Love Between Two Countries

Love Between Two Countries
Salah Paham


__ADS_3

"Kamu baik-baik saja Dek?" Azharin telah bersiap untuk keluar dari rumah sakit. Sehari setelah rawat inap, Alex diam-diam meminta memindahkan Azharin ke rumah sakit di kota tersebut.


"Aku baik-baik saja Bang. Walau rasanya ada yang hilang dari diriku." Azharin menyampaikan isi hati pada abangnya.


"Ya, abang bisa mengerti apa yang kamu rasa. Hanya saja, abang berharap kamu bisa tegar dan optimis untuk bisa kembali hamil."


"Hmm nanti saja kita pikirkan Bang. Bang, aku ingin pulang ke Indonesia bersamamu." Dia menatap abangnya penuh harap.


Armian tak bisa menolak, melihat tatapan Azharin yang penuh harap walau ada kekosongan di sana. "Baik. Kita pulang."


Mereka memang tidak kembali ke rumah Alex. Sepulangnya dari rumah sakit, Armian telah meminta pada Alex, agar mereka bisa tinggal di hotel. Akses yang terlalu jauh menjadikan alasan pada Alex. Alex juga telah mengetahui keadaan Azharin. Rasa bersalah yang dalam tidak bisa memungkiri untuk menolak permintaan Armian.


Alex juga sangat sadar, jika Azharin dan Armian bukanlah tawanan. Politik bisnis yang menyeret secara tidak langsung kakak beradik tersebut, terutama bagi Azharin yang menjadi pemeran utama.


Di kamar hotel, Armian kembali bertanya, "Kamu yakin akan pulang, Rin?" Azharin hanya mengangguk.


"Lalu Bernard bagaimana?"


"Entahlah." Azharin menjawab malas.


Armian meyakinkan Azharin untuk menunggu hingga selesai. Namun entah apa gerangan yang dirasakan Azharin, ia bersikeras tetap ingin pulang tanpa sepengetahuan Bernard dan yang lain bersama abangnya.


"Dokumen ada padamu?" tanya Armian.


"Ada di tas, Alex telah mengembalikan ketika dia datang ke rumah itu."


"Baguslah, jadi lebih mudah. Abang akan membeli tiket. Kamu yakinkan?"


"Ya Bang. Aku ingin pulang. Di sini terasa asing dan menakutkan kini."

__ADS_1


Armian memikirkan cara untuk pergi diam-diam. Meskipun dia dan Azharin dikawal hanya demi keselamatan, tetapi Armian yakin akan kesulitan untuk meninggalkan hotel.


Armian lalu bertanya di mana tempat yang bagus untuk membawa adiknya jalan. Tempat yang bisa menenangkan pikirannya. Mereka lalu merekomendasikan satu tempat dan berkata memang sedikit jauh dari kota.


Armian berpura semangat mendengar dan meminta tidak perlu mengawal. Dia meyakinkan bisa menjaga adiknya dan lebih aman jika tidak mengundang perhatian. Dia beralasan adiknya butuh ruang hanya dengan dirinya.


Bagi pengawal, alasan Armian cukup logis. Dia mengantarkan sampai ke bus yang akan menuju tempat wisata. Kini Armian dan Azharin telah di bus. Armian menyandang hanya satu tas ransel.


Di tengah perjalanan setelah merasa aman, mereka turun dan mereka tidak melanjutkan ke arah tujuan. Mereka mencari taksi dan berputar arah menuju ke bandara.


Armian bisa bernapas lega ketika telah duduk di bangku pesawat. Semakin tenang ketika pesawat telah lepas landas dan meninggalkan negara tersebut.


***


Indonesia ....


Azharin telah sampai di negara bahkan di rumah. Dia kembali menunggui kamar yang telah lama dia tinggalkan. Dia masih harus banyak istirahat.


Dia tahu abangnya tidak mungkin bisa lama di sana. Ada anak dan istri serta pekerjaan yang menunggunya. Meskipun tentang pekerjaan Azharin tidak tahu jika Armian sedang mengurus administrasi untuk tidak lagi bekerja sebagai aparat negara.


Sonia juga tidak terlalu banyak membawa Azharin untuk berbicara. Dia yakin, jika nanti Azharin jauh lebih baik, Azharin akan berbicara padanya.


Mereka telah seminggu di Indonesia. Sehari tiba di Indonesia, Armian mengabari Alex bahwasanya mereka telah kembali dan semua atas permintaan Azharin.


Awalnya mendengar kepulangan mereka yang diam-diam Alex ingin marah. Mengingat keadaan Azharin, Alex bisa paham. Namun ternyata tidak dengan Bernard.


Bernard dan masalah perusahaan telah selesai sesuai janji Alex, hanya meleset sedikit saja tentang harinya. Masalah yang timbul kini justru dengan rumah tangganya. Dia merasa dikhianati oleh Azharin dengan pulang diam-diam ke Indonesia.


