
Udara dingin dan segar terasa sangat nyaman. Ia memandang lagi gedung yang menjulang tinggi ke langit itu dengan tersenyum samar. Dan tak lama , ia pun keluar dari taksi yang ia tumpangi.
Ia membungkuk mengucapkan terimakasih setelah membayarnya. Dengan langkah yang tenang sembari menikmati angin yang bertiup sedikit kencang , ia berjalan memasuki area kantor.
Sampai di gerbang utama , ia berpapasan dengan mobil yang hendak keluar. Namun ia tak mempedulikan itu. Ia hanya meneruskan langkahnya yang terhalang rambut yang sebagian menutupi wajahnya karena tertiup angin.
Ia pun melangkah ke pintu masuk.
"Permisi..." ucapnya.
...
---☃️
Dalam perjalanan , rintik hujan mulai turun kembali. Dan entahlah sampai detik ini pun tunangannya belum juga memberikan kabar. Ia pun berniat pergi ke villa pribadinya untuk menenangkan diri. Ia hanya butuh kedamaian untuk mengembalikan moodnya agar membaik.
Lima belas menit ia mengemudi , ponselnya berdering dan menampilkan sebuah panggilan masuk. Akhirnya , yang ia tunggu-tunggu sedari pagi muncul juga. Ardhi pun menepikan mobilnya dan menjawab panggilan itu.
"Iya..." ucap Ardhi dengan mematikan mesin mobil.
"Kamu dimana sekarang?" ucap Fany bertanya.
"Aku lagi dijalan ini. Ada apa?" ucap Ardhi dengan tenang.
"Di jalan? Kamu gak dikantor?" ucap Fany bertanya lagi.
"Enggak , baru aja keluar. Ada apa?" ucap Ardhi.
"Kamu marah ya? Aku dari tadi pagi sibuk." ucap Fany.
"Aku tau kamu sibuk. Ya udah deh lanjutin aja dulu kesibukan kamu." ucap Ardhi dengan santai namun dalam hati sungguh sangat kesal.
"Aku tau kamu marah. Mau pergi kemana kamu?" ucap Fany.
"Aku cuma mau ke villa." ucap Ardhi.
"Ngapain ke villa? Sama siapa?" ucapan Fany membuat Ardhi gerah.
Ardhi menghela nafas berat sembari melepaskan dasi yang melilit kerah bajunya.
"Astaga sayang... Kamu tau gak sih aku tu kangen banget sama kamu. Kamu malah seenaknya aja nanya aku ke villa sama siapa segala. Jangan bikin aku tambah kesel deh." ucap Ardhi yang terdengar seperti seseorang yang sedang mengeluh , emosi , marah namun terdengar manja pula.
Fany yang mendengar pun bingung harus menanggapi bagaimana.
"I-iya terus aku harus gimana... Aku juga kangen , emang kamu pikir cuma kamu doang yang kangen? Aku juga kali!" ucap Fany dengan tenang.
"Ya udah kalo gitu , kamu masih ada kelas nggak? Aku jemput sekarang juga." ucap Ardhi.
"Udah selesai sih , tapi aku bawa mobil sendiri. Ntar gimana mobilnya?" ucap Fany yang tampak berpikir.
"Biar di ambil sama asisten rumah ku. Sekarang aku jemput kamu." ucap Ardhi yang kemudian memutuskan panggilan telepon duluan.
Ardhi mengemudi kan mobil dan melaju dengan kecepatan yang lumayan tinggi karena jalanan sedikit lengang. Butuh waktu sekitar tiga puluh menit untuk sampai di kampus tunangannya itu.
))))*((((
Usai mengemasi bukunya , Fany keluar dari kelas. Ia turun ke lantai dasar dan berjalan menyusuri koridor kampus. Untuk sampai ke parkiran , ia harus melewati depan kantin.
Sialnya , Fany justru melihat Rifki sedang bersama Laura disana. Mereka sedang mengerjakan tugas dari dosen sembari makan dan minum.
Entahlah , akhir-akhir ini ia memang sering sekali melihat keduanya yang tampak semakin dekat. Dan Fany bersyukur dengan itu. Karena tak kan ada yang mengusiknya lagi.
Fany memfokuskan langkah kakinya menuju parkiran. Ia menuju arah mobilnya dan membuka pintu penumpang. Ia memasukkan buku-buku tebalnya kesana. Lalu ia mengambil tas kecil , dompet , dan tak lupa ponselnya.
Fany menunggu Ardhi di depan mobilnya karena hujan masih betah saja turun tiada henti-hentinya.
