
Time to everything taste-tested by the bitterness of the past that come back to haunt the hearts...
And dismissed the emotion back because of pain...
Will we be able to survive with our love?
While past your present among us?
...****************...
Waktu berlalu begitu cepat. Kini Fany turun dari mobil dengan semangat. Ia sangat senang hati memulai semuanya disini.
"Ayo, ngapain bengong gitu?" ucap kak Irfan dengan menepuk pelan bahu Fany.
"Iya-iya ayo!" ucap Fany dengan tersenyum.
"Pokoknya kalau ada yang ganggu kamu entah siapapun itu, kamu harus bilang sama kakak! Ngerti?" ucap kak Irfan dengan tegas.
"Iya kak aku ngerti. Tapi kan aku bukan anak kecil lagi yang harus dimanja. Aku udah gede yah." ucap Fany dengan santai.
"Cuma kalau ada yang berniat jahat doang, kalo nggak ya udah syukurlah." ucap kak Irfan.
"Iya kak, ngampus bareng kakak setengah tahun yah lumayan lah..." ucap Fany dengan tersenyum.
"Iya kayaknya nggak sampai setengah tahun deh." ucap kak Irfan.
"Ya udah gak apa-apa lah. Eh kak kenapa pada lihatin aku sih?" ucap Fany dengan berbisik kepada kakaknya.
"Mungkin penasaran aja sama kamu." ucap kak Irfan dengan santainya.
"Woyy bro... Nongol juga lu!" ucap Raffa , teman seangkatan kakaknya.
"Oh jadi ini adek lo? Cantik banget yah." ucap Ericko dengan tersenyum.
"Gak ada yang boleh deketin adek gua!" ucap kak Irfan dengan santai.
"Kenapa emang?" ucap Yodi dengan heran.
"Ya nggak boleh aja, dia harus fokus kuliah. Awas lo kalo sampe macem-macem! Urusannya sama gua!" ucap kak Irfan dengan tegas namun tenang.
"Tapi kalo cuma kenalan boleh lah ya, kenalin gua Yodi." ucap Yodi dengan tersenyum.
"Gua Fany." ucap Fany dengan tersenyum pula.
"Gua juga , gua Raffa." ucap Raffa yang ikut-ikutan berkenalan.
"Fany." ucap Fany dengan tersenyum.
"Dan kenalin gua Ericko." ucap Ericko dengan senyuman manis.
"Iya gua Fany." ucap Fany dengan senyum sembari menjabat tangan mereka satu per satu. Benar-benar ujian dalam hati jika seperti ini tiap harinya. Lelaki yang tampan tersebar di berbagai sudut. Apalagi teman kakaknya yang sekarang sedang berada di hadapannya, benar-benar tantangan baru untuknya.
"Oh ya lo di jurusan apa?" ucap Ericko.
"Gua di psikologi. Kalian apa?" ucap Fany dengan ramah.
"Ohh psikologi... Cocok sih sama anaknya.Semoga sukses ya... Ini kita berempat di management nih..." ucap Ericko dengan ramah pula.
"Gak tau nih anak disuruh ambil management malah nyari dunianya sendiri ke psikologi." ucap kak Irfan dengan mengacak-acak poni di dahi Fany.
"Ya kan belajar itu menurut keyakinan diri masing-masing nggak bisa dipaksa." ucap Fany membela diri sembari merapikan rambutnya yang berantakan.
"Tetep aja namanya anak bandel!" ucap kak Irfan dengan santai.
"Eh anak psikologi itu penting juga loh buat perusahaan. Lulusan Psikologi sebagai HR consultant biasanya dicari buat ngisi berbagai pelatihan persiapan karier, pelatihan pengembangan kepribadian, terus pelatihan pengembangan keterampilan karyawan di perusahaan. Jadi besok lo CEO nya terus adek lo bantuin ngurus perusahaan juga." ucap Raffa dengan panjang lebar yang membuat Fany tersenyum.
"Dengerin tuh!" ucap Fany memukul lengan kakaknya.
"Iya iya tapi kan kakak tuh pengennya kamu bisa pegang perusahaan sendiri." ucap kak Irfan dengan mengelus lengannya yang dipukul tadi.
