
Fany memakai celana pendek rumahan serta kaos oblong besar. Ia juga menguncir rambut panjangnya dengan asal-asalan. Ia pun keluar dari kamar dan menuruni tangga. Ia melihat di sofa bawah ada lelaki itu sedang menatap layar laptopnya. Anehnya , ia sudah mengganti pakaiannya. Ia memakai celana jeans hitam , kemejanya sudah berganti kaos.
Fany mengerutkan keningnya merasa heran. Ia menghampirinya lelaki itu dengan penuh rasa penasaran.
"Jangan bilang kalo kamu nggak mau berangkat kerja lagi." ucap Fany yang membuat Ardhi menoleh ke sampingnya. Ia menatap Fany lalu tersenyum.
"Ini aku kerja sayang , hidup aku tuh nggak ada hari yang tanpa kerja yah. Dimanapun tempatnya , aku pasti kerja." ucap Ardhi dengan tenang.
"Nggak stres yah?" ucap Fany.
"Kayaknya lebih stres ngurus kamu deh daripada ngurus kerjaan." ucap Ardhi dengan santai sembari memfokuskan pandangannya pada layar laptop. Ucapannya benar-benar membuat Fany serasa ingin membunuhnya saat itu juga.
"Lanjutin aja kerjaan kamu. Aku mau tidur masih ngantuk!" ucap Fany dengan ketus kemudian membalikkan badannya dan berjalan menuju arah tangga. Spontan Ardhi langsung berdiri dan mengejarnya.
"Sayang tunggu bentar..." ucap Ardhi dengan memegang pergelangan tangan Fany.
"Apa lagi?" ucap Fany tanpa ekspresi.
"Jalan-jalan yuk... Aku pengen jalan, cari udara seger." ucap Ardhi dengan tersenyum.
"Hah?" ucap Fany dengan mengerutkan keningnya.
"Udah lama nggak jalan." ucap Ardhi.
"Kamu lagi kerja kan? Kerja aja dulu." ucap Fany.
"Aku tu nggak ngantor karena pengen ajakin kamu liburan." ucap Ardhi.
"Tapi kan..." ucap Fany terputus.
"Ayolah..." ucap Ardhi dengan menarik-narik tangan Fany seperti anak kecil.
"Ya udah ayo..." ucap Fany dengan pasrah.
"Ganti celana dulu sana." ucap Ardhi memerintah.
"Ah kamu ribet yah!" ucap Fany menatapnya kesal.
"Pakai celana panjang dulu. Kamu sengaja ya mau lihatin paha kamu itu ke cowok-cowok luar sana nanti? Nggak boleh! Cuma aku yang boleh lihat." ucap Ardhi dengan tegas.
"Astaga ini orang kenapa sih gini amat... Iya iya ini mau ganti." ucap Fany dengan melepaskan tangannya yang dipegang Ardhi lalu berjalan menaiki tangga.
Begitu sampai di kamar, Fany mengambil dress hijau bermotif bunga yang panjangnya lima centi dibawah lutut dengan lengan pendek. Ia menuju ruang ganti untuk mengganti pakaiannya.
Entahlah ia memang merasa lebih nyaman dengan balutan dress-dress-nya. Selesai memakai dress , ia bercermin di meja riasnya. Ia memakai pelembab wajah dan menepuk-nepuk pelan dengan sponge bedaknya. Tak lupa ia juga mengoleskan lipbalm pada bibir ranumnya.
Ia keluar dari kamar dan berjalan menuruni tangga sembari menyisir rambut panjangnya dengan jemarinya. Ia menghampiri Ardhi yang tengah duduk di sofa seperti tadi namun kini ia dengan menatap layar ponsel.
"Kita mau jalan kemana?" ucap Fany menyadarkan Ardhi.
"Eh sayang... Kamu cantik banget mau kemana?" ucap Ardhi dengan tersenyum semangat kemudian berdiri.
"Kamu tuh yang bener aja dong. Masih pagi juga udah bikin kepala berasap aja!" ucap Fany dengan kesal.
"Calon istri idaman tuh emang cocok kalo kayak gini, ngomel mulu tapi tetep bikin tambah sayang yah... Ya udah ayo sayang kita berangkat..." ucap Ardhi dengan tersenyum sembari meraih tas ransel kecilnya yang berisi laptop, ponsel dan dompet.
Ardhi merangkul pinggang Fany dan bersama-sama melangkah keluar menuju mobil.
...----------------...
