Love Between Two Countries

Love Between Two Countries
Bukan Sekadar Patung Hidup


__ADS_3

Dalam hidup, terkadang lebih baik kita tidak banyak tahu atau mencari tahu sesuatu hal yang akhirnya hanya ada rasa sakit, sakit dan sakit. Berpura tidak melihat cara terbaik menyelamatkan hati.


______


Ketika menunggu Sonia menghubungi kembali, Azharin bangkit dari tempat tidur. Dia mendengar bell apartemen berbunyi. Begitu pintu terbuka, Azharin mau tidak mau mengerutkan pelipis.


Seorang wanita dengan postur yang lebih tinggi dari Azharin berdiri dengan elegan. Wanita tersebut dalam balutan gaun pendek tanpa lengan. Terlihat sangat seksi dan menggairahkan dengan lipstik merah merona sesuai dengan warna gaun yang dikenakan.


"Excuse me, who do you want to meet?" tanya Azharin. Azharin menilik lebih dalam wajah wanita tersebut.


"Saya ingin bertemu Bernard."


"Maaf, dia ke kantor, tetapi Anda bisa menunggu di dalam atau Anda hubungi ponselnya." Azharin berujar dengan tenang.


"Saya sudah ke kantor, dia tak ada dan tak bisa dihubungi."


"Oh ya?" tanya Azharin meremehkan.


"Anda tidak ingin tahu siapa saya?" tanya wanita berbaju merah menyala tersebut.


Azharin hanya tersenyum miring. "Tidakkah Anda yang harus bertanya siapa saya dan untuk apa saya di apartemen Bernard," ujar Azharin memanaskan suasana. Azharin hanya mereka-reka siapa wanita ini. Dia merasa pernah melihat wajah wanita ini.


Wanita tersebut sedikit terkena tekanan mental. Dia awalnya berniat menghasut Azharin. Tanpa dia sadari dia tersulut sendiri dengan sikap dan perkataan Azharin.


"Anda terlihat bukan dari negara sini." Wanita tersebut mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Anda benar. Saya dari Indonesia."


"Apa hubungan Anda dengan Bernard? Apa Anda asisten rumah tangga yang baru?" wanita tersebut menyudutkan Azharin.


Azharin lagi-lagi melayangkan senyum miring. Secara Azharin tahu, Bernard tidak pernah mempekerjakan asisten tetap untuk di apartemen. "Anda terlihat mempesona dan menarik. Sayangnya daya pikir anda tidak cukup cerdas untuk menilai."


"Maksud Anda?"


"Maksud saya, Anda penilai yang payah. Anda bisa melihat, dengan kelihaian saya berkomunikasi dengan Anda, apa saya melamar untuk jadi asisten rumah tangga sejauh ini?" nada Azharin semakin sinis.


Azharin memang tidak pernah tahu dan tidak pernah ingin tahu wajah Laurren. Dia masih menduga-duga saja. Untuk bertanya, Azharin tidak ingin. Dia tidak ingin terlihat bodoh jika nantinya itu bukan Laurren atau terlihat seperti orang cemburu.


"Mulut Anda tajam juga."


"Ya, saya telah menelan ribuan razor blade sebelum sampai ke negara ini."


Wanita tersebut menghembus napas kesal. "Aku Laurren dan aku kekasih Bernard." Akhirnya dia tidak tahan sendiri.


"Kekasih atau mantan kekasih?" ujar Azharin mencemooh.


"Kami sudah berbaikan sebulan yang lalu." Laurren berharap Azharin tersulut api cemburu.


"Ide bagus jika begitu. Setidaknya kalian tidak harus bermusuhan." Azharin berpura tak paham maksud perkataan Laurren.


"Kau salah tangkap. Aku dan Bernard kembali menjalin cinta."


"Apa tujuan kedatanganmu?" tanya Azharin masih dengan nada tak acuh.

__ADS_1


"Aku ingin kau meninggalkan Bernard." Laurren berkata tak tahu malu. Azharin ingin tergelak, namun dia masih berusaha bersikap sebaik mungkin.


