
Jangan berhenti di tengah jalan. Jangan berhenti menatap dunia. Masih banyak hal yang bisa dilihat di depan sana.
_________
Matahari telah tergelincir. Hari mulai terlihat gelap. Bukan hanya karena sore telah tiba, cuaca mendung juga ikut mendukung gelapnya hari ini. Di satu kota, terlihat aktivitas yang ramai dari para pengemudi ataupun aktivitas manusia yang berjalan hilir mudik. Mendung dan sore tidak menghambat aktivitas mereka.
Suasana mendung, seakan mewakili wajah seseorang. Dia adalah seorang gadis yang terlihat matang dan menawan. Wajah cantiknya terlihat sangat muram.
Gadis itu terlihat termangu-mangu di sudut suatu kafe. Dia hanya mengaduk-aduk minuman yang masih mengepulkan uap panas. Tak lama, terlihat dia mendongak ketika pria di depannya menyapa.
"Maaf lama, pekerjaan di kantor lumayan banyak." Lelaki tersebut menarik kursi di depan gadis itu dan duduk.
"Tak apa," jawab singkat gadis itu.
Pria itu menyebutkan pesanannya ketika pramusaji datang menanyakan. Setelah itu, dia kembali menatap gadis di depannya. "Ada apa mengajakku bertemu di sore begini?"
"Tidak boleh?" tanya datar gadis tersebut.
"Bukan begitu, biasa kamu selalu menolak sepulang kerja kalau aku ajak nongkrong di kafe. Apalagi ini dekat kantormu." Pria itu menjelaskan dengan sedikit mengerutkan dahinya.
"Ohhh, itu karena malam kita tidak akan punya waktu lagi." Nada gadis itu semakin terdengar penuh penekanan.
"Ada apa?" tanya pria itu mulai merasa tidak enak.
Terlihat gadis itu menatap dalam wajah pria di depannya. Dia menarik napas dan menghembuskan dengan perlahan. Gadis itu sangat mencintai pria tersebut. Dia hanya bisa berkata, "Aku ingin kita berhenti sampai di sini saja."
Gadis yang masih mengenakan seragam kerja itu, berkata dengan menguasai hatinya agar tidak kembali rapuh. Azharin, 29 tahun. Seorang gadis berperawakan kaku dan tidak banyak berbicara. Sekilas orang menilai dirinya sombong. Sifatnya pendiam. Dia bekerja di kantor imigrasi.
"Apa kau telah menemukan pria lain. Pria yang lebih mapan dan lebih perhatian dariku?" tanya lelaki itu. Lelaki yang terlihat sebaya dengan Azharin.
"Kau lebih tahu alasannya," jawab Azharin malas. Azharin tidak ingin berdebat terlalu lama. Ini bukan pertama kali lelaki itu menuduh dirinya ketika Azharin ingin mengakhiri hubungan cinta setahun belakangan ini.
"Apa kamu tidak bisa menunggu sedikit lagi?" tanya pria itu. Ia bernama Hendri.
"Usiaku sudah cukup untuk menikah. Maksudku, cukup jauh terlampau. Jika kau tidak siap dengan alasan izin orangtua, aku tidak bisa menunggu lagi." Azharin mantap dengan kata-katanya.
Hendri tidak tahu akan berkata apa lagi. Dia hanya diam. Diamnya Hendri dianggap Azharin setuju, dan masalah telah selesai. Azharin tanpa banyak basa-basi meninggalkan lelaki tersebut. Hendri hanya bisa menghembus napas gelisah.
__ADS_1
Hendri belum beranjak dari kafe tersebut, menunggu minuman yang belum diantar. Ingatannya kembali saat seminggu lalu dia mencoba meminta izin lagi pada ibunya.
Kilas balik ....
"Ma, sampai kapan Mama akan menolak Azharin?"
"Sampai Mama mati!"
"Apa salah dia Ma? Aku dengannya sudah hampir tujuh tahun Ma." Hendri selalu menanyakan alasan penolakan mamanya pada kekasihnya selama dua tahun terakhir. Namun tidak pernah mendapatkan jawaban.
"Salahnya dia, dia terlahir dari lelaki yang suka kawin-cerai dan ibunya hanya wanita rumah tangga biasa," kata ibu Hendri terdengar tajam.
"Selalu itu alasan Mama. Alasan yang tidak masuk akal bagiku." Hendri masih membantah dengan pelan.
"Tidak peduli masuk akal atau tidak. Mama tidak setuju. Lebih baik, aku mati dari pada punya menantu seperti dia!" Ibunya masih bersikeras.
"Ma, jaga ucapan. Jangan keterlaluan menghina orang." Abang Hendri yang bernama Mahendra mengingatkan ibunya agar tidak keterlaluan dalam berbicara.
Namun perasaan tidak suka yang telah mendarah-daging, tetap tidak bisa menggoyahkan pendirian wanita separuh baya tersebut. "Kalian berdua sama saja. Dulu kamu juga membantah kata-kata Mama. Bahkan, kamu mengabaikan peringatan mama. Kini terbukti bukan, istrimu meminta cerai dan meninggalkan kamu dan anaknya."
"Mama tidak peduli. Sekali tidak setuju tetap tidak setuju." Wanita baya itu malah meninggalkan kedua anak lelakinya di ruang tamu.
"Aku benar tidak mengerti dengan pikiran mama, Bang." Hendri terdengar seperti mengadu. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi.
"Apa sebaiknya kalian menikah diam-diam dan kamu katakan saja ingin tinggal di rumah sendiri. Bukankah kamu telah membeli rumah secara diam-diam?" Senyum Mahendra hadir ketika melihat adiknya terkejut.
