Love Between Two Countries

Love Between Two Countries
Drama Bocah Bule


__ADS_3

Suasana hening terjadi di ruang tamu. Bernard mengakui ada rasa penasaran dengan kalimat-kalimat Barbara. Bernard sadar, itu bukan hal penting lagi baginya. Dia berpikir bagaimana agar Barbara tidak membahas topik tentang Laurren. Bernard sepatah kata belum menceritakan Laurren.


Lain halnya dengan pemikiran Azharin. Azharin setelah bisa menduga-duga, jika Laurren hanya masa lalu. Azharin sudah tidak mempermasalahkan.


Anggap saja Bernard sedang beruntung, ketika Barbara hendak kembali berkata, terdengar suara deru mobil. Tak lama turunlah pria setengah baya dan anak lelaki. Dia adalah Axton Regant dan Rodney.


Suasana tidak jauh beda dari yang tadi. Jika tadi sang adik yang berceloteh, kini sang abang yang berceloteh.


"Hai keponakan paman yang tampan. Apa kabarmu?"


Bernard merentangkan satu tangan yang kosong. Kini Rodney telah duduk di pangkuan pamannya. Azharin bisa tahu, betapa anak-anak itu dekat dengan pamannya.


"Kamu ingin mengenal dia?" tanya Bernard setelah Bernard memperkenalkan Azharin dan ayahnya.


"Siapa wanita ini Paman dan dari mana dia?"


Azharin menyapa dan bersalaman dengan bocah lelaki itu. Bernard menambahkan mengatakan akan menikah dengan Azharin. Lalu kembali Bernard harus mati kutu mendengar pertanyaan bocah lelaki itu.


"Paman tidak menikahi Laurren?"


Ohhh God. Ada apa dengan keponakanku. Mengapa tiba-tiba dia senang membahas Laurren.


"Tidak. Apa kau senang lelaki kecil?" tanya Bernard secara acak saja. Bernard sudah tidak bisa berpikir jernih.


"Ya, aku tidak menyukai Laurren."


Ohhh Tuhan. Ada apa dengan Laurren. Mengapa kini semua memprotes dirinya.


"Kalian berdua sebaiknya menghargai wanita cantik itu." Glorya mencoba menghentikan kekonyolan ini.


"Biarkan saja. Aku ingin tahu apa pendapat mereka. Walaupun aku tidak mengenali siapa Laurren." Azharin melarang Glorya menghentikan Rodney.


"Ada apa dengan Laurren?" Glorya menggantikan Bernard. Berharap topik cerita secepatnya berganti.


"Laurren pernah dicium paman Milles."


Paman Milles adalah tetangga mereka. Milles adalah duda tanpa anak. Dia tinggal hanya dengan ibunya. Milles tidak punya pekerjaan tetap. Dia diajak Axton untuk mengelola ternak ayam bersama.


"Ok. Sekarang paman kalian sudah tahu apa yang tidak kami ketahui. Jadi berhenti berbicara Laurren, atau nenek akan meminta Azharin meninggalkan pamanmu." Emilia terpaksa mengancam kedua cucunya.


"JANGAN NEK!" teriak mereka bersamaan. Sadar suara mereka begitu nyaring, kedua bocah itu saling pandang dan menutup mulut. Azharin yang tadinya ikut terkejut dengan teriakan lantang kedua bocah tersebut, malah tertawa kecil. Tawa yang sanggup memberikan ketenangan di hati Bernard setelah gelisah beberapa waktu akibat membahas Laurren.

__ADS_1


"Azharin membawa buah dan roti. Apa kalian mau?" Glorya mulai berpikir untuk menggiring anaknya dari ruang tamu.


"Yes Mom."


"I want it Mom."


"Baik. Kalian bisa turun dari pangkuan paman kalian dan pergi ke meja makan," titah ibunya pelan.


"Ayo Barbie. Apa kau tidak menginginkan sepertiku?" tanya polos Barbara sebelum berlalu.


"Kau tidak boleh memanggil Barbie. Itu panggilan paman untuknya." Bernard berteriak protes. Barbara hanya menjulurkan lidah dan berlalu menuju ruang makan.


"Maafkan aku Barbie. Aku belum sempat banyak cerita," ujar Bernard menyesal.


"Tidak masalah. Aku memahami masa perkenalan kita."


"Ma ... Pa ... aku memang belum terlalu mengenal Azharin. Meskipun begitu, aku ingin memiliki dan menikahi dia secepatnya."


Hanya Azharin yang terkejut dengan perkataan Bernard. Ayah, ibu dan kakak perempuan Bernard tersenyum.


"Kau juga tahu, kami selama ini tidak pernah ikut campur tentang ini. Jika kalian saling cocok, menikahlah," ujar Axton.


"Thanks Daddy."


Menurut Emilia, Bernard tak punya banyak waktu selain untuk pekerjaan. Emilia juga sering mendengar keluhan itu dari Laurren. Emilia hanya menyerahkan keputusan pada Laurren. Emilia tidak bisa banyak memberi saran. Berulang kali Emilia protes jika Bernard tidak ada kabar atau tak pulang selama sebulan bahkan lebih, jawaban Bernard hanya satu, aku sibuk ma.


"Apakah kalian kembali hari ini juga?" tanya Emilia. Emilia masih ingin berbicara sesuatu pada Bernard.


Bernard meminta pendapat Azharin. Azharin menyerahkan keputusan di tangan Bernard. "Jika itu tidak mengganggu pekerjaanmu, aku ingin bermalam di sini." Azharin merasa lebih nyaman menginap di rumah ini dari pada di hotel.


