Love Between Two Countries

Love Between Two Countries
Azharin Menata Hati


__ADS_3

Jangan bersedih atas sebuah cinta. Ketika awal menangis, itulah awal kau menggapai kebahagiaan.


_____


Sebulan setelah Azharin menyelesaikan jalinan cintanya. Hendri pernah sekali datang ke rumah, namun Azharin tidak membukakan pintu. Baginya, sudah tidak ada ruang lagi untuk bisa mendapatkan restu.


Azharin menjalani hari-hari dengan sisa-sisa puing derita. Hati yang berulang kali dia tata kembali, ketika malam datang hanya kegagalan yang dia bangun. Azharin sering mengalirkan air mata sebelum tidur. Pagi hari, dia kembali tegar. Dia meyakinkan dirinya akan baik-baik saja tanpa Hendri bahkan tanpa ayah-ibunya.


"Pagi Rin," sapa Sonia teman baik Azharin.


"Pagi Nia," balas Azharin.


Azharin menuju mejanya. Meletakan tas dan bersiap dengan pekerjaan. Azharin wanita perfeksionis. Dia juga profesionalisme, masalah pribadi, tidak akan pernah terbawa ke dalam ranah pekerjaan. Itu sebabnya para staf dan teman lainnya segan.


Sifat itulah yang membuat dia terlihat kaku di mata rekan kerja maupun di mata atasan. Namun dari layanan publik, dia sangat bersikap luwes dan ramah.


Azharin selalu berfokus pada kerjanya. Tidak banyak berbicara dan tidak banyak bersenda-gurau.


Tidak terasa panggilan kampung tengah mulai memanggil. Azharin merapikan meja kerja. Berkas-berkas dan map maupun alat tulis kini telah rapi. Sonia hanya tersenyum tipis. Pemandangan ini sudah lumrah.


"Rin, makan siang yuk." Nia mengajak.


"Ok, bentar." Azharin mengambil ponsel dan dompet. Lalu berjalan bersisian dengan Nia. Mereka memilih makan di kantin kantor saja.


Setelah mengambil dan membayar pesanan, mereka mencari tempat duduk. Azharin hanya mengambil seporsi sup daging dan sepiring nasi serta segelas es jeruk.


"Kamu ada masalah?" tanya Sonia saat Azharin masih mengaduk sup. Sonia mengetahui ini bukan pertama kalinya Azharin banyak termenung di jam istirahat selama sebulan terakhir.


"Hmm."


"Kamu telah yakin melepaskan Hendri?" kejar Sonia.


"Begitulah." Azharin menjawab malas.


Jika saja Sonia tidak melihat Hendri bersama wanita lain yang bergelayut manja tadi malam di sebuah mall. Sonia tidak akan pernah bertanya kelanjutan hubungan Azharin.


"Maaf, aku bertanya, karena aku melihatnya dengan wanita lain di Mall tadi malam."


Tak bisa ditepis, jika Azharin terkejut dengan berita itu. Suapannya tergantung.


"Begitu rupanya. Ternyata dia telah menemukan wanita lain."


"Kamu terkejut?" tanya Sonia.


"Begitulah." Azharin melanjutkan makan.

__ADS_1


"Boleh aku tanya?" ujar Sonia hati-hati.


"Tanyalah."


"Apakah kau yakin bisa melihat dia memilih yang lain atau bahkan menikah dengan yang lain?" Sonia menatap tajam pada sahabatnya.


"Aku tidak tahu. Satu hal yang aku tahu, bahwa kami tidak akan bisa bersama tanpa restu ibunya." Azharin menjawab dengan mantap.


Sonia terlihat menghela napas. Dia mengetahui cerita Azharin. Walau Azharin tidak pernah meminta solusi apapun. Azharin tetap bercerita apa yang terjadi belakangan ini.


***


Setelah pulang kerja, Azharin mampir ke sebuah butik di kawasan mall mewah. Dia ingin menghilangkan kejenuhan. Azharin terbiasa pergi sendirian jika sedang jenuh. Meskipun dulunya masih bersama Hendri. Azharin juga terbiasa berjalan sendiri.


"Jadi kapan kalian akan menikah?" tanya seorang wanita di sebuah butik.


Azharin tepat berada di balik pintu ruang ganti. Dia sangat mengenal suara wanita itu. Ya, dia adalah nyonya Megan.


"Belum tahu Tante. Hendri masih mengelak jika ditanya tentang pernikahan. Dia pasti belum bisa melupakan Azharin."


Azharin menjadi lebih terkejut ketika mendengar suara yang juga dikenalnya. Azharin berdiam diri di kamar ganti. Dia berusaha menguatkan hati. Dia tidak menyangka jika wanita yang dikatakan Sonia adalah sahabat di masa kuliah.


"Jangan terlalu lama, tante menginginkan Hendri segera menikah dan melupakan perempuan tak jelas itu!" Nada kesal masih begitu kental terasa di telinga Azharin. Dada Azharin bergemuruh menahan emosi.


"Kamu benar juga, tante akan mengatur. Jika bukan kamu yang cerita, tante tidak pernah tahu. Hendri hanya mengatakan ayahnya tidak di kota ini dan ibunya lebih memilih tidak bekerja dan menjadi ibu rumah tangga biasa," ujar nyonya Megan melanjutkan.


