
"Sesak rasa dada ini sayang," ucap Azharin pada Bernard, di tengah isak tangisnya ketika tanah mulai diturunkan menimbun jenazah ibunya
"Aku mengerti. Maafkan aku cinta."
Malamnya, Azharin lalu mendapatkan semua cerita. Azharin ingin protes dengan cara pikir abang dan ibunya. Dia tidak tahu jika suaminya juga mengetahui. Armian sepakat menutupi demi menghindari kekecewaan Azharin. Akan tetapi Azharin menyadari semua telah terjadi dan dia juga ikut bersalah dengan cara pikirnya ketika itu.
Ketika malam ke dua setelah kepergian ibunya, Bernard berkata, "Barbie, kau boleh di sini dulu jika kau ingin. Aku akan menjemputmu nanti."
"Ada apa?"
"Aku harus kembali, ada masalah di kantor." Bernard merasa bersalah, namun dia juga tak punya pilihan lain.
"Tidak. Aku ikut pulang sayang. Aku tidak kuat di sini sendiri tanpamu," ujar Azharin pelan. Bernard merasa Azharin sangat tertekan dan rapuh.
"Maafkan aku Barbie. Aku tidak punya pilihan lain selain kembali dan mengizinkan kau jika ingin di sini lebih lama." Bernard mengecup ubun-ubun Azharin.
"Tidak perlu merasa bersalah, aku justru berterima kasih padamu. Kau telah berbuat banyak untukku. Aku memilih pulang bersamamu sayang."
"Apa kau tidak sebaiknya tinggal sebentar di sini Rin?" tanya Sonia ketika Azharin mengutarakan akan ikut pulang besok pagi.
"Tidak. Aku lebih kuat jika di samping suamiku."
"Maafkan aku Bang, aku masih merasa semua seperti mimpi. Aku rasa didekat suamiku, aku akan merasa jauh lebih baik."
"Baiklah. Abang mengerti apa yang kau rasa. Abang rasa kau benar. Anggaplah semua ini mimpi dan jangan membenci mama lagi. Semua yang ditulis mama di surat adalah bukti perasaannya padamu. Bawalah dan jika kau telah siap atau kau rindu, bukalah surat-suratnya."
"Iya Bang. Baiklah."
***
Di hari ke lima setelah kembali dari Indonesia, Bernard menemukan Azharin tergeletak di ruang tamu. Saat ini dia baru pulang kerja. Hari masih siang. Bernard telah berjanji untuk makan siang di rumah. Bernard sengaja selalu pulang makan siang sejak kepulangan dari Indonesia.
"Barbie ...."
"Barbie ...." Bernard menepuk pelan pipi Azharin.
Bernard mengangkat Azharin dan membaringkan di sofa. Bernard langsung menelpon dokter kenalannya.
"Bagaimana?" tanya Bernard ketika dokter selesai memeriksa.
"Baiknya ke rumah sakit." Saran dokter pada Bernard. Azharin telah siuman dan dia berkata dia sangat pusing dan pandangan tiba-tiba gelap.
"Apa mungkin dia hamil?" tanya Bernard menduga-duga.
"Bisa jadi."
Dokter menanyakan siklus bulanan Azharin, dan Azharin tidak merasa terlambat datang bulan. Bernard tetap berniat membawa Azharin ke rumah sakit.
Setelah dicek, Azharin ternyata sedang hamil dua bulan. Perihal dia tetap membawa tamu bulanan, itu tidak ada masalah didiagnosa oleh dokter. Ada kasus tertentu begitu bahkan kadang hingga tiga bulan pertama.
Dokter meresepkan vitamin. Menurut dokter, kandungan Azharin sehat dan tidak ada kendala apapun sejauh ini.
Setiba di apartemen, Bernard tak henti mencium pipi, dahi dan ubun-ubun Azharin.
"Terima kasih sayang. Kau membawakan aku banyak kebahagiaan. Aku sangat bahagia memiliki dirimu."
"Apa kau begitu bahagia sayang?" tanya Azharin yang duduk dipangkuan suaminya.
"Apa kau tidak bahagia?" balas Bernard balik bertanya.
"Aku bahagia sayang. Namun aku takut anakku tidak mendapatkan kasih sayang utuh."
"Apa maksudnya Barbie?" Bernard tidak memahami maksud perkataan dari pernyataan Azharin.
