Love Always Forever (Tanpamu , Bagaimana Aku?)

Love Always Forever (Tanpamu , Bagaimana Aku?)
So... Kiss Me... >18+<


__ADS_3

Fany serasa di manja oleh kekasihnya ketika mereka sedang berada di mall. Bagaimana tidak, ia di ajak Ardhi belanja berbagai macam kebutuhan wanita seperti sepatu, tas, baju, alat make-up serta produk kecantikan.


Siang telah berlalu dan berganti sore, Fany kini berada di dalam mobil Ardhi yang sedang melaju di jalan raya.


"Kita mau kemana lagi?" ucap Ardhi dengan melirik Fany di sampingnya.


"Pulang lah, aku capek banget." ucap Fany dengan menyandarkan tubuhnya ke belakang sembari memejamkan mata.


"Yakin pulang? Masih ada yang perlu di beli lagi nggak? Mumpung masih dijalan nih." ucap Ardhi.


"Nggak ada. Itu yang kamu beliin aja sebenernya gak terlalu penting buat aku." ucap Fany dengan mata tertutup.


Ardhi mengusap dahinya dengan kasar. Sungguh, kelakuan Fany selalu saja membuatnya terpancing. Andai saja ia tidak sedang berada didalam mobil, sudah pasti ia akan menerkamnya. Tapi sangat beruntung Fany saat ini, mobil tak bisa berhenti ditepi karena jalanan memang sedang ramai lancar.


Sedetik kemudian, ponsel Fany yang berada di dalam tas bernyanyi yang menandakan adanya panggilan masuk. Ardhi melirik Fany yang ternyata masih memejamkan matanya. Ia pun menggoyahkan bahu Fany dengan perlahan dan Fany pun membuka matanya.


"Apa?" ucap Fany dengan kaget.


"Ada telpon hp kamu tuh." ucap Ardhi memberitahu.


Fany pun membuka tasnya dan mengambil ponselnya. Di layar ponsel itu menampilkan nama Mama Vina sedang memanggilnya. Fany pun menjawab dengan mengaktifkan lauspeakernya.


"Iya ma ada apa?" ucap Fany.


"Kamu udah pulang belum?" tanya Mama Vina.


"Lagi di jalan ma." ucap Fany.


"Oh gitu, kamu sama siapa sekarang? Lagi sama Ardhi nggak?" ucap Mama Vina.


"Iya ma, sama dia. Ada apa?"ucap Fany.


"Mama sama papa lagi di bandara nih, mau ke luar kota. Cuma dua hari kok. Ardhi mana? Mama mau ngomong sama dia." ucap Mama Vina.


"Astaga ma, ngapain sih keluar kota mulu?" ucap Fany mengeluh namun membuat Ardhi tersenyum.


"Udah mana Ardhi mama mau ngomong dulu sebentar." ucap Mama Vina.


"Iya iya nih." ucap Fany sembari mengarahkan ponselnya ke dekat Ardhi.


"Iya Tante, gimana?" ucap Ardhi dengan santai.


"Kamu sibuk nggak nak? Tante mau minta tolong sama kamu." ucap Mama Vina.


"Nggak sibuk kok Tan, minta tolong apa Tante?" ucap Ardhi.


"Jadi karena kami mau keluar kota dua hari, kalau kamu nggak sibuk tolong kamu temenin Fany ya. Tante nggak tega kalau Fany sendirian. Gimana bisa kan?" ucap Mama Vina dengan berharap yang membuat Fany membelalakkan matanya tak percaya.


"Dengan senang hati Tante. Bisa kok. Tante tenang aja aku akan jaga anak Tante sebaik mungkin." ucap Ardhi dengan tersenyum.


"Mama, aku nggak perlu ditemenin. Aku nanti ke apartemen kakak aja." ucap Fany protes.


"Ngapain ke apartemen kakakmu? Kamu nggak tau ya kakakmu itu tadi pagi malah berangkat ke Singapore. Kakakmu pulangnya besok pas tunangan kamu." ucap Mama Vina yang membuat Fany menghela nafas panjang.


"Ada Bi Ina kan dirumah? Ya udah lah ma gak perlu ditemenin lagi." ucap Fany.