Emilia mendapatkan angin segar mendengar ucapan Azharin. "Azharin tidak keberatan, Mama rasa kau juga tidak."


"Baiklah Ma. Jika begitu setelah makan siang. Aku ingin mengajak Azharin jalan-jalan ke peternakan dan desa di belakang kota ini."


Setelah selesai makan, seperti rencana awal Bernard, ia ingin mengajak Azharin ke pedesaan dibalik pinggiran kota tersebut dan ke peternakan ayam ayahnya.


Mereka kembali ke ruang tamu. Dua bocah bule itu mendengar. Mereka berdua menolak ketika diminta tidur siang. Drama bocah bule itu dimulai dengan merapat ke dua sisi badan Azharin. Ketika Bernard ikut melarang dengan alasan tidur siang, mereka mencari bantuan dengan memegang tangan Azharin.


Rodney juga tak terlihat canggung pada Azharin. Padahal baru hitungan jam mereka bertemu. Bernard melihat satu lagi pemandangan berbeda dari Azharin setelah melihat pemandangan Azharin tidur. Bernard melihat Azharin sangat ramah dan lembut pada anak-anak.


"Apa gadis Asia memang ramah-ramah pada anak-anak?" Bernard membatin dan hanya memperhatikan interaksi keponakannya merayu Azharin.

__ADS_1


"Aku memanggil paman pada pria tampan itu. Jika kau mengajak serta, aku akan memanggilmu dengan Aunt." Rodney memulai jurusnya.


"Jika aku tidak mengajakmu, kau tidak bersedia memanggil aku tante?" ujar Azharin sambil mencolek bergantian hidung mancung ke dua anak bule tersebut. Dia telah berencana mengajaknya. Azharin hanya ingin menggoda saja.


Barbara dan Rodney terlihat berpikir dan mereka saling pandang. Azharin menanti apa yang akan dikatakan dua bocah itu.


"Kami akan memanggil Barbie saja. Sama seperti paman memanggilmu," ujar Barbara.


"Hmmm, aku rasa bukan ide buruk." Azharin masih menggoda mereka.


"Tidak bisa, itu panggilan sayang paman untuknya." Bernard protes.


"Kalau begitu, paman harus mengajak kami. Selama ini, paman hampir tidak pernah mengajak kami jalan-jalan. Paman banyak sibuk kerja, andai papa tidak dilarang mama menemui kami, kami bisa meminta padanya."


Wajah-wajah sedih terpampang di depan Azharin. Azharin langsung membawakan ke dirinya. Ucapan mereka mengingatkan masa kecilnya. Azharin tahu rasanya bagaimana tidak mendapatkan kasih sayang dari ayah. Azharin sudah tak ingin menggoda Rodney dan Barbara. Tanpa dia tahu bocah-bocah bule memanipulasi keadaan.


"Jangan drama. Bukankah kalian sering pergi bersama papa kalian diakhir pekan? Bahkan kakek?" Bernard lebih dulu menampik. Bernard sangat tahu kelakuan Barbara dan Rodney jika punya keinginan.


"Beda. Papa hanya mengajak makan di luar dan kakek cuma mengajak ke mini market dan peternakan saja." Rodney berargumen.


"Kalian menolak ajakan paman ke apartemen."


"Kami hanya paman kurung di sana." Rodney ingat pengalaman saat diajak pamannya.


"Bukankah Laurren mengajak kalian bermain lalu kalian tertidur kelelahan?" Bernard terpaksa mempertanyakan. Dia ingat memberikan uang dan meminta Laurren menemani mereka. Bernard saat itu tiba-tiba ada rapat penting.


Kedua anak-anak itu hanya memandang ibu mereka. Glorya berkata, "Aku sengaja tidak memberitahumu. Mereka hanya makan hamburger dan minum sebotol jus yang diberikan Laurren dan mengatakan, kamu meminta Laurren membantu di perusahaan dan tidak boleh bertanya jika kau pulang. Laurren katakan, kau akan marah karena lelah bekerja."


Bernard tercengang, dia tak mengira Laurren bisa berbuat itu padanya. Tidak hanya selingkuh, dia juga membohongi anak-anak. Bernard memandang Azharin. Lalu beralih ke pada para keponakannya. Bernard semakin mengerti mengapa orang di rumahnya kurang respect ketika dia membawa Laurren pertama kali. Ternyata Barbara yang kala itu masih bayi merah saja tidak menyukai wanita itu.


Azharin melihat mata biru Bernard menjadi suram. Azharin cukup mengerti dengan apa yang dirasa Bernard. Kedua anak-anak di sampingnya juga terlihat terkejut ketika Bernard mengepalkan tinjunya secara tak sadar.


"Sudah, ayo kita jalan-jalan. Panggil aku tante. Jika iya aku akan mentraktir yang kalian inginkan. Pastinya itu dengan duit pamanmu." Azharin berkata sambil merangkul makhluk mungil di kedua sisinya.


"Oke Aunt." Mereka bertiga tertawa lepas. Barbara kembali menjulurkan lidahnya ke Bernard. Bernard menetralkan hati ketika mendengar tawa mereka bertiga.


Melihat anak-anaknya bisa tertawa begitu bahagia, Glorya tentu saja semakin menyukai gadis asing itu.


"Kalau begitu, pergi sana bersiap."


"Oke Barbie ... eh Aunt Barbie," ujar Barbara sambil berlari kecil ke arah kamar. Rodney menyusul. Azharin melihat Barbara gadis kecil yang jahil.

__ADS_1


***


__ADS_2