. Ia benar-benar sudah tak bisa menahannya lagi.


Ardhi menyudahinya lebih dulu yang membuat Fany heran dan menatap kedua matanya.


"Kamu udah tau ya sekarang kelemahan aku dimana?" ucap Ardhi dengan tenang sembari menatap wajah cantik Fany yang terus saja terguyur hujan namun justru malah semakin menawan natural.


"Apa? Aku..." ucap Fany dengan bingung mencerna perkataan itu.


Dengan lancangnya , Ardhi langsung saja memulai permainannya. Ia mengecup bibir seksi itu dengan penuh kasih sayang. Lelaki itu tak menunggu Fany menyelesaikan ucapannya. Ia hanya merasa semakin tertarik untuk menyentuhnya.


Di antara air hujan yang berjatuhan itu , akan tersimpan sebuah cerita manis dimana dua hati sedang memadu kasih sayang dengan sangat indah. Saling memberikan rangkulan. Bukan untuk menghangatkan , karena tak mungkin bisa hangat disaat seperti ini.


Ini adalah pertama kalinya berada di moment seperti itu. Keduanya tak pernah menduga akan berakhir pada situasi seperti ini. Sangat menggairahkan.


"Sayang... Ayo masuk aja , dingin banget disini." ucap Ardhi setelah menyudahi kecupannya lalu ia mendekap tubuh Fany.


"Iya , aku juga udah kedinginan." ucap Fany yang mengikuti ajakan Ardhi.

__ADS_1


Sampai didepan pintu , mereka saling pandang. Hingga Fany mengalihkan pandangannya karena ia salah tingkah. Ardhi tersenyum memandang Fany.


"Sayang , ayo..." ucap Ardhi sembari meraih pergelangan tangan Fany.


"Apa? Kemana?" tanya Fany.


"Dingin... Kamu nggak mau ganti baju? Nanti kamu sakit loh." Ucap Ardhi dengan tenang.


"Ganti baju? Pake bajunya siapa?" Ucap Fany dengan heran.


"Ada kok di kamar atas. Ayo cepetan." ucap Ardhi dan ia pun melangkahkan kakinya menuju kamar bersama Fany.


Sampai di kamar Ardhi , ia kagum. Ternyata seluas ini kamar lelaki tampan yang notabenenya adalah calon suami itu. Benar-benar semua barang juga tertata dengan rapi.


Sedetik setelah ia mengagumi kamar itu , Fany di tarik lagi oleh Ardhi masuk ke ruang ganti. Didalam ruangan ini , lengkaplah sudah semua perlengkapan tubuh dari alas kaki hingga ujung kepala.


"Sayang , kamu bisa pilih nih. Mau yang mana terserah pakai aja. Ini semua udah bersih tinggal pakai." ucap Ardhi sembari menunjukkan satu isi lemari yang lumayan berukuran besar yang sebagian sudah terisi beberapa dress. Bahkan semua dalaman pun juga tersedia.


"Siapa yang nyiapin? Kamu?" ucap Fany tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Ada asisten aku , belum lama juga siapinnya. Yaudah aku duluan atau kamu yang duluan mandi? Atau mau..." ucap Ardhi dengan tersenyum.


"Aku duluan!" ucap Fany yang dengan cepat juga memutus ucapan Ardhi sembari menarik handuk lalu keluar dari ruang ganti dan masuk kedalam kamar mandi.


Ardhi pun keluar dari ruangan ganti.


"Cepetan mandinya. Keburu dingin juga nih aku." ucap Ardhi dengan sedikit berteriak di depan pintu kamar mandi yang dilanjut dengan menyalakan komputer yang sudah tersedia di meja kamarnya.


Lima belas menit berlalu , ia pun melirik ke arah kamar mandi. Ia heran , kenapa mandi harus selama itu. Namanya juga cewek , mungkin memang sudah ciri khasnya seperti itu.


Tak lama kemudian , pintu kamar mandi terbuka dan muncul pemandangan indah bagi Ardhi. Gadis yang tubuh mulusnya terbalut handuk dengan rambut yang basah itu benar-benar membuatnya tak bisa berpaling.


"Gak usah lihat-lihat!" ucap Fany dengan ketus karena tatapan Ardhi membuat jantungnya berdetak kencang.


Ardhi pun tersenyum. Sedetik kemudian , ia melepaskan kancing kemejanya dan melepasnya. Ardhi melangkah dan meraih handuknya sendiri. Ia tak menyadari bahwa Fany sedang menatapnya pula.


"Ngapain aja sih di kamar mandi? Lama banget." ucap Ardhi dengan santai sembari berlalu melewati Fany yang masih berdiri di depan pintu.


Ardhi masuk ke dalam dan hendak menutup pintu. Namun melihat Fany masih diam , ia keluar lagi.


"Cepetan ganti!" ucap Ardhi berbisik di telinga Fany yang sukses membuyarkan bayangannya.


