Love Always Forever (Tanpamu , Bagaimana Aku?)

Love Always Forever (Tanpamu , Bagaimana Aku?)
Dia


__ADS_3

Hari demi hari berlalu terasa begitu cepat , mengkikis waktu didalam kehidupan ini.


Angin bertiup kencang membawa daun-daun kering yang terus berjatuhan bersama rintik air dari langit yang mulai membasahi bumi.


Pagi yang harusnya cerah , kini tampak sendu. Seakan langit sedang menangis tiada henti.


Pagi seperti ini memang saat yang sangat cocok untuk bersembunyi di balik selimut tebal. Namun , Fany harus menolak hal itu karena ia harus pergi ke kampus.


Fany buru-buru berangkat karena ia harus pergi ke apartemen sang kakak untuk mengambil laptopnya. Laptop yang sangat penting untuk dirinya namun ia benar-benar lupa membawanya pulang. Ia dua hari yang lalu sempat berkunjung ke apartemen kakaknya karena rindu.


Dalam perjalanan , hujan masih saja turun dengan deras. Ia pun mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Hingga akhirnya ia pun sampai di basemen apartemen sang kakak dan keluar dari dalam mobil.


Fany berjalan menuju lift dan menuju ke ruang apartemen kak Irfan. Ia tak lupa dengan password yang digunakan. Dengan mudah , Fany membuka pintu dan masuk kedalam.


"Kakak... Kakak dimana?" ucap Fany sedikit berteriak.


Tak ada sahutan. Fany pun ke dapur , namun kosong tak ada orang. Lanjut membuka ruang kerja , nihil juga. Akhirnya ia membuka pintu kamar sang kakak , dan yaps! Itu dia. Rupanya manusia satu itu masih berada di dalam selimut.


Fany dengan jahilnya langsung menggedor pintu yang sudah ia buka. Beberapa kali ia menggedor pintu belum juga terbangun.


"Kakak! Bangun!" ucap Fany berteriak disertai dengan gedoran pintu yang suaranya berisik merusak gendang telinga.


Usahanya tidak sia-sia , kini kakaknya mulai terbangun dan menyingkap selimut yang menutupi wajahnya. Dapat ia lihat , muka kakaknya itu kaget bukan main disaat melihat ke arah pintu dimana Fany sedang berdiri.


"Astaga... Ya Tuhan! Anak itu!" ucap kak Irfan dengan mengeluh.


Fany tersenyum manis melihat kakaknya yang seolah sedang tersiksa itu. Fany pun berjalan mendekati jendela dan menyibakkan tirainya. Dan terlihatlah suasana di luar yang mendung masih disertai hujan.


"Laptop aku dimana kak?" tanya Fany yang masih berdiri di depan jendela.


"Kakak jual." ucap kak Irfan dengan asal sembari menutup matanya kembali.


"Hah?" ucap Fany dengan melongo mendengar ucapan itu.


"Kakak jual buat bayar apartemen." ucap kak Irfan memperjelas ucapannya.


"Diihh! Ngarang yah kakak nih. Ada-ada aja deh kalo ngomong." ucap Fany dengan menarik selimut tebal kakaknya.


"Apaan sih dek , kakak masih ngantuk tauk!" ucap kak Irfan sembari menahan selimutnya.


"Kak udah mau jam tujuh tauk , kakak gak ke kantor apa?! Jadi bos itu yang rajin yang disiplin! Makanya kalau malem itu gak usah begadang , tidur tuh diatur. Cepetan bangun!" ucap Fany mengomel layaknya seorang istri membangunkan suaminya yang bandel.


"Astaga dek! Untung kita gak serumah. Kalo serumah tapi tiap hari kayak gini gue pasti bakal gila nih." ucap kak Irfan dengan bangun dan duduk di tengah ranjang sembari menatap Fany yang berada di meja kerja kamarnya.


"Apa? Coba bilang lagi!" ucap Fany dengan menoleh pada arah kakaknya.


"Kagak! Bikinin sarapan , cepetan!" ucap kak Irfan memerintahnya dan Fany pun melongo.


"Apa-apaan ini?" ucap Fany dengan heran.


"Udah sana cepetan. Bikin sarapan apa aja deh yang penting enak dimakan." ucap kak Irfan sembari turun dari ranjang dan merapikan tempat tidur.


Selesai dengan tempat tidur , lelaki tampan itu pun masuk kedalam kamar mandi. Fany pun juga keluar dari kamar sang kakak sembari membawa laptopnya. Ia meletakkannya disofa bersama dengan tas serta ponselnya.


