
Harapan tinggallah harapan semata. Ia tak menginginkan hal ini terjadi.
Tak ada cara lain , lelaki itu akhirnya mencari minyak angin untuk menyadarkan gadis itu.
Kembalinya ke dalam kamar , gadis itu masih memejamkan mata. Ardhi pun menghampirinya dan duduk di tepi ranjang.
"Yuna... Bangun yuk , please bangun." ucap Ardhi sembari mencoba memberikan aroma minyak angin didepan hidung Yuna.
Tak lama kemudian , akhirnya Yuna pun siuman. Gadis itu mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Pandangannya tampak buram ketika ia melihat seseorang berada di hadapannya.
"Yuna , syukurlah kamu udah sadar." ucap Ardhi dengan tersenyum lega.
"Ini dimana?" tanya Yuna.
"Kita di hotel." ucap Ardhi dengan tenang.
"Hotel? Kenapa bisa?" ucap Yuna kaget dan berusaha bangun untuk duduk.
"Tadi waktu kita di pantai kamu nangis mulu kan , mungkin karena itu kamu sampai pingsan. Aku bingung mau bawa kamu kemana. Ya jadi aku ke hotel ini aja tempat terdekat." ucap Ardhi menjelaskan.
"Aku pingsan? Sampai segitunya?" ucap Yuna sembari mengusap wajahnya.
"Kamu minum dulu." ucap Ardhi dengan memberikan sebotol air mineral.
"Iya makasih ya. Kamu baik banget sama aku. Aku juga gak nyangka kalau aku pakai pingsan segala." ucap Yuna yang kemudian minum beberapa teguk.
"Kamu tuh kecapekan. Kamu terlalu bodo'amat sama kondisi kamu. Jadinya pingsan deh." ucap Ardhi.
"Iya aku emang gak peduliin keadaan aku sendiri. Terus ini udah malem ya? Kita mau tetep stay disini atau gimana?" tanya Yuna.
"Jarak hotel ke rumah kamu tuh butuh waktu berjam-jam loh dan sekarang itu malam. Kamu tau sendiri udara malam disini kayak gimana. Kamu yakin gak tubuh kamu kuat kalau kita lanjutin perjalanan pulang?" ucap Ardhi dengan santai.
"Sebenarnya kepala aku masih pusing. Tapi..." ucap Yuna dan menggantungkan ucapannya.
"Tapi kenapa?" ucap Ardhi heran.
"Enggak apa-apa sih. Kamu tidur dimana nanti?" ucap Yuna dengan tatapan polos.
"Aku? Oh tenang aja , aku tidur dimana aja bisa kok." ucap Ardhi dengan tenang.
"Iya deh." ucap Yuna dengan setenang mungkin mengingat malam ini ia akan bermalam bersama lelaki yang masih memiliki tempat tersendiri di lubuk hatinya.
"Karena kamu lagi gak enak badan , kita makan disini aja ya. Kamu mau makan apa? Biar aku pesenin sekarang." ucap Ardhi.
"Apa aja terserah kamu deh." ucap Yuna.
"Ya udah , nih aku udah pesen makanan. Kamu istirahat aja dulu ya , aku mau mandi sebentar." ucap Ardhi.
"Kamu belum mandi?" ucap Yuna.
"Belum lah , tadi kan ngurusin kamu biar cepat sadar." ucap Ardhi.
"Oh gitu , ya udah deh. Kamu mandi dulu." ucap Yuna.
"Iya , sebentar doang kok gak lama." ucap Ardhi yang kemudian keluar kamar dan bersiap mandi. Ardhi pun membawa perlengkapan baju ganti kedalam kamar mandi.
...----------------...
"Kenapa gak kasih kabar sih? Nih orang lagi ngapain coba..." ucap Fany dengan hati kesal.
Fany tampaknya merasa gelisah dan hatinya pun tak tenang. Ia pun mencoba menghubungi nomor whatsApp lelaki yang sedang ia rindukan itu.
Panggilan terabaikan begitu saja. Dua bahkan sampai tiga kali ia mencoba menelpon , namun tetap masih terabaikan.
"Tenang. Jangan emosi. Biarin aja dulu." ucap Fany dengan meletakkan ponselnya di ranjang.
Fany pun keluar dari kamar , ia turun kebawah menuju ruang makan. Ia membuka kulkas dan memotong cake cokelat yang baru ia beli tadi siang.
Dengan tangan kiri membawa cake dan tangan kanan memegang sebotol air mineral dingin , Fany melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga untuk menonton televisi.
