Love Between Two Countries

Love Between Two Countries
Merubah Tujuan Hidup


__ADS_3

Pengalaman hidup, bisa merubah seseorang. Entah itu ke arah yang baik, atau sebaliknya. Namun, pengalaman hidup lebih baik menjadikan kita untuk lebih kuat dari sebelumnya. Agar kita bisa berdiri dengan kaki yang kokoh.


_________


Tiga bulan berlalu, Azharin menjalani hari-harinya seperti biasa. Satu yang kurang dalam keseharian, tidak ada lagi Hendri seperti biasanya. Azharin mulai merubah tujuan hidupnya, jika dulu targetnya menikah sebelum usianya genap tiga puluh tahun, kini Azharin ingin mencari pasangan dari negara lain.


Sonia tetap membayang-bayangi Azharin dengan pemikiran begini-begitu tentang pria luar. Ibarat pepatah, anjing menggonggong kafilah berlalu, Azharin mengambil prinsip itu. Dia meneruskan niatnya.


Armian hanya memantau adiknya, dia tidak ingin berdebat seperti dulu. Armian sangat paham dengan keras kepala adiknya, ketika telah memutuskan akan suatu hal. Armian meminta Sonia untuk memberikan informasi apapun tentang Azharin.


Armian melakukan pribahasa, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Secara bias Armian melakukan pendekatan diri untuk mendapatkan Sonia. Armian telah jatuh hati pada sahabat adiknya.


"Apa perkembangan cowok luar angkasamu?" pancing Sonia disela jam istirahat.


"Aku sudah memberikan nomor whatsapp pada tiga lelaki yang menjadi kandidat suami idaman." Sonia jelas tergelak mendengar ucapan Azharin yang tidak seperti dirinya.


"Kamu sepertinya makin gila Rin. Dulu kamu sangat anti dengan kegiatan seperti ini. Kamu katakan itu hanya buang energi dan membuang waktu."


"Seiring waktu, semua bisa berubah Nia. Cinta, pemikiran, tujuan dan apapun namanya, akan bisa berubah." Azharin berkata dengan mimik serius.


"Lalu apa sikapmu juga bisa berubah?"


"Aku berubah bagaimana?" Azharin tidak mengerti.


"Kau dulu kaku dan terlalu serius."


"Ohh ya? Aku kok tidak merasa ya?" ujar Azharin. "Sekarang aku bagaimana menurutmu?" tanya Azharin.


"Kau genit dan seperti orang baru puber saja!" Sonia berkata tegas.


Azharin melepaskan gelak tawa. Begitu ringan tanpa ada kekakuan seperti dulu. Puas dia tertawa, Azharin berkata, "Aku lagi tergila-gila dengan pria-priaku."


Sonia mendelik, kata-kata Azharin sangat janggal didengar. Sonia tidak pernah mendengar kalimat penuh candaan seperti itu dulunya.


"Kamu benar masih sehatkan Rin?"


"Aku sangat sehat. Bahkan terasa sehat ketika menyadari Hendri telah lepas dan menjauh dari hidupku."


"Terserah kau, Rin."


"Aku berencana cuti tahun depan dan akan berkunjung ke negaranya." Azharin menyampaikan dengan acuh tak acuh.


"Negara mana satu?" Sonia tahu Azharin tidak dengan satu pria memberikan harapan.


"Lihat nanti mana yang serius dan paling kuat hatiku berkata. Maka aku akan pergi ke sana."

__ADS_1


"Haa, kau gila apa. Jika dia serius dia yang datang. Bukan kau yang menggatal ke negara orang." Sonia tidak terima dengan jalan pikiran Azharin.


"Basi. Jika tidak ada yang bergerak, maka waktu akan berlalu begitu saja. Dia sangat sibuk, dia seorang pebisnis di sana. Lagian hanya bertemu. Aku anggap saja melancong. Masa iya kita bekerja di sarang pembuatan paspor, tetapi kita tidak punya paspor." Azharin mengemukakan alasan konyol.


"Kau tidak mengajak aku?" kerling Sonia nakal.


"Uhh kau berminat juga ya melihat pria luar angkasa? Lalu bagaimana dengan abangku?" Azharin menggoda Sonia. Sonia terbatuk dan tersedak teh es yang sedang di minum.


"Apa__" katanya terpotong.


Azharin langsung berkata, "Aku sudah tahu, kalian diam-diam ada hubungan bukan?"


Sonia tak membantah, dia hanya mengerucutkan bibirnya.


"Kenapa kau bisa tahu?" tanyanya. Dia merasa sudah bermain cantik agar tidak tercium oleh Azharin.


