
"Ketika kita berpikir telah melakukan perubahan dan telah berhasil memutari penuh lingkaran, tanpa sadar kita hanya kembali ke titik nol. Titik di mana kita mulai melangkah, dan aku ingin memulai di Gerbang Matahari ini.
________
Azharin menatap tepat di bola mata cokelat milik Alex. Alex juga begitu. Dia menatap bola mata cokelat Azharin. Alex dan Azharin mempunyai warna bola mata yang hampir sama. Perbedaannya adalah bola mata Alex justru berwarna sedikit lebih gelap dari Azharin.
Azharin menghentikan suapan. Dia meminum seteguk air. Azharin menatap lekat Alex. "Kau mencoba merayu?"
Alex terlihat menggeleng. Dia berkata, "Tidak. Aku ingin merebut kau dari Bernard. Aku tak ingin melepaskan kau padanya."
"Kau kira aku domba ternak. Enak saja kau katakan melepaskan." Azharin kembali meneruskan suapan. Disela-sela keasyikan, dia kembali berkata, "Kau tahukan bagaimana perjalanan cintaku? Jangan menambah daftar luka hatiku."
Alex tetap diam membisu. Hatinya sedang berusaha menyelaraskan dengan pikiran. Dia merasa sangat nyaman didekat Azharin Perasaan ini sudah ada dari pertama kali dia bertemu Azharin. Biarpun Azharin dulunya sering berbicara cukup singkat, Alex bisa nyambung berbicara apapun pada Azharin.
Alex tidak tahu apakah menginginkan Azharin atau sekadar merasa nyaman berteman. Melihat kebahagiaan Azharin, memberikan rasa tersendiri di sudut hati Alex. Alex juga sempat kecewa ketika Azharin memutuskan tidak bisa berkomunikasi lagi.
Ketika Azharin mengontak kembali, Alex hanya menyambut biasa saja. Alex tetap membalas pesan Azharin. Namun, ketika Azharin mengatakan akan datang memenuhi ajakannya untuk berlibur ke Spanyol, Alex merasa sangat senang. Kesenangan itu bertambah ketika beberapa hari ini hampir selalu bersama Azharin.
Azharin menghabiskan dua bungkus sarapan pagi. Alex tetap diam sambil memandang Azharin. Azharin mengetahui dan tak merasa terganggu. Azharin membersihkan sisa sarapan dan berdiri di tepi jendela.
Azharin memandang kota Spanyol dari balik jendela. Azharin melamun dan itu tak luput dari pandangan Alex. Alex tidak tahan untuk tak bertanya, "Apa yang ada dalam pikiranmu?"
"Tak ada," ujar Azharin singkat. Dia sekali ini tidak menjawab jujur pertanyaan Alex. Alex telah berdiri di depan Azharin Dia membuka jendela. Udara segar menerpa wajah Azharin. Azharin merasa lebih baik.
"Kau berbohong Nona."
"Begitulah."
"Maaf, jika gurauanku merusak mood." Alex menutupi rasa tak enak hati.
"Tidak, bukan itu yang aku pikirkan Lex." Azharin kembali menoleh ke Alex. Dia tidak ingin Alex salah paham. Bukan Alex penyebab dia termangu di tepi jendela.
"Ceritakan. Aku di sini sebagai temanmu." Alex meyakinkan Azharin.
"Bernard mengajak bertemu. Aku masih menggantungnya. Lalu dia mengatakan jangan hubungi dia lagi." Azharin berkata terus terang.
"Lalu?" tanya Alex ingin tahu.
"Aku menjawab ok. Bye." Satu senyum miring Azharin hadir. Alex kembali merasakan getaran samar di hatinya. Gadis itu memang kini terasa semakin berbeda dirasa Alex.
"Lalu kau menyesali?
"Mungkin."
"Belum terlambat. Bukankah tadi telepon dari dirinya."
"Wow, kau memang berbakat jadi peramal." Azharin mengolok Alex.
"Benar, aku berbakat karena menyimpan perasaan lain sepertinya." Alex berkata santai. Dia kembali ke sofa. Azharin sudah menyusul Alex. Dia memukul bahu Alex.
__ADS_1
"Jangan terus memancing. Aku takut tidak bisa meninggalkan negaramu," ujar Azharin sambil menuju koper kecil berisi pakaian. Azharin berencana akan mandi.
"Tinggallah di sini jika kau mau. Aku akan menjamin hidupmu." Tak ada nada bercanda.
"Kau kira semudah itu untuk berpindah negara."
"Bukankah kau tahu prosedurnya," ujar Alex tidak dengan kalimat pertanyaan.
"Hmm."
"Mari kita urus visa menetap. Aku penjaminnya." Alex masih tetap serius.
"Jangan bercanda ah Lex. Sudahlah, aku mau mandi. Azharin telah melangkah menuju kamar mandi. Langkahnya terhenti.
"Bernard memanggilmu." Alex melirik ponsel Azharin yang berdering.
