
"Sayang , ini aku." ucap Ardhi dengan tenang.
"Handphone kamu kemana?" tanya dari wanita diseberang sana.
"Handphone aku kehabisan baterai. Maaf ya aku baru ngabarin sekarang. Ini aku pakai HP-nya temen." ucap Ardhi dengan tenang.
Fany mengernyitkan dahinya.
"Temen kamu?" tanya Fany.
"Iya sayang temen cowok kok. Dia temen ku waktu kuliah dulu disini. Kita ngobrol bareng nih." ucap Ardhi.
"Oh gitu , aku kira kamu udah perjalanan pulang." ucap Fany dengan suara yang terdengar seperti kecewa.
"Besok sayang aku pulangnya. Mungkin sore aku terbang dari sini , soalnya aku diminta kakak buat mampir ke rumah." ucap Ardhi dengan tenang.
"Oh ya udah deh , salam ya buat semuanya yang ada di sana." ucap Fany dengan sedikit tersenyum meskipun lelakinya tak bisa melihatnya.
" Iya sayang , besok aku sampaikan ya. Kamu tidur ya , udah malem sayang. Nanti kamu sakit loh." ucap Ardhi dengan perhatian.
"Iya , aku juga udah mau tidur kok tadi. Terus ada telpon dari kamu. Kebangun lagi deh jadinya. Ya udah ya , aku tidur lagi. Kamu juga jangan malem-malem mainnya , pulang terus tidur." ucap Fany dengan suara yang sedikit memerintah.
"Iya sayang aku sebentar lagi juga pulang kok. See you sayang , good night ya..." ucap Ardhi dengan tersenyum.
"Iya. Bye..." ucap Fany yang kemudian memutuskan sambungan telepon itu lebih dulu.
Ardhi pun menghapus nomor telepon Fany dari ponsel temannya. Ia tidak ingin nomor telepon calon istrinya itu tersebar. Setelah terhapus , ia mengembalikan ponsel itu pada pemiliknya.
Karena udara malam di sana terasa sangat dingin , ia pun mengajak Yuna untuk segera kembali pulang. Ia takut jika nanti tubuh Yuna sakit lagi karena terpaan udara malam.
...----------------...
Udara malam yang semakin dingin kian menusuk tulang. Tanpa disadari , gadis cantik itu telah melepaskan jaket dan meletakkannya di sofa begitu saja. Lalu tiba-tiba ia memeluk tubuh lelaki yang sedang mencuci tangan itu.
Ardhi benar-benar terkejut. Udara dingin seketika lenyap begitu saja. Nafasnya pun kini terasa sulit sekali untuk diatur.
Ardhi mengelap tangan yang basah itu dengan tissue dapur didepannya. Ia merasakan pelukan pada tubuhnya sangat erat. Ardhi berusaha melepaskan tangan Yuna yang melingkar di dadanya. Namun ternyata terlalu kuat.
"Sebentar aja." ucap Yuna yang menolak untuk melepaskan pelukannya.
"Iya aku tau. Ayo lepasin dulu lah sebentar aku nggak bisa nafas tauk." ucap Ardhi dengan santai.
Seperti layaknya anak kecil , akhirnya Yuna nurut saja. Ardhi pun menghadapnya sembari menggenggam kedua jemari Yuna.
"Ada apa?" tanya Ardhi dengan tenang.
"Aku masih pengen peluk kamu. Sebentar lagi aja." ucap Yuna yang kemudian langsung memeluknya lagi.
Suara manja Yuna terasa menggelitik telinga Ardhi.
"Kamu baik-baik aja kan?" ucap Ardhi memastikan.
"Iya." ucap Yuna singkat sembari menganggukkan kepalanya.
Ardhi pun melingkarkan kedua tangannya pada pinggang gadis itu. Sontak , Yuna mengangkat wajahnya menatap wajah Ardhi yang tengah tersenyum menatapnya pula.
"Apa?" ucap Ardhi yang tampak begitu cool.
