
Hari-hari berlalu terasa sangat cepat. Kini sudah tiga bulan berlalu semenjak kejadian di pantai itu. Hanya selang waktu beberapa hari Reza telah mendengar bahwa Fany sudah memiliki kekasih. Dan kabar itu membuat hatinya seperti tersayat.
Reza yang selalu dikejar oleh cewek-cewek di sekolahnya itu kali ini menjadi berubah. Sifatnya dingin dan tak seakrab dahulu dengan Fany. Bahkan kini Reza sering menggoda banyak cewek hingga terbawa perasaan lalu ia tinggalkan seketika.
Namun sikap Reza karena patah itu hanya berlangsung beberapa minggu saja. Seiring berjalannya waktu , ia bisa menerima bahwa ia dan Fany memang bukanlah jodoh. Dan ia menyadari suatu saat pasti akan dipertemukan dengan jodohnya sendiri.
Reza sedikit demi sedikit mulai akrab kembali dengan Fany seperti dahulu. Ia ingin hubungan pertemanannya membaik kembali. Meski tak dapat dimilikinya , setidaknya ia masih bisa berteman baik untuk kedepannya. Begitulah pikirnya yang membuat hari-harinya terasa berwarna lagi dan mencoba mencari pengganti sosok Fany pada orang lain.
Untuk kehidupan Fany dan Ardhi kini jauh lebih sempurna. Kehadiran masing-masing telah membawa kebahagiaan tersendiri. Ardhi yang semakin dekat dengan keluarga Fany dan Fany yang terus berprestasi di sekolah meskipun ia sekolah sambil pacaran.
Fany memang selalu memperhatikan prestasi belajarnya. Ia tak mau kalah dari kakaknya. Dan hubungannya yang baik-baik saja serta penuh kebahagiaan membuatnya semakin semangat untuk belajar agar terus mendapatkan nilai terbaik.
Dan kini seperti biasa Ardhi selalu mengantar dan menjemput Fany ke sekolah. Hubungan mereka telah diketahui oleh masing-masing keluarga. Dan orang tua mereka sama-sama mendukung hal itu. Itulah yang membuat merasa beruntung dan selalu bersyukur.
"Sayang , satu minggu lagi mama papa mau pulang ke Indo." ucap Ardhi sambil mengemudi mobil santai. Ya siang hari ini seperti biasa Ardhi selalu menjemput Fany pulang dari sekolah.
"Oh ya? Ini pertama kalinya aku ketemu sama orang tua kamu setelah sekian lama." ucap Fany dengan memandang Ardhi yang sedang fokus menyetir.
"Iya , tapi nggak apa-apa kok. Kamu nggak usah gimana-gimana. Kan dari dulu kamu udah di anggep anak juga sama mama." ucap Ardhi dengan tersenyum.
"Iya sih. Mereka pulang ke Indo dan tinggal disini kan? Apa mau kembali kesana lagi?" ucap Fany penasaran.
"Kayaknya sih bakal tinggal di sini , mau lebih deket sama anak perempuannya gitu katanya." ucap Ardhi dengan senyum-senyum sendiri.
"Siapa emang? Saudara kamu ya?" tanya Fany menatap Ardhi dengan heran.
"Bukan lah. Aku kan gada saudara cewek." ucap Ardhi sambil sesekali melirik Fany.
"Terus?" tanya Fany lagi.
"Iya kamu itu Sayang! Siapa lagi coba?" ucap Ardhi sembari mengacak rambut puncak kepala Fany dengan gemas dan kemudian tertawa.
"Kakak kamu nggak ikut ya?" tanya Fany.
"Ikut juga kayaknya. Kenapa nanyain kakak aku?" ucap Ardhi sembari meliriknya.
"Enggak apa-apa , kangen aja sih hehehe..." ucap Fany dan dengan tiba-tiba Ardhi menginjak remnya mendadak. "Kamu apa-apaan sih rem mendadak gitu? Kalo aku kebentur gimana coba!" ucap Fany dengan kesal.
"Aku nanya deh sama kamu , kamu pilih aku apa kakakku sih?" ucapan Ardhi sukses membuat Fany tertawa.
"Pertanyaan macam apa itu? Hahaha..." ucap Fany masih dengan tertawa lepas.
"Ya aku nanya. Kamu kan tinggal jawab doang apa susahnya sih!" ucap Ardhi dengan menggenggam jemari Fany.
