
Sinar matahari menerobos melalui tirai, Azharin telah membuka daun jendela, jauh sebelum sinar mentari keluar dari peraduan. Dia menghirup udara pagi yang segar.
Hari ini hari yang sangat dia nantikan, orang-orang terkasihnya akan tiba siang ini. Azharin ingin ikut menjemput, akan tetapi Armian dan Sonia melarang. Azharin masih harus banyak beristirahat, setidaknya hingga Bernard datang.
Azharin tak sabar menantikan perputaran jarum jam. Dia merasa waktu sedikit lebih lama berganti. Mata indahnya tiap sebentar melirik ke jam dinding di kamarnya. Terkadang dia sengaja keluar sekedar melihat ke halaman rumah.
Bibi pengasuh Zein, ingin tertawa melihat tingkah laku Azharin yang tidak seperti biasanya. Sifat tak sabar terlihat jelas. Beberapa hari sejak sakitnya Zein, Azharin sudah mau menyapa dan berbaur dengan anggota di rumahnya.
"Bibi jadi penasaran, bagaimana suami Non Azharin," ujar bibi sambil menggendong Zein.
"Bibi lihat saja nanti. Suamiku sangat ganteng Bi. Tidak seperti abangku yang diktator itu." Azharin masih sedikit kesal karena dilarang ikut untuk menjemput suami dan keluarga.
"Apa itu diktator, Non?" tanya bibi dengan polos.
"Diktator itu pemimpin yang suka menindas Bi. Pemimpin yang kekuasaannya mutlak tak boleh dibantah. Katanya tinggal ya tinggal. Tahan istrinya hidup dengan orang seperti itu," ucap Azharin cengar-cengir.
Cengiran Azharin lenyap dan berganti dengan tawa tertahan dari sang bibi. Sambil berlalu, Sonia menjitak kepala Azharin.
"Ihhh apaan sih kakak ipar!" sungut Azharin sengit.
"Siapa suruh mengibahkan suami tampan dan baik hatiku," teriak Sonia. Sonia sedang sibuk menata hidangan untuk keluarga Bernard. Sonia membuat hidangan ala nusantara. Azharin dilarang membantu.
Azharin mengekor seperti anak kecil. Hatinya berdebar menantikan suaminya. "Nia, aku berdebar ni."
"Baguslah, tanda masih hidup hatimu," jawab Sonia asal. Dia tersenyum jahil ketika Azharin memonyongkan bibirnya.
Azharin menarik kursi meja makan dan dengan hati-hati dia duduk. Azharin mengambil segelas air putih dan sepotong buah.
Bosan duduk di ruang makan, dia berlalu menuju kamar. Dia berbaring dan berharap mereka segera tiba.
Lama berada dalam ketidaksabaran, akhirnya terdengar deru mobil Armian memasuki pekarangan rumah. Azharin dengan perlahan menuju ruang tamu.
Hatinya semakin berdetak kencang Debaran manis bermain di dadanya. Senyum setengah gemetar hadir. Bagaikan mimpi melihat orang-orang yang dikasihinya turun.
__ADS_1
Azharin berdiri di beranda, tak bisa berkata-kata. Saking senangnya, dia hanya membisu menatap sosok tegap yang dirindukan. Tatapan lembut mata biru itu menenggelamkan dirinya di satu laut. Laut asmara dua benua.
Bernard terus melangkah mendekati Azharin yang bersandar menyamping di tiang beranda. Air mata harunya telah turun. Armian mempersilahkan keluarga Bernard untuk masuk, walau mereka tetap tidak ingin mendahului Bernard.
Barbara yang tadinya ingin berteriak senang melihat Azharin, langsung dibekap lembut oleh ibunya. Sang ibu membisikkan sesuatu dan Barbara cukup mengerti Dia mengangguk dan berjalan bersisian dengan ibunya.
"Barbie ...." Hanya itu yang sanggup Bernard ucapkan. Dia merentangkan dua tangan ke arah istrinya.
Azharin tak kuasa menahan tangis. Dia melangkah dan masuk ke dalam pelukan suaminya. Tangisnya semakin pecah ketika merasakan pelukan hangat dan erat dari suaminya.
Sonia menyalami keluarga Bernard dan meminta mereka lebih dahulu masuk. Mereka tak menolak ajakan Sonia. Memberikan ruang pada anak dan menantunya. Sonia telah meletakan kue dan minuman di meja tamu. Mempersilakan untuk menikmati.
Azharin masih menangis dalam pelukan Bernard. Samar-samar dan terbata-bata dia meminta maaf. Bernard mengusap mata istrinya dan juga meminta maaf atas ketidaktahuannya atas apa yang terjadi pada Azharin. Mata Bernard juga berkaca-kaca.