Hamparan pasir putih yang luas dengan terpaan angin yang berhembus lembut membelai rambut panjangnya seakan berlarian kesana-kemari. Ia memejamkan matanya menikmati semilir udara pantai yang sangat ia rindukan itu. Sudah lama sekali ia tak mengunjungi villa milik kedua orangtuanya ini setelah kurang lebih tiga tahun yang lalu saat liburan sekolah.
Fany sengaja mengajak Ardhi ke tempat ini. Ia selalu ingin pergi mengunjungi villa ini namun moment-nya selalu tidak tepat. Jika ia datang sendiri, sudah pasti tidak akan pernah diperbolehkan oleh kedua orangtuanya. Ia hanya boleh pergi apabila ditemani oleh kakaknya. Itupun juga melihat keadaan karena kakaknya sering sibuk.
"Aku suka banget sama villa ini. Suasana disini bener-bener bikin aku nyaman dan tenang. Tapi sayangnya jauh. Seandainya villa ini deket, aku lebih milih tinggal di sini." ucap Fany dengan suaranya yang tenang.
Ardhi memandang wajah cerah Fany yang tampak cantik. Mereka duduk di gazebo ukuran sedang ditepi pantai.
"Iyalah , disini tempatnya nyaman trus pemandangannya indah banget." ucap Ardhi dengan tersenyum sembari mengarahkan kameranya ke arah pohon kelapa yang menjulang tinggi di tepi pantai.
__ADS_1
"Tapi disini adalah tempat dimana aku menghabiskan waktu tanpa pernah menyadari bahwa disaat itu kamu mulai terbang jauh dan menghilang bertahun-tahun." ucap Fany dengan tersenyum kecut tanpa menoleh.
"Jadi waktu kecil dulu kamu disini saat aku mau pergi? Aku nungguin kamu di bandara waktu itu..." ucap Ardhi dengan memandang Fany.
"Ya mana aku tau. Nggak ada yang bilang apa-apa sama aku. Tiap aku tanyain kamu ke mamaku bilangnya lagi pergi sebentar, gitu mulu jawabnya. Sebentar sebentar jadi bertahun-tahun." ucap Fany dengan masam.
"Aku tuh sebenarnya diharuskan sekolah disana cuma sampai SMA aja. Tapi aku disuruh milih, milih perusahaan di Indonesia atau di sana. Terus aku milih di Indonesia dong. Dan karena aku harus bisa pegang perusahaan papa disini tanpa arahan dari papa lagi , aku harus kuliah disana sambil terjun ke dunia perkantoran papa sejak aku masih SMA pertengahan kelas satu. Aku belajar terus-terusan, bahkan tiap liburan aja aku tetep dibimbing papa fokus tentang perusahaan biar cepet lulus trus pulang ke Indonesia." ucap Ardhi bercerita panjang lebar kepada Fany.
"Sibuk mulu yah? Bearti gak ada waktu buat pacaran dong? Kamu nggak pernah punya pacar disana?" ucap Fany yang membuat Ardhi terlihat bingung.
"Gak ada." ucap Ardhi singkat sedikit tertawa.
"Bohong! Nggak mungkin!" ucap Fany menatap wajah Ardhi yang tengah tersenyum itu.
"Gimana yah... Di bilang pacar tapi nggak pernah pacaran kayak yang lagi kita lakuin sekarang ini. Tapi kalo nggak dibilang pacar, dulu sempet ada yang aku..." ucap Ardhi terhenti tatkala ia melirik Fany yang tengah menatapnya sembari mengerutkan keningnya menunggu kelanjutan ucapannya. "Jangan marah dong. Biasa aja lihatin aku-nya." ucap Ardhi dengan wajah sedikit takut.
"Enggak, enggak aku nggak marah. Udah lanjutin aja ada yang sempat kamu apain?" ucap Fany dengan antusias ingin mendengar kisah Ardhi selama di luar negeri.
"Ada yang sempat aku bahagiain aja. Tapi aku nggak pernah nyentuh dia apalagi sampai cium dia. Enggak ya aku serius nggak bohong. Aku nggak pernah kayak gitu. Aku berani nyentuh cewek cuma sama kamu doang. Tapi, maksudnya aku bahagiain itu dengan cara aku temenin dia saat kuliah, jalan, makan gitu. Aku lakuin itu karena aku kasian aja sama dia." ucap Ardhi dengan tenang.
"Kok kamu gitu? Emang siapa yang nyatain cinta duluan?" ucap Fany penasaran.