"Enggak ah aku gak mau jawab. Pertanyaan kamu gak masuk akal." ucap Fany dengan santai tanpa peduli kekasihnya menatapnya serius. Entahlah , sekarang ia suka sekali menjahili kekasihnya itu.
"Sayang..." ucap Ardhi dengan penuh penekanan pada ucapannya.
"Iya sayang kenapa? Ayo pulang , keburu sore ini." ucap Fany dengan tersenyum manis.
Ardhi pun melirik jam tangannya , pukul 14.00 wib. Dan jam tiga nanti ia harus memimpin meeting di kantor. Mengingat jarak sekolah dengan rumah Fany memakan waktu setengah jam sedangkan jarak rumah Fany ke kantornya memakan waktu sekitar empat puluh lima menit. Dan dapat ia pastikan ia akan telat jika mengantarkan Fany ke rumah.
"Sayang , ikut aku kekantor sebentar ya. Aku ada meeting nanti." ucap Ardhi dengan kembali mengemudikan mobilnya menuju kantornya langsung , karena dengan begitu ia tak mungkin telat meeting.
"Tapi aku masih pake seragam sekolah ini. Aku malu lah." ucap Fany mencoba menolak.
"Nggak apa-apa. Ngapain harus malu sih?" Tanya Ardhi dengan tenang.
__ADS_1
"Ya kan aku anak SMA masih anak kecil , kan di kiranya jalan sama om-om dong." ucap Fany dengan polosnya dan membuat Ardhi gemas sekali.
"Ya ampun gitu aja dipikirin! Jangan sembarangan kalo mikir itu ya , kamu pikir aku udah kayak om-om apa? Kita cuma beda dua tahun Sayang. Emangnya aku kelihatan tua banget apa!" ucap Ardhi dengan sesekali menatap Fany yang tengah tersenyum menghadapnya.
"Oh iya ya , aku lupa berapa umur kamu sekarang. Makanya kamu jangan terlalu banyak pikiran buat nggak cepet kelihatan tua hehe..." ucap Fany terkekeh geli melihat wajah kekasihnya menahan kesal karena ucapannya.
"Astaga Sayang , awas aja kamu nanti ya!" Ucap Ardhi sambil terus menatap jalanan yang ramai kendaraan memadati jalanan.
"Kamu meeting-nya lama nggak sih?" ucap Fany bertanya dengan menyandarkan kepalanya bahu Ardhi. Dan Ardhi tersenyum melihat tingkah pacarnya yang terkadang suka manja kepadanya.
"Nggak lama kok meeting-nya , aku cuma takut telat aja tadi kalau nganter kamu pulang dulu." ucap Ardhi dengan tersenyum.
"Kalau gitu kan tadi aku bisa pulang sendiri aja kan nggak perlu kamu jemput , ini kamu lagi sibuk kayak gini." ucap Fany.
"Nggak Sayang , aku nggak apa-apa. Udahlah nggak usah mikirin aku. Aku bisa ngatur semua kok. Nanti aku bilang sama Mama Vina kalau kamu lgi sama aku." ucap Ardhi dengan tenang.
"Iya deh terserah kamu aja mau gimana." ucap Fany masih dengan menyandarkan kepalanya.
"Nanti aku pesenin makan trus kamu makan duluan ya. Nanti kamu malah pingsan karena kelaparan hehehe..." ucap Ardhi dengan terkekeh dan membuat Fany mendongakkan kepalanya menatap wajah tampan kekasihnya yang terkadang suka sekali menjahilinya pula dengan ucapannya.
"Sembarangan aja kamu , tadi pas istirahat aku makan di kantin kok sama Airin sama Zahra juga." ucap Fany.
"Ya kan kamu harus makan lagi dong. Aku makannya nanti kalau udah selesai meeting aja. Terus kalau kamu capek kamu bisa tidur dulu ruang pribadi aku di kantor." ucap Ardhi dengan santai.
"Kok ada ruang pribadi segala sih ? Buat apa tuh? Jangan-jangan..." ucapan Fany terputus.
"Nggak usah mikir aneh-aneh ya , aku ini nggak pernah berbuat macem-macem. Aku tau alur pikiran kamu kemana tentang ruang pribadi aku di kantor. Ruang pribadi aku di kantor itu buat aku menginap kalau lembur sampe malem trus males pulang karena capek. Nah aku tidur disitu. Tidur sendirian loh ya gak sama siapapun." ucap Ardhi panjang lebar dan membuat Fany kembali tertawa.