"Aku udah bilang aku nggak mau. Aku maunya bukan jadi pimpinan. Tapi kerja sewajarnya aja. Toh aku juga abis kuliah kerjanya nggak lama." ucap Fany dengan terkekeh.
"Kenapa nggak lama? Emang mau ngapain?" ucap Yodi penasaran.
"Married lah." ucap kak Irfan sembari melirik Fany yang tengah menatapnya tajam.
"Kalo gitu ngapain harus kuliah segala sih? Married aja langsung. Ya nggak..." ucap Eeicko dengan terkekeh.
"Ah ngaco aja ya kalian!" ucap Fany dengan masam. Kemudian matanya menangkap sosok yang ia cari.
Airin dan Zahra tengah berjalan ke arahnya dengan santai sembari bercerita satu sama lain. Fany tersenyum akhirnya mereka benar-benar bisa melanjutkan persahabatan seperti yang mereka impikan.
"Rin... Zahra..." ucap Fany memanggil kedua sahabatnya.
Airin dan Zahra tampak kaget dengan siapa yang memanggilnya. Lalu mereka saling menghampiri dan berpelukan bertiga beberapa saat.
"Gua kangen banget sama lo!" ucap Airin.
"Gua juga kangen sama lo Fany!" ucap Zahra terharu.
"Iya iya gua juga kangen banget sama kalian." ucap Fany dengan tersenyum.
__ADS_1
"Lo kemana aja? Lo belum married kan?" ucap Airin dengan sembarangan.
"Apa diem-diem lo udah married? Terus gak kabar-kabar..." ucap Zahra terputus.
"Enggak enggak! Gua gak ngapa-ngapain, dan gua belum married yah! Sembarangan aja!" ucap Fany dengan kesal oleh ucapan sahabatnya itu.
"Oh astaga gua kira lo udah married beneran hehe..." ucap Airin terkekeh.
"Ngarang lo ya..." ucap Fany.
"Ayo kita kesana..." ucap Zahra mengajak kedua sahabatnya.
"Iya bentar dulu." ucap Fany yang kemudian menghampiri kakaknya yang masih bersama teman-temannya sedang ngobrol.
"Kak aku pergi sama temenku yah." ucap Fany memberitahu.
"Iya ya udah sana. Jangan aneh-aneh." ucap kak Irfan dengan tersenyum.
"Iya kak. Duluan ya..." ucap Fany berpamitan kepada teman-teman kakaknya pula dengan tersenyum dan berjalan menghampiri sahabatnya.
Ketiga gadis cantik itu berjalan beriringan melihat papan-papan pengumuman serta denah lokasi universitas baru mereka.
Mereka pun saling berbagi cerita dan saling membahas masa depan impian masing-masing.
...----------------...
Semenjak dua minggu yang lalu ketika Ardhi menyatakan ingin bertunangan, ia tampak tak tenang karena sampai kini ia belum juga mendapatkan jawaban yang pasti. Hatinya benar-benar terasa sangat tak nyaman.
Walaupun Fany kuliah di bawah pengawasan sang kakak, tetap saja ia merasa tak bisa berpikir jernih. Selalu ada pikiran tentang bagaimana jika Fany tergoda oleh lelaki lain. Apalagi lelaki yang sempat mengirim email itu.
Ardhi meraih ponselnya di atas meja lalu mencari nomor telepon kekasihnya. Ia meneleponnya berulang kali , namun nihil. Fany tak menjawab panggilan itu. Meskipun ia tahu Fany pasti sedang sibuk dengan mata kuliahnya, tapi hatinya tetap saja terasa penuh tanda tanya.
Ardhi meletakkan ponselnya dan kembali menatap layar laptopnya. Kepalanya terasa pusing dan penat sekali. Ia rindu. Rindu canda tawanya. Hanya beberapa hari tak bertemu dengan kekasihnya karena sang kekasih sedang sibuk mengurus persiapan kuliahnya. Hal itu membuatnya tampak tak semangat.
Tok...Tok...Tok...
Bunyi pintu diketuk menyadarkan dirinya. Ia lihat Bima masuk ke dalam lalu duduk di kursi seberangnya.
"Ada apa?" tanya Ardhi tanpa ekspresi.
"Ntar ada meeting jam dua." ucap Bima sembari menyerahkan dokumen di samping laptop Ardhi.