"Kenapa kamu peluk aku?" tanya Yuna.
"Kenapa? Enggak boleh?" ucap Ardhi seolah sedang berfikir. Ucapan Ardhi itu membuat Yuna gemas.
"Boleh. Bahkan , walaupun kamu mau... Emm..." ucap Yuna yang menggantungkan ucapannya karena ia bingung sendiri dengan kelanjutannya.
"Mau apa?" ucap Ardhi masih dengan tatapan mata yang dalam dan posisi yang tidak berubah sedikitpun.
Yuna menghela nafas berat.
"Sayangnya , besok kita udah pisah." ucap Yuna yang kini mengalihkan pandangannya.
"Oh iya , aku akan kasih kesempatan sekali lagi buat kamu. Dan kesempatan ini untuk yang terakhir kalinya. So , kamu mau apa?" ucap Ardhi dengan tenang.
"Really?" ucap Yuna dengan menatapnya kembali.
"Iya serius." ucap Ardhi.
"Untuk yang terakhir kalinya?" tanya Yuna memastikan lagi.
"Iya." ucap Ardhi dengan tersenyum.
"Janji?" ucap Yuna.
"Iya janji. Apa?" ucap Ardhi yang semakin penasaran dengan apa yang akan diucapkan oleh Yuna.
"Aku mau... Emm aku... Tapi aku takut." ucap Yuna dengan menggigit bibir bawahnya sedikit.
"Kenapa takut? Ngomong aja." ucap Ardhi dengan sedikit melirik bibir gadis dihadapannya yang tampak merah.
"Enggak mau aneh-aneh sih. Tapi aku pengen , kamu buat malam ini adalah malam yang terindah." ucap Yuna dengan tersenyum.
Ardhi pun pasang ekspresi seolah sedang berfikir keras. Dan sedetik kemudian , lelaki itu tersenyum.
"Udah? Itu aja? Yang terindah kan? Kamu maunya yang kek gimana?" ucap Ardhi dengan menarik tangan kanannya dan membiarkan tangan kiri tetap melingkar di pinggang Yuna.
"Iya aku nggak tau. Terserah kamu aja mau gimana." ucap Yuna yang kini sedang berusaha menahan degup jantung yang mulai tidak beraturan.
Ardhi menghela nafas berat , ia tak mampu menghindar. Ujian itu sangat berat. Benar-benar berat.
Tak mampu menolak , Ardhi pun menarik tubuh gadis itu hanya dengan tangan kirinya dan benar-benar menepis jarak yang ada hingga tiada sisa.
Tangan kanan menyusuri setiap sudut wajah cantik itu tanpa terlewati. Sedetik kemudian , akhirnya Ardhi mengecup dahi Yuna sesaat dan tak lama kemudian ia pun menyudahinya.
__ADS_1
Sadar bahwa gadis itu hanya setinggi bahunya , sedangkan Ardhi tak mau membungkukkan badan. Alhasil , Ardhi mengangkat tubuh gadis itu dan mendudukkannya di atas meja yang sejajar dengan wastafel.
Yuna berusaha untuk tetap sadar dengan apa yang sedang terjadi. Ia sebenarnya sangat menikmati apa yang dilakukan lelaki itu. Rasanya semakin ingin disentuh lebih lama lagi. Dan ia masih menantikan perlakuan spesial apa lagi dari lelaki itu.
Kini sejajar sudah dengan tinggi yang sama. Tak ingin membuang waktu yang ada , Ardhi perlahan mendekati wajah Yuna yang memang terlihat berharap. Namun ia berhenti sesaat. Ardhi tersenyum melihat Yuna memejamkan kedua matanya.
"Aku bisa aja loh ngelakuin apapun di malam ini. Tapi , kamu yakin?" ucap Ardhi dengan menatap wajah Yuna yang tampak merona.