"Yang nyatain cinta duluan itu dia, aku nerima dia karena udah tiga kali dia bilang cinta ke aku. Waktu itu aku mikir kalo mungkin aku nerima dia dan dia tau sifatku bagaimana, dia pasti bosen karena aku semakin lama semakin sibuk dan ngga pernah punya waktu lagi. Sempet jalan makan sama dia itu mungkin cuma satu sampai dua Minggu doang. Lebihnya aku nggak pernah ada waktu lagi. Dan yang bikin aku capek, dia sering banget datang ke rumah. Dan mama nggak suka. Terus aku cari waktu yang tepat dong buat mutusin dia. Saat aku lulus kuliah dan wisuda. Aku putusin dia, dan ngga lama aku pulang ke Indonesia." ucap Ardhi dengan tersenyum memandang Fany.
Fany melongo mendengar cerita Ardhi disana. Ia perempuan , pasti sakit sekali rasanya di tinggal pergi oleh orang yang dicintai.
"Kasian banget dia! Ternyata kamu jahat ya dulu. Bisa bikin sandiwara kayak gitu." ucap Fany dengan heran.
"Kok gitu sih? Aku pulang ke Indonesia karena aku mau cari kamu! Aku kesini ngga cari siapa-siapa tauk cuma nyari kamu doang!" ucap Ardhi dengan mengacak-acak puncak kepala Fany dengan gemas.
"Terus gimana dia sekarang? Namanya siapa sih?" ucap Fany penasaran.
"Nggak perlu tau, nggak penting buat kita." ucap Ardhi dengan tenang.
"Aku pengen tau aja. Siapa namanya?" ucap Fany lagi.
"Cuma pengen tau aja. Pasti cantik banget ya orangnya." Ucap Fany dengan tersenyum.
"Cantik itu relatif. Mata cowok itu beda-beda tiap lihat cewek. Nggak semua cewek yang menurutku cantik itu juga cantik di mata kamu. Cantik atau enggaknya itu tergantung dari hati. Aku aja dulu nggak ngira kalau kamu bakal jadi cewek secantik ini. Yah mungkin udah keberuntungan aku aja kali ya..." ucap Ardhi dengan terkekeh disaat melihat Fany membuang muka.
"Aku pengen tau Yuna itu seperti apa..." ucap Fany dengan menatap Ardhi sesaat.
"Aduh sayang udahlah. Nggak penting buat kita. Jangan aneh-aneh deh." ucap Ardhi dengan membelai kepala Fany.
"Iya-iya enggak kok." ucap Fany dengan tersenyum.
"Kamu kapan mulai masuk kuliah?" tanya Ardhi.
"Emm sekitar dua minggu lagi. Aku udah diterima di universitas yang sama seperti kakak. Airin sama Zahra juga. Kita cuma beda jurusan aja." ucap Fany dengan tersenyum senang.
"Belajar yang bener biar cepet lulus. Terus kalau udah selesai kuliah mau ngapain?" ucap Ardhi dengan melirik Fany.
"Kerja dong." ucap Fany.
"Kerja apa? Kerjain orang?" tanya Ardhi yang sukses mendapatkan tamparan di lengannya.
"Tuh kan emang ngaco yah ngomongnya!" ucap Fany dengan ketus.
"Nggak usah kerja sayang. Ambil profesi jadi mama muda aja." ucap Ardhi yang membuat Fany membelalakkan matanya.
"Enggak! Enak aja, susah-susah mikir kuliah masa langsung jadi mama muda! Ngarang yah otaknya!" ucap Fany dengan kesal.
"Ya kamu kuliah mau berapa tahun?" tanya Ardhi.
"Kenapa? Nggak sanggup nungguin aku?" tanya Fany balik.
"Sangguplah! Mau sepuluh tahun lagi juga aku tetep sanggup. Asalkan kamu nikahnya beneran sama aku dan nggak ngecewain aku." ucap Ardhi dengan tegas yang membuat Fany tersenyum.
"Kita lihat aja nanti." ucap Fany yang kemudian berdiri dari duduknya lalu melangkahkan kakinya menuju arah villa.
__ADS_1
Ardhi tersenyum memandang Fany yang berjalan kian jauh. Ia pun meraih ponsel Fany yang sengaja ditinggal. Ia iseng membuka ponselnya. Sudah menjadi kebiasaannya mengecek ponsel Fany dan Fany sama sekali tidak merasa terganggu karena sifatnya itu.
Ardhi mencoba membuka email-nya yang kebetulan ada email masuk setengah jam yang lalu namun sang empunya ponsel tak menyadari. Ardhi membuka email yang tidak ia kenal itu lalu membacanya.
