Love Always Forever (Tanpamu , Bagaimana Aku?)

Love Always Forever (Tanpamu , Bagaimana Aku?)
###-56


__ADS_3

Malam memang begitu dingin. Tidur yang harusnya terasa nyaman , entahlah ia kini merasa gelisah.


Di sampingnya , lelaki yang tengah tidur sembari memeluknya itu tampaknya juga terbangun karena merasa tak nyaman.


"Sayang kamu kenapa? Enggak bisa tidur lagi? Atau lapar mungkin." ucap Rifki dengan perhatian penuh meskipun rasa kantuknya membuat kepalanya pusing.


"Enggak laper , gak tau gak bisa tidur aja." ucap Laura dengan suara paraunya.


"Badan kamu ada yang sakit mungkin?" tanya Rifki.


"Enggak sih , gak tau ah!" ucap Laura yang kemudian memeluk tubuh lelaki di sampingnya itu dengan erat.


"Ya udah , kita tidur lagi ya." ucap Rifki sembari mengelus-elus punggung Laura dengan lembut dan sesekali memijatnya.


"Jam berapa?" tanya Laura meski tak menampakkan wajahnya.


"Jam sebelas nih. Gimana?" ucap Rifki setelah melirik jam dindingnya.


"Hemmm , kamu besok ke kampus enggak?" tanya Laura yang kali ini mendongakkan kepalanya untuk dapat menatap wajah tampan Rifki.


"Iya sayang , tapi siang." ucap Rifki dengan tenang sembari menatap wajah Laura yang polos namun entahlah matanya berbinar tampak begitu segar.


Laura pun kembali menyembunyikan wajahnya di dada bidang lelaki itu.


"Sayang..." ucap Rifki.


"Hemm..." jawaban Laura namun tak munculkan wajahnya.


"Sayang lihat aku sebentar aja." pinta Rifki.


"Apa sih?" ucap Laura yang kemudian memunculkan wajahnya kembali.


Baru juga Laura hendak menatap Rifki , lelaki itu langsung saja mencium bibir manis yang selalu manja itu. Ia tak memberikan jarak sama sekali. Ia hanya rindu. Sudah lama sekali ia tidak melakukan hal seromantis ini.


Rasa kantuk yang semula membuatnya terasa pusing pun kini seakan hilang dalam sekejap. Meskipun Laura sudah tinggal bersamanya sejak beberapa hari yang lalu , namun ia masih berusaha menahan diri.


Rifki mengerti bahwa Laura sedang mengandung anaknya. Sebenarnya ia takut melakukan hal itu , namun ia sudah tidak bisa menahannya terlalu lama lagi. Apalagi tiap kali ia tidur dengannya , Laura selalu saja memeluknya erat yang membuatnya sering merasa tersiksa sendiri.


Mungkin malam ini akan menjadi malam panjang yang ke dua kalinya. Rifki merasa apa yang ia inginkan kini bukan hanya sekedar harapannya saja melihat reaksi Laura yang tidak menolak sentuhannya. Mungkinkah Laura juga merindukan moment indah itu?


Laura mulai mengerang tak tahan dengan ciuman yang diberikan oleh lelaki itu , ia mendorong tubuh Rifki karena memang hampir kehabisan nafas.


Rifki bangun dari tidurnya. Ia berada pada posisi yang sempurna. Rifki yang mulai merasakan udara semakin menggerahkan badan , ia pun melepaskan kaosnya dan melemparnya entah kemana.


Jujur saja , Laura sebenarnya masih asing dengan pemandangan itu. Ia masih belum terbiasa melihat seorang lelaki dengan telanjang dada. Maka ia pun kini tampak menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang mulai berkeringat dingin.


Rifki tersenyum tanpa menghiraukan Laura yang masih menutup matanya. Lelaki itu dengan sengaja mulai melepaskan satu persatu kancing baju piyama yang di kenakan oleh Laura.


