Love Between Two Countries

Love Between Two Countries
Cinta Sonia


__ADS_3

Selepas kepergian Alex, Azharin tidak lagi terkurung di dalam kamar. "Sabar ya sayang, kita percayakan saja dengan paman Alex. Semoga papamu baik-baik saja dan kita bisa bersama kembali." Azharin mengelus perut membawa sang calon bayinya berbicara. Azharin yakin, calon bayinya akan mengerti.


Di tempat lain, Sonia dan buah hati mereka melepaskan kepergian Armian di Bandar Udara Soekarno-Hatta. Armian salut dengan ketegaran dan sikap kuat istrinya. Tidak ada tangisan yang melemahkan hatinya. Armian justru mendapat suport. "Sayang, jaga diri baik-baik dan semoga Azharin cepat ditemukan. Setelah itu kita membangun masa depan yang lebih baik."


Sonia berkata sambil memberikan tanda sayang di pipi suaminya. Dia juga mendekatkan anaknya agar bisa mencium pipi ayahnya. Si kecil yang seperti mengerti jika ayahnya seakan pergi bertugas atau memang Armian tak banyak waktu untuk anaknya selama ini sehingga balita itu santai saja melepaskan ayahnya pergi.


"Kenapa dia tidak menangis seperti salah satu anak temanku di kantor?" tanya Armian baru menyadari jika selama ini respon anaknya hampir tak banyak untuknya.


"Mungkin karena kita terlalu sibuk dan dia terbiasa sendiri tanpa kita," ujar Sonia memakai kata kita agar suaminya tidak merasa bersalah.


Armian tercenung sejenak, menatap istri serta anaknya secara bergantian. Sonia lalu menambahkan kalimat, "Masih banyak waktu untuk memperbaiki sayang. Untuk sekarang baiknya jangan dipikirkan. Fokus dulu dengan perjalanan jauh."


Tepukan lembut berulang di lengan suaminya memberikan ketenangan. Cinta Sonia terasa begitu tulus untuknya, membuat hati nurani Armian bergetar. "Terima kasih sayang. Sepulang dari sana, aku akan menjadi lebih baik lagi untukmu." Armian mengecup puncak kepala istrinya dan terus ke anaknya. Sonia tersenyum. Terselip rasa haru di hatinya dengan adanya kejadian dibalik hilangnya Azharin.


"Maafkan aku Azharin sayang, di satu sisi aku sedih dan gelisah, tetapi dengan adanya kejadian ini, aku tahu cintaku tidak sia-sia. Semoga, di manapun kau berada, baik-baiklah dan kita bisa bersama lagi.Aku merindukanmu adik iparku yang baik hati."


"Ada apa?" Armian melihat sekelebat bayangan sedih di mata istrinya.


"Aku merasa bersalah dengan hilangnya Azharin aku menjadi sedikit egois dan merasa cintamu nyata, selain itu aku merindukan Azharin."


Armian memahami apa yang dikatakan dan dirasakan Sonia. Dia tidak menyalahkan pemikiran Sonia. "Semoga kita masih bisa bersamanya. Doakan yang terbaik untuk adik iparmu yang keras hati itu."


"Ya, tentu saja."


"Baiklah sayang, aku berangkat ya."


"Ya sayang, selamat jalan."


Armian memeluk istri dan anaknya erat. Lalu melangkahkan kaki menjauh dari mereka. Sonia masih menatap punggung suaminya. "Cepat kembali sayang. Aku pasti merindukanmu." Air matanya menggenang dan jatuh meluruh mengalir di pipi.


Setelah Armian tak lagi terlihat, Dia melangkah ke parkiran dan menuju mobilnya. "Sudah?" tanya Romi. Sonia dan Armian memang meminta bantuan Romi untuk menyetir.


"Ya. Ayo Rom."


***


"Apa sekretaris telah menghubungimu?" tanya Gilberto pada Bernard melalui sambungan seluler.


"Ya, sudah."


"Kau tahu ada yang terjadi di perusahaan?"


"Aku tahu."

__ADS_1


"Kau harus kembali, dengan adanya masalah di perusahaan," ujar Gilberto


"Itu tidak mungkin!" Bernard menolak tegas.


"Apa kau akan mengorbankan perusahaan!" seru Gilberto tajam.


"Aku tidak bisa mengorbankan istriku dan bayi dalam perutnya."


Gilberto tentu menyetujui keputusan Bernard. Dia hanya belum bisa mencari bukti atas tuduhan salah satu relasi bisnis yang mengatakan perusahaan Bernard melakukan penipuan besar-besaran.


Gilberto telah mendapatkan kejelasan dari sekretaris Bernard sesuai dengan permintaan Bernard yang meminta Gilberto mengatasi sementara apapun tentang perusahaan.


Alex tak sengaja mendengar perkataan tegas Bernard yang lebih memilih Azharin. Alex semakin menyukai menjalin hubungan bisnis dengan Bernard dan juga berteman dengannya.


Dibalik punggung Bernard, sejenak Alex menimbang-nimbang dan menyugar pelan rambutnya. Dia masih terus menyimak perkataan Bernard. Alex yakin Bernard berbicara dengan Gilberto.


"Apa kau mendapatkan bukti bahwa aku tidak melakukan penipuan itu?" tanya Bernard tanpa mengetahui ada seseorang di belakangnya.


