Love Always Forever (Tanpamu , Bagaimana Aku?)

Love Always Forever (Tanpamu , Bagaimana Aku?)
Break #1


__ADS_3

...----------------...


..."Dear you"...


Hai...


Aku tahu kamu pasti bosan.


Aku lagi aku lagi.


Maaf ya aku selalu mengganggumu.


Satu hal yang perlu kamu tahu.


Dengan surat ini , aku ingin mengatakan sesuatu.


Beri aku waktu sebentar saja , aku hanya ingin merasakan satu hari bahagia bersama denganmu.


Satu hari saja , tidak lebih.


Aku akan sangat bersyukur dan aku akan berjanji.


Setelah hari bahagia itu aku rasakan , aku akan pergi dari kehidupanmu.


Aku akan kembali pulang dengan kenangan indah yang sudah kau berikan padaku.


Aku akan pergi tanpa pernah mengusikmu lagi.


Berbahagialah setelah ini.


Aku akan senang hati dan ikhlas dengan apa yang sudah terjadi.


Tolong , aku meminta dengan baik-baik.


Mungkin orang akan menganggap diriku gila atau semacamnya.


Tapi ,


Hanya satu hal itu yang aku inginkan darimu.


Luangkan waktumu satu hari saja denganku.


Aku akan sangat berterima kasih padamu.


Juga untuk kekasihmu , sampaikanlah maafku karena satu permintaanku ini.


Sampai jumpa besok pagi.


Aku akan menunggumu , aku harap kau akan segera hubungi aku kembali.


..."See you..."...


...----------------...


Selembar kertas diary itu ia letakkan di atas meja. Dalam hatinya , ia benar-benar merasa kalut.


"Harus gimana lagi gue? Astaga aneh banget lagi yang dia minta!" ucap Ardhi dengan menyandarkan tubuhnya pada kursi.


Tok...Tok...Tok...


"Masuk!" ucap Ardhi.


Terlihat , Bima masuk mendekat ke meja Ardhi dengan membawa beberapa map ditangannya.


"Meeting jam 10 ya. Dan ini dokumen yang harus lu tanda tanganin." ucap Bima sembari duduk di kursi seberang.


"Lu gantiin gue ya. Gue ada urusan penting." ucap Ardhi dengan sedikit kaku.


"Ah lu kira meeting gak penting juga apa? Lagian lu mau pergi kemana lagi sih?" ucap Bima mengeluh.


"Ada yang lebih penting tauk! Ini menyangkut soal masa depan gue." ucap Ardhi dengan mengusap wajahnya dengan kasar dan membuat rambutnya berantakan.


"Eh ini apaan?" ucap Bima sembari mengambil selembar surat yang tergeletak di meja.


Bima terheran-heran membaca isi surat itu.


"Gue harus gimana coba?" ucap Ardhi dengan masam sembari meliriknya sesaat.


"Ya udah lu jalan deh seharian sama dia! Kalo emang cuma itu yang bikin dia pergi , ajak lah dia biar dia puas." ucap Bima.


"Gimana sama Fany? Dia pasti cemburu lah!" ucap Ardhi.


"Lu bilang dulu aja deh sama cewek lu , gue yakin kok dia bakal ngerti dan izinin lu pergi." ucap Bima.


"Gak yakin sih gue." ucap Ardhi.


"Ya yang penting lu jangan sampai kelewatan kalo ajak dia main." ucap Bima dengan santai.


"Kelewatan apanya? Belum tentu gue bisa punya waktu buat ajak dia jalan." ucap Ardhi.


"Bisa. Emang mau sampai kapan lu betah di ganggu dia?" ucap Bima.


"Gue pusing gila! Udah ah gue hari ini gak bisa di kantor. Lu urus aja. Besok gue kasih bonus." ucap Ardhi yang kemudian berdiri memakai jasnya.


Bima hanya memandang bosnya dengan sabar dan penuh ketabahan. Ardhi meraih ponsel , kunci mobil , surat , dan tak lupa laptopnya.

__ADS_1


"Lu gak balik kantor ntar?" ucap Bima.


"Enggak kayaknya. Gue harus cepet selesaiin masalah ini sebelum cewek gue lulus dan wisuda." ucap Ardhi dengan tenang.


"Emang kenapa?" ucap Bima.