"Bilang sama abangku, aku ini adik intel. Masa hal kecil gini saja aku enggak tahu," Azharin pura-pura menyombongkan diri.


"Hmmm." Sonia cuma bergumam kecil.


"Apa kau juga jadi intel abangku dan membocorkan rahasiaku padanya?" tanya Azharin menatap tajam pada Sonia. Sonia kelabakan mendapatkan tatapan tajam Azharin.


Dia memutuskan mengkhianati kekasihnya. "Abangmu takut kau kenapa-kenapa." Sonia memilih kalimat yang tidak terlalu menjerumuskan dirinya dan juga tidak terlalu menyudutkan kekasihnya, abang Azharin.


"Hahaaa, kau memang bisa aku andalkan jadi kakak ipar yang baik. Aku tidak marah padamu. Jadi wajahmu biasa sajalah Kak." Azharin menyelipkan nada olokan dengan memanggil kak.


"Tidak. Mengapa mesti marah?"


"Huuuh tahu begitu aku tidak backstreet." Sonia bersungut-sungut.


"Kalian juga lucu. Backstreet Itu dari orang tua, bukan dari calon adik ipar."


"Kau kok bisa tahu?" Sonia masih penasaran.


"Ada deh. Masa harus di Intel saja."


Sonia tak mempermasalahkan. Dia tidak sabar ingin mengabari Armian. Armian awalnya hendak memberi tahu pada Azharin. Sonia melarang dengan alasan, dia tidak ingin dijauhi oleh Azharin. Sonia takut Azharin tidak setuju dirinya menjalin hubungan dengan Armian.


"Sebentar, pria Eropa meneleponku."


"Hi, what are you doing?" Mata biru langit itu menatap mesra pada Azharin.


"I'm having lunch with my best friend, dear," ujar Azharin. Dia tersenyum mendapatkan tatapan mual dari Sonia.


"Ohh, baiklah, silahkan sayang. Aku akan panggil kembali nanti." Dengan masih dalam bahasa inggris mereka terus berkomunikasi.

__ADS_1


"Baiklah cintaku, aku akan menelepon nanti setibanya di rumah."


"Aku sangat mencintaimu sayang," ucap pria itu.


"Aku juga sangat mencintaimu." Azharin membalas dengan tak kalah mesra. Azharin menyimpan kembali ponselnya dan menatap Sonia yang menatapnya dengan horor.


"Apa aku menakutimu?" tanya Azharin tersenyum senang.


"Pastinya. Sejak kapan kau jadi bisa romantis begitu?"


"Sejak aku memiliki Bernard Regant."


"Kau baru mengenalnya tiga bulan. Apa tidak terlalu cepat kalian mengatakan saling mencintai?"


"Lalu bagaimana dengan kau, kakak ipar? Apa kau tidak terlalu cepat saling mengatai saling mencintai?" Azharin membalikkan ke Sonia.


"Kami tidak pernah mengatakan begitu. Kami hanya mengatakan saling menyukai dan berusaha untuk saling mengenali." Sonia mengatakan apa adanya.


"Aku kasih saran ya kakak ipar, bertahun kita berusaha mengenali pasangan kita, aku rasa hanya setelah menikah kita mengenal bagaimana sebenarnya sifat asli pasangan kita."


"Apa itu yang kau dapat dari pengalamanmu bersama Hendri? Dan tolong kata kakak ipar, kau hilangkan. Aku tak ingin orang menggosipkan aku dan dirimu."


"Kau benar. Waktu tujuh tahun, aku kira bisa mengenal sosoknya. Nyatanya, aku salah. Aku tidak mengira dia bisa melakukan perbuatan kotor dengan menculikku hanya untuk satu tujuan."


"Sudahlah. Sudah berlalu. Lebih baik bahas pria Eropa-mu." Sonia bisa merasakan kekecewaan di nada Azharin membahas nama Hendri.


"Wow, kau memang kakak ipar yang menyenangkan."


"Sudah aku katakan, jangan panggil aku kakak ipar."


"Apa kau malu mengakui aku?" Azharin mengganggu temannya.


"Ya, kau si kaku dan garing seperti kacang panggang."


Azharin belum sempat membalas ketika satu panggilan video call kembali masuk. Azharin berbicara sejenak dan mengatakan sedang makan siang. Pria itu mengerti dan menyudahi pembicaraan singkat mereka.


"Pria mana lagi?"


"Afganistan."


"Sebentar lagi negara Saudi Arabia memanggilmu! Tak lama negara Dubai! Lalu negara mana lagi?" Sonia kesal sendiri melihat kelakuan Azharin akhir-akhir ini.


"Hmmm Spanyol ... barangkali juga termasuk menarik."


"Up to you."

__ADS_1


***


__ADS_2