Fany yang mendengar bisikan itu seketika langsung masuk ke ruang ganti.


Fany tersipu malu melihat isi lemari. Disana ada pakaian lengkap untuk cewek. Ia heran , kenapa ukurannya pas untuk dirinya. Apa lelaki itu tahu berapa saja ukuran pakaian yang ada ditubuhnya? Tapi bagaimana caranya dia tahu?


Dress cantik-cantik juga sangat membingungkan untuk ia pilih. Dari dress panjang menutup kaki , setumit , dibawah lutut , selutut , bahkan di atas lutut juga ada didalam lemari itu. Tak ketinggalan pula celana pendek dalaman dress juga tersedia. Astaga kenapa ini lengkap sekali?


Akhirnya Fany pun sudah selesai berganti pakaian. Dengan dress selutut tanpa lengan berwarna biru gelap , ia terlihat sangat cantik. Fany keluar dari ruang ganti sembari mengusap lembut rambut panjangnya yang basah dengan handuk kecil. Ia pun duduk di sisi ranjang.


Tak ada sepuluh menit , pintu kamar mandi terbuka. Dengan sengaja Fany berusaha menahan matanya agar tak menoleh ke arah Ardhi dimana.


"Gimana ukuran bajunya? Pas kan?" tanya Ardhi sembari melangkah mendekatinya.


Fany hanya menganggukkan kepalanya sesaat.


"Kenapa kamu bisa tau itu semua? Kamu gak lihatin semua pakaianku dan hafalin ukurannya kan?" tanya Fany dengan malu-malu.


"Apa? Aku hafalin hal semacam itu? Ya gak lah sayang. Kayak kurang kerjaan aja." ucap Ardhi dengan sedikit tertawa.


"Terus..." tanya Fany yang akhirnya melirik sedikit ke arah Ardhi. Ia melihat Ardhi yang bertelanjang dada dengan handuk terlilit dipinggang. Apa tidak malu sama sekali ia dengan dirinya? Benar-benar lelaki menyebalkan.


"Aku emang udah tau aja apa pun tentang kamu. Ya udah bentar ya , aku ganti dulu." ucap Ardhi dengan tersenyum sembari masuk ke dalam ruang ganti.


Fany hanya mendengus kesal. Apa-apaan jawaban tak masuk akal itu di ucapkan dengan begitu mudahnya.


Fany masih mengusap-usap rambut panjangnya yang masih basah ketika Ardhi sudah keluar dengan celana pendek selutut sembari membawa kaos yang hendak di pakainya.


Fany terpaku sesaat tatkala ia memandang wajah Ardhi yang makin hari semakin bertambah tampan itu. Rambutnya yang juga masih basah benar-benar membuatnya terlihat tampak segar.


"Sini aku bantu keringin. Aku belum sempat beli hairdryer disini." ucap Ardhi setelah memakai kaosnya.


Fany tersadar dari lamunannya. Kini Ardhi pun meraih handuk di tangan Fany dan mulai membantu mengeringkan rambut panjangnya Fany.


"Kamu kenapa nggak dikantor? Kenapa malah ke villa?" tanya Fany dengan tenang.


"Nggak apa-apa. Cuma lagi pengen kesini aja. Di kantor gak bisa konsentrasi." ucap Ardhi dengan santai.


"Kenapa bisa gitu?" ucap Fany bertanya lagi.


"Karena aku kangen sama kamu , jadi aku cuma kepikiran kamu mulu dan nggak bisa fokus ke kerajaan." ucap Ardhi dengan tersenyum.


Pengakuan Ardhi membuat Fany melirik ke arahnya dengan tatapan heran sembari mengernyitkan keningnya.


"Astaga... Emang sampai segitunya ya?" ucap Fany dengan masih menatapnya.

__ADS_1


Ardhi tersenyum manis melihat Fany.


"Oh iya , gimana masih kedinginan nggak?" ucap Ardhi.


"Ya lumayanlah dingin. Kenapa?" ucap Fany dengan ekspresi datarnya.


"Kita..." ucap Ardhi terputus.


"Aku mau bikin minum ke dapur." ucap Fany dengan cepat sembari berdiri dan melangkah ke keluar kamar meninggalkan Ardhi.


Fany turun ke dapur dan mencari minuman apa yang nikmat di buat saat hujan seperti ini. Ia menghidupkan kompor untuk mendidihkan air. Sementara ia mengambil dua saset gooday coffiee dan menuangkannya di dua gelas.


Ia menambahkan sedikit susu kental manis agar rasanya lebih creamy. Entahlah , ia di rumah pun suka membuat minuman seperti itu. Beberapa menit menunggu , akhirnya air itu mendidih juga. Ia pun menuangkannya pada gelas dengan hati-hati.


Lanjut , ia mengambil sendok kecil untuk mengaduk kopinya. Fany tak pernah menyadari bahwa ternyata ia sedang dipantau. Dari pintu itu , berdirilah lelaki dengan melipat kedua tangannya di dada yang sedari tadi tak sabar menunggunya dikamar.


