Love Always Forever (Tanpamu , Bagaimana Aku?)

Love Always Forever (Tanpamu , Bagaimana Aku?)
Bukan Benci part²


__ADS_3

Di sela-sela tangismu , apa ada rasa bosan?


Atau mungkin benci?


Dan mungkinkah terbersit niat untuk mengakhiri?


Sayangnya , tidak.


Rasa di setiap hati tak mungkin sama.


Banyak yang mencoba menggantikan...


Namun , kenangan tak akan pernah menghilang.


Coba sekali lagi , bertahan dan berjuang.


Tuhan tak pernah mengganti sesuatu dengan yang lebih buruk...


...*...


...🥀...


...*🧸*...


...🥀...


...*...


Jam sudah menunjukkan pukul 19.20 WIB dan malam pun tiba. Di luar pintu , Ardhi sudah mengetuk-ngetuk pintu meminta untuk masuk. Namun , Fany sedang mandi sehingga ia tak peduli pada ketukan pintu dan lagi pula tak lupa ia harus mengunci pintu agar lelaki itu tak sembarangan masuk.


Sementara di luar , Ardhi masih menunggu dengan duduk di lantai bersandar pada pintu sembari mengirim pesan pada Bima bahwa ia besok tak akan masuk ke kantor. Ia merencanakan sesuatu di hari esok. Maka ia meminta tolong kepada Bima untuk mengurus kantor sementara waktu.


Tak lama kemudian , tiba-tiba pintu terbuka dan mengagetkan Ardhi yang masih bersandar. Fany pun menatap Ardhi dengan datar tanpa ekspresi.


"Niat banget yah..." ucap Ardhi sembari berdiri.


"Apaan sih? Ngapain juga disini?" ucap Fany yang kemudian berlalu dan menuruni tangga untuk ke bawah. Ardhi pun mengekor di belakangnya.


"Kamu mau kemana?" ucap Ardhi bertanya yang menatap Fany membuka pintu utama untuk keluar.


"Pulang!" ucap Fany yang membuat Ardhi kaget.


'Pulang? Nggak mungkin!' ucap Ardhi dalam hati sembari menyusul Fany yang melangkah ke arah mobil.


Ardhi berdiri di ambang pintu dan memperhatikan Fany yang tengah membuka pintu belakang mobilnya. Terlihat ia mengeluarkan seplastik belanjaan. Entahlah itu apa saja namun terlihat lumayan berat.


"Kalo butuh bantuan itu bilang , gak usah gengsi. Makan gengsi ntar sengsara sendiri." ucap Ardhi sembari meraih belanjaan itu dan membawanya masuk kedalam.


Ardhi meninggalkan Fany yang sedang menatapnya kesal karena ucapannya baru saja itu seakan membuat singa tidur dalam dirinya terusik.


Di dalam , Ardhi membawa belanjaan itu dan meletakkannya pada meja. Lalu ia berbalik lagi berjalan keluar mencari Fany. Di luar , Fany justru duduk di kursi belakang dengan pintu terbuka. Fany tampak sedang meminum susu uht kesukaannya yang tadi di belinya.


Mengetahui kedatangan Ardhi , Fany pun lagi-lagi menampakkan ekspresi yang datar sembari sesekali minum.


"Ayo sayang kita masuk. Ngapain masih disini?" ucap Ardhi dengan meraih jemari Fany yang satu.


"Cari angin aja." ucap Fany dengan asal.


"Sekarang bukan penakut lagi ya?" ucap Ardhi.


Sebenarnya , Fany mulai merasa takut disini. Entah itu takut pada keadaan atau malah takut pada lelaki di hadapannya ini. Karena lelaki ini bisa saja melakukan hal bodoh padanya , ya karena memang disini tak kan ada yang tahu.


"Aku takut selama kamu ada disini. Jadi lebih baik kamu pulang." ucap Fany dengan turun dari mobil. Ia menutup pintunya dan melangkah masuk ke dalam villa.


Lagi-lagi Ardhi harus menahan emosinya yang selalu di pancing. Ardhi mengusap wajahnya kasar sampai rambutnya pun terlihat berantakan. Dan itu memperjelas betapa frustasinya dia menghadapi gadisnya.