Fany menuju dapur dan melihat isi kulkas. Ia juga melihat alat memasak nasi disana. Setelah ia buka, ternyata ada nasi yang sudah matang.


"Tumben dia udah masak nasi." ucap Fany.


Fany mengambil dua butir telur , daun bawang , daun seledri , dan bawang merah dari dalam kulkas. Ia mengupas bawang merah itu dan memotongnya tipis. Lanjut , ia memotong daun bawang dan daun seledri itu kemudian ia mencucinya dengan air mengalir.


Memasak pun dimulai. Fany menyiapkan wajan berukuran sedang. Ia menuangkan minyak secukupnya. Setelah minyak panas, ia memasukkan irisan bawang merah. Tak lama kemudian , ia memecahkan dua telur pada wajan itu.


Telur di aduknya hingga kering yang kemudian ia menuangkan segelas air kesana. Barulah ia masukkan garam , penyedap rasa , kaldu ayam , sedikit gula dan kecap. Ia aduk kembali hingga mendidih.


Fany mencicipi kuah itu , dan mantap rasanya enak. Sesi terakhir , ia memasukkan daun bawang dan daun seledri. Karena sudah mendidih dan sayur sudah layu maka tak lama kemudian ia pun mematikan kompor dan mencari mangkok.


Selesai ia menuangkan masakan kedalam mangkok , ia mencuci wajan itu hingga bersih. Setelah itu , Fany menyajikannya di meja makan bersama nasi putih di piring dan segelas air mineral. Selesai , tinggal tunggu sang kakak keluar dari kamar.


"Kakak... Udah belum? Aku mau berangkat ke kampus nih. Itu di meja makan udah aku siapin sarapannya. Kak...!" ucap Fany dengan suara yang kian nyaring tanpa menyadari sang kakak yang sudah berdiri di belakangnya karena Fany sedang membungkuk memasukkan laptop dan ponsel kedalam tas.


"Lu dirumah sarapan apa sih? Sarapan toa yah?" ucap kak Irfan mengagetkan Fany yang langsung meliriknya.


"Haa? Iya!" ucap Fany dengan ketus.


"Apaan nih?" ucap kak Irfan mengaduk masakan yang Fany buat.


"Cobain dulu , aku jamin kakak pasti suka. Udah ya kak aku berangkat duluan. Keburu telat ntar." ucap Fany sembari meraih tasnya.


"Bawa mobil sendiri?" tanya kak Irfan sembari mulai memakan sarapannya.

__ADS_1


"Iya bawa sendiri kak." ucap Fany dengan tenang.


"Ati-ati bawa mobil kalo lagi hujan. Jangan ngebut. Jangan ngerem mendadak." ucap kak Irfan dengan perhatian.


"Iya kak aku ngerti kok. Ya udah aku berangkat duluan. Bye kakak..." ucap Fany sembari meraih tangan sang kakak dan menyalaminya.


"Bye." ucap kak Irfan dengan menatap adik tercintanya pergi.


Ia pun melanjutkan sarapannya yang ternyata masakan sang adik memang lezat.


Cantik , pintar , masak pun bisa. Sungguh sempurna.


...----------------...


"Bos , meeting jam sepuluh ya nanti. Nih dokumennya." ucap Bima pada Ardhi yang tengah duduk pada kursi kebanggaannya sembari fokus menatap layar laptopnya.


"Hem taroh situ aja." ucap Ardhi tanpa mengalihkan pandangannya.


"Tadi pagi kayaknya ada yang nyariin lu deh." ucap Bima yang kini duduk diseberang Ardhi. Ardhi pun mengernyitkan keningnya.


"Nyariin gue? Siapa?" tanya Ardhi.


"Mana gue tauk. Tanya ke resepsionis bawah." ucap Bima.


"Lah gimana sih lu , gak jelas banget." ucap Ardhi.


"Gue cuma di kasih tau sama Aera , kebetulan pas Aera lewat dia denger percakapan itu. Katanya sih cewek , rambutnya sebahu , putih. Dia bilang cantik juga tapi tuh cewek bukan tunangan lu. Trus karena ngga ada perjanjian sama lu jadinya dia gak boleh ketemu sama lu. So , dia pergi deh." ucap Bima panjang lebar bercerita dan didengarkan oleh Ardhi dengan santai.


"Biarin deh. Biarin aja. Kalau emang penting pasti kesini lagi." ucap Ardhi dengan tenang.


"Dia bukan... Emm... Gak jadi deh." ucap Bima sembari tersenyum melihat Ardhi yang tengah menatapnya dengan tatapan tajam.


