
Melihat seseorang yang di cintai bahagia dengan orang lain adalah suatu keadaan yang membuatnya tersiksa dalam diam. Hanya mampu melihat senyumnya dari jauh itu sudah lebih dari cukup. Tak pernah dianggap mungkin sudah jalan di cerita asmaranya.
Kini sudah hampir satu tahun lamanya Rifki hanya bisa memandang jauh gadis yang ia cintai. Selama itu juga ia selalu mengeluh pada dirinya sendiri mengapa sangat sulit menghapus rasa cintanya kepada Fany. Bagaimana tidak sulit jika hampir setiap hari ia masih memandang wajah gadis itu.
"Rif, lo sibuk nggak?" ucap seseorang menyadarkan lamunannya.
Rifki menoleh dan berdirilah gadis manis disampingnya. Ada Laura yang tengah tersenyum menatap dirinya.
"Enggak kok. Ada apa Ra?" ucap Rifki dengan tersenyum.
"Ada apa gimana? Ini tadi kan ada tugas dari dosen kita! Karena kita satu team ya gua maunya kita kerjain bareng dong!" ucap Laura.
"Mana? Duduk dulu lo..." ucap Rifki meminta tablet PC yang di pegang Laura. Laura pun memberikan tablet PC-nya lalu ia duduk di samping Rifki.
"Kita kerjain disini?" ucap Laura bertanya.
"Emm kita kerjain di taman aja yuk..." ucap Rifki memandang Laura sesaat.
"Boleh." Ucap Laura dengan senang hati.
"Ayok..." ucap Rifki dengan berdiri.
Rifki pun berjalan beriringan dengan Laura menuju taman kampus. Sesampainya di taman, Rifki duduk di atas rumput hijau itu dengan menikmati semilir angin. Laura pun ikut duduk disampingnya dan meletakkan tasnya di pangkuannya. Rifki dan Laura pun mulai mengerjakan tugas itu dengan sesekali diselingi oleh canda tawa mereka.
Satu jam berlalu sudah, tugas mereka telah selesai dikerjakan. Rifki dan Laura membereskan buku dan alat tulis yang berserakan di atas rerumputan hijau itu.
Sedetik kemudian, Rifki merebahkan tubuhnya di atas rumput. Ia memandang langit biru yang tampak begitu cerah.
"Gua pergi sebentar ya, jangan kemana-mana lo disini aja tunggu gua balik." ucap Laura yang tanpa menunggu jawaban langsung bergegas pergi entah kemana.
Rifki memejamkan matanya beberapa saat.
"Rif, bangun! Lo tidur ya?" ucap Laura menepuk-nepuk lengan Rifki dengan perlahan.
"Gua gak tidur, silau aja makanya gua merem." ucap Rifki dengan membuka matanya.
"Gua bawain minum nih, minum aja dulu." Ucap Laura memberikan sebotol minuman pada Rifki.
Rifki pun menatap Laura sesaat kemudian ia bangun lalu duduk. Ia menerima minuman dingin kemasan botol itu.
"Makasih ya Ra." ucap Rifki dengan tersenyum.
"Iya." ucap Laura yang kemudian meminum minuman yang ia pegang.
Beberapa menit berlalu dalam keadaan hening. Tak ada yang memulai pembicaraan lagi. Pikiran mereka tengah sibuk sendiri entah memikirkan apa.
"Ra... Lo pernah nggak suka sama seseorang tapi orang itu lebih milih orang lain daripada lo?" ucap Rifki dengan tenang tanpa memandang Laura.
"Lo lagi di posisi itu?" ucap Laura menatapnya.
"Nggak usah balik nanya, gua tanya sama lo." ucap Rifki dengan menatap wajah Laura.
Tanpa ia duga, Laura justru tersenyum manis dan kemudian terkekeh geli.
"Iya iya gua tau lo pasti lagi diposisi ini." ucap Laura yang membuat Rifki gemas.
"Ra..." ucap Rifki menatap Laura.
"Gua pernah. Sakit banget emang. Tiap hari selalu muncul bayangannya. Gua beberapa tahun nggak bisa move on. Bahkan sampai sekarang gua masih ragu mencintai cowok. Tapi akhirnya gua buka lembaran baru di hidup gua buat fokus ke kuliah dan lupain dia dengan cara menyibukkan diri sendiri." ucap Laura dengan tersenyum.