Fany menatap Ardhi yang baru saja masuk. Lalu sedetik kemudian ia tersadar dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia selalu saja bisa jatuh dalam pesona lelaki yang sedang membuatnya naik darah itu. Sangat menyebalkan!


"Aku harus gimana biar kamu maafin aku? Aku gak perlu ngapa-ngapain kamu dulu kan buat bikin kamu percaya sama aku?" ucap Ardhi sembari menatap wajah Fany yang tengah bersandar pada sofa.


"Dan kalo kamu macem-macem sama aku , aku nggak akan pernah maafin kamu dan nggak akan pernah mau ketemu sama kamu lagi." ucap Fany dengan tenang sembari menatap wajah Ardhi pula.


Kedua mata yang saling bertemu membuat mereka sulit memutuskannya.


"Urus aja dulu mantan mu." ucap Fany yang kemudian mengalihkan pandangannya menatap layar ponsel di atas meja yang berdering.


"Halo ma..." ucap Fany menjawab panggilan masuk dari Mama Vina itu.


"Kamu lagi dimana sayang kok nggak ada dirumah?" tanya Mama Vina.


"Ohh ... Mama udah pulang ya? Aku lagi ada di villa ma. Aku mau nginep di villa." ucap Fany dengan tenang tanpa memperdulikan Ardhi yang menatapnya.


"Ngapain kamu kesana? Nginep segala emang sama siapa?" ucap Mama Vina dengan heran.


"Lagi main aja ma , di sini ada Airin sama Zahra juga kok. Udah ya mama tenang aja aku baik-baik aja disini dan besok kita udah pulang." ucap Fany dengan tenang agar tak terdengar sedang berbohong.


"Emm ya udah deh kalo gitu. Hati-hati di situ. Jaga diri baik-baik ya. Kabari Mama kalo ada sesuatu." ucap Mama Vina.


"Iya ma , oke... Mama istirahat ya..." ucap Fany yang kemudian telponnya berakhir.

__ADS_1


"Yang ngajarin bohong kayak gitu siapa?" ucap Ardhi.


"Kenapa? Aku terpaksa harus bohong. Aku gak bisa pulang ke rumah dengan mood kayak gini." ucap Fany dengan datar karena ia merasa tidak nyaman dengan membohongi orangtuanya.


"Iya aku tau , emang semua itu karena aku. Tapi aku serius , aku nggak ada niat apapun sama Yuna. Aku bahkan gak pernah tau kalau dia mau ke Indonesia." ucap Ardhi dengan meraih jemari Fany lalu digenggamnya.


"Dia dateng jauh-jauh dari Tokyo loh , dan kamu sia-siain gitu aja? Kamu nggak kasian sama dia?" ucap Fany mencoba memancingnya.


"Astaga sayang , kamu ngomong apa sih? Aku nggak benci sama dia. Tapi aku nggak mau dia masuk ke hidupku yang sekarang jelas-jelas udah ada kamu." ucap Ardhi.


"Aku nggak akan maksa buat nahan kamu kalau kamu emang masih mau sama dia. Aku lihat , dia oke juga berjuang sendiri demi ketemu sama kamu. Dan kalo aku yang ada di posisi dia , aku pasti udah hancur banget sih." ucap Fany dengan tenang namun membuat Ardhi menatapnya kesal.


Bisa-bisanya gadis yang sebentar lagi akan ia nikahi berbicara seperti itu. Bagaimana bisa?


"Aku emang kasian sama dia. Dan aku peluk dia dengan tulus untuk yang terakhir kalinya setelah aku bilang kalo sebentar lagi aku akan menikah. Aku nggak mungkin kan miliki kamu dan juga miliki dia. Salah satu pasti akan ada yang sakit. Dan aku pastikan bukan kamu yang sakit. Aku udah nggak ada niat sama dia. Gak ada sedikitpun." ucap Ardhi dengan jelas serta dengan jarak yang sangat dekat.


"Tapi aku takut. Apa kamu yakin dia akan tetap baik-baik aja tanpa mengganggu kita?" ucap Fany.


"Aku akan buat dia pulang secepatnya. Dan gak usah takut lagi karena gak ada yang perlu kamu takuti." ucap Ardhi dengan tersenyum sembari mengelus poni Fany yang menutupi sebagian dahinya.


Ingin rasanya ia menyentuh , tatkala melihat Fany yang hanya terdiam. Ardhi benar-benar menepis jarak di antara mereka hingga tak tersisa. Mungkin setan telah mencoba menguasainya.