"Aku rasa kita bukan remaja lagi. Pola pikir kau sangat dangkal Laurren." Azharin sekali lagi berhasil merendahkan wanita cantik itu.


"Kau berani merendahkan aku!" Laurren tidak terima dengan perkataan Azharin.


"Kau yang memintanya. Kau pikir Indonesia-Inggris itu dekat hmm? Kau pikir aku wanita yang bagaimana bisa sampai ke sini? Tidak mungkin aku berani melangkah sejauh ini tanpa keberanian dan pertimbangkan sayang." Azharin berkata-kata dengan lambat dan sangat tenang. Dia sengaja memakai kata sayang untuk lebih mencemooh Laurren.


Laurren tidak sepenuhnya mengerti ke mana maksud bicara Azharin. Dia merasa tidak bisa menghasut Azharin. Laurren tidak berani terlalu mengambil resiko.


Dia mencoba cara lain, yaitu mencari perhatian dari Bernard kembali. Dia sangat yakin Bernard masih mencintainya dan hanya marah dengan masih memblokir nomor ponselnya dan tidak membalas email darinya.


Sayangnya Laurren tidak bisa berpikir jauh, waktu dua tahun kurang bukanlah waktu yang sebentar untuk mengubah segalanya.


"Aku akan berbicara pada Bernard saja. Aku akan kembali lagi nanti," putus Laurren.


"No problem. It's okey."


Laurren tergesa bangkit dan menyandang tas kecil yang juga berwarna merah menyala. Azharin tersenyum ketika membayangkan Laurren sudah seperti udang rebus. Baju merah, tas merah, lips merah dan kulit yang terlihat putih kemerahan.


"Mengapa kau tersenyum aneh?" tanya Laurren sebelum melangkah.


Azharin dengan tangan bersedekap berkata, "Jika kau mau mendengar saranku, jangan memakai serba merah. Kau terlihat seperti lobster raksasa di mataku."


Laurren mendengus dan cepat berlalu dari Azharin.


Azharin tidak begitu mengambil pusing kedatangan Laurren. Dia juga tak ingin mengabarkan pada Bernard. Dia berencana memberi tahu nanti setelah Bernard kembali.


Azharin kembali ke kamar dan melihat lima kali panggilan tak terjawab dari Sonia. Azharin menghubungi kembali. "Sibuk?" tanyanya.


"Maaf kakak ipar, ponselku tertinggal di kamar dan aku kedatangan tamu tak diundang."


"Siapa?"


"Mantan kekasih Bernard."


"Kau terlihat biasa saja. Apa kau tidak cemburu?" tanya Sonia. Sonia telah menepikan mobil. Dia tidak berani menerima telepon sambil menyetir, walaupun dia menggunakan hands-free ataupun bluetooth ke mobil.


"Aku pernah bertanya apakah mantannya tidak menjadikan hambatan untuk ke depan. Dia berkata tegas bahwa tidak akan menjadi hambatan."


"Aku harap itu benar dan dia tidak mengacaukan pernikahanmu." Sonia merasa sedikit khawatir.


"Semoga. Jikapun iya, selagi Bernard tidak merespon aku tidak akan mundur."


"Baguslah. Kau mau berbicara apa tadi, aku rasa bukan soal mantan Bernard bukan?"


"Tidak, itu aku anggap ujian cinta saja. Aku ingin meminta pendapatmu tentang suatu hal." Azharin terlihat serius dan Sonia tahu tempat untuk tidak bercanda.


"Tentang?"


"Ada sedikit penyesalan yang hadir di hatiku setelah sampai ke negara ini. Aku mulai ada keraguan." Azharin mengatur intonasi suaranya.


Sonia terperangah. Sesaat dia bingung akan berbicara apa. "Apa maksudmu?" Kalimat itu yang terbesit dan dikeluarkan Sonia.

__ADS_1


"Aku sepertinya tidak mencintai Bernard, atau mungkin tepatnya belum mencintainya. Aku hanya nyaman bersamanya."


"Lalu bagaimana bisa kau pergi ke sana, bahkan kau mengorbankan kariermu?"


