Love Always Forever (Tanpamu , Bagaimana Aku?)

Love Always Forever (Tanpamu , Bagaimana Aku?)
Sweet


__ADS_3

Sudah tiga hari setelah pertemuan keluarga, Fany masih tak percaya dengan apa yang akan terjadi padanya. Ia tak menceritakannya kepada dua sahabatnya. Belum ada dua tahun ia kuliah, ia sudah akan bertunangan.


Kini Fany sedang berada di kantor yang dipimpin oleh kakaknya. Kakaknya itu sukses menyelesaikan kuliahnya dan sekarang sudah resmi memimpin perusahaan papanya.


"Gimana ya kak kok aku takut ya?" ucap Fany dengan heran.


"Takut kenapa sih? Biasa aja lah." ucap kak Irfan dengan santai.


"Umur aku belum genap 21 kak, masa udah tunangan. Ntar dikira hamil duluan dong..." ucap Fany dengan polosnya.


"Nggak masalah. Soal umur gak perlu dibahas ya disini. Yang penting itu kesiapan hati kamu. Dimana-mana yang hamil duluan itu langsung nikah bukannya tunangan. Soal hamil atau enggak itu juga nggak perlu dipikirin. Gak usah takut orang ngomong apa, emangnya kamu udah hamil beneran?" ucap kak Irfan yang kemudian sukses mendapatkan sebuah pukulan di lengannya.


"Sembarangan! Aku cuma bilang kalau misalnya mereka pada mikir gituan. Aku nggak hamil kak! Ih nyebelin yah!" ucap Fany dengan kesal.


"Hahaha... Iya iya kakak tau. Kakak juga tau calon suami kamu itu kayak gimana orangnya. Jadi kayaknya itu nggak mungkin terjadi." ucap kak Irfan dengan tersenyum.


"Nggak mungkin lah! Aku akan buktiin kalo aku bisa jaga diri." ucap Fany dengan tersenyum.


"Bagus. Jadi nggak perlu takut lagi. Tenang aja lah. Semua pasti berjalan seperti yang kita inginkan." ucap kak Irfan dengan tenang.


"Iya kak." ucap Fany mengangguk.


"Kita makan yuk udah siang nih..." ucap kak Irfan.


"Boleh, dimana?" ucap Fany yang setuju.


"Di luar aja dong. Ajak calon kakakmu juga sana..." ucap kak Irfan dengan tenang.


"Oke, aku tunggu di mobil." ucap Fany dengan meraih tasnya dan langsung keluar dari ruang kerja kakaknya.


Fany menuju ruang sekretaris dan mengetuk pintu lalu masuk kedalam. Ia melihat Fika masih fokus ke layar komputer didepannya.


"Fany... Ada apa?" ucap Fika dengan ramah


"Kak ayo kita makan siang bareng... Cepetan kak udah ditungguin..." ucap Fany dengan menarik tangan Fika.


"Iya iya sebentar ya." ucap Fika kemudian mematikan komputer didepannya. "Ayo... Kita makan dimana nih?" ucap Fika sembari berjalan beriringan dengan Fany keluar dari dalam ruangan.


"Kita makan diluar dong kak." ucap Fany dengan tersenyum.


Fany dan Fika memang sudah sangat akrab. Hubungan Fika dengan kakaknya juga tampak baik-baik saja meski kadang bertengkar namun mereka selalu berbaikan dan saling mengerti satu sama lain. Begitulah pasangan satu ini, Fany pun kadang cemburu karena kakaknya sangat romantis dengan Fika. Walaupun Fany sendiri juga sudah memiliki kekasih, Fany tetaplah masih seperti anak kecil jika bersama kakaknya.


Fany dan Fika melangkah santai menuju parkiran dan mencari mobil kakaknya.


"Lho kok kita pake mobilnya kakak kamu?" ucap Fika dengan bingung.


"Kita makan bertiga kak, hehe..." ucap Fany dengan terkekeh.


"Oh gitu... Ya udah deh kirain tadi cuma berdua aja." ucap Fika.


"Masuk duluan aja yuk kak, aku udah bawa kuncinya kok." ucap Fany dengan tersenyum.


"Ya okelah..." ucap Fika kemudian masuk ke dalam mobil di kursi belakang.