"Inget gak aku tadi bilang apa? Awas aja kalo sampe macem-macem! Pergi gak!" ucap Fany dengan memukul-mukul dada Ardhi yang kini sedang menguncinya.


"Nggak macem-macem sayang , cuma kayak biasanya aja." ucap Ardhi dengan tersenyum.


Lagi-lagi senyuman itu selalu saja membuat konsentrasinya berantakan.


"Sayang..." ucap Ardhi dengan suara khasnya.


"Enggak mau!" ucap Fany sembari menutup bibirnya dengan dua telapak tangannya kuat-kuat.


Ardhi menarik nafas dalam-dalam dan hembuskan nafasnya kasar.


"Ayolah aku kangen. Sebentar aja." ucap Ardhi dengan menatap kedua mata Fany yang tampak panik.


"Minta cium sana sama mantan mu!" ucap Fany yang kemudian memukul lengan Ardhi dengan sikunya lalu melarikan diri.


Ardhi tak percaya ternyata calon istrinya sekuat itu. Ia mengelus-elus lengannya yang terasa lumayan nyeri sembari melihat Fany yang berlari ke arah dapur. Ia pun menyusulnya , ia tak akan membiarkan gadis itu lolos dengan mudah.


"Kuat juga kamu ya. Aku kayaknya harus lebih hati-hati sekarang." ucap Ardhi yang tengah berdiri di ambang pintu.


"Astaga! Ngapain sih? Gak usah ikutin aku mulu deh! Gak capek apa!" ucap Fany dengan kesal sembari menatapnya. Jujur saja , sebenarnya ia takut jika Ardhi benar-benar membalasnya. Karena memang ia tadi memukulnya dengan kuat.


"Sakit tauk! Gak ada niat minta maaf gitu?" ucap Ardhi sembari berjalan mendekati Fany.


"Gak ada! Lagian siapa suruh kayak gitu." ucap Fany.


"Aku laper aku mau masak dulu. Jangan gangguin aku kalo nggak ntar kamu yang aku makan!" ucap Fany dengan lantang yang sedetik kemudian ia membelalakkan matanya lalu menutup mulutnya kuat-kuat.


'Gila! Bego lu , kenapa lu bisa ngomong kayak gitu! Otak dia kan mesum , pasti dia mikir mesum tuh! Ah , cari mati gue!' ucap Fany dalam hati dengan merutukki kebodohannya.


"Apa? Kamu mau makan aku? Ya ampun sayang , aku mau kok. Ayo... Dimana kamu mau makan aku?" ucap Ardhi berbisik dengan menahan senyumnya sembari mendekatkan telinganya.


"Enggak-enggak! Pergi sana jangan ganggu!" ucap Fany sembari menggeleng-gelengkan kepalanya dengan masih saja menutup mulutnya.


"Ah sayang , aku juga laper tauk. Ya udah deh kalo gitu abis ini kita makan-makan bareng ya." ucap Ardhi dengan melingkarkan tangannya pada pinggang Fany lalu mengecup pipinya.


Sedetik kemudian , Ardhi berlari ke luar dari dapur untuk menghindari gadisnya yang mungkin akan mengamuk karena ulahnya.


Namun , Fany justru terpaku beberapa saat. Ia benar-benar terlihat stress menghadapi lelaki itu. Belum juga ia resmi di nikahinya , rasanya sudah sangat lelah sekali menghadapinya. Dan itu pun belum termasuk urusan tentang ranjang.


"Astaga lama-lama otak gue rusak parah! Arghh!" ucap Fany yang hampir berteriak.


Ardhi sebenarnya masih bisa mendengar jeritan Fany , namun ia hanya terkekeh sembari memijat pelan lengannya yang masih terasa sakit. Lalu ia keluar untuk mengambil sesuatu dari dalam mobil.


Tak sampai setengah jam , Fany pun selesai memasak. Lalu ia melangkah ke pintu dapur untuk melihat Ardhi sedang apa. Ternyata lelaki itu tampak sedang menatap layar laptopnya.


"Aku udah bilang kan dari tadi , kalo sibuk tuh pulang aja sana urus kerjaan kamu lagian aku juga nggak nyuruh kamu kesini." ucap Fany yang datang karena berniat untuk mengambil ponselnya.


