Love Always Forever (Tanpamu , Bagaimana Aku?)

Love Always Forever (Tanpamu , Bagaimana Aku?)
Satu Kesalahan


__ADS_3

"Kamu cantik..." ucap Rifki dengan menyelipkan anak rambut ke belakang telinga kekasihnya.


"Mana handphone kamu?" ucap Laura tanpa memperdulikan perhatian dari Rifki.


Rifki pun tersenyum. Ia menutup tirai pada jendelanya lalu menarik lembut tangan Laura. Laura diam dan mengikuti. Jujur saja , ia merasa sedikit takut sedari tadi. Ia takut terjadi sesuatu yang buruk akan menimpanya.


"Ngapain kesini? Di luar aja." ucap Laura dengan setenang mungkin sembari menghentikan langkahnya disaat Rifki membuka pintu dan masuk selangkah.


"Sebentar aja sayang , hp aku ada disini." ucap Rifki dengan tersenyum tenang.


Laura terdiam. Pikirannya mulai memikirkan hal-hal lain diluar kesadarannya.


"Sayang... Ayo..." ucap Rifki menatap wajah Laura dengan tatapan mata teduhnya.


Laura pun perlahan melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar Rifki. Ia berusaha tidak berpikiran buruk.


"Kamu kenapa gak serumah sama papa kamu sih?" tanya Laura .


"Enakan disini kan bisa mandiri." ucap Rifki dengan tersenyum.


"Hidup serumah sama orang tua juga bukan berarti ngga bisa mandiri tauk. Tergantung kamunya aja bisa mandiri atau enggak." ucap Laura sembari menatap dirinya sendiri pada cermin.


"Setidaknya hidup sendiri itu lebih bebas ngga ada yang ngatur-ngatur. Soalnya aku itu anak yang ngga suka diatur." ucap Rifki dengan mengacak rambut panjangnya Laura hingga sang empunya kesal.


"Ah udah lah. Mana hp kamu? Aku kesini cuma karena mau lihat hp kamu doang yah!" ucap Laura dengan menatap tajam wajah Rifki.


"Tauk , cari aja sendiri." ucap Rifki dengan tenang dan santai lalu duduk di sofa.


"Kok gitu sih! Dimana cepetan bilang." ucap Laura sembari mencari ke meja belajar Rifki.


Rifki tak sadar dengan pandangan matanya. Ia benar-benar tak mengerti kenapa ia bisa seberani ini. Ia memang sering mengajak teman-teman cowok ke apartemen , namun baru satu kali ini ia membawa seorang cewek. Benar-benar di luar akal sehatnya.


Memang bukan hanya Rifki yang seperti ini. Ia sering melihat penghuni apartemen yang lain ketika sedang masuk atau keluar pasti selalu bersama orang yang berbeda. Tapi , apakah saat ini ia akan baik-baik saja tanpa ada sesuatu?


"Akhirnya..." ucap Laura dengan tersenyum puas ketika ia telah berhasil menemukan ponsel milik kekasihnya itu yang ternyata berada di balik selimut.


Rifki pun tersadar dari lamunannya. Ia menatap ke arah Laura yang tengah duduk di ranjangnya. Ia tersenyum memandangi wajah cantik kekasihnya yang entahlah sedang menemukan apa di dalam ponselnya.


"Kamu pinter ya sekarang , isi email udah bersih gak ada jejaknya sedikitpun." ucap Laura dengan santai namun bearti.


"Apa sih sayang... Kamu cari apa?" ucap Rifki dengan suara lembut yang sukses membuat Laura menatapnya sesaat. Kemudian Rifki menghampiri Laura. "Cari email aku buat Tifany?" lanjut Rifki yang kini duduk di sampingnya.


Laura mengalihkan pandangannya dan menghela nafas dengan kasar.


"Udah nggak ada sayang. Udah aku hapus semua tentang dia. Karena sekarang , aku cuma mau fokus sama kamu." ucap Rifki dengan membelai rambut panjangnya Laura.


"Laptop kamu mana?" ucap Laura dengan ketus, ia benar-benar nervous saat ini. Ia bingung bagaimana mengatur perasaannya. Ia takut terbawa suasana maka dari itu ia mencoba bersikap sedikit acuh.


"Itu di meja sayang..." ucap Rifki dengan tersenyum tenang.


Laura pun beranjak berdiri dari duduknya dan menuju meja belajar. Ia pun menjelajahi setiap file-file yang tersimpan di sana.


"Ih nyebelin banget sih! Dasar cowok pinter juga ya soal ginian..." ucap Laura dengan kesal lagi.