"Dia kasih waktu ke gue buat bikin mantan gue itu pergi sampai dia wisuda. Gak lama tauk , kira-kira sebulan lah dia lulus." ucap Ardhi bercerita.


"Ah lumayan kok waktunya." ucap Bima.


"Ya tapi dalam waktu itu , gue harus pastikan kalau Yuna harus udah pergi dari sini. Kalau gak , dia mau lanjutin kuliah di luar negeri. Ya gue gak mau lah di tinggal dia pergi." ucap Ardhi.


"Ya iyalah lu mana bisa jauh-jauh dari dia! Gak mungkin lu betah." ucap Bima dengan terkekeh.


"Ya gitu , ya makanya gue usahain. Jangan sampai gue gagal nikahin dia." ucap Ardhi dengan yakin.


"Ah elah udah mikir nikah ya lu? Udah dewasa nih yee..." ucap Bima dengan tersenyum.


"Ck! Lu juga kali! Umur juga udah lumayan , gak terlalu muda gak terlalu tua juga kan." ucap Ardhi dengan tenang.


"Gue? Ah gue gampang lah. Lu aja dulu." ucap Bima.


"Iya gue tau tanpa lu suruh pun gue udah pikirin soal itu. Udah deh gue pergi dulu." ucap Ardhi.


"Oke , moga aja sukses usaha lu." ucap Bima.


...----------------...


"Ngapain sih dia kesini? Kan kasian dia nunggu lama." ucap Fany dengan heran.


Mata kuliahnya akan berakhir kurang lebih setengah jam kemudian. Tapi bagi seseorang yang sedang menunggu , waktu tiga puluh menit adalah waktu yang cukup lama.


Entah kenapa , Fany kini merasa bosan juga. Ia ingin cepat keluar dari kelas. Hanya beberapa hari tidak bertemu dengan pujaan hati , rasanya benar-benar tidak sabar untuk segera bertemu.


Akhirnya waktu yang di tunggu pun datang juga. Fany segera berkemas dan keluar dari ruangan. Ia melangkahkan kakinya dengan perasaan yang tenang.


Sampai di depan kampus , ia melihat lelaki di dalam mobil itu keluar dengan tersenyum menatapnya dari jauh. Lelaki dengan wajah tampan yang membuat banyak kaum hawa terpesona. Kemeja hitam yang ia kenakan pun membuat kulit putihnya seolah bersinar.


Ia beruntung. Ya , beruntung karena lelaki itu memilihnya. Hatinya menghangat. Senyumnya pun juga tersungging.


"Hai sayang..." ucap Ardhi menyapa.


"Hemmm , tumben banget jemput aku sampai rela nungguin segala. Kamu kan biasanya sibuk." ucap Fany dengan tenang.


"Ah iya aku emang selalu sibuk sayang. Tapi aku udah kangen banget sama kamu." ucap Ardhi dengan tersenyum. "Kamu masih ada kelas nggak nanti?" ucap Ardhi lagi dengan mengelus kening Fany.


Adegan itu lantas membuat Fany mahasiswi yang tak sengaja melihat tersenyum sendiri karena iri.


"Enggak ada kok. Hari ini aku udah free." ucap Fany.


"Mau jalan?" ucap Ardhi bertanya.


"Kemana aja. Ayo kita berangkat." ucap Ardhi yang kemudian membuka pintu mobil untuk Fany.


"Makasih ya." ucap Fany yang kemudian duduk manis di dalam mobil.


Ardhi pun masuk ke dalam mobil dan bersiap memasang seat belt di kursinya. Namun ia urungkan dulu niatnya dan meraih sabuk pengaman di kursi Fany untuk memasangnya.


"Aku bisa sendiri." ucap Fany yang berniat menggunakan sabuk pengamannya sendiri.


"Udah ini dikit lagi selesai." ucap Ardhi di depan wajahnya tepat yang membuat Fany menahan nafas.


Ardhi memundurkan tubuhnya dan kembali duduk sempurna di kursinya sembari memasang sabuk pengamannya. Tak lama , ia segera melajukan mobilnya meninggalkan kampus.


"Sayang..." ucap Ardhi diantara sunyi.


Fany menoleh ke arah lelaki itu dengan mengerutkan keningnya seolah mengatakan ada apa.


"Sini dong... Aku kan tadi udah bilang kalau aku kangen." ucap Ardhi dengan tersenyum tenang sembari tangan kirinya menarik pergelangan tangan Fany untuk mendekat padanya.