Yuna membuka mata. Bagaimana ia bisa tenang , jarak keduanya kurang dari lima centimeter. Yuna benar-benar merasa sangat gugup. Yuna pun mengulurkan tangannya untuk membenarkan dress agar menutupi lututnya.
Yuna masih saja selalu lemah jika dihadapkan dengan pesona Ardhi. Ia juga merutukki dirinya yang bodoh. Ia yang menginginkan semua ini terjadi , namun ia justru tak siap dengan yang terjadi kini.
"Aku janji aku akan baik-baik aja setelah kamu pergi." ucap Yuna dengan tenang namun jujur saja ia tak bisa bohong dengan perasaannya.
"Kamu hebat." ucap Ardhi dengan tersenyum.
"Ya , seperti yang kamu bilang berulang kali." ucap Yuna dengan tersenyum pula.
Malam ini , ia harus berani. Ia tak boleh lemah di hadapan lelaki yang sedang menatapnya sembari merapikan poni didahinya ini. Namun rasanya lelaki itu benar-benar membuatnya seolah terbang melayang.
"Dan sekarang udah waktunya , aku akan tutup kisah kita dengan sesuatu yang indah. Seperti yang kamu mau." ucap Ardhi dengan tersenyum sembari mengelus pipi mulus Yuna dan langsung menciumnya. Dan itu sukses membuat wajah gadis itu merona.
Lagi-lagi ia dibuat tegang. Sialnya , kedua telapak tangan halus itu terasa begitu dingin.
"Memangnya apa yang aku maksud? Aku mau apa coba?" tanya Yuna seolah menantang , ya dia berusaha menentang suasana.
"Buat malam yang terindah kan , apa ya kira-kira?" ucap Ardhi seolah berpikir.
"Mungkin..." ucap Yuna terhenti.
"Ah kelamaan mikir!" ucap Ardhi dengan cepat.
Tanpa aba-aba , Ardhi benar-benar mengecup bibir gadis itu. Serangan yang tiba-tiba membuat Yuna kaget karena tak siap.
Entahlah kini ia sudah tak tau lagi. Ia rindu. Ia ingin sekali melakukan itu. Suasana mendukung dan berada pada posisi nyaman , begitu sempurna. Ardhi menahan tengkuk Yuna untuk mempertahankan apa yang sedang ia lakukan.
Ciuman itu benar-benar memabukkan. Malam indah yang benar-benar tak pernah terlupakan oleh gadis itu. Inilah keinginan yang sebenarnya ia dambakan dari dulu.
Sesaat kemudian, Yuna mulai mendorong dada lelaki itu seakan memberi isyarat karena merasa kehabisan nafas.
Ardhi pun mengerti dan menyudahinya. Ia mengusap bibir Yuna dengan ibu jarinya secara perlahan. Tak sampai disitu , ia juga merapikan rambut Yuna yang terlihat sedikit berantakan. Lalu ia kecup keningnya sekali lagi.
Namun rasa itu semakin dalam dikala kedua lengan Yuna melingkari lehernya. Memberikan isyarat bahwa gadis itu masih ingin menikmatinya lagi. Dan pada akhirnya Ardhi tersenyum karena sifat Yuna yang satu ini.
"Jangan di ulang. Kamu sendiri loh yang mungkin besok tertekan kalau ingat apa yang kita lakuin ini." ucap Ardhi sembari senyum dan menatapnya dengan tatapan mata yang dalam.
"Enggak apa-apa. Aku nggak peduli itu. Yang aku mau sekarang cuma kamu aja. Kamu gak perlu mikirin hidup aku selanjutnya kayak gimana." ucap Yuna dengan tenang.
"Gimana bisa aku gak mikir itu setelah aku sentuh kamu kayak gini?" ucap Ardhi masih menatap Yuna tanpa berkedip.
"Kasih aku kenangan terindah biar bisa aku kenang." ucap Yuna.
"Jangan ngerusak suasana dong. Udahlah kamu percaya aja sama aku." suara manja Yuna pun keluar.