Ardhi melirik jam tangannya , pukul 11.40 wib. Ardhi kemudian menyandarkan tubuhnya pada kursi.
"Lo kenapa? Ada masalah? Dari kemaren gua perhatiin kayak kusut aja tuh muka." tanya Bima dengan tenang.
Ardhi menghela nafas panjang seolah lelah.
"Karena cewek lo? Dia ngapain?" ucap Bima.
"Gua takut dia ninggalin gua karena ada orang lain di hatinya." ucap Ardhi.
"Dia anak baik-baik kan? Nggak mungkin dong dia kayak gitu. Lo nggak usah mikir yang aneh-aneh." ucap Bima dengan sabar.
"Gua kayak gini karena gua tau ada satu cowok yang ngejar dia. Dan lebih parahnya lagi sekarang mereka satu kampus." ucap Ardhi dengan kekesalan yang nyata di wajahnya.
"So... Apa yang bakal lo lakuin?" ucap Bima.
"Sekitar dua minggu yang lalu gua udah ajakin dia tunangan." ucap Ardhi.
"Terus gimana reaksi dia?" ucap Bima penasaran.
"Sampai sekarang dia belum ngasih gua jawaban yang pasti. Gua udah beberapa hari juga nggak ketemu sama dia karena sibuk." ucap Ardhi dengan masam.
"Lo ajak dia ketemu aja. Dibicarain baik-baik." ucap Bima dengan tenang.
"Gua herannya kenapa perasaan gua gak tenang mulu yah?" ucap Ardhi dengan mengeluh.
"Lo sih kecepeten ngajakin tunangan. Baru juga masuk kuliah masa udah lo ajak tunangan aja pasti dia belum siap lah." ucap Bima.
"Tapi gua gak minta apapun, gua cuma pengen tunangan doang. Soal nikah itu gua serahin ke dia. Gua akan nungguin dia siap jadi istri gua sampai kapanpun." ucap Ardhi dengan sungguh-sungguh.
"Nggak tau deh gua, mending lo ajak ketemuan aja biar jelas biar lo tenang biar nggak memperburuk hubungan kalian." ucap Bima dengan bijak.
Ardhi pun terdiam beberapa saat.
"Ya udah lo keluar sana deh, udah waktunya istirahat." ucap Ardhi dengan tenang.
"Lo mau makan apaan? Gua pesenin deh. Gak tega gua lihat bos kebanggaan gua sedih gitu." ucap Bima.
"Enggak enggak, gak perlu. Gua udah kenyang. Udah lo sama Aera makan aja sana." ucap Ardhi dengan memejamkan matanya.
"Ya udah gua keluar. Kalo ada apa-apa hubungi gua." ucap Bima yang kemudian keluar dari ruang Ardhi tanpa mendengar jawaban dari bosnya.
Disaat Ardhi masih memejamkan matanya, ia mendengar ponselnya berbunyi. Ia membuka matanya dan meraih ponsel di atas meja itu.
Tertera panggilan masuk dari kekasihnya. Ia pun menjawabnya.
"Halo..." ucap Ardhi dengan tenang.
"Hai sayang, maaf ya aku tadi baru ada kelas terus nggak tau kalo ada telpon. Maaf ya... Aku benar-benar nggak tau." ucap Fany dari seberang sana.
__ADS_1
"Iya nggak apa-apa. Aku juga tau kok." ucap Ardhi.
"Kamu pasti marah ya sama aku?" ucap Fany.
"Enggak, aku nggak marah sayang." ucap Ardhi.
"Udah kelihatan kalau kamu marah!" ucap Fany.
"Sayang kamu nanti sibuk nggak?" ucap Ardhi bertanya.
"Enggak. Kenapa?" ucap Fany.
"Aku kangen. Mau nggak jalan? Sebentar aja." ucap Ardhi dengan suaranya yang dibuat setenang mungkin.
"Iya aku mau. Kapan kamu jemput aku?" ucap Fany.
"Kamu pulangnya jam berapa?" ucap Ardhi.
"Nanti jam empat aku pulang" ucap Fany.
"Ya udah biar aku jemput. Nanti aku bilang sama Abang." ucap Ardhi.
"Iya deh. Kamu udah makan?" ucap Fany.
"Belum makan. Masih kenyang." ucap Ardhi.
"Tapi ini udah waktunya makan siang. Makan dulu jangan sampai telat." ucap Fany dengan perhatian.