"Mama tau kamu penakut sejak kecil. Mama cariin kamu temen itu karena bi Ina sekarang kerjanya cuma dari pagi sampai sore aja sayang. Dan mama minta tolong Ardhi karena dia itu calon suamimu. Kalau bukan dia, siapa lagi yang mau nemenin kamu? Yang terpenting kalian bisa diri masing-masing mama kira tetap akan baik-baik aja kok." ucap Mama Vina panjang lebar yang membuat Ardhi tersenyum lalu melirik Fany. Fany pun menatapnya tajam.


"Iya deh ma iya aku ngerti." ucap Fany dengan tabah.


"Ya udah kalau gitu kalian hati-hati ya pulangnya. Mama bentar lagi mau berangkat nih." ucap Mama Vina dengan tenang.


"Iya ma. Mama papa juga hati-hati ya disana." ucap Fany dengan tersenyum.


"Iya sayang, udah dulu ya. Bye sayang..." ucap Mama Vina yang kemudian memutuskan sambungan telepon.


Fany menyimpan ponselnya kembali ke dalam tas. Ia pun memejamkan matanya lagi sejenak.


"Sayang..." ucap Ardhi memanggilnya sayang yang menggelitik telinganya.


"Apaan?" ucap Fany dengan ketus sedikit meliriknya.


"Kamu ngantuk beneran?" ucap Ardhi dengan heran.


"Enggak ngantuk, capek doang." ucap Fany tanpa memandang ke arah Ardhi.


"Kita ke apartemen sebentar ya." ucap Ardhi dengan fokus mengemudi.


"Terserah kamu aja deh mau kemana..." ucap Fany tanpa peduli ia memejamkan matanya lagi.


"Aku cuma mau ambil baju ganti sekalian mumpung masih diluar, daripada nanti bolak-balik. Ntar kamu tungguin di mobil aja kalo nggak mau ikut ke atas." ucap Ardhi dengan tenang yang membuat Fany membuka matanya kembali.


"Tumben? Biasanya maksa aku suruh ikut." ucap Fany dengan menatapnya.


"Kapan aku maksa kamu?" ucap Ardhi dengan menatap Fany sesaat.


"Biasanya gitu." ucap Fany.


"Aku belum berani maksa kamu. Tapi besok kalo udah tunangan aku berani." ucap Ardhi dengan tersenyum.


"Inget yah kita baru tunangan, belum nikah. Jadi belum boleh macem-macem." ucap Fany dengan tersenyum pula.

__ADS_1


"Emang aku mau ngapain sih sayang? Aku nggak minta apa-apa kok." ucap Ardhi dengan tenang.


"Tauk deh pikir aja sendiri." ucap Fany dengan membuang muka kearah luar.


"Aku gak akan maksa kamu lagi. Kamu tenang aja." ucap Ardhi dengan tenang.


Fany diam tak menjawab satu kata pun. Ia bingung harus bagaimana. Perasaannya sedang kalut. Kekasihnya baru saja memberikan banyak sekali barang yang ia suka. Dan gaun itu, gaun mahal yang sempurna juga dibelikan olehnya. Lalu apa ungkapan terimakasih untuknya?


Mobil melaju dengan kecepatan sedang dan tak terasa ia sudah sampai basemen apartemen. Ardhi memberhentikan mobilnya dan melepas seat belt-nya.


"Kamu tunggu disini?" ucap Ardhi bertanya.


Fany bingung dan akhirnya menganggukkan kepalanya.


"Ya udah, aku ke atas dulu ya sebentar." ucap Ardhi dengan tersenyum yang kemudian keluar dari mobil.


Ardhi melangkahkan kakinya menuju lift dan masuk. Pintu lift tertutup dan ia menunggu sampai dilantai atas.


Sedangkan Fany, ia sibuk dengan pemikirannya sendiri. Ada rasa tak nyaman dihatinya. Entahlah, ia seperti terlalu tak perduli dengan kekasihnya.


Fany kini melepaskan seat belt-nya, ia meraih tasnya dan membuka pintu mobil. Ia keluar dari mobil dan pergi menuju pintu lift.


Pintu lift terbuka dan Ardhi pun berjalan menuju pintu kamar apartemennya. Ia pun masuk kedalam dan menutup pintunya kembali.


Selang waktu beberapa menit, Fany sudah tiba di lantai atas. Ia pun menuju pintu kamar apartemen Ardhi dan menekan password yang dulu pernah di beritahukan oleh Ardhi kepadanya. Password itu berhasil dan akhirnya pintu terbuka.