Hatinya terenyuh melihat kesedihan yang tersimpan di mata Azharin. Bobot badan Azharin juga terlihat turun. Bernard dapat merasakan ketika memeluk istrinya. Tulang leher Azharin juga terlihat lebih menonjol.
"Ayo salam mama dan yang lain. Nanti malam aku akan menebus kesalahanku padamu." Bernard mengusap bahu dan mengecup kepala Azharin. Azharin mengangguk dan menuju ke dalam rumah.
"Sudah. Khawatirkan kesehatanmu. Mama baik-baik saja." Emilia memeluk dan mencium pipi Azharin dengan penuh kasih sayang.
"Papa." Azharin kini berpindah memeluk ayah mertua. Senyum hangat sang ayah meringankan pikiran Azharin. Azharin lalu memeluk Glorya dan berkata, "Akhirnya kau benar sampai di sini, Glo. Aku sangat bahagia."
"Aku juga." Glorya memberikan pelukan hangat.
"Apa kabar kesayangan tante?" ujar Azharin memeluk Barbara dan Rodney sekaligus.
"Kami baik tante. Kami sangat merindukan kau sebulan ini." Rodney berinisiatif lebih dahulu sebelum Barbara berbuat aneh-aneh.
Barbara hanya mengangguk dan membelai pipi Azharin. Barbara juga tahu dia tidak bisa mengusili tantenya yang tengah bersedih. Anak itu sudah paham apa yang sedang terjadi. Neneknya sepanjang perjalanan telah mengatakan apa yang terjadi pada Azharin dan bagaimana harus bersikap.
Sonia menawarkan makan siang lebih dahulu sebelum istirahat. Mereka berpindah ke ruang makan. Bernard dan Azharin berada paling belakang yang menyusul ke meja makan. Tak puas-puas Bernard merangkul istrinya dan mengecup pelipisnya.
Barbara tercengang melihat hidangan yang berbeda. "Apakah ini pedas Ma?" tanyanya pada sang ibu.
__ADS_1
Sonia membantu menjawab, "Tidak sayang." Sonia lalu memberi tahu mana makanan yang pedas dan meminta kedua anak itu untuk mencicipi sate ayam kuah kacang dan bakwan krispy. Sonia juga memberikan pilihan lain, yaitu ada ayam goreng tepung yang dibaluri dengan saos tiram.
"Terima kasih Tante. Kau sama baiknya dengan Barbie." Barbara memuji dengan tulus. Azharin yang masih berdiri di belakang Barbara mencubit pelan pipi bocah bule tersebut.
Sonia tak lupa memanggil bibi pengasuh anaknya. "Ayo Bi, kita makan sama-sama dengan keluarga suami Azharin.
"Nanti saja Bu. Den Zein belum tidur," tolak Bibi dengan halus. Dia merasa malu bergabung dengan keluarga suami Azharin.
"Zein biar aku yang gendong Bi." Sonia bersikeras.
Bibi pengasuh tak punya alasan lagi. Ragu-ragu dia mendekati meja makan dan memberikan Zein ke pelukan ibunya. Sonia mengenalkan bibi pengasuh yang bernama Murti. Keramahan dan sikap terbuka keluarga Bernard menjadikan bi Murti senang dan lebih santai untuk bergabung.
"Ternyata makanan di sini enak-enak," ujar Barbara dengan mulut penuh. Ia kembali memecahkan suasana yang sedang hening menikmati hidangan makan siang.
"Masih banyak yang bisa kau nikmati di sini Gadis Kecil." Azharin tersenyum melihat Bernard berkata sambil mengedipkan mata pada keponakan ceriwisnya.
"Jika begitu, kita bisa lama di sini." Barbara terlihat bersemangat.
"Apa kau tidak takut dikeluarkan dari sekolahmu?" tanya Bernard.
"Tidak, karena aku bisa belajar dengan Barbie." Kedipan nakal dia layangkan pada Azharin. Azharin mencibir. Barbara hanya tertawa kecil.
"Nanti malam, apakah kita bisa melihat kotamu Barbie?" tanya Barbara kembali. Kebisingan yang dia buat melupakan rasa sakit dibalik wajah cantik Azharin.
"Boleh. Namun untuk dua hari ini kau pergi dengan paman Armian dan tante Sonia, karena Azharin masih belum sehat." Bernard meminta pengertian keponakannya.
"Tidak masalah. Paman dan tante Sonia juga sangat mengasyikkan. Apalagi ada adik bayi yang lucu."
"Baik. Nanti malam paman akan membawa keliling kota," ujar Armian yang dibarengi anggukan Sonia.
"Horeee, aku sangat senang."
***
__ADS_1