"Aku udah tau kalik. Aku nggak mikir-mikir macem-macem tentang kamu kok. Aku tau kamu orangnya kayak gimana. Jadi tenang aja." ucap Fany dengan tersenyum menahan tawanya.
Fany menikmati perjalanan sembari masih menyandarkan kepalanya di bahu Ardhi yang tengah menyetir. Setelah beberapa saat kemudian , mobil mereka memasuki area kantor miliknya. Ini adalah pertama kalinya ia dibawa ke kantor.
Mereka berdua turun dari mobil dan masuk kedalam kantor. Begitu masuk dan sampai di bagian resepsionis , stafnya diam-diam melirik ke arah Fany yang sedang berjalan dengan tangan kanannya di genggam oleh Ardhi.
Fany hanya bisa tersenyum dan menahan rasa malunya sambil terus mengikuti kemana Ardhi akan membawanya. Ardhi membawa Fany memasuki lift khusus untuk menuju ke ruangannya. Dan setelah beberapa menit ia pun sampai di ruang kerjanya.
"Jadi ini ruang kerja kamu?" ucap Fany sambil menelusuri meja kerjanya Ardhi.
"Iya Sayang , disinilah aku menghabiskan waktuku. Itu disana ruang pribadi yang aku bilang tadi. Kamu bisa masuk. Password-nya nama lengkap kamu ya." ucap Ardhi dengan tersenyum sambil merebahkan tubuhnya di atas sofa. Ardhi kemudian mengirim pesan singkat kepada Mama Vina terlebih dahulu dan membuka sebuah aplikasi di ponselnya untuk memesan makanan.
"Nama lengkap aku? Panjang banget dong? Aneh ya kamu itu kayak gada yang lain aja deh." ucap Fany dengan menghampiri Ardhi dan duduk disampingnya. Ia memandang wajah Ardhi yang kini tengah memejamkan matanya sejenak.
"Kamu kenapa bisa ganteng banget kayak gini sihh? Tante Anisa dulu pas hamil kamu ngidamnya apa ya?" ucap Fany yang membuat Ardhi membuka matanya dan tertawa sambil memandang Fany.
"Kenapa emang? Kamu besok kalau punya anak pasti juga bakal ganteng sama cantik. Sama kayak Mama Papanya dong hehehe..." ucap Ardhi dengan mencubit kedua pipi Fany hingga meninggalkan bekas kemerahan.
"Bro sepuluh menit lagi meeting dimulai ya... Ehh , sorry sorry gak sengaja gue! Sumpah tadi gue gak lihat , beneran deh." ucap Bima , asisten Ardhi yang tengah kaget melihat bosnya bersama seorang perempuan yang masih mengenakan seragam sekolah.
"Iya tunggu aja nanti gue kesana." ucap Ardhi dengan tenang.
"Tapi bro perlu gue ingetin ya. Pintunya harap dikunci dong biar nggak ada yang ganggu kalau lagi berduaan gitu. Kan gak enak gue-nya." ucap Bima dengan tersenyum. Ia akhirnya bisa melihat bosnya memiliki kekasih setelah sekian lama ia tak pernah melihat bosnya itu menggandeng perempuan.
"Emang kenapa sih? Kan gue nggak lagi nggak ngapa-ngapain." ucap Ardhi yang tak mengerti maksud asistennya itu karena ia memang sedang tak berbuat apa-apa kepada kekasihnya.
"Nggak ngapa-ngapain gimana? Itu pipi pacar lu merah gitu abis lu apain hah?" ucap Bima dengan terkekeh sambil menunjuk arah Fany berada. Dan seketika Ardhi langsung berdiri dari duduknya.
"Oh astaga! Lu gila ya ngomong kayak gitu? Tadi gue nggak ngapa-ngapain , beneran deh! Tadi cuma gue cubit doang gak gue apa-apain. Lo gak usah ngomong macem-macem yah!" ucap Ardhi dengan kesal karena ucapan Bima tadi. Dan Fany kini benar malu membuat pipinya semakin memerah.
__ADS_1
"Ah yang bener aja? Sulit dipercaya sih." ucap Bima dengan santai dan masih berdiri di depan pintu.
"Apaan sih lo? Ngomong sekali lagi gaji lo gue potong lima puluh persen bulan ini." ucap Ardhi dengan tegas dan puas.