"Aku takut nasibnya sama sepertiku." Suara Azharin bergetar.
"Itu tidak akan terjadi Barbie. Aku janji padamu."
"Kau sangat sibuk, dan akan selalu bepergian untuk urusan bisnis. Kami akan terabaikan." Azharin membantah Bernard.
__ADS_1
"Hmmm," Bernard menggumam sambil mengelus dagunya. Azharin masih bersandar di dada Bernard.
"Apa ini komplain dirimu selama ini atas kesibukanku?" tanya Bernard mengelus kepala Azharin.
"Ya. Namun aku tidak ingin membuat kau kesulitan."
"Aku ada ide. Aku akan membawa kau mulai sekarang."
"Ke mana saja?" ujar Azharin masih menyandarkan kepala pada dada Bernard.
"Ke mana saja. Sepenting apapun urusanku, aku akan mengajakmu Barbie."
Azharin menengadah dan memandang Bernard. "Benarkah?"
"Really my Barbie."
"Jika kau berbohong, aku akan mendiamkan dirimu selama yang aku suka."
"Aku menerimanya."
"Apa karena anak ini kau mulai berubah?" tanya Azharin sambil mengusap pelan perutnya.
"Aku rasa, kau mulai menabuh genderang perang sayang?" ujar Bernard dengan bibir mengerucut.
"Lihat baby, papamu mudah sekali kesal. Apa dia akan selalu kesal jika kita mengusik jam kerjanya?" tanya Azharin pada calon bayinya.
"Aku tidak kesal sayang."
"Kamu sedang kesal sayang. Aku tahu pasti." Azharin mengusik suaminya. Bernard sadar jika Azharin ingin memancing kekesalannya. Azharin lama sudah tak melakukannya.
"Aku tahu kau bahagia juga sedih Barbie. Kau sengaja mengusikku bukan?" kata Bernard lembut.
Semakin lama, Azharin merasa Bernard penuh pengertian dan perhatian. Azharin kembali memeluk suaminya. "Kau benar sayang. Aku bahagia juga masih sedih atas apa yang baru saja terjadi," ungkap Azharin jujur.
"Menangislah sekali lagi Barbie. Setelah itu tersenyum dan berbahagialah bersamaku."
Bernard yakin yang dimaksud Azharin adalah ibu Bernard. "Sekarang?"
"Jika kau tidak keberatan sayang." Sedu sedan masih terdengar oleh Bernard di tengah jawaban Azharin.
"Ayo kita pergi. Kita kasih kabar bahagia ini untuk mama."
Azharin bangkit dan menuju kamar. Dia membasuh wajahnya dan memoleskan bedak putih serta memberikan sedikit lips di bibirnya.
"Aku mengantuk sayang, aku ingin tidur sejenak." Rasa kantuk melandanya.
"Tidurlah. Akan aku bangunkan setiba di rumah mama."
Dua setengah jam perjalanan, mereka tiba di rumah orang tua Bernard. Bernard telah mengabarkan orang tuanya ketika Azharin terlelap tidur.
"Barbie ... i miss you so much," ujar Barbara sambil berlari hendak memeluk Azharin.
Langkah gadis kecil itu terhambat karena pamannya lebih dulu mengambil Barbara kepelukannya. "Sayang, kau tidak boleh menerjang perut tantemu. Di dalam sana ada calon adikmu," bisik Bernard.
"Benarkah paman?"
"Benar sayang."
"Maafkan aku Barbie. Aku tidak tahu sebelumnya. Aku janji akan hati-hati memelukmu. Aku sangat merindukan dirimu." Bocah perempuan itu berkata dengan serius.
Bernard menurunkan keponakannya dan Barbara memeluk Azharin. "Aku juga merindukanmu sayang."
"Apakah, kau akan tetap sayang padaku Barbie?"
"Tentu sayang. Kau si jahil kesayanganku."
"Ayo ajak tantemu masuk Ara." Sang nenek meminta lembut pada cucu perempuannya.
Masih di teras rumah, Azharin memeluk ibu mertuanya. "Mama aku sangat sedih tapi aku juga sedang berbahagia."
__ADS_1
Emilia sedikit bingung. Dia sudah mendapatkan kabar atas meninggalnya ibu Azharin. Namun dia tidak tahu dengan maksud Azharin yang mengatakan juga sedang berbahagia.
