
Apapun alasannya, menutupi sesuatu dengan alasan agar tidak terluka, justru akan memberikan banyak luka pada akhirnya.
_________
Di pesawat Azharin banyak diam. Dia bersandar di lengan Bernard.
"Ada apa Barbie?"
"Mm, tak ada sayang." Azharin menjawab tanpa menatap Bernard.
"Tidurlah. Setelah bangun, berbahagialah. Kau harus janji padaku." Bernard membujuk hati Azharin. Masih terbayang dalam ingatan Bernard bagaimana cara Azharin menatap mobil yang di dalamnya berada ibunya.
Apakah dia merasakan ibunya atau hanya kebetulan.
Bernard mengusap kepala Azharin. Bernard merasa basah di lengannya. Dia menyadari Azharin menangis diam-diam. Bernard tidak mengusik Azharin. Ini jauh lebih baik bagi Azharin untuk mengawali hari baru di negara Bernard.
"Setelah tangis akan hadir tawa dalam hidupmu Barbie."
Itulah kata hati Bernard. Perjalanan yang hampir 18 jam tidak menjadikan kebosanan. Bernard memang memesan First Class. Azharin juga tidak kekurangan energi. Mulai makanan pembuka, makan utama dan dessert tersedia dengan banyak menu, menu Indonesia maupun menu Inggris.
Azharin mengalami tekanan mental tanpa Bernard tahu pasti. Azharin merasa kelelahan fisik dan pikiran, hingga dia sering tertidur. Bernard tetap membangunkan Azharin saat jam-jam makan. Dia dengan penuh cinta menyuapkan Azharin ketika mata Azharin tidak bisa diajak kompromi. Azharin mengunyah makanan dengan mata tetap terpejam.
Bernard merasa perjalanan kali ini jauh terasa lebih lama. Dia ingin secepatnya tiba dan mengistirahatkan Azharin di ranjang apartemennya.
***
"Ayo Barbie, ganti pakaian dan istirahat." Bernard mengangkat koper besar Azharin.
"Iya sayang. Terima kasih."
Bernard mengambil baju ganti. Azharin memang menempati kamar utama yaitu kamar yang biasa Bernard pakai. Hanya menunggu beberapa hari sebelum menikah.
"Aku tinggal ya." Azharin mengangguk. Bernard menuju kamar lain. Dia menuju ke dapur dan membuat minum. Dia tak berniat merepotkan Azharin untuk saat ini.
Sebelum menjemput Azharin, Bernard meminta bantuan Gilberto. Bernard menghubungi Gilberto menanyakan persiapan untuk menikah. Gilberto menanyakan syarat yang diurus dari negara Azharin. Dia berjanji akan menjemput malam. Bernard juga menghubungi sekretarisnya menanyakan pekerjaan. Dia lalu membuka laptop karena sekretaris meminta mengecek beberapa email yang telah di kirimnya.
Di antara urusan kantor, Bernard melihat satu email. Email itu asing bagi Bernard. Bernard membuka, dia membaca tulisan yang tertera. Aku minta maaf. Dua tahun sudah aku berusaha melupakanmu. Namun aku gagal. Beri aku kesempatan kedua. Aku berjanji setia padamu. Laurren.
Bernard tak menggubris. Laurren tidak bisa menghubungi kontak Bernard karena telah diblokir habis semuanya. Makanya Laurren mencoba mengirimkan ke email. Laurren memang telah mendapatkan info Bernard telah mempunyai wanita lain dan bukan wanita dari negaranya sendiri.
Awalnya Laurren mengira Bernard bolak-balik ke Indonesia urusan bisnis, siapa sangka mengurus syarat pernikahan. Dia tiba-tiba tak rela Bernard dimiliki wanita lain. Apalagi hubungan cintanya kandas dengan lelaki selingkuhannya.
__ADS_1
"Kau di mana?" Bernard kembali menghubungi Gilberto.
"Ada apa?"
"Aku menemukan email dari Laurren. Aku tidak mau dia mengacaukan setelah dua tahun putus darinya."