"Ohhh begitu." Terdengar nada kecewa ketika mendengar jawaban Gilberto.


"Coba kau buka brankas di apartemen. Aku selalu menyimpan semua dokumen asli ketika awal berbisnis dan meninggalkan salinan yang seperti asli di kantor. Tak ada yang mengetahui, dan kau orang pertama yang tahu. Aku akan mengirimkan sandinya."


Alex tak menyangka jika Bernard mempunyai cara untuk mengatasi perusahaan dari penipuan orang yang dipercayanya sekalipun.


Bernard menutup telepon dan terperanjat ketika dia berbalik badan dan menemukan Alex di belakangnya.


"Cukup lama hingga aku mendengar semuanya." Jawaban Alex terdengar santai.


"Apa kau akan membantuku, atau kau akan tertawa atas masalahku?" selidik Bernard.


"Aku tidak sekejam itu padamu. Mari ikut."


Alex melangkah ke ruang tamu dan diikuti oleh Bernard.


Alex duduk dan Bernard menyusul duduk di depannya. "Ada apa?"


Alex berkata, "Kau kembalilah. Urus perusahaan dan masalahmu, lalu kembali kemari."


"Kau pasti telah mendengar penolakanku terhadap Gilberto. Itu juga berlaku padamu."


"Azharin aman. Percayalah padaku."


"Apa maksudmu!" Bernard menegakkan badannya spontan dan menarik kerah baju Alex.

__ADS_1


Alex dengan sabar menepiskan tangan Bernard yang mencengkram kerah bajunya. "Duduklah. Dengarkan aku baik-baik."


Bernard mengikuti instruksi Alex. Dengan penasaran menggunung dia kembali duduk. Alex tanpa membuang banyak waktu berkata, bagaimana awal semuanya terjadi.


Alex telah mencurigai jika seseorang akan melakukan perbuatan makar pada Bernard. Ketika itu seseorang datang padanya dan mengajak kerja sama. Salah satu diantara mereka menyebut nama Bernard.


Alex yang ketika itu belum melangkah jauh, mendengar dengan pasti. Semenjak itu, dia meminta orang mengikuti dan melaporkan terus apa yang mereka kerjakan. Alex sangat murka ketika Bernard menapakkan kaki bersama Azharin, seseorang diantara mereka juga ikut menapak di pesawat yang sama.


Alex lebih murka ketika orangnya melapor mereka mengikuti ketika Bernard, Azharin dan Alex berwisata. Ketika orang-orang mereka hendak menculik Azharin, orang Alex telah bergerak lebih dulu menculik Azharin.


"Percayalah padaku. Dia baik-baik saja. Kau tidak bisa menjumpainya, karena akan jadi titik lemahmu. Biarkan mereka berpikir istrimu hilang dan kau sedang mencari. Dengan begitu Azharin akan aman."


"Kau yakin?"


"Azharin meminta aku menjaga kau baik-baik saja. Dia juga meminta aku lebih memprioritaskan keselamatanmu. Aku minta kau percaya sepertinya."


Bernard menatap tajam mata Alex. Alex tersenyum mencemoohkan. "Kau tidak bisa membuktikan apapun jika aku punya niat. Hanya Azharin yang bisa menyelami mataku."


"Kau memprovokasi aku?"


"Untuk apa aku lakukan, jika kenyataan begitu. Aku bisa saja menipumu. Namun aku berjanji pada nona cantik dan calon keponakanku, menjaga suami dan ayah yang sangat mencintai mereka."


"Baiklah. Apa yang harus aku lakukan."


Alex membeberkan apa yang telah dia dapat dan apa yang telah dia rencanakan. Bernard setuju.


"Lalu bagaimana dengan abang Azharin? Dia akan sampai tak lama lagi."


"Kau memberitahunya?"


"Bagaimana aku bisa berbohong saat ponsel Azharin selalu memanggil."


"Ohh tak jadi masalah. Mereka tidak melacak abangnya. Mereka hanya melacak kau dan Azharin. Dia bisa tinggal di sini berpura mencari adiknya. Tak perlu katakan apapun padanya. Aku tak ingin dia mengganggu rencana yang aku susun."


"Aku paham. Akan aku luruskan kesalahan pemahamannya padaku nanti saja."


"Bijak. Itu lebih baik."


Bernard menjemput Armian sesuai janjinya, lalu keesokan harinya, Bernard terbang sesuai rencana. Kemarahan Armian tak bisa ditepis. Bernard hanya berkata, "Setelah urusan perusahaan selesai, kau akan memahaminya. Sampai saat itu tiba, aku minta kau yang melacak Azharin dengan orang kepercayaan Alex."


Armian dengan orang kepercayaan Alex mulai melacak dari awal hilangnya Azharin. Sesekali Alex menelepon dan menanyakan sejauh apa perkembangan. Jelas itu semua hanya sandiwara untuk mengulur waktu.


"Di mana kamu dek?" Jika malam tiba, Armian selalu membatin di kamar hotel mewah yang di carikan Bernard. Hati kecilnya yakin adiknya baik-baik saja di suatu tempat. Dia akan mencari terus dan berharap Bernard cepat menyelesaikan masalahnya dan ikut mencari kembali istrinya.

__ADS_1


Walau hati kecil Armian kesal melihat adik iparnya lebih mementingkan perusahaan, dia juga cukup mengerti apa yang sedang terjadi.


***


__ADS_2