"Apa? Lanjutin aja omongan lu." ucap Ardhi dengan tenang.


"Gak jadi. Ahh elu kenapa sih serius amat deh." ucap Bima.


"Gak kenapa-napa." ucap Ardhi.


"Kelihatan tuh muka lu! Ada apa lagi sama bini lu? Ha?" ucap Bima dengan santai.


"Gak ada apa-apa. Cuma lagi sibuk aja gue tuh. Waktu gue gak banyak buat dia. Dia juga sibuk sama kuliahnya. Toh sekarang hujan mulu , tiap kali gue ajak jalan males terus dia." ucap Ardhi dengan malas sembari menyandarkan tubuhnya pada kursi dan memainkan bolpoin di jemarinya.


"Gue dah pernah tauk! Bahkan lebih dari sepuluh tahun gue LDR sama dia. Tapi sekarang gue cuma nggak ketemu seminggu lho , hampir gila aja gue." ucap Ardhi dengan sedikit tertawa.


"Sepuluh tahun itu bisa kuat karena emang kalian terpisah jauh banget woy dan belum ada hubungan apa-apa. Beda sama sekarang. Dah lah lu pulang aja , pergi ke kampus culik bini lu itu bawa ke apartemen. Lu tuh cuma butuh perbaikan gizi." ucap Bima yang memang kalau sudah berucap tak bisa memfilter ucapannya.


Ucapan Bima sukses membuat Ardhi berfikir.


"Bener-bener rusak gue kalo sama lu!" ucap Ardhi dengan sabar.


"Bukannya emang udah rusak? Lu kan sohib gue dari dulu. Hehehe..." ucap Bima dengan terkekeh.


"Iya rusak dikit , tapi tetep masih normal. Gak kayak lu! Rusak total." ucap Ardhi dengan santainya.


"Anjir bener lu!" ucap Bima.


"Sana lu , bikin gue tambah gila aja lama-lama." ucap Ardhi dengan mengusir Bima.


"Itulah tujuan gue yang sebenarnya , haha..." ucap Bima dengan tertawa sembari berlari menuju pintu dan keluar.


"Sial sial! Ini juga! Sayang kamu dimana sih? Telpon gak di jawab. Chat gak ada balesan. Sesibuk apa sih kamu tuh!" ucap Ardhi dengan kesal sendiri sembari melihat ruang chattingan dengan Fany yang tak kunjung centang biru karena terakhir dilihatnya pun jam 06.45 WIB sedangkan sekarang sudah pukul 09.17 WIB.


Ardhi pun melanjutkan pekerjaannya dan fokus menatap layar laptop di hadapannya.


Sampai sepuluh menit berlalu , ada notif WhatsApp yang berbunyi. Ardhi pun segera membukanya dengan harapan sang kekasih yang membalas pesannya.


"Eh lu masih ada hubungan apa sih sama Yuna? Lu udah mau nikah loh , awas aja aneh-aneh." Satu pesan dari sang kakak , Alexander.


Alexander Putra Pratama , kakak dari Ardhi Putra Pratama yang kini berada di Tokyo bersama kedua orang tuanya.


Pesan singkat namun itu membuat Ardhi berfikir dalam. Ada apa? Apa maksudnya? Yuna lagi?


Tak puas dengan chat , Ardhi pun menghubungi kontak WhatsApp kakaknya itu langsung.


"Halo..." ucap Ardhi begitu telpon telah tersambung.


"Gimana?" ucap Alex , sang kakak.


"Gimana apanya sih? Gue gak tau apa-apa ya soal dia. Gue udah gak ada hubungan apa-apa lagi sama orang lain." ucap Ardhi yang langsung to the point.

__ADS_1


"Ya gue yakin sih lu gak mungkin macem-macem. Tapi dia bilang mau ketemu sama lu gimana pun caranya." ucap Alex yang membuat Ardhi teringat cerita Bima tadi jika memang ada yang mau menemuinya.


"Kapan? Kenapa baru bilang sekarang sih?" ucap Ardhi dengan kesal.


"Baru juga tiga hari yang lalu dia nemuin gue. Gue gak ngerti juga kenapa dia tiba-tiba kayak gini." ucap Alex dengan tenang.


"Tuh kan udah tiga hari yang lalu , kenapa gak bilang dari kemaren coba!" ucap Ardhi.


"Sorry lupa , banyak kerjaan tauk!" ucap Alex.


"Terus sekarang dia dimana?" tanya Ardhi.


