
"Ma, aku langsung ke rumah sakit. Aku sudah dekat," ujar Bernard ketika telah dekat.
"Tak perlu Papamu sudah dibawa pulang."
"Ma__" Bernard tak bisa meneruskan perkataan. Dia memutuskan menambah kecepatan laju mobilnya dan memutuskan tidak bertanya jauh.
Dengan tergesa dia berlari ke dalam rumah dan telah di nanti oleh ayah, ibu dan kakaknya.
"Ada apa ini!" tanyanya kurang senang melihat ayahnya baik-baik saja.
"Duduklah!" kata mamanya tak kalah tegas. putranya menurut.
"Mana Azharin?" tanya mamanya lembut.
"Dia tidak bisa ikut. Perutnya semakin besar dan aku harus melarikan mobil lebih cepat dari biasanya." Bernard masih berniat menutupi keadaan.
"Apa benar itu alasannya? Kau tidak pernah membawa dia hampir sebulan ini."
"Ma, apa ini kebohongan belaka agar aku ke mari? Aku membatalkan rapat hanya karena kebohongan Mama."
"Ini lebih penting dari rapatmu. Apakah kau tahu Azharin kehilangan anakmu?" tanya ibunya tajam.
"Apa maksud Mama?" tatapan tak percaya terpancar dari mata biru Bernard.
"Mama rasa kau mendengar jelas."
"Mama tahu dia di mana? Sejak kapan?"
"Ya, pagi ini."
Rasa kecewa bertambah di hati Bernard. Dia merasa Azharin tidak bisa menjaga diri hingga sepintas dia berburuk sangka pada istrinya. "Apa dia sengaja membuang bayi itu dari rahimnya?" ujar Bernard menduga-duga.
Emilia tak menyangka putranya bisa sekejam itu menuduh istrinya. Ayahnya hanya diam saja. Dia telah mengetahui juga pagi ini. Begitu juga Glorya.
"Apakah semudah itu kau menuduh istrimu? Istrimu keguguran di Spanyol. Istrimu juga takut tanpamu dan tanpa abangnya."
Bernard sekali lagi terpukul mengetahui Azharin terluka dan dia bahkan mementingkan harga dirinya.
Bernard tak bertanya apapun pada ibunya. Dia justru menghubungi Alex. "Ada apa?" tanya Alex dingin. Dia masih sangat marah mengetahui cerita Azharin hari ini.
"Mengapa kau tidak cerita apa yang terjadi pada istriku!" Bernard juga bertanya tak kalah dingin. "Apa tujuanmu? Kau menginginkannya?"
"Buang kecurigaan terlebih dahulu. Aku justru tidak ingin kau meninggalkan dia karena tidak ada penghubung antara kalian. Aku berharap kau menyusul dan mengetahuinya sendiri. Ternyata aku justru salah! Cintamu hanya sebatas egomu!"
Alex menyerang Bernard dan nadanya terdengar begitu marah pada Bernard. Bernard tak punya alasan menyalahkan Alex. "Kalau begitu, aku yang salah." Bernard mengakui.
"Kalau kau tahu, baguslah." Alex memutuskan sepihak.
Bernard kembali bertatapan dengan mata-mata lapar ingin tahu. Terutama ibunya. "Baik. Aku akan berbicara pada Azharin."
__ADS_1
"Tak akan banyak membantu untuk mengobati hatinya."
"Lalu apa yang membantu Ma?" Bernard terlihat begitu pasrah.
Emilia terbersit pikiran untuk bepergian ke negara menantu. "Kita jemput bersama, termasuk dengan Glo dan dua keponakanmu."
"Ma, itu butuh banyak waktu. Dokumen mama dan yang lain tak punya." Bernard tidak menyetujui. Dia ingin secepatnya bertemu Azharin.
"Kau bisa mengatasinya."
"Ma, tapi aku ingin secepatnya menenangkan hatinya. Aku kini tahu apa yang dia rasa Aku ini ego seperti kata Alex."
"Mama akan kabari Azharin. Mama yang akan menenangkan hatinya. Kau percayakan pada mama. Bersabarlah sedikit untuk kebahagiaannya."
"Tidak logis cara mama berpikir." Bernard bersungut-sungut melihat drama mamanya. Dia menjadi tahu, drama kedua keponakannya berasal dari mamanya. Glorya dan ayahnya hanya tersenyum. Mereka paham bagaimana watak wanita setengah baya tersebut jika ada maunya.
"Baik, aku ikuti mau Mama. Ada syaratnya."
"Katakan." Ibunya menantang Bernard.