"Kak Fika didepan aja biar aku yang ada di belakang." ucap Fany saat mengetahui Fika hendak duduk.


"Hah? Gak apa-apa Fany di belakang aja gak ada bedanya kok." ucap Fika.


"Apa-apaan ini? Kenapa pada duduk dibelakang semua, ayo pindah depan satu." ucap kak Irfan yang tiba-tiba sudah datang dan begitu masuk ke dalam mobil ia kaget dengan penumpangnya.


"Kak Fika aja cepetan pindah depan. Aku di belakang aja." ucap Fany dengan tersenyum.


"Ah kamu ini..." ucap Fika yang kemudian turun dari mobil dan pindah duduk di kursi depan.


"Yah kali aku suruh duduk depan sendiri, ntar dikira aku supir pribadi kalian dong." ucap kak Irfan tak terima.


"Iya iya gak usah ribut, aku udah pindah dan ayo kita berangkat." ucap Fika dengan tenang.


"Iya sayang... Pakai tuh seat belt kamu." ucap kak Irfan dengan memperhatikan Fika.


"Udah lama ya aku nggak jadi obat nyamuk." ucap Fany yang tengah berada di tengah-tengah kakaknya dan Fika.


"Nih anak ada-ada aja yah..." ucap kak Irfan yang kemudian menyalakan mobil dan mengemudikan mobilnya keluar dari area perusahaan.


"Kak Fika, kapan kakak nikah?" ucapan Fany membuat Fika kaget namun sama sekali tak membuat kakaknya merespon.


"Hah? Oh nikah? Hehe kamu aja dulu... Kakak mah santai..." ucap Fika dengan tersenyum.


"Kakak sih kelamaan ngajakin pacarannya. Nikah dong kak..." ucap Fany dengan mendorong pelan bahu kakaknya dari belakang.


"Iya iya besok nikah. Gampang..." ucap kak Irfan dengan santainya.


"Gampang apanya?" ucap Fika dengan menatap Irfan.


"Iya gampang sayang. Kalau kamu udah fix mau nikah, kapan pun aku siap nikahin kamu." ucap kak Irfan dengan tersenyum sembari mengelus rambut panjangnya Fika yang tergerai.


Fany menahan tawanya melihat pasangan didepan yang tengah bermesraan itu. Fika yang merasa tak enak, ia memegang tangan Irfan dan mengisyaratkan untuk menjaga sikap.


"Ya ampun kalian mesraan aja nggak masalah kak. Anggap aja aku nggak ada disini." ucap Fany dengan tersenyum.

__ADS_1


"Iya lah nggak masalah, orang kamu kalo udah sama pacarmu malah lebih dari ini..." ucap kak Irfan yang membuat Fany kesal.


"Sok tau!" ucap Fany dengan ketus.


"Emang gitu kok kayaknya." ucap kak Irfan.


"Dah udah ayuk turun.. Udah sampe nih..." ucap Fika menengahi kakak beradik yang tengah cekcok itu.


"Ayok turun katanya laper..." ucap Fany kepada kakaknya.


"Iya iya punya adek satu aja bikin stres, untung cantik." ucap kak Irfan dengan santai sembari bersiap keluar dari mobil.


Satu lelaki dan dua perempuan itu pun masuk ke dalam restoran. Mereka duduk dan memanggil waiters untuk memesan menu makan siangnya.


...----------------...


Malem pun tiba, kini Ardhi mengemudikan mobilnya dijalan raya yang tampak lengang. Disampingnya terdapat Fany yang tengah fokus menatap layar ponselnya. Beberapa kali Ardhi meliriknya namun Fany tak menyadari itu.


"Sayang, kamu itu sibuk lihatin apa sih?" ucap Ardhi dengan sesekali melirik.


"Lagi lihat-lihat high heels doang." ucap Fany dengan menunjukkan layar ponselnya ke Ardhi.


"Nanti aku beliin. Dah taroh aja hp kamu." ucap Ardhi.


"Kamu kenapa?" ucap Fany dengan heran.


"Nggak apa-apa. Aku nggak mau aja kalo pas lagi jalan sama aku, kamu malah sibuk sendiri." ucap Ardhi dengan tenang.


"Emm gitu... Enggak sayang enggak." ucap Fany yang kemudian menyimpan ponselnya kedalam tasnya.