"Udah deh kamu percaya sama aku dong. Aku udah gak macem-macem lagi sayang..." ucap Rifki yang kini berdiri di belakang Laura lalu membungkukkan badannya. Dan yang membuat Laura kaget adalah ketika dagu Rifki bertumpu pada bahunya. Sungguh hal yang membuat bulu kuduknya berdiri dan merinding.


Laura terdiam lalu berdiri. Ia membalikkan badannya dan menatap Rifki.


"Dah , ayo aku mau pulang. Aku capek." ucap Laura dengan setenang mungkin dan tanpa ekspresi.


Rifki pun bingung. Ia menghela nafas dan membuangnya kasar. Namun ia harus tetap lemah lembut.


"Masih marah? Kamu kira aku masih bohong? Nggak ada sesuatu yang masih aku sembunyiin sayang..." ucap Rifki dengan menatap Laura.


"Enggak. Aku percaya kok. Udahlah aku mau pulang aja aku capek." ucap Laura dengan tersenyum datar lalu ia memutar badannya dan melangkah hendak keluar dari kamar itu.


"Sayang..." ucap Rifki memanggil Laura sembari meraih pergelangan tangannya. Laura yang baru melangkah satu langkah itu pun terhenti seketika.


"Apa sih? Ayolah aku mau pulang." ucap Laura dengan berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Rifki.


"Ada yang mau aku kasih ke kamu." ucap Rifki dengan tenang.


Laura hanya mengerutkan keningnya.


"Sini duduk dulu." ucap Rifki membawa Laura duduk kembali disisi ranjang.


"Kamu tutup mata dulu sayang. Cuma sebentar kok." ucap Rifki.


"Jangan aneh-aneh deh." ucap Laura.


"Enggak sayang..." ucap Rifki dengan yakin karena ia tahu gadisnya itu sedang ketakutan.


"Awas aja kalo sampe macem-macem! Aku bunuh kamu!" ucap Laura dengan ketus yang kemudian ia menutup matanya. Rifki tersenyum dengan kelakuan kekasihnya itu.

__ADS_1


Rifki pun membuka laci di meja tempat lampu tidurnya. Ia mengambil sesuatu dari sana.


"Buka matanya sayang..." ucap Rifki dengan tersenyum.


Laura membuka matanya perlahan dan ia melihat kota perhiasan kecil yang terbuka. Ia memandang cincin indah itu dengan bingung.


"Sebenarnya udah lama aku pengen kasih ke kamu. Tapi akhir-akhir ini kita selalu banyak tugas jadi aku lupa." ucap Rifki seolah tahu apa yang dipikirkan kekasihnya.


"Buat aku?" ucap Laura bertanya kembali.


"Iya sayang buat kamu , aku pake'in ya." ucap Rifki.


Laura terdiam melihat Rifki yang tengah meraih jemarinya. Rifki memasangkan cincin itu di jari manisnya.


"Cantik banget dijari kamu." ucap Rifki setelah cincin itu terpasang.


"Tapi ini seriusan buat aku? Bukan buat orang lain mungkin?" ucap Laura dengan sengaja sembari menatap jemarinya.


"Udah lah sayang nggak perlu bahas orang lain. Aku tau apa yang kamu pikirin. Ini tuh beneran buat kamu." ucap Rifki dengan yakin.


"Eum gitu... Ya udah deh, makasih ya..." ucap Laura tersenyum sesaat. Entahlah hatinya masih sedikit kesal.


Rifki melirik jam di pergelangan tangannya yang ternyata telah menunjukkan pukul delapan malam.


"Sayang..." panggil Rifki dengan menatap wajah cantik Laura.


"Apa lagi? Ayo anterin aku pulang udah malem ini." ucap Laura dengan menarik pergelangan tangan Rifki.


"Baru juga jam delapan sayang , belum malem banget tauk." ucap Rifki dengan datar.


"Ya udah kalo gitu , aku bisa pulang sendiri kok." ucap Laura sembari berdiri. Baru beberapa langkah ia terhenti kembali.


Rifki memeluknya dari belakang dan itu membuat Laura gugup. Ia terdiam sesaat sebelum akhirnya ia tersadar. Laura pun berusaha melepaskan pelukan itu.


"Sebentar aja sayang." ucap Rifki dengan tenang.


Laura tak tahu harus berbuat apa. Ia pun terdiam. Lalu ia kaget disaat tubuhnya di putar menjadi berhadapan dengan Rifki. Refleks ia menutup matanya seketika disaat Rifki yang tiba-tiba langsung mencium bibir ranumnya.


Bukan menikmati , lebih tepatnya semakin panik. Laura takut. Ia takut disaat ia merasakan tangan Rifki itu memegang tengkuknya untuk menahan ciumannya. Laura tak tahu apa yang akan terjadi nanti. Tangannya kini hanya bisa memukul bahu Rifki dari belakang dan menarik kaosnya.