Dengan langkahnya yang pelan , Ardhi sukses membuat Fany terlonjak kaget. Pelukan hangat pada tubuhnya dari belakang seketika membuatnya menjadi gugup. Lagi-lagi tangan kokoh yang melingkar di perutnya itu membuat hatinya berdesir.


"Lepasin dulu , aku mau bawa kopi nih." ucap Fany dengan setenang mungkin.


"Ya udah bawa aja." ucap Ardhi dengan tenang sembari mengecup pipi sebelah kanan Fany.


"Mana bisa? Ya lepasin dulu dong tangannya." Ucap Fany sembari menarik tangan itu agar terlepas.


"Kita ke atas lagi ya..." ucap Ardhi dengan tersenyum.


Fany yang menatapnya sempat blank dalam waktu beberapa detik , sungguh senyuman itu sangat memabukkan.


Dengan kedua tangan memegang nampan kecil yang berisi dua gelas , Fany berjalan dengan bahu di rangkul oleh tunangannya. Mereka pun kembali ke kamar atas dan minum kopi berdua.


Pukul 14.30 WIB. Saking sibuk dengan fokus ke layar televisi , Fany tak menyadari jika jam sudah berjalan begitu cepat. Kopi digelas juga tinggal sedikit.


"Kamu sibuk apa sih?" tanya Fany dengan melirik Ardhi yang berada di samping kirinya sedang menatap layar laptopnya.


"Kerja sayang. Apa? Ada apa sayang..." ucap Ardhi dengan tersenyum sembari meraih punggung tangan Fany dan di kecupnya sesaat.


"Kalau kerja nggak di kantor aja? Katanya kesini mau istirahat." ucap Fany.


Seketika Ardhi meluruskan duduknya dan menghadap Fany.


"Hemmm... Ya udah deh , gimana kalau kita lanjut aja..." ucap Ardhi dengan tersenyum.


"Ha? Lanjut apa? Nonton tv? Ya udah itu nonton aja salah sendiri dari tadi sibuk mulu." ucap Fany dengan memalingkan wajahnya menatap layar televisi kembali.


Ardhi tersenyum dan menggeser duduknya , ia menepis jarak yang ada di antara mereka. Terlihat Fany nampak tak peduli dengan itu.


"Kamu suka banget nonton drama Korea sih?" ucap Ardhi dengan tenang.


"Ya emang kenapa? Bagus semua , romantis , lucu kadang sedih , alur ceritanya tuh susah gak bisa ditebak. Cowoknya juga cakep-cakep semua , ceweknya cantik-cantik juga." ucap Fany dengan tersenyum.


"Gimana kalau kita coba?" ucap Ardhi dengan santai.


"Coba apa?" tanya Fany dengan heran.


"Yang barusan kamu tonton itu lah." ucap Ardhi dengan tersenyum.


Dengan gemas , Fany menggampar lutut Ardhi dengan tangan halusnya.


"Astaga sayang... Sakit tauk." ucap Ardhi dengan sedikit tertawa sembari melihat wajah Fany yang sempat merona.


Jelaslah Fany kesal , drama yang baru saja ia lihat adalah adegan romantis diatas ranjang. Ia juga belum mengetahui jika drama yang ia tonton ternyata ada adegan seperti itu. Tapi , memang sering kali drama luar itu menayangkan adegan seperti itu.


"Sayang ayolah..." ucap Ardhi dengan tersenyum jahil.


Bukannya menjawab , Fany justru menutup kedua telinganya dengan telapak tangannya. Jangan sampai ia hilang kendali. Ia berjanji pada dirinya sendiri , ia harus sempurna dan lulus dari ujian seberat apapun.


Ardhi pun meraih kedua tangan Fany dan menurunkan kebawah. Ya , dia sukses ia kunci. Ia tak tahan dengan bibir ranum itu. Gadis itu benar-benar bagaikan candu untuk dirinya. Ia mampu memberikan semangat yang luar biasa.


Kecupan manis itu bertahan beberapa saat. Sofa itu ternyata membuatnya terlalu nyaman dan enggan untuk berhenti. Ia selalu berfikiran untuk melakukan hal yang lebih dari ini , namun hati kecilnya tak bisa bohong. Ia sangat dalam mencintai , namun ia tak mau menyakiti.


Ardhi mengakhiri aktivitasnya dan tak lupa ia mengecup kedua pipi mulus gadis itu. Dengan tenang , ia menarik tubuh Fany ke dalam pelukan hangatnya disertai dengan kecupan di kening beberapa saat. Fany pun memejamkan mata sembari menyembunyikan wajahnya didada Ardhi. Ia tersenyum manis.


.


.


❤️


❤️


❤️


❤️


❤️l.a.f🌻❤️

__ADS_1


__ADS_2