Beberapa saat kemudian , mobil hitam yang tak asing lagi dimata Fany berhenti didepan tepat. Lalu keluar lah lelaki tampan yang sedang marah dan juga yang sedang ia rindukan.
"Mana kunci mobilnya?" ucap Ardhi tanpa menyapa terlebih dahulu.
Fany pun menyerahkan kunci mobil tanpa ekspresi. Ardhi pun menerimanya dan berjalan ke arah scurity.
"Pak , tolong nitip mobil ya. Nanti biar di ambil sama orang ini." ucap Ardhi dengan sopan sembari menunjukkan foto asisten rumahnya pada scurity itu.
"Sebentar , saya fotonya dulu. Biar nggak lupa sama foto wajahnya." ucap scurity itu sembari memotret foto yang ada di ponsel Ardhi. Lucu memang.
"Sudah. Oke nanti saya berikan ke orang ini." ucap scurity itu dengan ramah.
__ADS_1
"Baik , terima kasih banyak ya pak. Kalo gitu saya permisi." ucap Ardhi dengan tersenyum dan berlalu.
Disaat ia berbalik, ia melihat Fany sudah masuk kedalam mobil lebih dulu. Ardhi pun juga segera masuk ke dalam mobil pula. Ia memandang Fany sesaat dimana saat itu Fany sedang bermain sosial media miliknya.
"Sibuknya sibuk kayak gini toh ternyata." ucap Ardhi dengan wajah datar sembari mengulurkan tangannya menarik sabuk pengaman dikursi Fany untuk memasangnya.
"Astaga , aku main hp juga cuma sebentar karena lagi nungguin kamu doang tauk!" ucap Fany dengan kesal sembari menatap wajah Ardhi yang berada di depannya. Namun yang ia tatap fokus mengaitkan sabuk pengaman.
"Kalo gitu kenapa gak langsung pake seat belt pas aku udah masuk mobil? Malah fokus hp mulu bukannya ditaroh hpnya." ucap Ardhi dengan tangan sibuk memakai sabuk pengaman di kursinya sendiri.
Fany terdiam dan menghela nafas panjang , kalau sudah begini akan tetap ribut jika ia tak meminta maaf dengan segera.
Ardhi melajukan mobilnya ke jalan raya dengan kecepatan sedang. Matanya pun fokus menatap jalanan didepan yang sudah mulai ramai karena kini saatnya jam makan siang.
Sementara , si hujan tak peduli waktu rupanya. Sudah siang yang seharusnya panas kini masih saja dingin karena rintiknya yang terus berjatuhan. Rintik yang mengiringi perjalanan mereka dimana dalam perjalanan itu masih sunyi tak ada yang memulai berbicara.
Mobil kian jauh dan lima belas menit berlalu dengan cepat. Ardhi sibuk dengan pikirannya yang terasa berat. Ardhi pun memperlambat laju mobilnya dan mengemudi dengan santai.
"Kamu mau makan apa?" tanya Ardhi dengan tenang tanpa mengalihkan pandangannya.
"Apa aja terserah." ucap Fany dengan tenang sembari menatap sisi kiri jendela melihat luar.
Ardhi memandangnya , rasanya gemas sekali ia saat ini. Ia sangat merindukannya tapi kenapa justru keadaannya seperti ini?
"Kamu tadi bilang katanya kangen juga sama aku , tapi kenapa kayak gitu? Lihatin luar mulu emang diluar ada apaan sih?" ucap Ardhi dengan santai yang sukses membuat Fany tambah kesal dengan perasaannya sendiri.
"Tuh kan malah diem aja. Aku salah ya? " ucap Ardhi lagi.
"Udah deh , ayo makan dulu aku laper butuh tenaga aku tuh kalau mau dengerin kamu yang marah-marah terus." ucap Fany dengan kesal.
"Nah kan... Ya udah kita makan dulu deh." ucap Ardhi dengan tersenyum.
Perlahan Ardhi melajukan mobilnya ke area parkir restoran. Disaat mobil sudah berhenti , ia keluar lebih dulu. Ia sebenarnya berniat membukakan pintu mobil untuk Fany , namun Fany justru sudah keluar dengan sendirinya.
Ardhi pun menatapnya dari depan mobil dengan heran. Ada masalah apa sih sebenarnya?
Ardhi meraih jemari Fany dan menggandengnya lalu berjalan masuk ke dalam restoran. Sampai didalam , Ardhi memilih kursi dekat dengan kaca agar bisa memandang suasana luar.
"Kamu mau makan apa? Nih kamu aja yang pilih." ucap Ardhi memberikan daftar menu pada Fany.