Tanpa Ardhi duga, Fany melonggarkan seat belt-nya dan menyandarkan kepalanya di bahu Ardhi. Entahlah, perlakuan Fany yang sesederhana itu saja mampu menggoyahkan pertahanannya.


"Ngapain kayak gini?" ucap Ardhi dengan tenang sembari melirik Fany.


"Jangan marah dong. Gitu aja marah, gimana besok kalo udah nikah? Masa aku kamu marahin mulu sih?" ucap Fany dengan mendongakkan kepalanya memandang Ardhi.


Ardhi melirik kaca sepion mobilnya melihat keadaan di jalanan belakang dan tanpa aba-aba Ardhi menginjak rem menepikan mobilnya mendadak. Fany kaget dan spontan langsung merangkul lengan Ardhi karena takut terjadi sesuatu yang membahayakan.


"Ada apa ini?" ucap Fany yang terlihat panik.


"Nggak ada apa-apa." ucap Ardhi dengan tenang yang tengah menatap jalanan depan dan melirik lagi kaca sepion melihat ke belakang.


"Kamu kalo marah ya marah aja tapi nggak usah kayak gini. Berhenti mendadak aku takut kenapa-napa tauk!" ucap Fany dengan ketus sembari menatap Ardhi yang tengah melepaskan seat belt-nya.


"Siapa sih yang marah? Aku nggak marah sayang, aku cuma ingetin kamu aja kalo aku nggak suka kamu abaikan." ucap Ardhi dengan tenang dan menatap Fany.


"Sama aja. Aku nggak suka kamu sibuk sendiri tanpa memperhatikan aku." ucap Ardhi dengan jelas sembari menarik lengan Fany agar tak menjauh. Namun Fany tetap memundurkan tubuhnya.


"Iya iya aku tau. Aku nggak akan gitu lagi. Udah jangan deket-deket. Sana kamu menjauh deh..." ucap Fany yang semakin gugup tatkala Ardhi kini berada dihadapannya dengan jarak yang sangat dekat. Fany melepaskan tangannya yang berada di cekalan Ardhi dan mendorongnya agar menjauh.


"Kamu yang buat aku kayak gini, dan kamu nyuruh aku menjauh... Nggak bisa dong. Aku mau ini dulu..." ucap Ardhi dengan santai sembari menyentuh bibir Fany yang selalu menggoda imannya setiap saat.


"Enggak mau! Ini dijalan tauk, bahaya! Ntar ada yang lihat!" ucap Fany dengan perasaan yang semakin takut. Fany pun menoleh kanan kiri depan belakang, sepi. Tak ada orang ataupun mobil yang lewat. 'Astaga, mampus gua!' ucap Fany mengeluh dalam hati.


"Sebentar aja sayang..." ucap Ardhi dengan tersenyum dan menarik Fany agar lebih dekat. Fany tak berani membuka matanya karena panik, Ardhi pun tersenyum melihat kekasihnya ketakutan karena ulahnya. Ia pun merapikan poni yang menutupi sebagian dahinya kemudian ia mencium dahi itu dengan tenang.


Tak cukup sampai di situ, lagi-lagi tangan jahat Ardhi kini berjalan dengan sendirinya meraih tengkuk Fany dan dengan cepat ia mencium bibir ranum itu. Fany diam sesaat namun kemudian ia memukul-mukul pelan dada Ardhi agar melepaskannya. Ia benar-benar takut akan ada seseorang yang melihatnya.


"Udah cukup. Jangan disini dong!" ucap Fany menatap Ardhi dengan kesal namun yang ia tatap justru tersenyum.


"Baiklah, kalo gitu kita lanjutkan nanti." ucap Ardhi yang kemudian kembali duduk sempurna dengan memasang seat belt-nya. Ardhi pun menjalankan mobilnya kembali di jalan raya.


Fany diam masih mencerna kata-kata yang ia dengar barusan. Sungguh, telinganya terasa terbakar saat itu juga. Apa yang di maksud Ardhi? Lelaki itu benar-benar membuatnya sering berpikir seribu kali.


"Kita mau kemana?" ucap Fany dengan menatap Ardhi.