"Kok lu nanya gue sih , ya mana gue tauk! Ya kalau perkiraan gue sih dia udah ada di sekitar lu. Secara bio lu itu terpampang jelas dimana-mana. Jadi mudah banget cari informasi tentang keberadaan lu." ucap Alex yang sukses membuat Ardhi merasakan rasa yang tak nyaman.


"Lu inget gak dia sekarang seperti apa?" ucap Ardhi yang ingin memastikan.


"Makin cantik sih sekarang , putih , tinggi sekitar 160 lah , dan rambutnya sebahu." ucap Alex yang terdengar sedang mengingat.


"Astaga! Buat lu aja deh , lu rayu dia aja biar balik kesitu." ucap Ardhi dengan asal.


"Kalau emang gue mau udah gue embat dari dulu , dari jaman lu buang dia itu. Sumpah kasihan banget sih gue." ucap Alex dengan santai.


"Gue gak ngebuang dia kak , emang keadaan yang gak mendukung aja." ucap Ardhi membela diri.


"Eh jangan-jangan dia mau balas dendam ya... Wah ati-atii lu terutama lu harus jaga Fany." ucap Alex memperingatkan.


"Ah udah lah gue ngerti. Ya udah thanks infonya , gue mau meeting nih. Salam buat Mama Papa. Bye..." ucap Ardhi yang kemudian memutuskan sambungan telepon secara sepihak.


Otaknya benar-benar pusing sekarang. Banyak sekali beban yang ada di dalam kepala tampannya.


Ardhi mengusap wajahnya dan mengacaukan rambutnya menjadi berantakan seolah sedang frustasi tingkat tinggi. Ia bingung dan juga takut. Ia bingung harus bagaimana dan ia takut masa depannya kacau.


Tok tok tok...


Suara pintu diketuk itu sukses mengagetkan Ardhi. Ia pun mengusap wajah lesunya dengan malas ketika Bima mendekat.


"Astaga , CEO gue kenapa? Eh lu sakit? Butuh ke rumah sakit nggak , kalau iya biar gue anterin." ucap Bima yang berlagak panik.


"Gue pengen bunuh lu deh lama-lama!" ucap Ardhi dengan kesal.


"Wait... Jangan dong , ada apa cerita sama gue. Gue yakin ada yang beneran gak beres sama lu." ucap Bima dengan tenang.


"Enggak , besok aja kalo keadaan gue lebih parah dari ini. Dan lu harus bantuin gue." ucap Ardhi dengan kembali tenang.


"Trus... Sekarang gimana? Bisa meeting kan?" ucap Bima memastikan bosnya itu baik-baik saja atau tidak.


"Gue gak bisa , gue butuh sesuatu buat ngembaliin semangat gue deh kayaknya. Gue mau pergi. Lu aja ya yang pimpin meeting." ucap Ardhi dengan menutup laptopnya.


Ucapan Ardhi membuat Bima senyum tak jelas. Otaknya sudah traveling lagi.


"Apa lu?" ucap Ardhi dengan tatapan kesal.


"Gue tau lu mau ngapain... Cowok itu gampang di tebak. Ya udah deh biar gue pimpin meeting kali ini. Dan lu , dah sana pergi aja cari sesuatu yang indah." ucap Bima dengan tersenyum.


"Lu cewek apa cowok sih gila bawel banget!" ucap Ardhi dengan kesabaran ekstra.


"Cowok lah gila lu masa gue cewek , gak percaya banget sih lu sama gue. Mau lihat? Kita sama!" ucap Bima dengan asal-asalan.


"Dih najis! Dah sana lu meeting udah jam sepuluh nih." ucap Ardhi dengan kesal sembari berdiri dari duduknya.


"Iya iya gue tauk! Nah lu ngapain pake masker segala? Biasanya enggak pernah." ucap Bima yang heran ketika melihat Ardhi memakai masker.


"Enggak apa-apa , alergi debu gue sekarang. Bersin mulu kalo kena debu." ucap Ardhi dengan santai.


"Ah udah terserah lu aja. Oh iya , selamat bersenang-senang." ucap Bima yang kemudian pergi keluar dari ruangan Ardhi.


"Dasar emang gak ada akhlak manusia itu!" ucap Ardhi sembari meraih ponsel , kunci mobil serta koper kecilnya yang berisi laptop.


Ardhi keluar dari ruangan menuju lift dan turun kebawah. Sampai di bawah ia keluar dari gedung itu menuju parkiran mobil dan masuk ke mobilnya.


❤️


❤️


❤️


❤️


❤️l.a.f🌻❤️

__ADS_1


__ADS_2