"Mama harus menghubungi Azharin di depanku. Aku ingin tahu apa jawabnya dan bagaimana suasana hatinya. Jika dia bahagia menunggu kesiapan dokumen mama dan yang lain maka aku setuju. Tidak ada pakai drama, hubungi saat ini juga."
"Baik."
Ibunya dengan cepat menghubungi Azharin dan Azharin yang memang menunggu kabar ibu mertuanya langsung menjawab, "Hallo Ma. Bagaimana? Apa Mama telah menghubungi Bernard?"
"Sudah sayang."
"Kamu yang harus memaafkan dia sayang. Dia yang bersalah padamu."
"Aku juga Ma. Kami sama salah kalau begitu. Apakah dia berjanji akan menghubungi aku, Ma? Apa dia meminta aku yang menghubunginya?" tanya Azharin beruntun. Dia tak sabar ingin mengetahui apa kata suaminya.
"Dia mengaku bersalah dan ingin hari ini juga menjemputmu."
"Benarkah Ma? Tetapi dia sangat sibuk dan aku belum bisa bepergian sejauh itu Ma. Perutku masih sangat sakit jika banyak bergerak."
"Dia bisa saja menunda urusannya, tetapi mama yang melarangnya pergi sekarang."
"Boleh aku tahu alasannya Ma?"
"Mama ingin memanfaatkan momen ini untuk datang ke negaramu dan ikut menjemputmu."
"Sungguh Ma?" nada tak percaya dan bahagia Azharin memberikan kesejukan di hati Bernard. Jika tidak ingat janji dengan mamanya ingin dia menyambar ponsel tersebut dan berbicara dengan istrinya.
"Sungguh."
"Dia setuju Ma?"
"Mama katakan, kau akan lebih bahagia jika dijemput bersama."
__ADS_1
"Mama benar. Aku sangat bahagia Ma. Aku tak sabar menanti Mama dan yang lain datang. Aku tunggu, Ma."
"Mama ingin menghukumnya karena tidak peduli padamu. Mama melarang dia menghubungimu. Apakah kamu keberatan sayang?"
"Tentu tidak, Ma. Aku akan menanti dan Mama sudah benar. Aku anggap dia masih marah dan kedatangan dan pelukannya akan menjadi obat atas semuanya."
"Jadi mama sudah benar sayang?"
"Ya Ma. Jika dia menghubungi sekarang terlalu banyak yang ingin aku sampaikan Ma. Bagiku kedatangan dan bisa memeluknya adalah penawar rasa sakit tanpanya beberapa minggu ini."
"Baik sayang, mama tutup dan sabar ya. Mama urus secepatnya dokumen untuk ke negaramu."
"I love u, Ma. Aku sangat sayang padamu."
"Mama juga. Sampai nanti."
"Kau melihatnya? Mama benar bukan?"
"Ya, ayo sekarang juga kita urus." Ajakan Bernard terdengar jauh bersemangat.
"Keponakanmu masih di sekolah."
"Ayo kita jemput. Biar aku yang memintakan izin."
***
Sore sepulangnya Sonia dan Armian yang kembali bersamaan, melihat wajah adiknya jauh lebih berseri dan terlihat berbahagia. Azharin menggendong keponakannya dengan senyuman.
"Zein sakit?" tanya Sonia begitu membuka pintu kamar dan melihat dahi anaknya di kompres.
"Abang, kalian sudah pulang?"
"Seperti yang kau lihat."
"Tadi dia menangis karena demam dan bibi tidak bisa menghubungi kalian berdua." Azharin berkata sembari memberikan Zein ke dalam pelukan Armian.
Armian meraba kepala anaknya dan tubuh anaknya juga tidak terlalu panas. Dia kembali memandang adiknya. "Kau baik-baik saja?"
"Aku baik Bang. Malah sangat baik."
"Ada yang terlewati oleh kami berdua?" tanya Sonia sambil meraba kening Azharin.
Azharin dengan gemas menepis tangan kakak iparnya yang telah menempel di dahinya. "Apaan sih."
"Bukan apaan sih, ada apaan sih?" ujar Sonia kembali. Dia membiarkan Zein dipeluk ayahnya. Sonia lebih penuh penasaran pada wajah dan sikap Azharin yang sudah kembali seperti dulu.
"Aku bahagia, mereka semua akan datang dan menjemput." Azharin lalu bercerita bagaimana mulanya.
"Benarkah?" tanya Sonia. Armian hanya menyimak. Dia diam-diam bersyukur adiknya kembali seperti dulu.
__ADS_1
***