Love Between Two Countries

Love Between Two Countries
Lamaran di Spanyol


__ADS_3

Kebetulan hanya sebuah bonus. Bukan bentuk dari usaha perjuangan suatu maksud. Sayangnya terkadang seseorang tidak menyadari, kebetulan bisa jadi dari sebuah rencana yang tersusun, dari Allah atau manusia itu sendiri.


_________


Bernard menahan diri agar tidak cemburu buta. Bernard tidak ingin rencananya gagal total. Bernard lalu mengajak Azharin berbelanja di sebuah pusat perbelanjaan.


"Carilah apa yang kau butuhkan Barbie."


"Apa aku mempermalukan dirimu, jika aku berpenampilan begini?" Azharin kembali mengusik perasaan Bernard. Azharin salah tangkap dengan nada Bernard. Tawaran Bernard seperti perintah bukan perhatian.


"Bukan begitu. Aku hanya ingin memanjakan. Aku tidak ingin lelaki lain yang memanjakan dirimu."


"Alex?" tanya Azharin.


"Ada yang lain?" Bernard selalu kesulitan mengontrol emosi dengan sifat Azharin.


"Kau menuduhku seperti punya banyak teman lelaki."


"Tidak, bukan begitu."


"Iya begitu maksudmu. Kau tidak pernah berubah. Kau lelaki sukses, aku paham dengan sikap egoismu, namun aku tidak suka." Azharin sangat kesal Bernard selalu cemburu buta.


"Hei hei Barbie, dengarkan aku." Bernard merangkul bahu Azharin dan meremas lembut. "Kau salah paham sayang. Aku percaya padamu."


"Baik kalau begitu, stop mengatakan apa ada yang lain."


"Oke, oke. Aku mengaku kalah."


"Tidak ada kalah dan menang dalam cinta. Lain dalam hal bisnis. Apa cinta ini cuma bisnis bagimu?" tanya Azharin.


Azharin selalu berkata tenang. Akan tetapi, kalimat-kalimat yang diutarakan selalu tajam. Syukur-syukur tidak berbisa.


"Bagaimana kalau aku melamarmu di sini Barbie?" Tiba-tiba ide untuk melamar Azharin terbesit dan dia langsung mengatakan.


Akan tetapi, Azharin tidak mudah untuk diduga. Gadis itu dengan ringannya menolak Bernard. Sehingga sekali lagi Bernard harus menahan hati dengan sikap kaku Azharin. Azharin memang sedikit berubah, tetapi itu hanya cara bicaranya saja. Pola pikir gadis itu masih sangat kaku.


"Ohh ya, satu lagi ... pertemuan ini bukan usahamu, hanya faktor kebetulan. Aku tidak membanggakan ini hasil usahamu. Jadi aku menolak lamaran anda Tuan Bernard tersayang." Azharin sekali lagi memojokkan Bernard dengan telak.


"Oke. Aku akan membayar mahal di negaraku."


"Aku suka. Aku tunggu." Azharin begitu terus terang.


Azharin membeli dua setel pakaian yang nyaman dan dengan motif simpel. Azharin hampir tidak pernah memakai pakaian dengan model dress. Kali ini dia memilih dress sedikit di atas lutut. dengan kerah tinggi dan berlengan sebahu. Azharin terlihat begitu feminim dengan bodi idealnya. Dia sangat menyukai modelnya. Dia tidak memikirkan itu sedang trend atau tidak. Cukup baginya nyaman dan dia menginginkan. Terutama sesuai budget .

__ADS_1


Ini untuk pertama kalinya dia menerima tawaran lelaki lain untuk memfasilitasi. Azharin tidak pernah mau menerima, selain abangnya. Bernard lelaki pertama yang dia terima untuk memfasilitasi.


"Terima kasih," ujar Azharin ketika keluar dari pusat perbelanjaan. Azharin tidak banyak membeli kebutuhan untuk ke negara Bernard. Itupun jika Alex tidak keberatan. Ahhh, betapa kakunya gadis itu. Kaku atau terlalu idealis. Ya paling beda tipis.


Mereka baru tiba di depan hotel tempat Azharin menginap. Azharin merogoh tas, mengambil ponsel. "Hallo Lex."


Terdengar Alex bertanya, Azharin sedang di mana. Azharin berkata, "Aku baru tiba di hotel. Aku ingin berbicara sesuatu Lex. Aku yang ke bar atau kau yang ke hotel?"


***


Manchester, Britania Raya ....


Azharin kini telah sampai di negara Bernard. Ia mengatakan apa adanya pada Alex. Alex selalu tersenyum dan mendukung Azharin. Azharin dengan langkah ringan bisa memutuskan langkah karena sikap Alex yang selalu bisa diajak kompromi. Alex hanya meminta Azharin memberi kabar dan tak sungkan jika memerlukan sesuatu.


Selama perjalanan Gilberto selalu menilai dan memperhatikan gerak-gerik Azharin. Gilberto semakin percaya, jika Azharin bisa cocok untuk Bernard. Gilberto telah membuang jauh penilaian buruk tentang Azharin. Azharin mandiri dan sangat terlihat sehat.


"Aku menolak tinggal di apartemenmu," ujar Azharin. Gilberto yang duduk di kursi depan hanya menyimak. Mereka masih di dalam mobil sedang menuju ke pusat kota. Mereka baru tiba di bandara internasional Manchester dan dijemput oleh orang Bernard.