Fany menutup laptopnya dan memasukkannya ke dalam tas. Ia memindahkan tasnya ke kursi belakang. Lalu ia melingkarkan tangannya di lengan kiri Ardhi dan mulai menyandarkan kepalanya di bahu kokoh itu.


"Ada apa sayang? Kamu kenapa kayak gak mood gitu sih?" ucap Ardhi bertanya dengan tenang.


"Aku nggak apa-apa kok." ucap Fany dengan tatapan lurus kedepan.


"Bohong pasti. Cerita aja." ucap Ardhi.


"Emm... Aku cuma pesimis aja sama skripsi aku. Aku berharap banget nilai aku bagus. Biar lebih tenang aja kalau mau lanjut lagi." ucap Fany dengan tenang.


"Pasti bagus lah. Skripsi kamu aku jamin pasti lolos. Eh! Tapi kamu bilang apa?" ucap Ardhi yang semula tenang menjadi panik dan menatap Fany beberapa detik.


"Apa?" ucap Fany dengan polos.


"Apa? Kamu udah janji loh sama aku." ucap Ardhi dengan pasang muka serius.


"Apaan sih , semua orang yang kerjain skripsi juga harapannya gitu kali!" ucap Fany dengan tenang.


"Ya ya iya aku tau. Tapi..." ucap Ardhi terputus.


"Emang kamu nggak mau kalau punya istri pinter?" ucap Fany dengan mendongakkan kepalanya sesaat.


"Bukan nggak mau. Tapi nggak masalah. Yang penting buat aku adalah , pinter ngurus suami sama ngurus anak. Dah itu aja cukup buat aku." ucap Ardhi dengan penuh keyakinan.


"Ya kan latihan dulu pasti pinter kok ngurus anak. Apalagi ngurus kamu. Gampang." ucap Fany dengan PDnya.

__ADS_1


Ucapan Fany seketika membuat perasaan Ardhi bergejolak. Gadis itu benar-benar sangat menggemaskan.


"Yakin? Segampang itu?" ucap Ardhi dengan tenang.


"Iya lah , kamu tenang aja nggak perlu khawatir." ucap Fany.


"Ada aja deh kamu sayang." ucap Ardhi sembari mengecup kening Fany dengan tenang.


"Kamu tumben banget sih jemput aku gini. Ada apa?" ucap Fany dengan santai.


"Em , ada sesuatu yang perlu kamu tau. Tapi nanti ya sayang." ucap Ardhi dengan tersenyum.


"Apaan? Sekarang aja." ucap Fany.


"Enggak. Nanti aja kalo kita udah sampai." ucap Ardhi dengan tenang.


"Emang kita mau kemana sekarang?" ucap Fany.


"Kamu maunya kemana?" ucap Ardhi.


"Aku gak tau. Aku bingung. Kamu aja yang mikir ah." ucap Fany.


"Kita ke... Em... Enaknya kemana ya?" ucap Ardhi seolah berfikir.


"Emang kamu nanti udah nggak ke kantor lagi ya?" ucap Fany.


"Enggak tau. Tapi kayaknya udah enggak deh." ucap Ardhi.


"Kenapa enggak ke kantor lagi? Masih jam segini loh." ucap Fany.


"Kamu tuh kenapa sih kok malah nyuruh aku balik ke kantor? Kamu nggak kangen ya sama aku?" ucap Ardhi sembari meliriknya.


"Emm nggak gitu maksudnya. Ah ya udah deh iya iya aku ngikutin aja mau kamu gimana." ucap Fany pasrah.


"Nah gitu dong. Jangan bikin mood aku hilang." ucap Ardhi.


"Enggak , astaga cuma gitu aja jadi marah." ucap Fany yang kemudian membenarkan posisi duduknya dengan sempurna.


"Ngapain jauh-jauh gitu? Sini dong jangan bikin aku marah beneran ya." ucap Ardhi sembari menarik kembali lengan Fany agar bersandar pada bahunya lagi.


"Ya Tuhan..." ucap Fany dengan suara yang hampir tidak terdengar.


"Sayang , kamu marah nggak kalau kita break sebentar?" ucap Ardhi dengan tenang sembari fokus mengemudi.