Kelemahan Ardhi banyak jika sudah berhadapan dengan wanita. Suara manja adalah salah satunya.
Ardhi tak bisa menahannya lagi. Ia sudah terlalu termakan oleh suasana dan keadaan. Akhirnya ia pun memberikan ciuman lagi. Kali ini ciuman yang mungkin terasa lebih dalam.
Tangan yang melingkar di lehernya itu semakin kuat yang membuatnya merasa bahwa Yuna benar-benar masih terus mempertahankan ciuman itu. Ardhi pun mulai melingkarkan kedua tangannya pada pinggang gadis itu. Dan hal itu semakin membuat Yuna merasa jauh lebih nyaman lagi.
Udara malam terasa seakan siang. Panas dan terasa sekali gerahnya. Tak menghiraukan apapun lagi , Yuna tampak begitu beraninya menyudahi ciuman terlebih dahulu.
Ardhi sempat kaget , karena tangan Yuna yang mulai nakal itu kini berusaha untuk membuka bajunya. Tak butuh waktu lama , baju yang ia kenakan sudah terlepas dan di letakkan di meja sebelahnya begitu saja. Yuna pun tersenyum melihat Ardhi dengan dada polosnya yang tampak bidang.
Yuna mengulurkan tangannya mencoba menyentuh perut Ardhi. Keras. Ya , keras sekali benar-benar seakan tak ada lemak sedikitpun.
Ardhi tersenyum melihat tingkah Yuna. Ia hanya menatapnya saja dan membiarkan apa yang ingin Yuna lakukan padanya. Benar-benar baru kali ini ia berhadapan dengan wanita yang seberani ini bertingkah padanya.
"Suka?" ucap Ardhi bertanya.
"Seandainya aja tubuh sempurna ini benar-benar milikku. Aku akan jadi perempuan yang paling beruntung." ucap Yuna tersenyum.
Ardhi terdiam. Ia hanya menatap Yuna saja tanpa berkata apa-apa. Untuk ketiga kalinya ia kembali mencium bibir Yuna. Dan sedetik kemudian , ia langsung mengangkat tubuh Yuna.
Lelaki itu mendorong pelan pintu kamar dengan kakinya. Tampak ruangan itu terlihat remang-remang karena hanya lampu tidur yang menyala. Sampai di dalam , ia duduk ditepi ranjang dan membiarkan Yuna berada pada pangkuannya. Tak lama kemudian , Yuna pun menyudahi ciumannya.
Tangan lelaki itu benar-benar sudah tak bisa terkendali. Tanpa berucap apapun , tangannya mulai menyentuh bahu Yuna. Mengusapnya pelan dan perlahan-lahan mulai menarik tubuh gadis itu lebih dekat.
Tanpa disadari , dibelakang tubuhnya resleting dress yang ia kenakan kini perlahan terbuka. Yuna pun sempat terkejut dengan apa yang dilakukan lelaki itu. Sesaat kemudian , dress itu di tarik keatas dan akhirnya terlepas dari tubuh Yuna.
Masih bisa terkondisikan , sebab Yuna masih mengenakan hotpants dan you can see meskipun hanya tipis. Warna serba hitam yang ia kenakan membuat kulitnya yang putih bersih itu terlihat semakin menawan.
Ardhi mengangkat tubuh Yuna dan membawanya ke tengah ranjang. Ia menjatuhkan tubuh gadis itu dengan pelan. Lelaki itu juga menatap wajah panik Yuna yang terlihat lucu di bawahnya. Ardhi pun menggenggam jemari Yuna agar gadis itu merasa tenang.
Yuna merasa takut. Entahlah kali ini rasanya berbeda. Ia gugup dan was-was dengan lelaki itu. Yuna menatap tangan Ardhi , dan ia pun kembali menatap lelaki itu yang juga mulai menatapnya.
"Kenapa?" tanya Ardhi.