"Ke apartemen." ucap Ardhi dengan singkat namun lagi-lagi jelas membuat Fany syok. Pikirannya tanpa di cegah sudah traveling kemana-mana.


"Mau ngapain ke apartemen? Hah?" ucap Fany dengan kesal.


"Santai aja dong nggak usah panik gitu. Kayak nggak pernah ke apartemenku aja." ucap Ardhi dengan tenang.


"Aku nggak mau. Dah lah anterin aku pulang aja." ucap Fany.


"Emang apartemenku kenapa sih? Serem banget ya?" ucap Ardhi dengan meliriknya sesaat.


"Banget!" ucap Fany dengan ketus.


"Aku tu tadi kelupaan laptop. Nanti aku ada janji sama klien tapi laptop ku lupa gak bawa soalnya tadi buru-buru jemput kamu." ucap Ardhi dengan tenang.


"Alesan doang!" ucap Fany.


"Udahlah diem aja. Nanti jam 8 kamu temenin aku." ucap Ardhi.


Fany masih memutar otaknya memahami maksud dari kekasihnya. Ia berharap ia tetap aman dari lelaki yang sebentar lagi akan menjadi tunangannya itu.


Beberapa saat kemudian, mobil memasuki area apartemen mewah yang menjulang tinggi itu. Ardhi menghentikan mobilnya dan melepas seat belt-nya.


"Ayo..." ucap Ardhi yang tengah melihat Fany diam tak membuka seat belt bahkan tak berniat turun.

__ADS_1


"Aku tunggu sini aja. Cuma mau ambil laptop kan? Ya udah cepetan." ucap Fany dengan tersenyum.


"Berani sendirian di sini? Sepi loh... Ntar ada penampakan gimana? Kamu udah nggak takut sama hantu ya?" ucap Ardhi dengan tenang.


"Kamu nggak usah nakut-nakutin aku yah! Udah makanya kamu cepetan dong." ucap Fany dengan yakin akan tetap berada di dalam mobil. Ia akan berusaha seberani mungkin daripada ikut ke apartemen dan mungkin Ardhi akan melakukan hal yang sama seperti tadi.


Ardhi menghela nafasnya dan melirik jam di pergelangan tangannya yang kini menunjukkan pukul 19.15 wib. Ia pun menatap Fany sesaat.


"Aku nggak akan pernah biarin kamu sendirian. Apalagi disini. Disini bukan tempat yang aman buat cewek cantik kayak kamu. Udah ayo ikut aku." ucap Ardhi dengan serius.


Jujur, Fany sebenarnya merasa takut. Takut di tinggalkan sendirian, namun ia juga takut jika ikut bersamanya.


"Tapi janji ya jangan macem-macem. Awas aja kalo sampe ngapa-ngapain aku!" ucap Fany dengan menatap Ardhi.


"Gak usah mikir kemana-mana." ucap Ardhi dengan tersenyum sembari mengacak puncak kepala Fany yang kemudian turun dari mobil. Dilihatnya, Fany juga turun dari mobil dan menghampirinya.


Ardhi menautkan jemarinya di jemari Fany. Mereka pun berjalan memasuki pintu lift menuju apartemennya yang berada di atas.


Beberapa saat setelah lift sampai di atas, lift pun terbuka. Fany terlonjak kaget oleh seseorang di luar lift yang tengah menunggu akan masuk ke lift. Seorang perempuan dengan rambut yang panjang tergerai lengkap dengan dress panjang berwarna putih.


Perempuan itu membawa tas kecil lalu tersenyum dan melangkahkan kakinya memasuki lift. Fany membalas senyuman itu dengan rasa takut sembari melangkahkan kakinya keluar bersama Ardhi. Lift pun tertutup.


"Astaga aku kira hantu beneran loh. Kamu tau dia siapa?" ucap Fany dengan heran sembari merangkul lengan Ardhi erat.


"Aku nggak kenal. Kayaknya penghuni baru deh." ucap Ardhi dengan tenang.


"Jadi makin serem aja ya disini." ucap Fany dengan bergidik ngeri.


"Karena kamu belum terbiasa aja jadi ngerasa serem. Yuk masuk." ucap Ardhi setelah menekan beberapa password.


Fany buru-buru masuk ke dalam dan menenangkan rasa takutnya.