"Mama turut berduka." Emilia memeluk Azharin dengan sayang.
"Ayo kita masuk sayang. Glorya telah menanti di dapur. Dia memasakan kue kesukaanmu."
Emilia mengajak Azharin langsung ke ruang tengah. Azharin malah menuju ke ruang dapur. Terlihat Glorya sedang menenteng loyang. Dia menyalin kue kering itu ke dalam piring.
"Apakah kau tidak ingin memelukku, Glo?" ujar Azharin terlihat lebih manja pada Glorya. Bagi Azharin, Glorya seperti Sonia di matanya.
"Tentu sayang, aku memindahkan ini sejenak."
Glorya memeluk Azharin dengan sayang. "Aku turut berduka."
"Terima kasih atas ucapan dan rasa sayangmu padaku." Azharin kembali beriba hati. Glorya merasakan sedikit perbedaan dengan sikap melow Azharin. Dia berpikir karena Azharin baru berduka.
"Ayo sayang, kita kembali ke ruang tengah. Aku telah membuatkan kau minuman spesial."
Azharin bergabung dengan keluarga Bernard. Sore ini mereka menikmati cemilan buatan tangan Glorya.
"Nek, aku akan punya adik." Barbara berkata dengan mulut berisi kue.
Glorya terkejut dan Emilia memandang tajam pada putrinya. Terlihat Glorya menggeleng tak paham.
"Bukan dari mama, Nek. Tetapi, dari Barbie." Telunjuk mungil itu menunjuk perut Azharin.
"Benarkah?" tanya Emilia gembira.
"Benar Ma. Ternyata istriku sedang hamil dua bulan," jawab Bernard dengan wajah berseri.
"Apakah aku akan punya cucu lelaki?" tanya ayah mertua Azharin.
"Pa, apapun itu, aku akan bahagia." Bernard menyambar dengan cepat. Ayahnya menyadari tatapan tajam Bernard yang meminta pemahaman ayahnya.
"Maafkan aku Nak. Aku terlalu bersemangat dan tidak memikirkan perasaanmu," ujar ayah mertua Azharin sportif.
"Iya Pa. Aku tidak masalah. Apapun jenis kelaminnya, kami akan mencintai dan menjaganya sepenuh hati. Benarkan sayang?" arah pandang Azharin beralih ke suaminya.
"Tentu Barbie. Kau tidak akan lupa dengan perkataan aku bukan?" Azharin tersenyum manis.
"Kami juga akan mencintai dan berbahagia memilikinya." Emilia menyambung.
"Terima kasih semuanya. Aku sangat bahagia berada di tengah keluarga ini. Terima kasih sudah menerima aku." Azharin kembali mengalirkan air mata. Perasaannya begitu menjadi sensitif.
"Jangan menangis Barbie. Aku akan menyayangi adikku." Telunjuk mungil Barbara mengusap air mata Azharin.
Azharin tersenyum sambil ikut mengusap air mata di satu pipinya. "Terima kasih sayang."
"Aku juga akan menjaga adikku Aunt." Rodney berjanji serius.
"Iya sayang. Terima kasih ya. Jadilah abang yang baik buat adik-adikmu." Bernard menasehati dengan penuh sayang pada keponakan lelakinya.
"Tentu Paman. Paman jangan khawatir. Aku akan jadi saudara yang baik buat adik-adikku."
"Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan sore?" usul Barbara.
"Tidak hari ini gadis kecil. Tantemu lelah." Glorya memperingati putri kecilnya.
Barbara melirik pada Azharin, dan Azharin menyetujui perkataan ibu gadis itu. Mereka tertawa mendengar celetukan Barbara, "Baiklah, hari ini aku mengalah pada Barbie, demi kebaikan calon adikku."
"Terima kasih Tuan putri," ujar Azharin mengerling pada Barbara.
"Tetapi apakah nanti malam juga tidak bisa untuk berbelanja di toko ujung jalan sana?" tunjuk Barbara manja.
"Baiklah sayang, ajukan pada pamanmu, karena aku tidak ingin uangku habis." Azharin menggodanya. Barbara cepat berpaling pada pamannya dan mengedipkan mata.
"Kau berbakat jadi pemeras sayang." Bernard menyentil lembut dahi Barbara yang memang memilih duduk di tengah Azharin dan dirinya.
***
__ADS_1