Entahlah , Rifki sangat merindukan moment seperti ini. Sudah lama sekali ia tidak melakukan itu. Selama ia berpacaran dengan Laura sekalipun , ini adalah pertama kalinya ia berani menyentuhnya.


Akhirnya , ciuman pertamanya sudah hilang. Laura masih menutup matanya tak berani membuka mata. Ciuman pertamanya ternyata sukses di ambil Rifki, kekasihnya.


"Aku sayang banget sama kamu..." ucap Rifki dengan tersenyum.


Tak cukup sampai di situ , Rifki melanjutkan lagi dengan mencium kening Laura serta kedua pipinya.


"Udah dong udah..." ucap Laura yang akhirnya berbicara juga.


"Masih kangen sayang..." ucap Rifki dengan meraih tubuh Laura membawa kedalam dekapannya.


Laura terdiam beberapa saat , entahlah ia tak tahu kenapa ia merasa nyaman sekali berada di dalam pelukan Rifki.


"Aku akan sakit banget kalo suatu saat nanti kamu bikin aku kecewa." ucap Laura didalam pelukan.


"Aku janji nggak akan buat kamu kecewa sayang..." ucap Rifki dengan mengelus rambut panjangnya Laura.


"Maafin aku ya... Aku udah banyak bikin kesalahan." ucap Rifki dengan tenang.


Rifki berusaha menahan dirinya untuk tetap bisa mengendalikan kemauannya. Ia sangat ingin bersama kekasihnya itu lebih lama. Namun , ia berpikir seribu kali untuk melakukan hal itu.


"Sayang..." panggil Rifki masih dengan mendekap tubuh Laura.


"Apa?" ucap Laura menjawab.


"Aku yakin sih kamu pasti gak mau , tapi malam ini... Aku mau kamu disini temenin aku." ucap Rifki dengan tenang.


Laura membelalakkan matanya dan refleks ia langsung melepaskan pelukannya. Ia menatap tajam kedua mata Rifki.


"Aku? Suruh nemenin kamu? Biasanya juga cuma sendirian kan? Kenapa harus minta ditemenin segala? Gak usah aneh-aneh deh!" ucap Laura yang benar-benar protes dengan ajakan Rifki.


"Sekali aja sayang... Aku juga janji gak akan ngapa-ngapain kamu kok, serius." ucap Rifki dengan memohon.


"Omongan kayak gituan itu bener-bener udah gak bisa dipercaya sama cewek manapun." ucapan Laura dengan sedikit kesal.


"Tapi beneran sayang... Aku cuma pengen kamu disini aja. Gak perlu ngelakuin apa-apa juga." ucap Rifki dengan menatap wajah Laura dan mencoba menarik kedua bahunya kembali.


Namun entah mengapa Laura menapakkan kedua telapak tangannya pada dada bidang Rifki. Keras. Dan kini saling pandang. Laura tak bermaksud aneh , ia hanya ingin mendorong tubuh Rifki.


"Ups... Sorry sorry aku gak bermaksud..." ucap Laura menggantung ucapannya.


Sungguh sial. Rifki justru tersenyum manis melihat kekasihnya kehilangan akal.

__ADS_1


Laura yang ketakutan hanya bisa menggelengkan kepalanya dan berjalan mundur untuk mencoba menghindar. Namun usahanya nihil. Percuma saja ia berjalan mundur, ia hanya mentok dan terbentur tembok.


Laura semakin panik. Ia takut dan otaknya terus berputar bertraveling kemana-mana. Akan sulit jika di situasi seperti ini, berdua didalam apartemen benar-benar tak bisa membuat dirinya tenang.


Bahkan , kesadaran pun sedikit demi sedikit mulai hilang dan pertahanan pun mulai terasa goyah. Ini adalah pertama kalinya ia disentuh seperti ini. Hatinya benar-benar terasa berdesir tiada henti.


Hembusan nafas sangat terasa di tengkuknya. Laura menggigit bibir bawahnya dan menahan rasa sakitnya sendiri.


"Jangan kayak gini lah... Coba deh kamu bilang , kamu mau apa sih?" ucap Laura dengan setenang mungkin.


"Aku mau kamu temenin aku malem ini sayang." ucap Rifki yang kemudian langsung mencium bibir Laura.


Rifki merasakan hawa yang sangat panas. Ia benar-benar gerah. Ia menyudahi ciumannya dan melepaskan bajunya lalu melemparkannya ke sofa dengan asal.


Seketika Laura menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Rifki tersenyum melihat tingkah pacarnya yang menggemaskan itu.


"Buka matanya sayang... Gak ada hantu jadi kamu nggak perlu tutup mata." ucap Rifki dengan tenang.