"Aku hanya ingin pergi dari negara kita setelah begitu banyak hal pahit yang aku terima dan jalankan. Lalu Bernard datang memuluskan semua jalanku."


Sonia semakin shock mendengar perkataan Azharin. "Jadi ... jadi, kau hanya berniat melarikan diri?"


"Iya. Ada hal yang paling aku sakit hatikan atas semua yang aku jalani. Itu alasan aku nekat ke Spanyol menemui Alex dan nekat ke negara Bernard. Aku ingin melupakan kesakitan demi kesakitan yang aku jalani."


Sonia bukannya menggubris sakit hati Azharin lebih dahulu, Sonia berkata, "Kau tidak pikir panjang Rin. Pernikahan satu negara saja sangat sulit dijalani jika tidak ada cinta. Ini pernikahan antara dua negara Rin. Seharusnya ada dua cinta antara dua negara, tetapi sekarang antara kalian hanya satu cinta, apakah bisa kau mengatasi nantinya di tengah kebudayaan kita yang jauh berbeda."


"Aku rasa aku bisa kalau untuk itu."


"Kau bilang kau rasa. Itu tandanya kau tidak yakin. Kau kenapa baru katakan sekarang Rin?" Sonia sangat menyesali keputusan Azharin yang gegabah.


"Aku tetap yakin untuk menikah dan tak kembali. Aku hanya katakan padamu, ada sedikit penyesalan. Bukan aku membatalkan."


"Lalu saran apa yang kau inginkan dariku?" Sonia tak habis pikir dengan pemikiran Azharin. "Aku benar tidak mengerti pikiranmu Rin."


"Keraguanku, aku takut menyakiti semakin dalam perasaan Bernard, jika aku gagal mencintai dia sepenuh hati nantinya."


"Kalau itu ... saran aku, jangan ragu. Percayalah, cinta bisa timbul seiring waktu. Itu tak bisa dipungkiri. Kecuali hati kau mati dan jadi sekeras batu."


"Begitu ya?" tanya Azharin sedikit nelangsa. Dia terbayang wajah Bernard. Bernard yang selalu memanjakannya setelah bertemu di Spanyol, sangat jauh berbeda saat dia hanya sebagai teman dunia maya Azharin.


"Iya. Yakinlah."


"Baiklah, aku merasa lebih tenang setelah membicarakan padamu. Aku minta jangan cerita pada siapapun, termasuk pada suamimu."


"Jangan khawatir. Aku minta berbahagialah di sana, seperti aku yang bahagia mengenalmu dan abangmu."


"Juga mengenal ibumu."


"Ya, akan aku lakukan setelah aku mengorbankan semuanya."


"Aku ingin tahu hal apa yang kau katakan, kau paling sakit hati." Sonia teringat perkataan Azharin di awal tadi.


"Aku rasa lain kali saja aku katakan. Aku tak ingin kau keceplosan pada suamimu."


Sonia tidak bisa tidak ingin tahu. Dia mendesak Azharin. "Kau jangan buat aku kepikiran Rin."


"Nantilah setelah menikah aku beri tahu. Aku janji. Jika sekarang aku katakan, aku takutnya malah batal menikah. Apakah kakak ipar ingin itu terjadi?" Azharin memberikan wajah polosnya.


Sonia jelas tidak ingin Azharin semakin melenceng keluar jalur. Sonia ingin Azharin tetap berjalan di rencana yang telah di tatanya. Walaupun alasan Azharin sangat tidak masuk akal oleh Sonia.


"Baik. Jangan aneh-aneh. Jalani pernikahanmu dan buka hatimu untuk Bernard. Percayalah dia lelaki yang baik dan bertanggung jawab."


"Ya aku tahu. Ya sudah sampai nanti. Hati-hati di jalan kakak ipar. Aku sangat menyayangimu."


"Tiba di rumah aku kabari. Aku juga menyayangimu."


Ketika Sonia telah memutuskan sambungan telepon. Azharin tertunduk menghembus napas. "Aku pasti bisa melalui semua ini. Bersama dia, aku lebih merasa hidup, bukan hanya sekadar patung hidup."

__ADS_1


***


__ADS_2