Mata memang terus memandang layar televisi yang sesekali melihat cake dan menyendoknya untuk dimakan. Namun perhatian pada alur drama di televisi semakin lama semakin berantakan.
Hati juga perasaan yang membuatnya berantakan. Setenang mungkin menikmati hidup , mencoba bersikap acuh. Namun faktanya , pikiran tetap kemana-mana.
Fany menghembuskan nafasnya kasar.
"Biarin aja. Aku yakin dan aku percaya dia orang yang baik. Semoga dia cepat pulang." ucap Fany dengan tersenyum menenangkan hatinya sendiri.
...----------------...
Yuna mendengar bel berbunyi , mungkin itu adalah staf hotel yang mengantarkan pesanan makanan.
Ardhi belum juga keluar dari kamar mandi , maka akhirnya Yuna pun bangun dan menuju pintu untuk mengambilnya. Beberapa kotak makanan pun Yuna bawa masuk kedalam.
Yuna meletakkan makanan di atas meja dan duduk di sofa. Di atas meja juga tergeletak ponsel milik Ardhi. Sebenarnya , ada rasa ingin tahu dan ingin sekali ia mencoba membuka ponsel itu. Namun , ia takut jika Ardhi mengetahuinya. Lagipula , itu adalah sebuah privasi orang lain.
"Eh , udah dateng makanannya? Di buka dong terus dimakan jangan cuma dilihatiin." ucap Ardhi dengan santai sembari mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil.
Sesaat , Yuna merasa terpana dengan ketampanan lelaki itu. Betapa tidak , muncul tiba-tiba dengan wajah segar. Sempurna. Satu kata yang hanya bisa ia ucap dalam hati untuk lelaki itu.
"Iya. Baru aja kok datangnya." ucap Yuna dengan menatap kotak makanan itu lagi. Jantungnya berdegup kencang sekali.
Ardhi duduk di samping Yuna lalu ia menyalakan televisi. Disampingnya , Yuna menuangkan minuman pada dua gelas. Lalu ia meminumnya lebih dulu. Ya , karena tiba-tiba saja tenggorokannya terasa sangat kering.
__ADS_1
"Oh iya , kamu masih pusing nggak? Makan yang banyak sama minum air mineral yang cukup biar cepat sembuh ya." ucap Ardhi dengan tenang sambil sesekali menatap Yuna dan juga membuka makanan di atas meja.
"Iya. Kok kamu seperhatian gini ke aku? Tumben." ucap Yuna yang juga sesekali melirik wajah Ardhi.
"Emang kenapa? Kamu nggak suka ya?" ucap Ardhi dengan santai dan fokus menatap Yuna yang kini sedang menata perasaannya.
"Bukan gitu , kayaknya kamu nanti bakal bikin aku susah tidur nyenyak deh." ucap Yuna yang terus bersikap biasa saja dan mulai mengambil sushi untuk ia makan.
"Kenapa bisa gitu?" ucap Ardhi bertanya dan juga mulai makan.
"Ya iyalah , siapa sih yang bisa biasa aja kalau kayak gini ceritanya? Perhatian kamu , sikap kamu , dan tatapan mata kamu itu susah banget mau di abaikan gitu aja tuh." ucap Yuna yang memang jujur.
"Segitunya ya?" ucap Ardhi yang kini justru malah tersenyum.
"Ih nyebelin!" ucap Yuna yang kemudian fokus pada makanan.
"Udah , makan aja dulu." ucap Ardhi dengan santai.
Yuna melanjutkan makan dengan perasaan yang entah mengapa terasa sangat kacau. Perasaan itu benar-benar tidak bisa ia ajak berkompromi. Mau bagaimana lagi? Ia masih sangat menyayangi dan mencintai lelaki itu.
Harapan manusia memang kadang tak sesuai dengan takdir yang sudah Tuhan gariskan. Dan lagi-lagi kembali pada satu titik dimana ia harus menerima hidupnya.
Ardhi pun meraih ponselnya. Baru juga ia ingin membuka smartlock , ponsel mati tiba-tiba karena kehabisan baterai. Ardhi pun berdiri dan mencari charger untuk mengisi daya ponselnya. Setelah itu , ia pun kembali lagi duduk disamping Yuna.
"Besok gimana?" ucap Ardhi dengan melirik Yuna sesaat.
"Apanya?" ucap Yuna bingung dengan apa yang di maksud Ardhi.
"Itu , besok pagi kita mau gimana? Mau aku anterin pulang atau mau pulang sendiri?" ucap Ardhi dengan tenang.