"Jangan kata karena alasan budaya lagi." Bernard mengemukakan penolakan Azharin dengan halus.


"Bisa jadi begitu. Walau bukan budaya kami, di negaraku juga ada yang hidup bersama tanpa menikah."


"Ohhh ya?" tanya Bernard yang awam tentang negara Azharin.


"Oke. Aku hargai itu. Aku juga bukan pelaku." Bernard menerangkan. Gilberto tersenyum. Dia sangat tahu jika Bernard memang bukan penganut budaya **** bebas. Gilberto terbahak ketika mendengar Azharin menuduh Bernard.


"Benarkah? Jadi kau masih bersegel?" Alis Azharin bertaut memandang keheranan pada Bernard.


"Pikiran kau negatif saja dengan budaya barat." Bernard menyentil pelan kening Azharin.


"Maaf, bukannya begitu. Film barat yang aku tonton membuat aku menilai begitu." Azharin mengajukan alasannya.


"Aku rasa, kembali pada individu. Baik lelaki sini atau lelaki negara lain, jika mereka suka melakukannya secara bebas ya mereka lakukan. Aku bukan tipe lelaki begitu."


"Ohhh, baguslah. Jadi aku tidak merugi." Azharin merubah kembali arah pandangnya. Dia fokus kembali memandang keluar jendela mobil. Menikmati jalan-jalan kota tersebut.


Bernard tergelitik mengganggu Azharin karena kata merugi. "Bukankah kau katakan cinta bukan bisnis, dari mana datang kata merugi?"


"Datangnya dari kata virgin. Itu, adalah aset berharga wanita. Namanya aset tetap ada kata laba dan rugi. Aku masih virgin, jadi aku merasa rugi jika mendapat lelaki tak bersegel," Azharin mencari alasan agar tidak kalah dengan pertanyaan Bernard. Alasan yang konyol sebenarnya.


"Kau pandai bersilat lidah, Barbie."


"Itu fakta." Azharin masih menegakkan pendapatnya. Gilberto kembali tertawa.

__ADS_1


"Apa kau begitu menikmati kekalahanku!" ujar Bernard beralih ke Gilberto.


"Pastinya. Aku tidak menduga kau kalah dengan makhluk mungil itu."


"Kau mau mengatakan aku seperti Marsha and The Bear, Gilbert?" tanya Azharin mencebik.


Azharin sudah termasuk wanita yang besar dan tinggi di antara teman-temannya. Di sini dia memang terlihat kecil. Apalagi Bernard mempunyai postur tubuh yang lebih tinggi dan lebar dari Gilberto bahkan Alex.


"Siapa itu Marsha and The Bear?" tanya dua lelaki Eropa tersebut hampir bersamaan.


"Hmmm, ternyata kalian cuma tahu bisnis. Kalian tidak tahu ada gadis yang mencintai beruang." Azharin tak berniat mengerjai lelaki itu. Dia tidak mau mengakui, di usianya sekarang masih suka menonton film kartun.


Meskipun Gilberto tidak paham jika ada cerita seperti itu, dia tak tahan untuk tidak mengolok Bernard. "Jadi gadis Asia ini mengira kau beruang?" Selesai mengatakan kalimat itu, kembali Gilberto terbahak.


"Benar begitu, Barbie?" tanya Bernard menatap tajam pada Azharin.


Azharin tidak terlihat takut. Dia dengan pintarnya membalikkan kalimat Gilberto. " Benar. Bukankah kau pebisnis? Itu artinya, kau punya banyak uang. Kau ber-uang bukan?"


"Kau memang banyak alasan," ujar Bernard. Dia tahu bukan itu maksud awal Azharin. Azharin dan Gilberto tertawa-tawa. Bernard hanya tersenyum samar. Dia semakin menyukai Azharin. Dia berjanji akan berusaha mengenal Azharin lebih dekat.


"Kau yakin akan tinggal di hotel?" Bernard kembali bertanya setelah mereka sempat terdiam dengan pikiran sendiri-sendiri.


"Jika kau merasa aku tidak merampokmu." Azharin berkata asal.


"Mengapa kau selalu mendebatku, Barbie?" Bernard berbisik memperingatinya. Azharin acuh tak acuh saja.


"Hmmm gadis ini tidak takut sedikitpun di daerah baru dan orang-orang baru." Bernard membatin.


Azharin akhirnya dicarikan hotel di tengah kota. Kebetulan tidak terlalu jauh dari apartemen Bernard.


"Kau mau diantar atau menungguku mengantarkan wanita ini ke kamar hotel?" tanya Bernard pada Gilberto.


"Aku rasa, kau saja yang menunggu di kamar." Gilberto melempar senyum penuh ejekan pada Bernard.


"Antar pria tak berguna ini," ujar Bernard pada sopirnya. Azharin melotot mendengar kata-kata Bernard. Gilberto melambaikan tangan pada Azharin.


Tak puas hanya melambaikan tangan, dia berkata, "Nona, sampai bertemu kembali." Azharin ikut melambai dan mobil meninggalkan parkiran tamu.


Bernard memeluk pinggang Azharin. Azharin mengambil tangan Bernard yang berada di pinggangnya. Dia meletakan di bahu.


"Begini aku lebih nyaman." Azharin mendongak dan mengerling pada Bernard.


"Kau jangan menggodaku Barbie."

__ADS_1


***


__ADS_2