"Dari mana Abang tahu?"
"Mata-mata abang banyak," ujar Mahendra sengaja mengusik adiknya agar melupakan sejenak beban di hatinya.
Jika Hendri masih duduk melamun di kafe, Azharin telah sampai di rumahnya. Dia membuka pakaian kerja dan membasuh wajah. Lalu berbaring dengan hanya menggunakan bathrobe.
"Tuhan, aku tidak meminta padamu untuk bisa selalu tersenyum. Namun, jangan biarkan aku terlalu larut oleh rasa sedih. Aku takut terlalu jauh keluar dari jalur dan melepaskan sifat asliku." Azharin menggumam sambil berbaring memandang langit-langit kamar.
Dia mengambil ponsel. Membuka galeri foto. Jemari lentiknya mulai menilik satu persatu foto. Memilih dan menekan tombol hapus. Ya, dia mulai menghapus foto-foto Hendri. Baik itu sendiri ataupun yang bersama dirinya.
"Selamat tinggal. Berpisah jalan terbaik untuk masa depan kita," ucapnya ditujukan ke diri sendiri. Menahan kesedihan. Hatinya terasa remuk, terasa pedih serasa silet menyayat kulit tubuhnya.
__ADS_1
Azharin lalu meletakan ponsel di sisi kepala. Matanya berkaca-kaca. Tak lama butiran bening itu menemani pipi mulusnya. Dia cepat menghapus dengan tangan halusnya. "Tidak, tidak. Aku tidak boleh menangis. Ibunya tidak menyukaiku. Aku harus kuat demi masa depanku."
Azharin cepat menghibur dirinya. Dia kembali menghapus air matanya. Berusaha menahannya agar tidak kembali menetes. Azharin gagal, dia memutuskan untuk menangis melepaskan rasa sesak yang hadir. Dia memantapkan hati. Ingatannya kembali saat malam kedatangan ibu Hendri.
Malam itu, terdengar pintu rumah diketuk. Azharin membukakan, dan dia sangat terkejut dengan kedatangan nyonya Megan, ibunya Hendri.
"Ibu? Silahkan masuk Bu." Azharin mempersilakan dengan lembut.
Tanpa salam tanpa keramahan dan tanpa mau dipersilakan duduk, wanita baya itu langsung berkata, "Tinggalkan Hendri! Sampai saya matipun, tak akan saya restui kalian!"
Azharin terhenyak dan tak percaya wanita yang dulu ramah kepadanya menjadi begitu dingin dan tanpa perasaan. Azharin menghela napas dan berkata, "Baik Ibu, besok saya akan menyelesaikan dengan Hendri. Ibu jangan khawatir. Saya tidak akan pernah mau menikah tanpa restu."
"Baguslah, jika kamu paham." Kembali, tanpa basa-basi wanita itu melangkah ke arah pintu.
Langkah teraturnya terhenti ketika mendengar suara pelan Azharin. "Sekali saja Bu, bolehkah saya tahu kenapa Ibu berubah padaku?"
Azharin ingat, wanita itu berubah ketika dua tahun lalu mereka meminta izin menikah. Sejak penolakan itu, Azharin tidak pernah lagi berkunjung, bahkan Hendri juga tidak pernah menawarkan untuk ke rumah.
Wanita itu tanpa menoleh ke arah Azharin memberitahu, "Kamu dari keluarga berantakan. Satu hal yang pasti, saya takut gen kawin-cerai dari ayahmu menurun padamu. Saya tidak mau itu terjadi dalam keluarga saya!"
Wanita itu keluar dari rumah Azharin. Meninggalkan Azharin yang berdiri dalam kebekuan. Dia tidak menduga jika sikap ayahnya menjadi alasan.
"Ayah, jika kamu mendengar perkataannya. Jangan merasa sedih jangan merasa bersalah lagi padaku. Aku tidak pernah menyalahkan ayah setelah aku dewasa. Aku mengerti dengan alasan ayah. Mereka yang meninggalkan ayah termasuk ibu. Ibu tidak ingin mengerti dengan ayah."
Azharin menuju pintu dan mengunci. Dia kembali ke dapur dan membuat segelas susu hangat. Dia berusaha meredam rasa sakit yang tergores dari lidah tajam nyonya Megan. Malam itu walau telah menelan segelas susu hangat, matanya tidak bisa tidur. Rasa nyeri berulang kali menyerang hati.
"Ufff, aku yakin bisa. Cinta akan pudar seiring waktu karena tidak saling bertemu," ujarnya setelah kembali dari ingatan malam itu. Azharin lalu turun dari tempat tidurnya dan menuju kamar mandi. Dia ingin mendinginkan tubuh dan hatinya.
***
Hai-hai para pembaca tersayang, aku hadir di novel ke empatku. Sebenarnya ini novel ke lima. Namun novel ke empat, aku diam-diamkan saja alias aku belum lanjutkan sama sekali.
So
Bolehlah ya daku reques Like, Vote dan Hadiah. Hitung-hitung obat lelah dari begadang. Walau aku katakan lelah, bukan berarti diri ini mengeluh. Diriku menulis mengeluarkan kata-kata yang memenuhi ruang pikiranku. Andai tidak bersedia tidak apa, jangan berpikir banyak. Nanti aku keselek takutnya 😂😘😍.
Cuma ya aku tanpa like, vote dan hadiah pembaca, ya ibarat puing-puing reruntuhan gedung. (Kalau gak nyambung ya sambung-sambungkan saja. 😂😅) 💃😍🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1