"Sayang banget ya , waktu aku tinggal semalam." ucap Yuna yang kemudian meneguk air mineral dari dalam gelas.
"Masih kurang? Kurang apa lagi?" ucap Ardhi dengan menatapnya.
"Kenapa nanya gitu? Mau nurutin kemauan aku?" ucap Yuna menatapnya juga.
Ardhi tersenyum.
"Mau. Tapi jangan yang aneh-aneh ya." ucap Ardhi dengan tenang sembari menyandarkan tubuhnya pada sofa lalu menonton televisi.
"Beneran?" tanya Yuna karena ia merasa tak yakin.
Ada apa dengan lelaki disampingnya ini? Kenapa sekarang sikapnya seperti ini? Seolah-olah kini mereka adalah sepasang kekasih yang saling menyayangi satu sama lain.
Tatapan mata lelaki itu sangat menghanyutkan , begitupun suara lembutnya yang terdengar seperti syair. Tak lupa , senyumannya pun dapat di katakan senyuman maut.
Malam ini adalah malam yang tidak akan pernah terlupakan untuk Yuna. Suatu hal seindah ini , mungkin akan ia kenang sampai pada waktunya ia menutup usia.
"Udah kenyang. Kamu aja habisin itu biar cepet sembuh." ucap Ardhi dengan tenang.
"Aku udah sembuh. Udah gak pusing kok." ucap Yuna sembari membereskan sisa makanan di atas meja agar rapi tidak berantakan.
"Seriusan?" ucap Ardhi yang langsung menyentuh dahi Yuna. Ia mengecek apakah suhunya sudah normal atau belum.
"Udah sembuh aku tuh." ucap Yuna sembari menatapnya dengan ekspresi wajah yang lucu.
"Iya iya percaya kok. Ya udah , ini belum malem banget sih. Tadi kamu mau apa?" ucap Ardhi.
"Apa?" ucap Yuna masih bingung.
"Disekitar sini ada taman kan? Mau kesana?" tanya Ardhi yang juga memberikan saran.
"Boleh tuh. Kita kesana sekarang ya." ucap Yuna dengan tersenyum senang.
"Iya ayok kita kesana." ucap Ardhi dengan tersenyum pula.
"Aku siap-siap dulu sebentar." ucap Yuna yang kemudian masuk ke dalam kamar.
Ardhi tersenyum melihat gadis itu bahagia. Ia berharap setelah malam ini berakhir , esok pagi gadis itu tenang disaat berpisah dengannya. Dan ia ingin melihat gadis itu tersenyum ketika pulang kerumahnya.
"Ayo. Aku udah siap." ucap Yuna menyadarkan Ardhi dari lamunannya.
"Iya , oke kita berangkat." ucap Ardhi yang kemudian mematikan televisi dan langsung meraih jaket.
Tanpa basa-basi , Ardhi dan Yuna pun berangkat. Keduanya pun turun dengan lift untuk menuju lantai dasar.
"Eh , aku lupa gak bawa hp." ucap Ardhi begitu mereka sudah sampai di luar hotel.
"Kan tadi hp kamu baru di cas." ucap Yuna.
"Oh iya ya. Biarin lah , paling juga belum penuh." ucap Ardhi dan kini mereka pun melanjutkan perjalanan.
Di luar udara malam terasa lebih dingin. Ardhi pun memakai jaketnya. Namun , sedetik kemudian ia melirik Yuna yang hanya memakai dress. Dress yang tampaknya tidak terlalu berbahan tebal.
Entahlah , perasaan seorang lelaki yang peka dengan situasi itu pun akhirnya tergerak. Ardhi pun berhenti melangkah dan melepaskan jaketnya , lalu ia memakaikan jaketnya pada tubuh Yuna.
"Nggak usah. Aku nggak apa-apa kok. Kamu aja yang pake." ucap Yuna sembari mencoba menolak.
"Aku tau kamu lebih butuh daripada aku. Nggak usah nolak , kamu harus pake jaket biar nggak sakit lagi." ucap Ardhi dengan tenang dan di akhiri dengan senyuman.
"Aku beneran nggak apa-apa kok." ucap Yuna yang tampak pasrah saja di pakaikan jaket oleh lelaki dihadapannya ini.
"Dah , gini kan gak dingin. Jangan bandel dong." ucap Ardhi dengan menepuk pelan pundak Yuna. "Ayo kita jalan lagi." ucap Ardhi sembari menggenggam jemari Yuna dan mengajaknya kembali jalan.
__ADS_1
Seketika , Yuna terdiam dan menundukkan wajahnya menatap genggaman itu.