Azharin kembali dan melihat Alex, ia meminta saran. Alex mengangguk yakin. Azharin merasa tenang. Dia menggeser tombol biru. Terdengar suara Bernard meminta maaf.
"Aku minta maaf. Aku pria egois," ujar Bernard lembut setelah mendengar Azharin mengucapkan hallo.
"Ya. Aku juga minta maaf."
"Kapan kau pulang?" tanya Bernard.
"Aku belum tahu. Aku masih ingin menikmati cuti kerjaku."
"Bisakah kita bertemu. Aku berencana besok kembali." Ada nada berharap dari Bernard yang ditangkap pendengaran Azharin.
"Baiklah. Di mana?" tanya Azharin.
"Bagaimana kalau aku menjemputmu. Kau bisa katakan di mana kau menginap."
"Aku akan bagikan lokasi. Aku mandi dulu. Nanti aku kabari jika telah bersiap." Azharin melirik Alex. Azharin tersenyum ketika Alex dengan cara bercanda memegang dadanya.
"Sampai nanti," ujar Azharin dan menghentikan telepon.
"Kau kecewa Lex?" tanya Azharin.
"Kecewa." Alex mengakuinya.
"Akan tetapi, aku akan lebih kecewa jika melihat kau kebingungan," ujar Alex kembali. Azharin tak terlalu menanggapi.
***
Ting tong ....
Bel kamar hotel Azharin berdentang. Azharin bergegas membuka. Azharin terpaku melihat penampilan Bernard. Penampilan Bernard sangat berbeda dengan tadi malam. Kini ia melihat lelaki yang lebih trendi. Celana jeans hitam slim fit berpadu dengan baju kaos merah.
"Wow, kau terlihat tampan," puji Azharin tulus.
__ADS_1
"Terima kasih Barbie."
Azharin mempersilakan Bernard masuk. Bernard menolak. Dia berjanji mampir, nanti setelah mengajak Azharin pergi. Azharin setuju, ia mengambil tas kecil hitamnya.
Di dalam tas, dia hanya membawa sebuah ponsel, paspor dan bedak serta hanya sebuah pelembab bibir. Azharin hanya mengenakan celana semi jeans berwarna hitam dan sebuah blus berwarna hijau lumut. Azharin berkunjung tepat di musim panas.
Bernard membawa Azharin dengan menggunakan mobil sewa. Mereka berencana ke Puerta Del Sol , yaitu merupakan titik nol km dari kota Madrid. Di sini terdapat patung Bear and the Madrono. Tempat ini juga dikenal dengan nama Gerbang Matahari.
"Kau cantik sekali Barbie."
"Terima kasih. Aku memang selalu cantik," ujar Azharin percaya diri.
"Kau sedikit berubah Barbie."
"Kau orang yang ke sekian berkata demikian."
Sebulan setelah Azharin membalas pesan, Bernard mengungkapkan perasaan. Setelah dia mengklaim Azharin sebagai girlfriend, ia lebih suka memanggil Azharin dengan sebutan barbie. Bernard sangat jarang menggunakan kata darling.
Azharin sayangnya tidak beranggapan demikian. Dia berkata dalam hati, jika serius, Bernard harus datang menemuinya. Spanyol tidak termasuk dalam daftar bertemu bagi Azharin. Sebuah kebetulan hanya bonus dalam hidup Azharin, bukan suatu usaha.
Mereka lalu memasuki sebuah restoran. Bernard menarik sebuah kursi untuk Azharin. Azharin tersenyum kecil. Mengungkapkan rasa terima kasih. Bernard duduk di depan Azharin. Bernard memesan menu yang Azharin inginkan dan dia inginkan.
"Cuti masih lama bukan?"
"Ya."
"Bagaimana kalau kau ikut ke negaraku?" Mata biru Bernard menatap Azharin penuh harap.
"Apa kau bisa mengurus dan menanggung semua biaya dan akomodasi?" Azharin menguji Bernard lagi dan lagi.
"Ok Barbie, no problem."
Azharin tergelitik ingin bertualang. Selama tujuh tahun hidupnya monoton. Belum lagi ketika kecil dia begitu tidak percaya diri. Tak banyak hal bahagia yang dia rasakan dulunya. Satu-satu kebahagiaan yang dia rasa, kasih sayang abangnya.
"Serius?"
"Tentu."
Azharin menimbang-nimbang sejenak. Azharin memikirkan Alex. "Bagaimana kalau nanti malam aku kabari. Apa kau bisa menunggu?"
"Tentu. Aku akan menunda kepulangan sementara waktu. Aku akan mengurus semuanya jika kau bersedia datang bersamaku."
"Baiklah. Malam aku kabari."
"Apa karena teman Spanyol itu?"
"Ya. Aku menghargai kebaikannya mengundang datang ke sini."
Bernard merasa dadanya sedikit terpercik api cemburu. Dadanya terasa panas. Dia memendam rasa cemburu.
__ADS_1
***