Fany masuk kedalam dan menutup pintunya lagi, namun ruang utama terlihat kosong. Fany pun meletakkan tasnya di meja dan menuju kamar Ardhi yang pintunya tampak tertutup. Ia merasa sedikit ragu, namun ia tak menghiraukannya.


Fany melangkahkan kakinya perlahan dan memutar gagang pintu itu. Dengan perlahan ia membuka pintu dan melangkah masuk. Terlihat jelas Ardhi sangat terkejut oleh kedatangan Fany. Ardhi pun menghampiri Fany yang masih berdiri di pintu.


"Sayang kamu kok kesini? Ada apa dibawah?" ucap Ardhi dengan menyentuh kedua bahu Fany.


"Nggak ada apa-apa sayang. Emang kenapa kalau aku kesini? Nggak boleh ya?" ucap Fany dengan tersenyum tenang.


"Boleh lah. Aku nggak pernah melarang kamu kok." ucap Ardhi dengan tersenyum.


"Emm kamu udah siapin baju?" ucap Fany dengan melirik samping ranjang Ardhi yang terdapat sebuah koper terbuka.


"Belum selesai lah baru berapa menit sih." ucap Ardhi yang kemudian memutar badannya menuju almari besar dan melanjutkan menata baju.


Fany pun menutup pintu dan ikut masuk ke kamar yang kemudian duduk ditepi ranjang.


"Emm... Apa besok kalau kita udah nikah kita tinggal disini juga?" ucap Fany dengan memperhatikan Ardhi.


"Sebelum punya anak, kayaknya kita tinggal disini aja dulu. Kalau mau pindah ke rumah yang lebih besar, kurang enak kalau sepi. Kamu mau kan disini dulu?" ucap Ardhi dengan tenang.


"Maulah. Dimana aja aku mau asal kamu yang bawa." ucap Fany dengan tersenyum.


Fany berdiri dan berjalan ke arah jendela disamping kamar yang tertutup tirai. Ia menyingkap tirai itu sebagian dan membuka jendela sedikit. Ia merasakan angin yang kencang masuk menerpa wajahnya. Ia pun menyibakkan rambutnya kebelakang dan mengumpulkan jadi satu. Ia menguncir rambut panjangnya dengan ikat rambut yang selalu ia bawa di pergelangan tangannya.


Ardhi memperhatikan Fany yang tampak tersenyum menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya. Ia menghempaskan baju yang akan ia lipat di atas koper yang terbuka. Perlahan ia melangkahkan kakinya mendekati Fany.


"Udah selesai?" tanya Fany yang tampak kaget melihat Ardhi berdiri disampingnya.


Ardhi menghela nafas, lalu tersenyum.


"Belum selesai. Gerah disana, mau ikut cari angin disini." ucap Ardhi dengan menatap Fany.


"Disini enak ya, bisa lihat kota. Kalau lebih malem lagi kayaknya jauh lebih indah deh." ucap Fany dengan tersenyum.


"Kan kamu udah pernah tidur sini dulu." ucap Ardhi.


"Dulu aku belum lihat sayang. Udah malem banget dulu itu jadi lampu kota kemungkinan udah banyak yang padam." ucap Fany dengan menatap jauh. "Mau bawa pakaian berapa sih kamu itu? Ayo aku bantuin." ucap Fany lagi yang kemudian berjalan menuju almari.


"Sayang..." ucap Ardhi dengan suara manjanya yang terdengar sangat geli.


Fany memberhentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Ardhi menghampirinya dengan tersenyum. Fany pun mengerutkan keningnya.


"Apa?" ucap Fany dengan menatapnya.


"Besok kamu kuliah nggak?" ucap Ardhi dengan melangkah bersama-sama ke arah koper.


"Enggak. Besoknya aku masuk. Kenapa?" ucap Fany.


"Emmm... Terus kamu mau ngapain dong?" ucap Ardhi dengan duduk di tepi ranjang memperhatikan Fany yang tengah melihat-lihat berbagai jas dan kemeja milik Ardhi.


"Nggak ngapa-ngapain sayang. Dirumah aja kayaknya." ucap Fany tanpa menoleh kebelakang.


Fany kaget bukan main ketika tiba-tiba tangannya ditarik dari belakang. Refleks, ia langsung dibawa duduk kepangkuan Ardhi. Ardhi pun melingkarkan tangannya di pinggang Fany. Fany menatap Ardhi dengan menahan degup jantungnya yang menggila.