"Kenapa? Ayo jalan." ucap Ardhi.
"Iya ayo." ucap Yuna yang akhirnya mulai tersenyum.
Malam ini indah sekali. Bulan dan bintang begitu cerah bersinar mewarnai luasnya langit yang tampak remang-remang.
Sempat terlintas bayangan gadis yang hampir saja terabaikan olehnya. Bagaimana keadaannya? Apakah ia baik-baik saja? Apakah ia merindukannya?
Ardhi sangat yakin , tunangannya pasti sedang menantikan kabar dari dirinya. Biar bagaimanapun , gadis yang sedang ia tinggalkan itu adalah gadis yang sedang ia perjuangkan saat ini. Ya , saat ini dan selamanya.
"Kapan terakhir kali kamu berkunjung ke Tokyo?" ucap Yuna bertanya yang sukses membuyarkan isi otak Ardhi.
"Aku? Emm udah lama banget sih. Kenapa?" ucap Ardhi dengan tenang.
"Semudah itu ya kamu bisa lupakan sesuatu. Kamu adalah orang yang pintar." ucap Yuna dengan tersenyum.
"Aku nggak tau lagi harus gimana. Yang jelas , aku di Jakarta terlalu banyak kerjaan." ucap Ardhi dengan santai.
"By the way , kamu sayang banget ya sama cewek kamu yang sekarang?" ucap Yuna.
"Kenapa emang?" ucap Ardhi dengan meliriknya.
"Enggak apa-apa , dia cewek yang beruntung banget bisa dapetin cowok kayak kamu." ucap Yuna.
"Ya gitulah. Aku yang seharusnya banyak bersyukur." ucap Ardhi dengan tersenyum.
"Why?" ucap Yuna.
"Dia gadis yang hampir mendekati kata sempurna." ucap Ardhi.
"Selamat ya." ucap Yuna dengan tersenyum manis.
"Jangan nyerah. Kamu tuh karena belum saatnya aja ketemu sama cinta sejati kamu. Besok kalau kamu udah ketemu , percaya deh. Kamu pasti akan di perlukan seperti ratu." ucap Ardhi dengan tersenyum.
"Aku akan tunggu saat-saat terindah itu." ucap Yuna dengan senyum tenang.
"Percaya sama aku." ucap Ardhi dengan merangkul bahu Yuna dengan tersenyum.
Dalam hati , Yuna benar-benar merasa sebahagia itu.
'Senyaman ini pelukan kamu. Seandainya... Ah udahlah. Gak boleh nangis. Gak boleh. Yuna , kamu harus bisa.' ucap Yuna dalam hati.
"Aku harus percaya dan aku juga harus bisa." ucap Yuna dengan tersenyum dan tampak yakin.
"Nah , gitu dong." ucap Ardhi dengan tersenyum.
Yuna tampak bahagia sekali menikmati langkah-langkah kaki mengukir kenangan itu. Berdua menyusuri taman yang kini tak terlalu ramai pengunjung.
"Aku mau beli jajan." ucap Yuna.
"Mau apa?" tanya Ardhi sembari melirik kanan kiri.
"Apa ya? Es krim aja deh." ucap Yuna.
"Hei emang kamu nggak kedinginan?" ucap Ardhi.
"Haus juga lama-lama. Nggak dingin kok tenang aja. Kamu mau?" ucap Yuna.
"Hem... Kalau aku sih oke aja." ucap Ardhi.
"Oke kita kesana. Disebelah sana ada es krim." ucap Yuna dengan semangat.
"Mau rasa apa?" tanya Ardhi.
"Rasa sayang ada?" ucapan Yuna membuat Ardhi langsung menolehnya.
"Ada." ucap Ardhi dengan tersenyum.
"Mana?" ucap Yuna.
"Yuna... Kita beli sekarang ya. Aku yang bayar. Mau rasa apa kamu?" ucap Ardhi dengan tenang.
"Cokelat aja." ucap Yuna.
"Ya udah kamu duduk aja dulu disini sebentar sambil istirahat. Biar aku yang beli." ucap Ardhi.
"Oke." ucap Yuna dengan tersenyum.
Gadis itu tampak memandang Ardhi yang tengah membeli es krim di kedai yang tak jauh di depannya.
Hati tak bisa bohong. Perasaan yang terlalu lama tercipta itu tak mudah untuk diabaikan begitu saja. Namun jujur , rasanya sesak sekali dibalik senyum manisnya malam ini.
❤️
❤️
❤️
❤️
❤️l.a.f🌻❤️
__ADS_1