"Kerjaan aku emang banyak tapi bisa di urus Bima. Tapi... Gak akan ada yang bisa gantiin kerjaan aku buat urus kamu disini." ucap Ardhi dengan tersenyum puas.


"Terserah deh!" ucap Fany yang kemudian berlalu.


Ardhi pun kembali menatap layar laptop dengan tersenyum.


"Butuh makan nggak? Kalo nggak ya udah cari makan aja sendiri!" ucap Fany berteriak dari jauh yang membuat Ardhi segera menghampirinya dan membiarkan laptopnya terbuka.


"Eummm... Istriku pinter masak juga ya." ucap Ardhi melihat di meja makan yang sudah disiapkan makanan.


"Istri? Yang ke berapa? Itu pun kalau jadi." ucap Fany dengan santai tanpa peduli dengan tatapan Ardhi.


"Kita makan dulu ya sayang... Biar nanti kuat kalo mau lanjut debat. Oke?" ucap Ardhi dengan sabar. Ia heran kenapa sekarang seolah menjadi dua orang yang saling bermusuhan seperti ini.


Suasana makan malam dua manusia itu benar-benar sangat sepi. Hanya sendok saja yang berbincang pada piring. Sebenarnya , Ardhi sangat bersyukur. Karena meskipun gadis itu sedang kesal padanya , perhatian yang ada dalam benaknya tak hilang.


Ardhi tersenyum memandang Fany yang tengah mencuci piring kotor bekas makan malamnya.


Urusan dapur telah usai. Fany pun berjalan ke arah luar.

__ADS_1


"Sayang , habis ini kamu mau ngapain?" ucap Ardhi sembari sejajarkan langkahnya.


"Kenapa? Mau gangguin aku lagi?" ucap Fany dengan memandang wajah Ardhi sekilas.


"Kamu nggak capek apa marah mulu dari tadi?" ucap Ardhi.


"Enggak! Aku mau nonton , jangan ganggu aku. Kerjain kerjaan kamu sana." ucap Fany yang kemudian pergi ke arah kamarnya yang berada dilantai dua.


"Kenapa aku di tinggalin sih? Sayang..." ucap Ardhi sembari menatap Fany yang sedang menaiki tangga.


Fany tak mau menoleh lagi dan tetap melangkah ke kamar. Sementara Ardhi duduk pada sofa. Ia membuka laptop dan mencari sesuatu untuk kepentingan rencana yang ia susun besok.


Dan di kamar , Fany sedang hanyut pada drama Korea kesukaannya yang ia tonton. Sampai ia tak menyadari episode selanjutnya akan dimulai lagi. Itu yang berarti bahwa ia sudah kurang lebih satu jam menatap layar laptopnya.


Baru saja ia bersyukur karena hidupnya tenang , sedetik kemudian ia mendengar pintunya di ketuk berulang kali. Fany pun mendekat ke arah pintu.


"Ngapain?" ucap Fany.


"Buka pintunya sayang..." ucap Ardhi di luar.


"Kamu tidur kamar sebelah atau terserah aja mau pake kamar mana yang penting gak usah ganggu aku." ucap Fany sedikit berteriak yang membuat Ardhi tersenyum.


"Iya aku tau. Tapi buka dulu pintunya sebentar , hp kamu ketinggalan di dapur nih." Ucap Ardhi dengan tenang.


'Oh iya ya , kenapa bisa lupa sih ah ada-ada aja deh!' ucap Fany dalam hati. Ia kesal karena ia gagal mengunci diri dari lelaki itu.


Fany pun memutar kunci dan membuka pintu sedikit.


"Mana hpku?" ucap Fany sembari menengadahkan tangannya.


Ardhi pun tersenyum melihat tingkah gadis itu. Membuka sedikit pintu dan hanya memperlihatkan sebelah wajahnya saja. Sungguh menggemaskan sekali baginya.


"Ngapain kayak gitu?" ucap Ardhi dengan tenang.


"Nggak usah basa-basi , cepetan mana hpku." ucap Fany tak sabar.


Cukup dengan satu tangan , pintu itu berhasil ia dorong hingga terbuka lebar. Fany yang tak siap , jelas kewalahan. Ia hanya menatap Ardhi dengan tatapan mata ingin membunuh setelah Ardhi masuk dalam kamar.