"Eh mau ngapain?" ucap Laura dengan suaranya yang khas orang panik sembari menahan kancing baju yang berada tepat di dadanya.


"Ayolah sayang , aku kangen banget. Please , ya." ucap Rifki dengan tersenyum tenang.


Sebenarnya inilah yang membuat Laura takut jika tinggal bersama. Meskipun sebentar lagi ia tetap akan tinggal bersama juga.


"Aku takut. Nanti kalau anak kita kenapa-napa gimana?" ucap Laura meski ada rasa tak enak di hatinya.


Rifki tersenyum , lalu ia menyingkap baju Laura di bagian perut. Ia pun menundukkan kepalanya dan mengecup perut rata itu.


"Anak papa sayang. Maafin papa ya , papa lagi kangen banget sama mama nih. Papa di bolehin ya nak , cuma sebentar kok enggak akan lama. Papa juga pasti akan hati-hati. Papa nggak akan ganggu kamu kok. Anak papa kan kuat , jadi papa harap kamu akan baik-baik aja sampai papa selesai nanti ya." ucap Rifki dengan tenang lemah lembut sembari mengusap perut Laura dan mengecupnya kembali.


Entahlah , hal yang Rifki lakukan itu justru membuat Laura tak habis pikir. Bisa-bisanya lelaki itu seakan malah curhat kepada janin di dalam kandungannya yang saat ini masih berupa kantong dan belum bisa mendengar atau bereaksi apapun.


"Aku tahu kok sayang kamu lagi hamil. Aku nggak mungkin main kasar. Enggak lama juga kok." ucap Rifki dengan tersenyum sembari mengecup dahi Laura sesaat.


Rifki sudah mengerti tentang bagaimana baiknya berhubungan disaat pasangan sedang dalam masa-masa hamil muda. Ia sempat membaca artikel-artikel penting itu dari berbagai sumber. Rifki bukanlah lelaki yang bodoh , ia termasuk lelaki yang begitu cerdas sehingga ia pun memahami itu dengan benar.


"Sayang..." ucap Rifki lagi.


"Iya-iya. Terserah kamu aja. Kalau aku kenapa-napa kan kamu yang tanggung jawab." ucap Laura yang kemudian tersenyum.


"Iya sayang , tapi aku yakin kok kamu akan baik-baik aja." ucap Rifki dengan tersenyum pula.


"Ya udah , tapi sekali aja ya. Inget , aku lagi hamil." ucap Laura sembari mencubit kedua pipi Rifki yang tampak begitu menggemaskan itu.


"Aduhh sakit sayang , kamu nakal ya." ucap Rifki yang kemudian melepaskan kancing baju Laura dengan sangat cepat.


Laura kembali di buat jantungan tatkala lelaki itu berhasil membuka baju yang ia kenakan. Perlahan ia di tarik untuk duduk , untuk mempermudah melepaskan baju itu.

__ADS_1


Rifki tersenyum menatap pemandangan indah di depan matanya itu. Rambut panjang Laura yang tergerai itu terlihat menutupi dada dengan tak beraturan namun itu membuatnya semakin terpesona. Terlebih lagi , bra hitam yang di pakainya itu memberikan kesan yang begitu seksi.


Rifki menyingkap rambut panjang Laura yang menutupi dada itu ke belakang punggung. Ia mengecup leher jenjang itu sesaat sembari mendorongnya perlahan sampai akhirnya Laura pun terjatuh sempurna tepat bawahnya.


Rifki menarik selimut tebal di belakangnya untuk menutupi seluruh tubuhnya dan tubuh Laura. Dengan perlahan ia berusaha melepaskan kain-kain yang masih menempel itu sampai tiada sisa.


Laura memejamkan matanya menahan gejolak yang membuat dadanya berdesir-desir. Terlebih lagi ketika ia kini bersama lelaki itu tiada jarak yang tersisa dan tanpa sehelai benangpun.