Alex telah menceritakan semuanya. Apa yang terjadi dengan Azharin sampai masuk rumah sakit. Satu kesalahan Alex, dia tidak berterus-terang jika Azharin telah kehilangan calon bayinya. Bernard merasa Azharin membawa pergi calon bayinya.

__ADS_1


Alex menutupi perihal keguguran Azharin tidak ada maksud lain. Dia hanya tidak ingin jika Bernard mengetahui calon bayi mereka tidak ada dan sementara itu Azharin telah meninggalkan Bernard dan negaranya, maka bisa saja Bernard merasa tak ada ikatan lain selain pernikahan.


Alex tidak ingin lebih merasa bersalah karena satu kelalaiannya. Sayangnya pikiran Bernard tidak begitu. Dia merasa Azharin memisahkan dia dengan calon anaknya.


Bernard juga telah mengetahuinya dari Alex jika Azharin telah banyak tahu masa lalunya dengan Laurren yang ditutupinya. Itu menambah pikiran salah pada Bernard dengan berasumsi Azharin lebih percaya pada cerita Laurren dan tidak mau mengetahui dari bibirnya sendiri.


Hati Bernard sangat sakit ketika memikirkan hanya segitu cinta Azharin untuknya. Rasa cinta yang besar telah menimbulkan api kemarahan di hati Bernard. Dia meluluskan permintaan Azharin berpisah begitu saja tanpa ada niat menghubungi Azharin lebih dahulu.


Bernard kembali bergelut dengan pekerjaannya demi menghapus bayangan istrinya. Dia selalu menenggelamkan diri dalam tumpukan berkas-berkas kantor.


Dia juga selalu menolak ajakan Gilberto untuk keluar malam. Ketika malam tiba, Bernard selalu ingin kembali secepatnya ke apartemen.


Merasakan ada yang hilang di harinya. Sambutan Azharin mulai dari senyum hangat sampai wajah yang terlihat menahan kesal ketika Bernard pulang telat ataupun melakukan kebiasaan yang tak di sukai Azharin.


Sungguh hati Bernard tersiksa mengingat semua kenangan bersama istrinya. Ego lebih besar di hatinya. "Kau sangat keras kepala. Aku akan melihat, sampai di mana kau sanggup membesarkan anak itu tanpaku." Dia bergumam memandang potret Azharin di layar ponselnya.


Bernard berulang kali ingin menghapus foto-foto Azharin, namun sisi lain hati menolak. Akhirnya, dia selalu gagal untuk melanjutkan keinginannya.


Malam ini, sama seperti malam-malam sebelumnya. Sepulangnya dari kerja, Bernard tanpa membuka sepatu langsung memilih berbaring di sofa ruang tamu. Itu kegiatan yang acap kali dia lakukan sejak ada Azharin dan kegiatan ini salah satu yang membuat Azharin memasang wajah datar atau protes langsung. Azharin tidak suka sepatu yang telah dari luar harus berkeliaran di dalam rumah yang dianggap telah dia sterilisasi dari kuman.


Dia selalu memandang wajah istrinya. Rindu dan kecewa bersatu membakar hatinya namun tidak membakar cinta di sudut hatinya. "Aku tak menyangka, wanita dingin tetaplah wanita dingin!" umpatnya kesal lalu melempar ponselnya ke sofa lainnya.


Puas melepaskan lelah di sofa, dia bangkit dan menuju ke kamar lalu mandi. Dia berbaring walau sering kesulitan untuk tidur. Tak jauh berbeda ketika ada Azharin, dia juga kesulitan untuk tidur, tetapi karena Azharin selalu mengusiknya ketika ingin tidur cepat. Alasan Azharin sederhana, dia merasa sulit tidur jika Bernard telah lebih dulu tidur.


Di belahan bumi lain, Azharin juga mengalami kesulitan. Dia merasa semakin tidak dibutuhkan, karena dia yakin, Bernard pasti telah mengetahuinya dari Alex, jika mereka telah kehilangan bayi mereka.


Krisis dirinya semakin bertambah, mengingat Bernard mempunyai anak dari Laurren. Pesan-pesan Laurren justru baru menghantui dirinya sekarang.


Siang ini dia masih bergelung dalam selimut yang menutupi setengah tubuhnya. Dia memandang keluar jendela. "Aku ingin bertemu, tetapi aku tahu, kau tak ingin menemuiku."

__ADS_1


Seminggu lebih dia di Indonesia, tak juga Bernard bertanya kabarnya. Berulang kali dia meraih ponselnya hendak mengirim pesan pada suaminya, berulang kali dia batalkan karena berpikir, Bernard tak menginginkannya lagi. Kesalahpahaman suami-istri itu berlanjut karena tidak ada komunikasi.


***


__ADS_2