'''Hai Fany, apa kabar? Lama nggak ketemu ya... Semoga kamu baik-baik aja.
Oh iya ternyata kita satu kampus loh...
Maaf ya aku nggak bermaksud apa-apa, aku cuma pengen kita berteman baik aja. Jangan berpikir buruk tentang aku lagi ya. Aku janji nggak akan maksa kamu buat nerima aku lagi.
Cukup dengan kamu mau nerima aku sebagai teman kamu aja aku udah bersyukur, karena yang terpenting jangan membenciku.
Dan bagaimanapun juga, kamu adalah perempuan yang membuat aku sadar bahwa memang cinta tak harus memiliki.
Semoga kamu tetap bahagia ya biar aku juga bahagia...
Aku email kamu karena aku seneng dan nggak nyangka aja kita akan bertemu lagi.
Aku harap kamu juga senang ya...
See you next time Fany Sampai ketemu besok ya...'''
Ardhi tampak terdiam sesaat. Rifki. Nama itu akan ia ingat sampai kapan pun. Ia tak membalas email itu, namun ia menghapusnya. Terbersit rasa tak nyaman dihatinya. Ia tak mampu menahan rasa penasarannya atas lelaki itu. Apalagi mereka akan masuk kuliah bersama. Ia benar-benar tak akan bisa diam apabila lelaki itu berani mendekati kekasihnya.
Nampak dari jauh terlihat Fany sedang berjalan ke arahnya sembari membawa minuman botol dan beberapa Snack. Ardhi memandang kekasihnya dari jauh dengan tersenyum, ia berharap agar wanita itu tidak akan pernah berpaling kepada lelaki lain dari dirinya.
Ardhi meletakkan ponsel Fany yang sedari tadi ia pegang. Ia melihat Fany meletakkan apa yang ia bawa di sampingnya kemudian kembali duduk di samping Ardhi. Fany merasa panas dan terlalu gerah karena terpapar panas matahari. Ia menguncir rambut panjangnya seperti ekor kuda.
Fany mengambil botol itu dan memberikannya kepada Ardhi, lalu Ardhi menerimanya. Ardhi membuka tutup botol itu lalu memberikannya kepada Fany. Fany pun menatapnya heran.
"Kamu minum dulu..." ucap Ardhi dengan tenang.
Fany pun mengikuti perintah Ardhi. Setelah Fany meneguk minumannya , Ardhi meraih botolnya kembali dan meminumnya.
"Aku bawain dua botol ini. Kamu yang ini deh, masa kamu minum sisaku sih?" ucap Fany sembari menunjukkan botol yang satunya.
"Satu aja cukup buat berdua kok." ucap Ardhi dengan meletakkan minuman itu di samping.
Di saat Fany tengah membuka snacks , Ardhi dengan sengaja menarik kuncir rambut Fany dan membiarkan rambut panjangnya tergerai. Fany menatapnya heran dan bingung, ia sedang gerah namun selalu saja ada tingkah konyol Ardhi yang membuat ia kesal.
"Kenapa dilepas sih? Gerah tauk!" ucap Fany.
"Iya aku tau , tapi biar kamu aja yang gerah jangan bikin aku jadi ikut-ikutan gerah!" ucap Ardhi dengan santai tanpa memandang Fany yang tengah menatapnya.
Fany diam tanpa berucap sepatah katapun. Ia hanya fokus menatap lautan di hadapannya yang luas membentang. Tak ia duga, Ardhi merangkulnya dengan tenang.
"Aku pengen kita tunangan." ucap Ardhi yang sukses membuat Fany menatapnya dengan tatapan tak percaya.
Fany bingung harus bagaimana. Ia tak pernah menduga Ardhi akan mengatakan kalimat seperti itu.
"Apa kamu bilang? Tunangan?" tanya Fany.
"Aku mau kita tunangan. Secepatnya. Tapi kamu nggak perlu khawatir, aku cuma minta kita tunangan. Kalau soal nikah, aku serahin ke kamu. Aku akan nungguin sampai kapan pun kamu siap." ucap Ardhi dengan tenang yang berada tepat di depan telinga Fany.
Hanya dengan cara itu. Satu-satunya cara yang Ardhi pikirkan saat ini. Entah apa yang akan dikatakan Fany. Yang jelas, ia sangat mencintainya dan ia tak mau ada satu hal yang membuatnya terusik.
Lalu, bagaimana jawaban dari kekasihnya?
Apakah ia bersedia?
❤️
❤️
❤️
❤️
❤️l.a.f🌻❤️
__ADS_1