"Gua kira lo punya pacar, ternyata jomblo juga ya. Cantik-cantik jomblo..." ucap Rifki dengan tersenyum. Ucapan Rifki tanpa sadar membuat Laura kesal dan menampar lengannya.
"Gua emang jomblo! Tapi jomblo berkualitas. Ada sih yang nyatain cinta ke gua, tapi gua tolak dulu sementara karena pengen fokus ke kuliah." ucap Laura dengan tenang.
"Apa nggak ada satupun cowok yang lo lirik disini?" tanya Rifki.
"Ada. Tapi gua masih gak yakin." ucap Laura dengan tersenyum.
"Kenapa nggak yakin?" ucap Rifki.
"Takut aja ntar salah lagi. Toh kalo emang ada cowok yang suka sama gua dengan tulus, pasti akan berusaha entah bagaimana pun caranya buat dapetin gua kan..." ucap Laura dengan tersenyum lalu mengalihkan pandangannya. Ia mendongakkan wajahnya menatap langit biru.
Rifki menatap wajah mulus Laura yang diterpa semilir angin. Tak lama kemudian, ia menyadarkan dirinya.
"Emm... Ra..." ucap Rifki terhenti. Terlihat jelas dari raut wajahnya bahwa ia sedang memikirkan sesuatu.
"Ya." ucap Laura dengan memiringkan kepalanya dan menatap Rifki.
__ADS_1
"Gua mau minta tolong sama lo..." ucap Rifki terhenti lagi.
"Apaan?" tanya Laura dengan heran.
"Kalo lo bisa, lo mau nggak nerima gua sebagai pacar lo?" ucap Rifki dengan menatap kedua mata Laura.
"Hhahaha... Ngaco ya lo!" ucap Laura tertawa dengan menutup mulutnya dengan tangannya.
Rifki langsung memegang pergelangan tangan Laura dan menurunkannya. Laura pun berhenti tertawa.
"Ra... Gua serius..." ucap Rifki.
Laura membelalakkan matanya, ia tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia tak menyangka Rifki berbicara seperti itu. Ia akui memang ia menyimpan rasa padanya. Ia memang mengagumi sosok Rifki. Tapi ia takut rasa di hatinya hanya akan tetap menjadi rasanya saja. Ia takut rasa di hatinya yang tidak akan pernah menjadi mungkin.
"Lo seriusan?" ucap Laura.
"Iya. Gua serius." ucap Rifki.
"Apa lo yakin bisa bales perasaan gua?" ucap Laura singkat namun efeknya luar biasa.
"Gua yakin. Lo bisa bikin gua jatuh cinta. Lagi." ucap Rifki dengan tersenyum.
"Kenapa gua harus mengorbankan perasaan gua sendiri buat sesuatu yang akhirnya belum pasti bikin gua bahagia?" ucap Laura dengan tenang.
"Gua janji. Gua akan serius sama lo." ucap Rifki.
"Tapi gimana sama hati lo? Apa hati lo ini bisa lo ajak kompromi?" ucap Laura dengan tersenyum sembari menunjuk dada Rifki.
"Beri gua kesempatan. Gua akan berusaha buat lo." ucap Rifki dengan yakin.
"Kalau gua mau, apa itu artinya gua cewek yang bodoh?" ucap Laura tanpa sadar bahwa kelopak matanya meremang.
"Enggak Ra. Enggak." ucap Rifki.
"Enggak apaan Rif? Gua bodoh kalau gua nerima lo! Gua suka sama lo! Tapi kenapa gua juga yang harus bikin lo jatuh cinta ke gua? Gua tau kisah cinta seseorang itu nggak selalu sesuai dengan harapan, tapi kenapa gua harus kayak gini lagi?" ucap Laura dengan wajahnya yang memerah karena menahan emosionalnya dan juga menahan panasnya terik matahari.
"Lo tenang. Gua akan buktikan kalo gua emang bisa." ucap Rifki dengan menggenggam jemari Laura.
Laura melihat jemarinya yang berada di genggaman Rifki. Ia hanya menatapnya dengan diam.
"Oke. Kamu... Lihat aja nanti..." Ucap Rifki dengan tersenyum pula.
"Hem... Kamu? Aku?" ucap Laura dengan polosnya.
"Iya dong! Masa lo gua mulu nggak enak dengernya..." ucap Rifki dengan pasang muka masam.
"Baiklah..." Ucap Laura dengan tersenyum.
"Ya udah deh, kita ke kelas yuk, panas nih lama-lama disini." ucap Rifki mengajak Laura.