"Berani sekali dia." Gilberto mengeram kesal.
"Atasi saja dia. Aku tidak ingin menambah kesakitan pada Azharin. Dia bertanya terakhir sebelum memantapkan hatinya. Apakah Laurren tidak akan menjadi hambatan untuk masa depan kami."
"Lalu, kau jawab apa!"
"Jelas tidak. Aku tidak pernah memaafkan pengkhianatan dalam bentuk apapun. Seperti kata kau, Azharin pasangan cocok untukku."
"Aku penasaran, apa kelebihan Azharin kini di matamu?" Gilberto iseng ingin tahu pendapat Bernard.
"Dia mandiri, tegar dan wanita sangat kuat. Dia memang masih sedikit kaku, tetapi hatinya sangat hangat sehingga keponakanku yang penuh drama takluk padanya." Tidak hanya Bernard yang tertawa mengatakan keponakannya penuh drama, Gilberto di seberang telepon juga tergelak. Dia sangat hapal kelakuan keponakan Bernard, apalagi si jahil Barbara.
"Setia, itu yang paling penting." Gilberto mengingatkan Bernard.
"Ya itu paling utama. Oke aku ingin melihat Azharin, hatinya sedang tidak baik-baik saja karena baru meninggalkan negaranya. Aku ingin kau awasi gerak-gerik Laurren. Pernikahanku hanya tinggal hitungan hari."
Azharin tidur bergelung dalam selimut yang menutupi sebatas pinggangnya. Bernard perlahan duduk di tepi ranjang. Dia memperhatikan wajah cantik Azharin.
Perlahan tangannya menata rambut Azharin yang tidak berantakan. Dia menyusuri dengan lembut pipi kekasihnya lalu hidung yang tak semancung hidungnya.
"Barbie, aku tak mengira dibalik wajah cantikmu, begitu banyak rasa sakit. Aku semakin mencintaimu sayang. Aku membutuhkan kriteria sepertmu. Aku pebisnis sayang, aku tidak tahu kendala apa ke depan yang menghalang langkah dan bisnisku."
"Siap Bos Besar, aku pasti bisa." Azharin menjawab dengan pelan dan mata terpejam.
"Barbie, kau menggodaku dengan berpura tidur hmm." Bernard mengukung Azharin yang masih berbaring miring. Dia menengadah sedikit memandang Bernard.
"Kau mengusikku dengan mengusap pipi dan hidungku."
"Apa kau ingin aku mengusap bagian lain dari tubuhmu?" tanya Bernard menggoda Azharin. Bernard menahan gejolak cinta mendengar katanya sendiri. Sebagai pria normal, pikirannya jelas mudah travelling. Apalagi wanita yang terbaring di ranjangnya penuh dengan daya tarik.
"Ya," jawab Azharin singkat. Membuat arus pendek di dada Bernard membakar syaraf-syarafnya.
"Di mana Barbie?" tanya Bernard dengan tatapan penuh kabut gairah.
"Di sini," tunjuk Azharin pada satu tulang pipi, tulang yang terletak di bawah matanya. Namun air mata meluncur deras di kedua bola matanya. Bernard terkejut, menghapuskan kabut gairahnya.
__ADS_1
Bernard langsung menyibakkan selimut dan menarik Azharin dalam dekapannya. Azharin menyandarkan tubuh di dada bidang Bernard. Kepalanya bersandar di salah satu lengan Bernard. Tak cukup, dia memeluk lengan Bernard.
Bernard tidak paham apa yang terjadi. Tangis Azharin semakin terdengar menyesakkan relung hati Bernard. Bernard tidak bisa bertanya. Dia yakin Azharin tidak akan bisa menjawab dengan suara jelas. Tak ada yang bisa dilakukan Bernard selain memeluk Azharin.
Azharin melepaskan sesak di hati melalui air mata. Setelah air mata banyak tertumpah. Dadanya merasa lebih lapang. Dia berkata, "Aku tahu ibuku masih hidup, dan Armian selalu bersamanya."