Lagi-lagi ulah Ardhi membuat Fany gerah karena rambut panjangnya yang terkuncir dilepaskan begitu saja.


"Gerah tauk..." ucap Fany sembari berusaha meraih kuncir rambut di tangan Ardhi.


"Kamu juga selalu bikin aku gerah." ucap Ardhi dengan tersenyum yang membuat Fany sedikit merasa panik.


"Ehmmm... Aku buka jendelanya ya..." ucap Fany yang kemudian hendak berdiri. Namun sayang, usahanya gagal. Ardhi masih melingkarkan tangannya di pinggang Fany dengan erat.


"Nggak usah, nggak perlu." ucap Ardhi dengan tenang.


"Atau AC-nya nggak nyala ya?" ucap Fany yang bingung harus berkata apa lagi.

__ADS_1


"Udah nyala sayang." ucap Ardhi yang kemudian menyandarkan dagunya di bahu Fany.


"Sayang... Kamu mau apa sih?" ucap Fany dengan menekan suaranya yang bergetar.


"Aku mau kamu..." ucap Ardhi dengan suaranya yang merdu tepat berada di depan telinga Fany yang membuat wajahnya seolah terbakar.


'Apa yang harus gua lakuin sekarang? Dia mau gua? Apa yang dia mau? Apa dia mau lakuin itu ke gua sekarang? Tapi kenapa harus sekarang? Astaga gua harus gimana?' ucap Fany dalam hati sembari memejamkan matanya.


"Sayang..." ucap Fany memanggil Ardhi karena ia tak tahan lagi dengan ulah Ardhi yang hendak mencium lehernya.


Ardhi pun menghentikan aksinya lalu mendongakkan kepalanya menatap Fany yang juga tengah menatapnya.


"Apa sayang?" ucap Ardhi dengan berusaha setenang mungkin.


"Jaga aku. Seperti janji kamu." ucap Fany dengan tersenyum tenang yang kemudian kedua telapak tangannya memegang pipi kanan dan kiri Ardhi.


Tanpa ragu, Fany mendekatkan wajahnya sendiri dan mencium bibir kekasihnya. Bibir merah muda yang sering sekali membuatnya kehabisan nafas.


Fany melepaskan tangannya yang menopang wajah Ardhi, lalu ia melingkarkan tangannya di leher Ardhi. Begitu terasa tangan Ardhi yang kini membelai punggungnya dengan lembut.


Ardhi melepaskan ciuman itu yang kemudian mengangkat tubuh Fany ke tengah ranjang king size-nya. Fany membuka matanya penuh ketika ia sudah direbahkan oleh Ardhi. Ia menatap kedua mata Ardhi yang kini berada tepat di atasnya.


Dengan menegakkan tubuhnya, Ardhi melepaskan kancing kemeja putihnya dan membuang tanpa arah. Fany yang menatapnya pun langsung terasa kesulitan untuk menelan ludahnya sendiri.


Lagi-lagi, Ardhi kini benar-benar menjatuhkan dadanya yang polos itu pada Fany yang berada di bawahnya. Ia kembali mencium bibir Fany dengan lembut dan membiarkan tangan Fany tanpa menguncinya.


Fany merasa semakin takut tatkala tangan jahil Ardhi kini mulai nakal karena berani-beraninya menurunkan dress-nya dibagian bahu. Dan yang membuatnya semakin panas adalah ketika tangan kekasihnya itu menurunkan tali br*nya satu sisi.


Ardhi melepaskan ciumannya dan menatap Fany dengan tenang. Ia pun menurunkan pandangannya melihat ke bawah tepat yang kini memperlihatkan dadanya bagian atas yang mulus putih bersih.


Fany pun langsung memegang dadanya yang menonjol itu dengan dua telapak tangannya. Dan Ardhi tersenyum melihat pemandangan didepan matanya ini.


"Tapi... Aku mau..." ucap Ardhi dengan manjanya.


"Nggak, nggak boleh. Nggak sekarang." ucap Fany dengan lirih.


"Cuma ini aja sayang, aku nggak minta lebih dari ini kok." ucap Ardhi dengan raut wajah memohon.


"Bohong!" ucap Fany dengan menatapnya.