"Belum , kamu yang pesen. Makan sama minumnya samain aja." ucap Ardhi dengan menopang dagunya.
Setelah membolak-balik buku menu , Fany pun akhirnya hanya memesan dua steik dan dua orange juice. Setelah waiters itu pergi , Fany salah tingkah sendiri disaat ia menyadari bahwa sedari tadi ia ditatap tanpa kedip oleh manusia tampan di hadapannya itu.
"Apaan sih lihatin gituh? Kesambet ntar!" ucap Fany yang kemudian memalingkan wajahnya ke luar.
"Kita ada masalah apa sih sebenarnya? Kenapa jadi kayak uring-uringan mulu dari tadi?" tanya Ardhi dengan tenang.
"Tanya aja sama diri kamu sendiri." ucap Fany dengan datar.
"Iya aku tau , aku tadi sempet marah sama kamu. Tapi udah lah dilihat orang-orang tuh kalo kamu lagi ngambek. Kalo mau ngambek nanti lagi aja kalo udah keluar dari sini." ucap Ardhi dengan tenang dan lirih karena tak ingin ada yang mendengar.
'Astaga ini cowok ada-ada aja yah!' ucap Fany dalam hati.
Bagaimana caranya menjeda rasa kesal? Sungguh menyebalkan sekali lelaki itu.
Tak terasa , hidangan pun telah sampai dimeja.
"Terimakasih." ucap Fany dengan tersenyum pada waiters , dan beruntungnya waiters itu kebetulan laki-laki. Waiters itu tersenyum pula sebelum akhirnya pergi.
Dan hal itu membuat Ardhi menatap sinis. Bisa saja perempuan yang ia rindukan itu malah tersenyum manis kepada orang lain.
"Cepetan makannya , aku buru-buru." ucap Ardhi yang sedang mengaduk-aduk jus jeruk di depannya.
"Heemm." ucap Fany dengan deheman saja yang kemudian memotong daging dihadapannya.
Keduanya pun makan dengan tenang tanpa ada suara.
Beberapa saat kemudian , mereka telah selesai makan. Dengan cepat , keduanya melangkah pergi dari restoran itu. Ardhi kembali melanjutkan mengemudikan mobil di jalanan yang sudah tampak sepi lagi.
"Sayang..." ucap Ardhi memanggil Fany yang masih saja terdiam padahal mobil sudah melaju cukup lama.
Ardhi berniat meraih jemari Fany namun ketika hendak ditariknya , tangan itu terasa berat. Ardhi menghela nafas kasar. Sungguh ini membuat kesabarannya menipis. Ingin rasanya ia menerkam gadis itu saat ini juga.
"Astaga sayang... Jangan buang kesabaran aku deh." ucap Ardhi dengan sedikit mengeluh.
"Kenapa sih?" tanya Fany.
__ADS_1
"Kamu yang kenapa. Enggak biasanya loh kamu kayak gini sama aku. Cuma gara-gara tadi aku marahin kamu? Oke aku minta maaf soal itu." ucap Ardhi dengan setenang mungkin.
Fany terdiam tak menjawab apapun. Ia sendiri pun sebenarnya bingung harus berbicara apa.
"Cewek tuh susah ya , kalau kangen itu bilang aja langsung nggak perlu ngajak ribut segala. Lagian biar apa sih ngajakin ribut. Di ajak jalan ngambek , nggak di ajak jalan tambah ngambek. Kalau kayak gini , cowok tuh jadi serba salah. Bingung salahnya apa aja dan dimana aja." ucap Ardhi dengan mengeluh.
"Apa-apaan sih , aku nggak ngajakin ribut ya! Kamu duluan yang bikin ribut." ucap Fany yang akhirnya bicara juga.
"Aku udah minta maaf kan sayang? Harus berapa kali aku minta maaf ke kamu?" ucap Ardhi dengan sabar.
"Seribu kali. Itu pun belum cukup kalau kamu masih marah-marah gak jelas ke aku lagi hanya karena masalah sepele. Cuma karena main hp doang gak ada lima menit malah bilangnya asal-asalan aja. Aku kalau sibuk ya sibuk beneran. Ngapain aku bohong , buat apa juga? Aku itu anak kuliahan yang lagi banyak tugas-tugasnya. Kamu juga pernah kuliah kan? Harusnya kamu juga tau sesibuk apa. Dan lagi..." ucap Fany terhenti disaat bibirnya disentuh dengan jari telunjuk Ardhi.
Benar-benar , cewek sekalinya ngomong satu abad juga tak kan pernah selesai.
"Kita udah sampai. Ayo turun. Lanjutkan omelan kamu itu didalem nanti." ucap Ardhi yang kemudian keluar dari dalam mobil.