"I love you sayang." ucap Rifki dengan tersenyum dan bersiap untuk memulai melakukan sesuatu yang selama ini sangat ia inginkan.


Laura melingkarkan kedua lengannya pada leher lelaki itu dengan erat. Laura yang semula menatap langit-langit kamar , kini ia pun mulai memejamkan kedua matanya rapat-rapat.


Laura memang sudah menerima kenyataan yang akan ia hadapi , setelah ini ia yakin bahwa malam-malam selanjutnya akan semakin membuatnya terbiasa dan ia akan menikmatinya.


.


.


.


Udara terasa begitu dingin , karena memang masih gelap pula. Sepertinya masih dengan keadaan yang sama , hanya saja pagi ini adalah pagi terindah untuknya.


Lelaki itu tersenyum dalam tidurnya. Ia membuka matanya dan melihat gadis itu yang kini benar-benar kedinginan dan butuh kehangatan.


Kesempatan yang bagus , pikirnya.


Niat ingin merebahkan gadis yang tengah memeluknya itu , namun sayangnya pelukan itu cukup erat. Ia melihat jam dinding , rupanya masih pukul empat subuh.


"Sayang..." ucapnya sembari berbisik tepat di depan telinga.


Ia rasanya sudah tidak merasakan kantuk lagi. Meskipun jam tidurnya terbilang kurang dari biasanya , entahlah matanya kali ini sudah tampak segar saja.


Dengan lancangnya lelaki itu mencoba mengecup leher mulus yang terlihat putih bersih itu. Cukup lama dan ia berniat untuk sedikit menggigitnya agar gadis itu bereaksi. Dan benar saja , ia benar-benar menggigit leher itu sedikit.


"Ah apa sih!" ucap Fany masih dengan mata tertutup namun tangannya mengusap-usap lehernya yang tergigit.


Ardhi hanya tersenyum mendengar ucapan yang keluar dari bibir gadis itu. Gemas sekali rasanya.


Kini Fany justru melepaskan pelukannya dari tubuh Ardhi dan menggulingkan tubuhnya. Ia pun kini tidur sembari memeluk guling dengan membelakangi Ardhi.


"Sayang..." ucap Ardhi sembari memeluk tubuh Fany dari belakang.


"Ya sini dong sayang masa tidurnya kayak gini. Aku nggak mau dibelakangin." ucap Ardhi dengan suaranya yang manja.


Perlahan kesadaran Fany mulai terkumpul. Ia membuka matanya sesaat namun ia memejamkan matanya lagi. Ia sudah tidak yakin tidurnya akan nyenyak jika sudah seperti ini.


"Sayang , aku tau kamu udah bangun." ucap Ardhi dengan tenang.


Kesal sekali rasanya , ingin tidur namun mengapa begitu susahnya. Padahal masih cukup waktu untuk tidur nyenyak sampai pagi. Atau bahkan mimpi indah pun masih bisa sebenarnya.


"Ah aku tuh padahal capek banget , pengen banget dipijitin biar badan aku enakan dikit. Masa iya aku harus ke spa sih." ucap Ardhi dengan sengaja.


"Sayang , kamu nggak kasian ya sama aku? Aku calon suami kamu loh yang kerja keras demi kamu dan demi masa depan kita berdua. Masa kamu tega sih biarin aku kayak gini." ucap Ardhi dengan suaranya yang terkesan di buat-buat itu.


Ucapan Ardhi benar-benar membuat telinganya gatal. Rasanya ingin sekali ia memukulnya satu kali saja.


"Sa..." ucap Ardhi yang terhenti.


"Iya sayang , aku kasian banget sama kamu tapi sayangnya aku masih ngantuk masih pengen tidur sebentar lagi aja. Jadi please tolong kerja samanya dong. Kita tidur aja , ayok kita tidur lagi." ucap Fany dengan muka bantal dan mata yang masih terasa perih karena mengantuk.