"Enggak sayang, aku nggak bohong." ucap Ardhi yang kemudian langsung mengecup bibir Fany sesaat.


Fany tersadar bahwa ia merasa ada sesuatu dibawah sana yang mengganjal. Ia pun berpikir, lebih baik ia berikan yang atas karena jangan sampai Ardhi meminta kehormatan yang ia jaga bertahun-tahun. Kehormatan yang hanya akan ia berikan setelah hari pernikahan.


Fany menyentuh dada polosnya Ardhi dan mendorong keatas karena ia semakin kehabisan nafas oleh tubuh Ardhi yang menimpanya.


"Ini doang ya. Aku nggak mau kamu minta yang lain." ucap Fany dengan menatapnya.


Ardhi tersenyum dan memejamkan matanya sesaat menahan gejolak yang ia tahan sedari tadi. Ia membuka matanya dan menggerakkan tangannya menurunkan sedikit lagi baju bawah pandangannya, namun ia tak membuka sepenuhnya.


"Udah..." ucap Fany dengan mendorong kedua bahu Ardhi agar menyudahinya. Ia merasa sakit ketika lelaki itu mengecup dadanya dan menciptakan sebuah bekas kemerahan yang tampak jelas di kulit putihnya.


"Bagus kan?" ucap Ardhi dengan tersenyum sembari mengusap-usap bekas kemerahan itu dengan ibu jarinya. Namun tiba-tiba saja Fany langsung memukulnya.


"Kamu bikin apaan? Ntar ada yang lihat gimana? Hapus nggak!" ucap Fany dengan menatap Ardhi yang masih tersenyum. "Ayolah kamu hapus!" ucap Fany lagi.


"Enggak bisa sayang... Nanti ilang sendiri kok." ucap Ardhi tanpa merasa bersalah sedikitpun.


Ardhi memeluk tubuh Fany dan menggulingkan bersama tubuhnya. Ia merebahkan tubuhnya sedangkan Fany berada di atasnya yang membuat Fany benar-benar merasakan dengan jelas sesuatu di bawah sana yang sangat mengganggunya.


Muncullah pikiran gila di otak cantiknya. Ia menempelkan telinganya ke dada Ardhi. Ia merasa detak jantungnya juga tak beraturan. Ia pun mengangkat kepalanya dan tersenyum menatap Ardhi yang juga menatapnya.


Fany mencoba mengecup bibir kekasihnya dengan tenang. Ardhi tak berulah apapun, ia justru menikmati setiap hal yang dilakukan gadis cantik yang sangat di cintainya itu. Namun, ia tersadar tatkala kekasihnya mencium lehernya dan juga memberikan tanda merah yang terlihat jelas.


"Sayang... Kamu nakal yah..." ucap Ardhi dengan mengusap-usap lehernya dan Fany hanya tersenyum.


"Gantian dong." ucap Fany.


"Kamu bikin aku gak pergi ke kantor ya besok?" ucap Ardhi dengan menatapnya.


"Apaan sih. Nanti juga ilang sendiri kok." ucap Fany dengan santainya membalas perlakuan Ardhi itu.


"Kamu lihat besok kalau kita udah serumah, aku pastikan kamu habis tiap malem." ucap Ardhi dengan tersenyum tenang.


Ucapan yang menjurus itu membuat telinga Fany berdenging. Fany pun langsung memukul lengan Ardhi dengan kesal. Otak lelaki itu benar-benar mesum.


"Nginep sini aja ya..." ucap Ardhi.


"Nggak! Aku mau pulang." ucap Fany yang hendak menjauhkan diri namun ditahan oleh Ardhi. "Apa lagi?" ucap Fany yang kemudian tubuhnya di rebahkan lagi dan Ardhi pun menguasainya kembali. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada, Ardhi menciumnya kembali dengan penuh gairah.


Fany kembali merasakan jantungnya yang hendak berloncatan dari tempatnya disaat tangan jahat Ardhi menyusuri leher jenjangnya. Jangan sampai lelaki itu meninggalkan tanda disana seperti yang ia lakukan tadi.


Sungguh Fany kini merasa ketakutan. Ia takut Ardhi akan melakukan hal di luar batas padanya.


Lalu apa yang akan di lakukan kekasihnya?


❤️


❤️


❤️

__ADS_1


❤️


❤️l.a.f🌻❤️


__ADS_2