Fany masih tak berkutik dari kursinya. Ia melihat Ardhi yang kini sedang berjalan menuju pintu villa. Namun sedetik kemudian ia menghentikan langkahnya tatkala ia menyadari bahwa Fany belum juga turun dari mobil. Dengan sabar , ia berbalik lagi ke mobil.
Ardhi membuka pintu mobil untuk Fany. Di dalam , Fany masih bersandar dengan malas. Ardhi pun membungkukkan badannya dan melepas sabuk pengaman. Ia berhenti tepat di depan wajah Fany. Ia tak bisa berpaling lagi dari wajah cantik itu.
"Mau turun apa enggak?" tanya Ardhi dengan tenang yang penuh sekali dengan rasa sabar.
"Ngapain kesini?" ucap Fany bertanya dengan memberanikan diri menatap mata lelaki itu.
Bukan menjawab. Ardhi justru mencium bibir yang sangat bawel itu dengan sengaja. Tak lama , ia menyudahinya. Ia melihat wajah Fany itu sedikit memerah.
"Mau turun apa enggak? Mau jalan sendiri atau perlu aku gendong?" ucap Ardhi yang membuat Fany kesal.
"Gak perlu. Aku bisa jalan sendiri. Minggir!" ucap Fany dengan memukul lengan Ardhi yang masih menguncinya.
Ardhi pun keluarkan kepalanya dan berdiri diluar menunggu sang tunangan keluar.
"Untung aku cowok yang stok sabarnya banyak. Coba kalo nggak punya stok. Gak ngerti lagi kayak apa sekarang." ucap Ardhi sembari mengajak Fany jalan menuju pintu dan masuk kedalam.
"Bodo'amat!" ucap Fany menanggapi.
Ucapan Fany membuat Ardhi menatapnya lagi dengan kesal. Tak sia-siakan kesempatan yang ada , ia meraih tubuh Fany lalu membopongnya dan menidurkannya di sofa.
"Apaan sih! Jangan macem-macem yah! Lepasin gak!" ucap Fany dengan memukul-mukul dada Ardhi.
Hanya dengan satu tangan , Ardhi mampu mengunci Fany sampai tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ardhi yang kesal namun sangat gemas sekali pada gadis itu. Ingin ia benar-benar memangsanya.
"Kamu itu jangan bikin kesel mulu. Kalau nggak mau terjadi apa-apa , jangan suka mancing-mancing kesabaran aku sayang. Aku gak bisa jamin kamu bakal aman kalau kamu kayak gini terus sama aku." Ucap Ardhi dengan tenang dan di akhiri dengan kecupan manis di bibirnya beberapa sesaat.
Seusai itu , Ardhi mengecup kening Fany dan melepaskan tangan yang ia kunci. Ardhi pun meluruskan duduknya dan berdiri.
"Mau kemana?" tanya Fany dengan posisi terduduk sembari merapikan rambut panjangnya.
"Mau tidur." ucap Ardhi yang masih berdiri sembari melihat jam tangannya.
"Tidur?" tanya Fany memastikan.
"Iya. Aku kesini cuma mau tidur doang. Kenapa?" ucap Ardhi dengan santai. "Mau ikut? Ayo..." ucap Ardhi dengan tersenyum sembari mengulurkan tangannya.
"Apa-apaan kamu itu? Aneh! Tidur doang ngapain harus ke villa segala sih?" ucap Fany dengan heran sembari memalingkan muka.
"Mulai lagi bawelnya , dasar cewek. Terserah kamu aja deh mau gimana." ucap Ardhi yang kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan Fany yang masih duduk termenung sendirian.
"Astaga! Gue ditinggalin sendirian lagi! Tau gini mending gak usah ikut." ucap Fany dengan ketus.
Fany pun melangkahkan kakinya ke arah taman. Ia membuka pintu dan melihat taman yang indah itu terguyur rintik hujan. Hatinya tersentuh. Ia menyukai hujan. Saat itu juga tanpa berpikir panjang , Fany melepas sepatunya dan berjalan diatas rumput tanpa menggunakan alas kaki.
Fany menikmati rintik hujan yang mulai membasahi tubuhnya. Ia menengadahkan wajahnya ke atas dan merasakan air yang berjatuhan ke wajah cantiknya.
Sungguh hal yang sering kali di lakukannya sewaktu ia masih kecil , hal yang sangat menyenangkan.
Ternyata , bahagia itu sesederhana ini ya...
❤️
❤️
❤️
❤️
❤️l.a.f((🌻❤️
__ADS_1