Dengan secepat kilat, Fany pun langsung mengecup bibir lelaki yang sukses membuatnya kesal itu. Lalu ia segera mengamankan diri dengan memeluk tubuh lelaki itu. Ia juga menyembunyikan wajahnya di depan dada bidang yang jantungnya ternyata berdegup cukup keras.


Ardhi tak bisa berkata apa-apa lagi melihat bagaimana tingkah laku gadis itu. Ah andai saja waktu bisa ia percepat , ia sudah tidak sabar untuk menikah dengannya. Ia ingin sekali merasakan apa itu bahagia yang sebenarnya.


Kalau saja ia berada di sini bukan karena urusan pekerjaan , ini akan menjadi moment indah entah untuk yang keberapa kalinya. Dan itu membuatnya merasa semakin nyaman karena memang sudah sejauh ini ia bersama-sama.


'Tahan-tahan , please lu kuat nahan ini semua. Jangan bikin masalah , ini cewek bukan cewek sembarangan. Dia harus gue jaga. Sebentar lagi juga gue bakal miliki dia seutuhnya. Harusnya gue yakin , gue yakin harus bisa.' ucap Ardhi dalam hati sembari memejamkan kedua matanya.


Tangan Ardhi tak henti mengusap punggung Fany yang masih bersembunyi di depan dadanya.


Namun jujur saja ia tidak bisa tenang. Karena meskipun ia bersembunyi untuk mengamankan diri , rasanya justru tak menentu. Apalagi semakin lama ia semakin kesulitan bernapas.


Dengan tiba-tiba , Fany melepaskan pelukannya dan merebahkan tubuhnya sembari menatap langit-langit kamar. Ia tampak mengatur nafasnya agak kembali normal.


Namun lelaki itu justru membuat Fany kembali kesulitan bernapas , betapa tidak kini lelaki itu benar-benar menciumnya seolah tak memberi kesempatan untuk bergerak.


Fany yang kesal itu terus menerus mencoba mendorong tubuh Ardhi agar melepaskan dirinya yang semakin tak bisa bertahan sampai akhirnya lelaki itu menyudahinya.

__ADS_1


"Apa-apaan sih kamu! Aku gak bisa napas tauk!" ucap Fany dengan memukul dada lelaki itu dengan kesal.


Ardhi kini hanya tersenyum menatap wajah kesal gadis itu. Namun lelaki itu tidak menghiraukan bagaimana reaksi Fany saat ini. Ia ingin sekali melakukannya lagi. Meskipun dengan sedikit memaksa , tapi itu terasa lebih menyenangkan.


Bukannya takut jika gadis itu benar-benar marah , Ardhi kini menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Ia mencoba untuk menguasainya lagi dengan lebih berani dari sebelum-sebelumnya.


Wajah Fany tampak datar sembari memberikan sebuah tatapan mata yang teramat tajam.


"Aku masih belum puas." ucap Ardhi dengan santai sembari menyunggingkan sebuah senyuman yang teramat manis itu.


Posisi yang sempurna. Fany menghela nafasnya yang semakin terasa begitu berat. Ia tak tahan memandang lelaki dengan dada polosnya itu berada di atasnya. Meskipun tidak jatuh menimpa tubuhnya , rasanya tetap sama saja dan sukses membuat hatinya berdesir-desir.


"Jangan lupa , kamu udah janji." ucap Fany dengan setenang mungkin.


"Janji apa?" ucap Ardhi dengan mengerutkan keningnya.


Fany pun menepuk pipi kiri lelaki itu dengan gemas.


"Janji pergi ke Roma." ucap Fany.


"Ah soal itu ya? Iya sayang , akan aku buktikan semua janji aku ke kamu. Tunggu aja, gak lama lagi kok." ucap Ardhi sembari mengecup kening Fany sesaat.


"Ya udah dong aku gak mau kayak gini. Minggir sana!" ucap Fany dengan jengkel karena lelaki itu tidak bergeming sedikitpun.


"Enggak mau. Sekali lagi aja." ucap Ardhi sembari mencoba mengecup leher Fany.