Tak hanya Fany yang kaget , Ardhi juga menatapnya dengan tatapan mata yang tak bisa bohong bahwa dia gugup. Susah payah ia menelan ludahnya sendiri. Melihat pemandangan indah di depan mata membuatnya blank saja.


Bagaimana tidak , gadis itu hanya memakai celana pendek diatas lutut dan atasan you can see saja. Itulah yang membuat ia sebenarnya tak mau membuka pintu. Ia memang terbiasa tidur dengan pakaian seperti itu karena nyaman.


Ardhi tersenyum dan menutup pintu lalu memutar kuncinya. Tak cukup sampai disitu , ia mencabut kunci itu dan memasukkannya ke dalam kantong celananya. Dan hal itu membuat Fany membelalakkan matanya bingung harus bagaimana.


"Kuncinya kenapa..." ucap Fany yang kemudian terdiam.


"Kenapa? Biar kamu nggak kabur. Nih hp kamu." ucap Ardhi dengan santai sembari tersenyum manis.


"Jangan macem-macem ya! Aku nggak mau kamu disini! Keluar sekarang , cepetan!" Ucap Fany dengan memukul-mukul lengan Ardhi.


"Aku nggak akan ngapa-ngapain sayang. Serius. Udah dong jangan marah mulu." ucap Ardhi sembari mencekal kedua pergelangan tangan Fany.


"Tapi aku mau sendiri. Aku gak perlu kamu disini." ucap Fany.


"Sayang... Please lah , aku minta maaf soal semuanya. Kamu belum maafin aku loh dari tadi." ucap Ardhi dengan tenang.


"Apa gunanya aku maafin kamu kalo besok-besok kayak gitu lagi? Aku kan gak selalu ada di samping kamu setiap detik jadi aku gak akan pernah tau apa yang akan terjadi." ucap Fany dengan santai.


"Astaga , aku cuma sekali ini doang loh. Kemaren aku gak pernah kayak gitu. Kalau kamu masih gak percaya , oke. Aku akan buktiin semua dan aku akan nikahin kamu secepatnya. Biar kamu yakin kalau isi di hati aku cuma kamu doang. Aku akan urus semua persiapan dan dua minggu lagi kita nikah." ucap Ardhi dengan tenang tanpa ragu yang membuat Fany menatapnya kaget.


"Gila kamu? Aku belum lulus tauk!" ucap Fany tak terima.


"Aku gak peduli. Kalaupun kita nikah sekarang kamu masih tetep bisa kuliah juga kan? Trus apa masalahnya aku harus nunggu sampai kamu lulus tapi kamu selalu ragu sama kesetiaan aku?" ucap Ardhi yang membuat Fany tak bisa mengelak lagi.


"Iya udah. Aku maafin. Sekarang keluar dari kamar aku." ucap Fany sembari melepaskan tangannya dan berbalik hendak menuju pintu.


Baru juga ia berbalik , tubuhnya terangkat. Ardhi membopongnya yang membuat Fany histeris. Tapi percuma saja ia berteriak , hanya Tuhan yang mendengarnya.


"Apa lagi?" tanya Fany dengan menatap wajah Ardhi di atasnya.


Perlahan , Ardhi naik ke atas ranjang dan menidurkan Fany ditengah.


"Jangan bikin masalah lagi. Ayo kita tidur. Kamu boleh bunuh aku kalo emang aku macem-macem sama kamu." ucap Ardhi dengan membaringkan tubuhnya di samping Fany yang kemudian memeluknya.


"Beneran boleh?" tanya Fany dengan polosnya.


"Boleh. Tapi setelah ini." ucap Ardhi yang kemudian dengan cepat ia mencium bibir Fany tanpa memberinya kesempatan lolos lagi.


Kecupan-kecupan manis padanya seolah candu. Pipi yang mulus serta kening kesukaannya itu selalu menariknya. Ia pun mendekap gadis kesayangannya itu hingga tanpa sadar mereka terlelap.


Malam itu bukan pertama kalinya ia tidur bersama. Namun memang sudah beberapa kali dan lelaki hebat itu benar-benar luar biasa. Ia memberikan kenyamanan pada gadis yang terlelap itu tidur dengan damai.


❤️


❤️


❤️


❤️

__ADS_1


❤️l.a.f🌻❤️


__ADS_2