"Kamu yang kenapa. Kamu boleh sih ngelakuin apa aja yang kamu mau ke aku. Tapi..." ucap Yuna yang menghentikan ucapannya karena otaknya tiba-tiba blank.
"Tapi?" ucap Ardhi.
"Emm... Kita nggak mungkin melakukan itu kan?" ucap Yuna dengan sedikit takut.
Yuna yakin , tanpa menjelaskan secara detail pun Ardhi pasti sudah paham dengan apa yang dimaksudnya.
"Melakukan apa?" ucap Ardhi seolah berpikir.
"Kamu gak perlu berlaga bodoh ya." ucap Yuna.
"Asal kamu tau ya , aku belum pernah ngelakuin sesuatu lebih dari ini loh." ucap Ardhi dengan tenang.
__ADS_1
"So..." ucap Yuna dengan jantung yang mulai tidak beraturan.
Yuna menatap Ardhi yang juga menatapnya dengan tatapan mata teramat dalam. Ardhi terdiam beberapa saat dan menatapnya tanpa ekspresi yang membuat Yuna semakin takut. Ia mencoba bangkit dari posisinya sekarang , namun lelaki itu menahan tubuhnya agar tetap berbaring.
"Aku nggak mau." ucap Yuna dengan wajah takutnya dan masih berusaha bangun.
"Dengerin aku ya , sebenarnya aku mau kita sama-sama suka dengan apa yang kita lakuin sekarang. Tapi aku rasa , kita nggak bisa lakuin satu hal yang sejauh itu. Intinya aja , aku nggak mau kita sama-sama rusak. Aku mau jaga kamu. Aku gak akan merusak masa depan kamu. Dan aku yakin kok , apa yang aku lakukan ini udah jadi sesuatu yang indah untuk diingat kan? Kamu nggak perlu takut." ucap Ardhi dengan suaranya yang terdengar merdu ditelinga.
Yuna tersenyum. Tanpa disadari , di sudut matanya tampak setetes cairan bening terjatuh. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa lelaki ini sangat baik. Benar-benar menjaga dirinya dengan tulus.
"Jangan gini dong. Kamu udah janji loh gak akan nangis lagi." ucap Ardhi sembari mengusap air mata yang sempat merembes keluar dari sudut mata gadis itu dengan ibu jarinya.
"Enggak. Aku cuma ngerasa bangga banget sama kamu. Kamu beneran sesempurna ini ternyata." ucap Yuna dengan tersenyum.
"Aku nggak sesempurna yang kamu pikir. Aku cuma pengen yang terbaik aja untuk kita berdua." ucap Ardhi dengan tenang.
"Tetep aja kamu cowok yang hebat." ucap Yuna.
"Ini juga demi kamu kan." ucap Ardhi dengan santai.
"Makasih ya kamu beneran mau nurutin semua kemauan aku." ucap Yuna dengan tulus.
Ardhi hanya tersenyum menatap wajah Yuna yang juga sedang menatapnya itu. Lalu ia melirik jam dinding , ternyata sudah terlalu larut malam.
"Udah malem , kita tidur ya." ucap Ardhi.
"Kamu udah ngantuk?" tanya Yuna.
"Sebenarnya aku nggak tidur pun kuat-kuat aja. Tapi aku cuma kasihan sama kamu. Kamu tuh udah kecapekan dari tadi dan kamu butuh istirahat yang cukup." ucap Ardhi menjelaskan.
"Ya udah deh. Tapi , kamu tidur dimana?" ucap Yuna.
"Tidur dimana? Ya tidur di sini dong. Tempat tidurnya kan cuma satu." ucap Ardhi tanpa memikirkan perasaan Yuna.
"Ya barangkali kamu mau tidur di sofa gitu." ucap Yuna yang kini mendorong dada Ardhi agar sedikit bergeser dan berusaha untuk bangun.
"Eh mau kemana?" ucap Ardhi dengan mengerutkan keningnya sembari tangannya yang spontan langsung menahannya.