"Udah gak usah takut. Nggak ada apa-apa disini." ucap Ardhi dengan menatap Fany.


"Iya iya. Dah kamu cepetan ambil laptopnya." Ucap Fany dengan setenang mungkin lalu duduk di sofa.


"Tunggu sini bentar ya." ucap Ardhi yang kemudian pergi membuka pintu kamarnya karena laptopnya berada di dalam kamar.


Fany memperhatikan setiap sudut ruangan. Ia meletakkan tasnya di atas meja lalu ia pun berjalan ke arah dapur untuk mengambil minum karena tenggorokannya terasa kering. Setelah selesai, Fany pun keluar dari dapur menuju ruang utama tadi. Dilihatnya Ardhi baru keluar dari dalam kamar sembari membawa laptopnya.


"Dari mana kamu?" ucap Ardhi.


"Minum." ucap Fany dengan singkat.


"Ohh gitu..." ucap Ardhi yang kemudian duduk sofa dengan membuka laptopnya.


Fany pun kembali duduk di sofa. Karena untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, Fany duduk disofa seberang. Dan hal itu membuat Ardhi meliriknya sesaat karena heran.


Tanpa terpikirkan oleh Fany, Ardhi pun berdiri dan kembali duduk di samping Fany. Fany pun harus waspada untuk kesekian kalinya.


"Kenapa duduk aja menjauh?" ucap Ardhi dengan tenang sembari menatap layar laptopnya.


"Nggak apa-apa. Takut aja gangguin kamu." ucap Fany dengan tersenyum.


"Gangguin apa sih sayang... Sebentar lagi kamu itu tunangan aku. Apapun tentang kamu itu nggak jadi masalah buat aku ya. Jadi jangan merasa kalau kamu ganggu aku. Aku sama sekali nggak pernah terganggu sama kamu." ucap Ardhi dengan menatap kedua mata Fany.


"Emm iya aku ngerti. Tapi kan tetep gak enak dong orang kamu lagi kerja." ucap Fany dengan tenang.


"Aku suka kamu ada disampingku. Bahkan aku udah nggak sabar untuk segera nikahin kamu biar kamu selalu ada disini setiap saat." ucap Ardhi dengan tersenyum dengan satu tangannya mengelus rambut panjangnya Fany.


"Emmm, kamu udah janji loh ya bakal nungguin aku sampai lulus dulu. Kamu harus sabar dong..." ucap Fany dengan tersenyum.


"Iya aku bakal nungguin kamu sampai kapanpun. Tapi begitu kamu udah lulus, kita langsung nikah." ucap Ardhi tak terbantahkan.


"Yah masa aku nggak kerja dulu? Ngapain aku susah-susah kuliah kalo nggak ngerasain dunia kerja?" ucap Fany protes.


"Salah kamu sendiri kan, ngapain harus kuliah segala. Kamu itu kerjanya sama aku aja. Kamu nggak perlu kerja kemana-mana, cukup dirumah kerja buat aku." ucap Ardhi dengan tenang namun membuat Fany melongo.


"Iya nggak bisa gitu dong!" ucap Fany.


"Oke , kamu boleh kerja apa aja terserah kamu. Yang terpenting, tugas kamu ke aku nggak lupa." ucap Ardhi dengan tersenyum yang kemudian langsung mencium bibir Fany tanpa aba-aba.


Ardhi benar-benar membuat Fany gila. Fany selalu takut terjadi apa-apa karena disini ia hanya berdua. Dan orang lain pun pasti tidak ada yang mengetahui.


Fany mendorong Ardhi dengan kuat dan menyudahi permainannya. Ardhi pun memandangnya dengan tenang lalu lagi-lagi menngecupnya sesaat.


"Udah!" ucap Fany dengan membungkam mulutnya dengan telapak tangannya sendiri. Ardhi justru tersenyum melihat kekasihnya seperti itu.


"Iya iya udah. Besok lagi ya. Udah yuk kita berangkat." ucap Ardhi dengan santai dan mengajak Fany pergi.


Mereka menuju mobil sembari merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena ulah kekasihnya tadi. Akhirnya pergi ke suatu tempat untuk menemui rekan kerjanya.


❤️


❤️


❤️


❤️l.a.f🌻❤️

__ADS_1


__ADS_2