"Iya nanti aku makan." ucap Ardhi.
"Kamu kenapa sih? Aku tau kamu lagi marah. Tapi jangan kayak gini dong." ucap Fany dengan kesal.
"Aku nggak marah sayang. Enggak. Aku cuma pengen ketemu kamu." ucap Ardhi dengan tenang.
"Iya deh iya." ucap Fany.
"Ya udah , sampai ketemu nanti ya sayang. Aku tutup dulu. Ingat, kamu jangan nakal." ucap Ardhi dengan tenang kemudian memutuskan sambungan telepon terlebih dahulu.
Ardhi berdiri dari duduknya lalu melangkah menuju pintu ruang pribadi miliknya. Ia ingin menghabiskan istirahatnya untuk tidur. Ia masuk dan merebahkan tubuhnya yang lelah di ranjang. Sesaat kemudian, ia terlelap.
...----------------...
Airin dan Zahra sudah pulang terlebih dahulu karena mereka membawa mobil masing-masing. Kini Fany hanya sendiri dan masih menunggu kekasihnya datang.
Didalam penantiannya, ia heran melihat sebuah mobil yang tampak jalan melambat.
Orang di dalam itu kemudian menghentikan mobilnya didepan Fany lalu keluar dari dalam mobil. Namun sangat tak pernah ia duga, lagi-lagi lelaki yang membuatnya muak itu hadir kembali.
Rifki.
"Hai..." ucap Rifki melihat Fany menatapnya tak percaya.
"Lo!" ucap Fany dengan menunjuknya.
"Iya gua. Lo lupa ya kan gua udah bilang kemaren lewat email." ucap Rifki dengan tersenyum.
"Apa? Email? Lo email gua?" ucap Fany semakin tak percaya.
"Iya tapi sayangnya lo nggak bales. Tapi nggak apa-apa deh yang penting lo udah baca." ucap Rifki yang membuat Fany benar-benar syok.
'Mati gua! Yang pegang hp gua cuma dia. Pasti dia baca email-nya. Mampus gua! Jangan-jangan isi email-nya aneh-aneh. Arrggghhhhh sial! Manusia satu ini bikin masalah mulu!" ucap Fany dalam hati dengan kesal.
"Fany lo kenapa bengong gitu?" ucap Rifki dengan tersenyum sembari mengibas-ibaskan tangannya.
"Hah? Apa isi email lo?" ucap Fany dengan setenang mungkin sembari menatapnya.
"Emang yang baca email gua siapa kalo bukan lo?" ucap Rifki mengerutkan keningnya sembari duduk disamping Fany.
Dari jauh Ardhi memang sudah memperhatikan Fany dan Rifki. Entahlah rasa cemburunya lebih besar daripada rasa tenangnya. Lagi-lagi ia teringat isi email yang ia baca. Hatinya terbakar sudah.
Tanpa pikir panjang dan tanpa berkata sepatah katapun, Ardhi menepikan mobilnya di dekat mobil Rifki. Ia menarik nafas dalam-dalam dan dihembuskannya dengan kasar. Ia berusaha setenang mungkin.
Namun nyatanya ia tetap tak bisa setenang yang ia harapkan , ia tetap terbakar emosi tatkala ia melihat Rifki duduk di samping Fany.
Ditengah percakapan itu mereka tak menyadari sebuah mobil berhenti di dekat mereka. Tiba-tiba tangan Fany di tarik oleh seseorang.
Ardhi menarik Fany dan membawanya masuk ke dalam mobil. Ardhi tahu Fany sedang bicara dengan siapa. Ardhi sudah mencari tahu siapa lelaki itu.
Fany tak bisa apa-apa. Ia mengikuti Ardhi yang menariknya. Ia benar-benar takut kali ini. Ia tahu Ardhi yang sudah membaca email-nya. Ia juga memikirkan tentang pertunangan yang di minta oleh kekasihnya.
Rifki menatap kepergian Fany dari hadapannya. Ia tahu, dan sudah dapat ia pastikan bahwa lelaki yang menarik Fany itulah yang membaca email-nya. Ia tersenyum kecut melihat kejadian yang terjadi didepannya.
❤️
❤️
❤️
❤️
❤️l.a.f???🌻❤️
__ADS_1