"Aku kedinginan dong kalau tidurnya pake pakaian kek gini. Aku mau pakai piyama dulu. Minggir dong tangannya." ucap Yuna sembari memegang lengan Ardhi di atas perutnya namun terasa berat.
"Kenapa bisa kedinginan? Kan ada aku." ucap Ardhi dengan santainya.
Yuna terkejut dan menatapnya dengan tatapan yang tajam.
"Yang bener aja dong kalo ngomong." ucap Yuna.
"Apanya yang salah?" tanya Ardhi dengan berpikir keras.
"Kita tidur pisah aja deh. Aku nggak mau ya kalau nanti sampai ada sesuatu yang terjadi." ucap Yuna dengan bergaya seolah ketakutan.
"Nggak usah mikir aneh-aneh. Kalau aku nggak mau ya tetep aja nggak pernah kejadian." ucap Ardhi dengan santai.
"Kamu jadi cowok tuh normal gak sih? Kok bisa ya..." ucap Yuna dengan heran sembari menatap langit-langit kamar.
Ucapan Yuna sukses membuat lelaki itu naik darah. Gemas sekali rasa hati ingin memangsanya saat itu juga.
"Kenapa gitu?" tanya Yuna dikala ia melirik Ardhi yang tengah menatapnya tajam.
"Kamu gak ngerti aja gimana susahnya aku berusaha sekuat mungkin menahan diri. Cowok mana sih yang nolak secara cuma-cuma kalo di kasih cewek yang seagresif gini?" ucap Ardhi dengan mencubit pipi Yuna sebelah kanan saking gemasnya.
"Aduh sakit tauk. Seenaknya aja cubit-cubit." ucap Yuna dengan mengusap pipinya.
"Makanya jangan seenaknya aja dong kalo ngomong. Aku cowok normal tauk." ucap Ardhi dan berhenti sesaat. Lalu ia mendekati telinga Yuna dan melanjutkan ucapannya. "Kalau aja aku nggak mikirin gimana masa depan kita nanti , gak tau lagi deh. Mungkin kamu udah nangis minta ampun ke aku." ucap Ardhi dengan berbicara dengan bisikan.
Ucapan Ardhi sukses membuat Yuna merinding. Ucapan itu benar-benar menggelitik telinganya.
"Sekarang kamu keluar." ucap Yuna mengusir Ardhi.
"Kenapa lagi?" tanya Ardhi.
"Resikonya terlalu besar." ucap Yuna dengan tersenyum.
"Percaya sama aku. Gak akan terjadi sesuatu. Tenang aja. Kalau kamu kedinginan , ayo kita tidur. Aku akan peluk kamu dan aku janji nggak lakuin apa-apa." ucap Ardhi dengan tenang.
"Gimana ya..." ucap Yuna.
Ardhi pun bangun untuk menarik selimut di bawah. Ia memasang selimut tebal itu untuk tubuhnya dan juga tubuh Yuna.
Disaat ia hampir merebahkan diri , ia memandang Yuna yang sedang menatapnya. Ardhi pun tiba-tiba langsung mengecup bibir gadis itu hingga membuat gadis itu terkejut.
Tak terlalu lama , Yuna sempat mendorong tubuh Ardhi sebelum akhirnya ia melepaskan ciumannya itu.
"Ciuman doang gapapa dong." ucap Ardhi dengan tersenyum.
"Gak tau deh. Terserah." ucap Yuna.
"Sekarang tidur ya. Sini aku peluk biar gak kedinginan. Tenang aja kamu tidur yang nyenyak ya , aku akan jagain kamu kok." ucap Ardhi dengan tenang sembari memeluk Yuna dan membenarkan selimut.
Yuna menahan detak jantungnya. Ia pun menyembunyikan wajahnya di depan dada Ardhi. Setelah itu , ia berusaha untuk memejamkan kedua matanya.
❤️
❤️
❤️
❤️
❤️
❤️l.a.f🌻❤️
__ADS_1