"Ayok..." ucap Laura yang kemudian mengemasi tasnya dan bersiap berdiri.
Rifki mengulurkan tangannya untuk membantu Laura berdiri. Laura pun meraihnya dan berdiri dengan tersenyum. Laura berharap agar perasaannya tidak hancur lagi dan lagi oleh seorang lelaki.
Sampai di koridor kampus, Rifki dan Laura berpapasan dengan Zahra, Airin, serta Fany. Fany yang tampak ceria itu sedang bercanda tawa bersama kedua sahabatnya. Entahlah, rasanya masih terasa sesak didada.
Rifki berusaha menjaga hati untuk gadis yang tengah berada disampingnya ini. Terlihat, Fany menatapnya dengan tatapan datarnya sesaat lalu tersenyum menanggapi sahabatnya kembali.
Fany sibuk dengan pemikirannya, ia tak begitu mengerti tentang siapa gadis yang tengah di gandeng Rifki itu. Yang ia pikirkan hanyalah bagaimana mungkin lelaki itu kini muncul dengan gadis yang setahunya adalah teman satu kelasnya.
Kemunculan gadis itu bersama lelaki yang selalu mengusiknya adalah suatu kebahagiaan untuk Fany. Ia benar-benar berharap semoga Rifki bersungguh-sungguh mencintai gadis itu. Tidak hanya mempermainkan dan tidak menjadikannya sebagai pelampiasan semata.
"Fany lo nanti ada acara nggak? Kita nonton bareng yuk..." ucap Airin bersemangat setelah menceritakan drama Korea yang akan segera tayang.
"Nggak ada acara apapun. Gua mau tuh, dimana nih nontonnya?" ucap Fany dengan tersenyum.
"Di apartemen Airin aja. Sambil perkenalan apartemen barunya dia dong..." ucap Zahra dengan senyum-senyum.
"Oh iya, ide bagus! Gua setuju banget." ucap Fany dengan semangat.
"Tapi jangan bikin onar ya kalian!" ucap Airin dengan masam.
"Bisa di atur kok." ucap Zahra menepuk kedua bahu Airin.
Tiga gadis cantik itu pun bersenda gurau dengan riang layaknya anak kecil sedang bermain. Sampai pada waktunya mereka harus mengikuti kelasnya masing-masing.
Seusai kuliah masing-masing selesai, Fany mengemudikan mobilnya mengikuti mobil didepannya yang di kemudikan oleh Airin dan Zahra. Mereka pun menuju apartemen baru milik Airin yang rupanya lumayan jauh dari kampus.
__ADS_1
Layaknya para remaja kebanyakan, tiga gadis itu bersenang-senang bebas seolah tak ada beban di dalam hidupnya. Tapi kenyataannya, hati mereka sedang dalam keadaan stres.
...----------------...
Malam tiba, Fany duduk di kursi belajarnya dengan menatap layar laptopnya dengan fokus. Ia mengerjakan sedikit tugas yang belum ia selesai tadi. Tanpa sadar ia telah mengabaikan ponselnya yang menampilkan beberapa notif.
Beberapa saat kemudian, ia mendengar tiga kali ketukan di pintu kamarnya. Belum sempat ia menjawab, pintu sudah terbuka dan Mama Vina pun masuk kedalam menghampiri putrinya.
"Masih sibuk ya nak?" tanya Mama Vina.
"Enggak kok ma... Udah selesai ini. Ada apa ma?" ucap Fany dengan menutup buku catatan miliknya beserta laptopnya.
"Ya udah ayo kita turun, ada tamu tuh." ucap Mama Vina dengan tersenyum.
"Tamu? Siapa ma?" ucap Fany dengan penasaran.
"Ada lah, makanya ayo kita turun." ucap Mama Vina.
"Harus ganti baju ngga ma? Masa pake baju tidur gini..." ucap Fany dengan memperhatikan penampilannya yang tengah memakai setelan baju dan celana tidur pendek.
"Nggak apa-apa gitu aja. Ayo cepetan." ucap Mama Vina dengan berjalan lebih dulu.
Fany mengikuti Mamanya sembari merapikan rambut panjangnya yang sedari tadi hanya asal terjedai tampak tidak beraturan. Fany di ajak Mamanya menuju ruang tamu.
Betapa terkejutnya ia ketika ia masuk ke dalam, disana ada Ardhi. Namun Ardhi tidak sendiri. Ardhi duduk dan disampingnya sudah ada kedua orangtuanya.