Bernard meregangkan pelukannya. Dia menatap Azharin tak mengerti. "Jika kau tahu, mengapa kau berpura tak tahu?"
"Aku merindukan ibuku dan sekaligus membencinya." Dada Azharin kembali bergemuruh. Bukan karena kesedihan lagi, tetapi berubah jadi kemarahan.
"Maksudmu?" tanya Bernard tak mengerti ke mana arah pembicaraan Azharin.
"Aku merindukan setiap waktu, aku berharap dia datang padaku. Hingga ketika aku selesai kuliah, aku berusaha melupakan dan menganggap itu tak pernah tercapai. Aku gagal, malam-malam ketika aku bertemu masalah, aku selalu berharap, andai ibuku ada. Mungkin aku tidak akan menelan semua penderitaan sendiri."
"Membenci karena alasan apa?"
"Ketika aku tahu, Armian telah bertemu dengannya. Mengapa dia tidak menemuiku juga."
"Kapan kau tahu?"
"Sebelas bulan lalu. Aku tidak sengaja melihat mobil Armian terparkir di salah satu rumah. Aku penasaran. Aku memperhatikan dari jauh. Berjam aku rela karena niatku awalnya mau menangkap basah dia. Aku mengira dia punya wanita lain dan menduakan Sonia. Aku sangat terkejut ketika dia keluar dan diikuti oleh ibu kami."
Azharin sangat tidak percaya dengan penglihatannya sendiri kala itu. Lama dia menatap pintu rumah ibunya yang telah tertutup rapat. Dia tak mengerti mengapa bisa Armian tahu rumah ibunya dan tidak mengatakan apapun.
Sehari dua hari, menjadi sebulan dua bulan. Armian tidak juga mengatakan apapun pada Azharin. Tiga bulan pertama pasca mengetahui rumah ibunya, Azharin selalu berputar pulang ke arah itu, walau cuma sekedar melihat pintu rumah. Saat itu juga dia selalu sering melihat mobil Armian terparkir.
Azharin ingin berhenti dan turun mengetuk pintu rumah itu. Sisi hati Azharin yang lain berkata, Jika dia ingin bertemu denganku, Armian pasti telah memberitahu. Itu berarti dia tak ingin bertemu dan melarang Armian.
Pikiran itu selalu berhasil menggagalkan niat Azharin untuk turun. Alih-alih yang turun, akhirnya air mata Azharin yang turun. Rindu yang tersimpan menjadi benci setelah tiga bulan dia selalu menangis karena berperang penuh dilema.
Azharin lalu memutuskan untuk melupakan ibunya seperti ibunya melupakan dia. Azharin tidak lagi menangis dan tidak lagi pernah melewati rumah itu. Untuk mengobati hatinya, dia pergi ke Spanyol.
Dia ingin melupakan sejenak semua kesakitan yang ada. Dia berhasil, bahkan tanpa ia duga bertemu Bernard kembali dan mengajaknya. Dia nekat mengikuti. Sejak dia mengetahui ibunya satu kota dengannya tanpa ada niat bertemu, dia semakin ingin meninggalkan negaranya. Ajakan Bernard langkah pertama yang harus dia lakukan untuk menggapai tujuannya. Dia merasa langkahnya terbuka.
Dia merasa langkahnya semakin terbuka, ketika ibu Bernard menerima dan menginginkannya. Satu sisinya bahagia dan sedih bersamaan.
Bernard mendengarkan perkataan Azharin. Sekali lagi Bernard tak habis pikir dengan pemikiran Armian dan ibunya. Bernard hanya bisa mengerti rasa sakit Azharin, walau dia telah tahu apa yang terjadi pada ibu Azharin.
Bernard lebih memihak Azharin. Andai ibu Azharin berani mengambil resiko dibalik kesalahan dan rasa bersalah, Azharin tidak akan sesakit ini. Azharin tidak akan salah paham. Itulah pemikiran Bernard.
***
__ADS_1