"Wahh sembarangan lo ya! Gitu aja marah , nggak deh nggak gue keluar aja daripada ganggu. Inget ada meeting! Gue duluan!" ucap Bima yang kemudian menutup pintu.
"Punya asisten gak jelas banget sih , untung aja dia pinter!" ucap Ardhi dan duduk kembali.
"Ya udah lah , kamu siap-siap sana kan bentar lagi meeting dimulai." ucap Fany dengan mencoba tenang.
"Iya deh. Oh iya bentar lagi makanannya dateng , aku udah pesen. Kamu harus makan duluan ya." ucap Ardhi kemudian berdiri menuju mejanya untuk mengambil beberapa berkas penting.
"Iya deh iyaa , nanti aku makan." ucap Fany menurut saja apa yang diperintahkan.
Kemudian Ardhi berjalan mendekat ke arah sofa dan membungkukkan badannya lalu mencium kening Fany dengan lembut. Dan itu membuat Fany terdiam.
"Biar nambah semangat hehe... Ya udah aku pergi sebentar ya Sayang." ucap Ardhi dengan tersenyum.
"Iya deh." ucap Fany dan Ardhi pun keluar dari ruangannya.
Benar saja , selang waktu beberapa menit makanan pun datang yang diantar oleh seorang office boy. Fany pun menerimanya dan kembali masuk meletakkan makanan dimeja. Ia membuka makanan itu dan memakan satu porsi sedangkan yang satu porsi lagi untuk Ardhi nanti.
Beberapa saat setelah makan , Fany merasa matanya sangat berat dan mulutnya menguap. Ia merasa bosan dan lagi ia tak mampu melawan rasa kantuknya.
Fany menekan password dengan nama lengkapnya. Dan ternyata memang benar , Ardhi menggunakan namanya sebagai password. Ia benar-benar tak habis pikir dengan tingkah Ardhi itu. Seperti tak ada kata atau angka lain yang lebih singkat saja untuk dijadikan password-nya.
"Astaga kalo ini mah udah kayak apartemen beneran." ucap Fany begitu masuk kedalam.
Dilihatnya seluruh isi ruangan itu. Ada bingkai foto ukuran sedang dan terisi foto dirinya ketika sedang dipantai kala itu. Ada juga disamping itu terpajang sebuah foto yang berisi keluarganya lengkap.
Seusai melihat foto-foto yang terpajang disana , Fany berjalan menuju ranjang king size itu. Ia melepas sepatunya dan berbaring di sisi ranjang. Ia merebahkan tubuhnya yang terasa lelah sembari menunggu Ardhi selesai meeting.
Dua jam telah berlalu dan Ardhi kembali menuju ke ruangannya. Ia khawatir dengan Fany , ia takut Fany akan marah-marah karena menunggu terlalu lama. Begitu sampai didalam , ia tak menemukan Fany. Kemudian ia membuka pintu ruang pribadinya.
Fany tertidur tanpa selimut dengan tangan berada diatas perut. Ia masuk ke dalam ruangan dan duduk di tepi ranjang memandangi wajah polos Fany yang tanpa ekspresi saat tertidur itu. Bahkan saat tidur pun ia tetap terlihat sangat cantik.
Ardhi melihat ke arah kaki dan melihat rok sekolah Fany yang hanya sampai di lututnya dan memperlihatkan kulit kakinya yang putih bersih. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Kemudian ia segera mengambil selimut dan menyelimuti tubuh Fany sampai di dada. Lalu dikecupnya kening Fany sesaat.
Bagaimanapun juga , ia tetap seorang lelaki yang normal. Ia takut terjadi sesuatu dan ia memilih keluar dari ruangan itu. Ia tak pernah sekalipun menyentuh perempuan dan ia tak ingin melakukan sesuatu yang tak seharusnya dilakukan sebelum waktunya.
Ardhi selalu teringat kata-kata Mamanya. Mamanya pernah berpesan untuk tidak bermain atau memainkan seorang perempuan. Karena kelak ia pasti akan menjadi seorang ayah. Dan tidak ada satupun seorang ayah yang bisa melihat putrinya terluka.
Setelah keluar dari ruangan itu , Ardhi pun kemudian mengisi perutnya yang lapar dengan makanan di meja.
Ardhi melanjutkan pekerjaannya sambil menunggu Fany terbangun dari tidurnya. Ia tak tega jika harus membangunkan Fany , maka ia lebih memilih untuk menunggunya sampai ia terbangun dengan sendirinya.
*
*
*
*
*❤️❣️
__ADS_1