Ucapan Ardhi sontak membuat Fany meluruskan posisi duduknya lagi sembari menatap wajah Ardhi yang terlihat tenang itu.


"Break? Apa maksudnya?" ucap Fany.


"Jadi gini..." ucap Ardhi yang hendak berbicara namun terputus.


"Jangan bilang kamu minta break soal hubungan kita? Kenapa? Kamu nggak mikir kalau kita itu udah tunangan? Kok tega gitu sih kamu sama aku!" ucap Fany yang berbicara tanpa jeda yang membuat Ardhi bingung dan ketakutan.


"Bukan gitu sayang. Aku cuma... Ah udah deh nanti aja. Masih di jalan nih, bahaya ntar kalau jadi ribut." ucap Ardhi sembari melihat kanan kiri yang tengah ramai kendaraan lain.


Ardhi takut jika konsentrasi mengemudinya kacau karena persoalan ini.


"Apa sih? Ngomong aja sekarang." ucap Fany tak sabar dan terlihat menahan perasaannya yang mulai gelisah.


"Jangan mikir yang aneh-aneh dulu sayang , aku belum ngomong apa yang aku maksud. Aku fokus nyetir dulu ya." ucap Ardhi dengan tenang sembari menarik lengan Fany agar kembali mendekat.


Fany terdiam dan menyandarkan tubuhnya seperti apa yang di inginkan oleh tunangannya itu.


Break? Banyak yang gagal dengan hal itu. Sebuah hubungan yang terjalin manis pun kadang banyak yang berakhir perih. Sebenarnya pun tak perlu istilah break pada sebuah hubungan.


Berpisah untuk memperbaiki diri sendiri menjadi lebih baik , itulah satu alasan utama untuk break dengan hubungan yang sudah ada.


Entahlah , kecil kemungkinan untuk bisa kembali menyatukan hati. Hanya orang yang hatinya hebat dan benar-benar tulus untuk bisa membangun sebuah hubungan menjadi jauh lebih baik lagi.


Tapi , apa yang dimaksud lelaki di sampingnya itu? Break tentang apa? Mengapa dan bagaimana bisa? Hubungan keduanya memang sedang tidak baik-baik saja , tapi tak pernah terpikirkan sebelumnya akan hal itu.


'Kenapa harus break segala sih? Apa karena sikap gue yang terlalu susah di ngertiin? Tapi kan gue nggak seburuk itu. Ah kenapa sih semenjak mantan dia ada disini , hubungan gue jadi sering kacau. Jangan-jangan... Aduh! Otak gue kenapa over thinking mulu sih! Gue sayang banget sama dia , gue gak mau dia pergi...' ucap Fany dalam hati.


Hatinya benar-benar kacau , berperang melawan pikiran buruk membuatnya tak menyadari kini matanya tengah berkaca-kaca. Lalu ia mengedip-ngedipkan kedua matanya agar matanya kembali segar dan air matanya menghilang.


Tak menyadari seberapa lama menempuh perjalanan , akhirnya kini mobil telah berhenti di depan villa milik Ardhi.


Fany pun bersiap mengambil tasnya. Lalu terdiam sesaat.


"Kenapa kita harus dateng kesini?" tanya Fany.


"Iya karena aku nggak bisa ngomong tentang hubungan kita di tempat yang umum. Aku terbiasa sama privasi. Jadi aku gak mau kalau ada yang dengerin apa yang kita omongin. Cukup kita berdua aja , biar bisa lebih terbuka juga kan. Dan yang terpenting adalah biar kita sama-sama nyaman." ucap Ardhi dengan tersenyum.


Sedetik kemudian , Ardhi yang melihat Fany sedikit bengong akhirnya mencoba menyadarkannya dengan melepas sabuk pengaman di tubuhnya. Hal itu membuat Fany menatapnya dengan tatapan kosong tanpa berucap.


"Yuk kita masuk kedalam. Sebentar ya biar aku bukain pintunya." ucap Ardhi yang kemudian keluar lebih dulu dari dalam mobil.


Lelaki itu pun menggandeng jemari Fany dan membawanya masuk ke dalam villa megah itu. Ia berharap , kali ini ia dapat membicarakan baik-baik tentang segala sesuatu yang tengah terjadi di antara hubungan mereka.


❤️


❤️


❤️


❤️

__ADS_1


❤️


❤️l.a.f🌻❤️


__ADS_2