"Kamu itu hantunya!" ucap Laura yang tetap tidak mau menurunkan tangannya.


Tanpa berpikir panjang , Rifki justru membopong tubuh Laura lalu mengangkatnya.


"Astaga! Gila kamu ya! Turunin gak? Aku gak mau! Cepetan turunin aku! Aaaaaaa turunin aku! Tolong!" ucap Laura yang kaget bukan main , ia meronta dan memukul dada bidang didepan matanya itu.


"Syuutttt sayang , aduh jangan teriak-teriak nanti tetangga pada denger tauk!" ucap Rifki dengan menggodanya serta ekspresi wajah yang lucu.


Dan dengan bodohnya , Laura langsung diam. Dia tak menyadari kebodohannya bahwa di apartemen itu sebenarnya kedap suara. Tak bisa orang luar mendengarnya.


Rifki menidurkan Laura tepat di tengah ranjang king size-nya. Ia melihat dengan jelas betapa panik kekasihnya ini karena ulahnya.


"Jangan macem-macem dulu. Kita masih kuliah. Aku nggak mau kayak gituan! Please..." ucap Laura memohon dengan sungguh-sungguh sembari menatap wajah Rifki yang kini berada di atasnya tepat.


"Sayang... Ayolah sekali aja. Apapun yang terjadi nanti , aku gak akan pernah pergi. Aku janji nggak akan pernah kemana-mana." ucap Rifki dengan menatap kedua mata Laura.


Laura memutar otaknya , tapi kecil kemungkinan untuk ia bisa lolos. Apa memang ini sudah jalan hidupnya harus seperti ini?


"Dan kalau terjadi sesuatu trus kamu lari gak tanggung jawab , aku pastikan aku akan bunuh diri saat itu juga. Inget itu!" ucap Laura dengan tatapan mata yang tajam.


"Kamu bisa pegang kata-kataku sayang... Aku yakin kita akan baik-baik aja." ucap Rifki dengan tersenyum.


Tanpa memberi kesempatan pada Laura untuk berbicara lagi , Rifki kembali lagi membungkam bibir ranum itu dengan ciuman yang memabukkan.


Entahlah , mungkin iblis sudah menguasai dirinya. Laura memejamkan matanya menahan degup jantung yang menggila karena sentuhan Rifki. Sentuhan dari tangan-tangan nakal yang mulai berkeliaran kemana-mana.


"Sayang..." ucap Laura menahan dress yang hendak dilepas.


Rifki memandangnya sesaat. Ia pun turun dari ranjang menuju tembok dan mematikan lampu yang terang ini. Kini ia menghidupkan kembali lampu tidur yang remang-remang diatas meja kecil.


Rifki kembali naik ke atas ranjang dan menarik selimut tebalnya untuk menutupi tubuhnya dan juga tubuh Laura yang berada dibawahnya tepat.


Laura membelalakkan matanya tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Ia bergidik ngeri.


"Ayolah sayang..." ucap Rifki dengan menatap Laura penuh dengan kemauan.


"Aku takut." ucap Laura dengan suara pelan.


"Aku nggak akan main kasar. Asal kamu tau , ini pertama kalinya juga buat aku." ucap Rifki dengan tenang sembari melepaskan kain yang masih menempel di tubuh kekasihnya satu persatu.


Kini , kesempatan untuk pergi sudah tak ada. Tak ada pintu yang terbuka. Melawan tak melawan juga hanya percuma. Tak kan ada hasilnya. Hasilnya pun tetap sama. Ia sebagai seorang perempuan tak mampu melawan disaat keadaan sudah seperti ini.


Jika ia meronta-ronta , justru itu akan membuat dirinya jauh lebih sakit. Ya , karena ia pasti akan dipaksa. Dengan berat hati , ia harus menerima ini.


Setetes air mata beningnya menetes dari kedua sudut matanya. Selama ini ia menjaga dirinya , namun malam ini ia relakan.


Laura melingkarkan kedua tangannya pada leher Rifki dengan memejamkan matanya. Ia menahan rasa yang kian bergejolak didalam dadanya. Menahan rasa sakit yang benar-benar memang terasa sangat sakit.


"Sayang maaf , tapi aku janji. Setelah ini , aku hanya akan menjadi milikmu." ucap Rifki dengan suara lembutnya yang dilanjut dengan ciuman dan permainannya.


---


Seperti bulan yang sedang bersinar terang , ia tak pernah kesepian. Karena bintang selalu menemaninya.


Dan itu sama dengan dirinya , ia berusaha mengisi kekosongannya. Agar ia selalu dalam perjuangan untuk bahagia.


❤️


❤️


❤️


❤️


❤️l.a.f🌻❤️

__ADS_1


__ADS_2