"Tante jangan cerita pada Hendri. Dia akan marah besar dan menggagalkan rencana kita. Aku sangat mencintainya, dulu, sekarang dan selamanya, tetapi Hendri memilih mencintai Azharin."


"Tenang sayang. Bagi tante, cuma kamu menantu idaman tante. Kamu dari keluarga baik dan terpandang. Kamu juga cantik dan berpendidikan. Apalagi yang kurang darimu." Nyonya Megan begitu menyanjung calon menantunya.


"Terima kasih Tante."


"Ada yang ingin kamu beli? Jika tidak ayo kita cari tempat lain. Tante juga ingin ke salon."


"Tak ada yang menarik, karena anak Tante jauh lebih menarik."


"Bisa saja kamu. Ayo kita pergi."


Azharin keluar dengan perlahan. Dia bisa saja mendamprat kedua wanita tersebut. Namun, bukan sifatnya. Dia lebih suka menghindari keributan selagi bisa. Azharin menuju kasir. Dia meletakkan baju yang telah dicobanya.


"Ini saja Mbak? Apa ada yang lain yang Mbak inginkan?" tanya kasir dengan ramah.


"Cukup. Ini saja." Kata-kata yang keluar sangat sedikit, akan tetapi nada Azharin ramah.


Azharin tetap melanjutkan berkeliling mall. Dia menuju ke sebuah toko sepatu bermerek. Apa yang barusan dia dengar seperti mimpi. Dia tak menyangka sahabat karib sendiri yang menghancurkannya.

__ADS_1


"Bruk ... aww," Azharin berteriak kecil ketika punggungnya ditabrak oleh dada kokoh seorang pria yang begitu maskulin. Azharin menoleh dan melayangkan tatapan tajam. Sepatu yang sedang dipegang telah ikut terjatuh saat dia terkejut.


"Maaf ... maaf, saya tidak melihat anda karena sedang melihat ponsel," ujar pria tersebut dengan rasa bersalah.


"Ponsel penyebab terbesar orang melakukan kesalahan," ujar Azharin santai namun menusuk pendengaran. Lelaki itu hanya tersenyum miring mendengar ucapan pedas Azharin.


Azharin membungkuk hendak mengambil sepatu yang terjatuh tadi. Namun pria tersebut lebih dulu mengambilkan dan memberikan padanya.


"Terima kasih." Azharin menerima setelah mengucapkan kata terima kasih.


Azharin menuju tempat duduk dan berniat mencoba sepatu tersebut. Dia terlihat acuh dan tidak lagi memperhatikan pria itu. Pria tersebut memperhatikan wajah cantik dan kaku Azharin. Wajah itu datar tanpa ada aura ceria di sana.


"Wajah begini dingin. Apa kelebihan dari gadis ini, sehingga dia meminta aku menjaganya diam-diam."


Azharin memperhatikan di depan cermin. Dia merasa sepatu itu cocok dengan kakinya dan dana di dompet. Dia membuka kembali dan memasang sepatunya. Azharin menjinjing sepatu pilihannya. Menuju kasir dan meletakkan di atas meja kasir. Menyodorkan beberapa lembar uang kertas bernominal besar setelah kasir men-scan barcode.


"Ini gratis kami berikan pada Mbak, sebagai wanita cantik pertama yang memasuki toko kami," pramuniaga cantik itu berkata ramah pada Azharin.


"Ohh ya? Pertama kalinya ada program seperti ini kudengar." Azharin tak bisa menyingkirkan rasa heran.


"Kami hanya mengikuti instruksi bos Mbak. Bos lagi bahagia karena berhasil membuka cabang di negara lain." Senyum termanis diberikan oleh dua pramuniaga toko tersebut.


"Uhh ampun, ringan sekali lidah aku mengarang cerita," ujar pramuniaga tersebut dalam hati.


"Ohhh baiklah, sampaikan terima kasih pada bos toko ini." Azharin mengambil bungkusan sepatunya dan mengucapkan terima kasih sekai lagi dan pergi meninggalkan toko sepatu itu. Dia tidak ingin banyak berpikir.


"Ini," ujar pria tersebut sambil menyodorkan kartu kreditnya. Sekalian entri sepatu yang kalian inginkan tadi.


"Terima kasih, Pak."


Pramuniaga mengambil dan secepatnya memproses pembayaran. Setelah itu mengembalikan kartu kredit pria itu dan pria tersebut meninggalkan toko tanpa membeli sesuatu.


"Mimpi apa kita semalam, bisa mempunyai sepatu semahal ini," ujar satu kasir pada teman kerjanya.


"Kamu benar, Fa. Wanita kaku itu membawa berkah pada kita."


"Sstt, walau kaku, wajahnya sangat cantik. Rambutnya juga indah."


"Naksir kali pria itu saat menabrak punggung wanita kaku itu."


"Iya, bergetar kali jiwa pria itu."


"Bergetar, kau kira gempa pakai bergetar," gurau mereka memenuhi toko yang sedang terlihat tidak ramai pengunjung.


***

__ADS_1


__ADS_2