"Hai Fany... Ya ampun apa kabar sayang? Kamu udah gede ya sekarang... Makin cantik aja kamu nak..." ucap Tante Anisa sembari berdiri dari duduknya lalu menghampiri Fany dan memeluknya.
"Emm Tante bisa aja, baik kok kabarnya. Tante apa kabar? Terus kapan pulangnya kok tiba-tiba udah ada disini?" ucap Fany setelah mereka selesai berpelukan.
"Baik juga kok kabarnya. Udah kemaren sampai sini." ucap Tante Anisa dengan ramah.
"Oh gitu... Ayo Tante duduk lagi..." ucap Fany mempersilahkan. Fany pun menjabat tangan Om Arya dengan sopan.
Setelah berjabat tangan dengan pak Arya, Fany pun juga bersalaman dengan Ardhi yang tengah duduk menatapnya. Tanpa ia duga, Ardhi tak mau melepaskan tangannya Fany namun ia justru menahannya agar duduk di sampingnya.
"Udah duduk aja disitu." ucap papanya Fany dengan tersenyum.
Fany pun tersenyum mengangguk dengan salah tingkah sendiri.
"Ayo kamu bilang, buktikan kalau kamu memang anak papa..." ucap pak Arya berbicara pada Ardhi dengan tersenyum. Ardhi pun tersenyum pula dengan menganggukkan kepalanya.
"Jadi karena Fany udah ada disini, dan saya juga membawa serta papa mama itu bermaksud untuk meminta izin dari Om dan Tante. Saya merasa hubungan kami memang serius dan saya ingin memberikan sebuah kepastian untuk Fany dan untuk keluarga. Saya ingin bertunangan dengan putri Om dan Tante." ucapan Ardhi dengan tenang itu seolah menggema di telinga Fany tiada habisnya.
"Kamu memang seperti papamu ya... Pemberani. Dan untuk permintaan itu, Om sendiri senang sama niat baik kamu. Om tau kamu anak yang baik. Maka, Om pasti mengizinkan kamu. Tapi, kita lihat Fany. Karena semua itu tergantung sama dia. Bagaimana Fany? Kamu mau kan bertunangan dengan Ardhi?" ucap pak Farhan tersenyum sembari memandang putrinya yang sedang menahan gugupnya.
"Em... Itu beneran?" ucap Fany dengan menatap wajah Ardhi disampingnya.
Ardhi menatapnya dengan tersenyum manis serta mengangguk. Fany pun mengerutkan keningnya dengan heran. Ia bingung sendiri harus berkata apa. Ia gugup. Bagaimana tidak gugup, semua mata kini hanya tertuju padanya.
"Gimana sama mama?" ucap Fany dengan memandang Mamanya.
"Mama serahkan ke kamu sayang. Apapun yang sudah menjadi keputusan kamu, Mama akan dukung kamu. Kebahagiaan kamu adalah kebahagiaan Mama juga." ucap Mama Vina dengan tenang.
"Baiklah. Dengan izin dari papa mama, aku mau bertunangan sama kamu. Tapi, ada satu keinginan dari saya om tan... Saya mohon kesadarannya jika berbicara tentang pernikahan. Karena mungkin semua juga tau jika saya memang masih harus menyelesaikan kuliah." ucap Fany dengan setenang mungkin.
"Iya sayang, nggak apa-apa nggak masalah. Kami sebagai orang tua nggak akan memaksa kamu atau memaksa dia harus segera menikah. Kami hanya ingin kalian bertunangan dan terikat. Dan soal pernikahan, kami serahkan kepada kalian berdua." ucap Tante Anisa dengan tersenyum.
"Jadi bagaimana kalau pertunangan itu di lakukan dua minggu lagi?" ucap pak Arya dengan pak Farhan.
"Sebenarnya tidak masalah, tapi apa itu tidak terlalu cepat?" ucap pak Farhan.
"Sepertinya lebih cepat akan lebih baik." ucap pak Arya bersemangat.
"Baiklah, kami setuju." ucap pak Farhan dengan tersenyum.
Entahlah apa yang sedang Fany pikirkan. Sudah beberapa hari ia tidak bertemu dengan kekasihnya namun kini ia masih tak menyangka jika Ardhi memang seberani itu. Lelaki itu benar-benar membuat ia tak henti mengucapkan terimakasihnya kepada Tuhan atas kebahagiaan yang ia rasakan.
❤️
❤️
❤️
❤️
❤️l.a.f🌻❤️
__ADS_1