"Kamu itu bener-bener bikin aku naik darah tau gak!" ucap Fany yang tampak begitu sabar menghadapi tingkah laku calon suaminya itu.


"Aku butuh ini dari kamu biar aku makin semangat." ucap Ardhi yang kemudian beralih untuk mencium bibir Fany.


Tangan kanan lelaki itu bergerak untuk menautkan jemarinya pada jemari gadis yang tengah ia cium. Ia ingin sekali mencoba untuk melakukan sesuatu yang lebih dari ini. Tapi entahlah ia selalu tak ada hati untuk sampai dititik itu.


Ia hanya merasakan rindu yang teramat dalam. Seandainya bisa ia ingin sekali memeluk gadis ini selamanya tanpa ia lepaskan. Ia ingin menebus semua kesalahannya tentang apa yang sudah ia lakukan bersama gadis lain di hari kemarin.


Sebuah kebohongan itu menjadikan pikirannya tidak tenang. Ia selalu merasa bersalah setiap kali menatap wajah cantik calon istrinya itu.


Lelaki itu menyudahi ciumannya dan menatap wajah Fany dengan tatapan mata teduhnya. Tatapannya penuh dengan tatapan yang mengisyaratkan bahwa perasaannya dipenuhi rasa penyesalan.


Fany pun menatap balik dan ia heran kenapa lelaki itu menatapnya dengan tatapan seperti itu. Tidak seperti biasanya , biasanya lelaki itu menatapnya dengan tatapan mata penuh nafsu dan kemauan. Namun kali ini , entahlah.


"Kamu kenapa?" tanya Fany dengan tenang.


Ardhi masih terdiam dan mengecup bibir Fany sekilas. Lalu lelaki itu tersenyum sembari mengusap-usap bibir ranum Fany dengan ibu jarinya.


"Aku kangen banget sama kamu. Sayang , aku nggak mau lagi pergi tanpa kamu. Kemanapun aku pergi , kamu harus ikut." ucap Ardhi dengan tenang.


Ardhi merubah posisinya , ia merebahkan tubuhnya di samping tubuh Fany. Ia memiringkan tubuhnya menghadap Fany sembari menopang kepala untuk menatapnya.


"Kenapa emang ? Harus ya?" ucap Fany dengan memandang wajah Ardhi yang masih setia menatapnya.


"Aku rasanya kayak gak mau aja ninggalin kamu. Aku harus bawa kamu." ucap Ardhi dengan membelai lembut kening Fany.


"Aku nggak habis pikir kenapa kamu sampe segitunya. Tapi , em... Kamu baik-baik aja kan?" ucap Fany dengan menatapnya.


"Aku kayak jatuh cinta lagi sama kamu deh." ucap Ardhi dengan tersenyum.


"Apa-apaan sih kamu!" ucap Fany sembari mengernyitkan keningnya.


"Aku sayang banget sama kamu." ucap Ardhi yang kemudian menyembunyikan wajahnya di leher Fany.


"Aduh jangan gitu dong , geli tauk." ucap Fany dengan menatap langit-langit kamar sembari merasakan bahwa lelaki itu tengah mengecup lehernya yang jenjang.


Ardhi tidak menghiraukan bagaimana reaksi Fany. Ia hanya semakin erat memeluk tubuh gadis itu dan tetap menyembunyikan wajahnya.


Lelaki satu ini memang memiliki dua karakter yang jauh berbeda. Di saat sendiri atau di kantor , ia termasuk lelaki yang banyak diam dan selalu menampakkan sifat dinginnya. Namun , jika sudah berhadapan dengan pawangnya seperti ini, maka dunia sudah berputar.


Lelaki itu menjadi semanja dan sebucin itu. Seolah es yang sudah mencair, maka ia akan kemana-mana.


❤️


❤️


❤️


❤️


❤️

__ADS_1


❤️🌻l.a.f❤️


__ADS_2