
"Semua orang bisa berteriak dengan kata cinta, tetapi bisakah semua orang memaknai apa itu cinta?"
_________
Ketika waktu menunjukkan jam satu malam. Bernard pamit. Mereka berempat beriringan keluar dari bar. Bernard sempat menatap Azharin dengan tatapan penuh arti. Azharin mengacuhkan.
Azharin diantar pulang oleh Alex. "Kau kenal dengan Bernard?" tanya Alex tanpa basa-basi. Dia menoleh sejenak pada Azharin, lalu kembali fokus menyetir.
"Hmmm begitulah." Azharin tidak berbohong. Ini yang membuat Alex senang mengenal dan berteman dengan Azharin. Azharin juga dulu mengatakan terus terang ketika tidak bisa berkomunikasi lagi karena pacarnya melarang. Alex menghargai keterusterangan Azharin
Alex menanyakan di mana Azharin mengenalnya dan ada hubungan apa. Azharin menceritakan apa yang ditanyakan padanya. Alex menjadi mengerti Bernard yang selalu mencuri pandang.
"Jadi apa kau masih melanjutkan hubungan kalian?" tanya Alex.
"I don't know." Azharin menarik dan menghembus napas kasar.
Mendengar Azharin seperti dilema, Alex menertawakan. Alex berkata, "Jangan turuti kata hati, tetapi pakailah logikamu."
"Hmm, apa budaya barat memang begini?" tanya Azharin mendengar saran dari Alex.
"Seperti apa pandanganmu tentang budaya barat?" Alex tergerak ingin tahu.
"Mendahulukan logika dari perasaan jika ada masalah sosial. Bukankah begitu?"
"Hmmm."
"Namun masalah cinta bukan masalah sosial, tetapi masalah hati," ujar Azharin. Alex tertawa.
"Dia mencintaimu Nona Cantik."
"Aku tidak percaya cinta. Apalagi Love between Two Countries."
"Kau salah Nona, cinta tidak memandang apapun saat datang."
"Aku butuh tindakan cinta bukan kata cinta, Alex. Sangat mudah berteriak kata cinta. Anak kecil saja bisa mengatakan cinta dan mereka bisa bersikap penuh cinta. Mereka tidak banyak menuntut mudah memaafkan dan yang paling utama mereka suka saling memaafkan ketika berselisih. Indah bukan cinta mereka?"
"Indah. Namun kau lebih indah jika tidak kaku."
Azharin memukul bahu Alex. Kata-kata umpatan keluar dari mulut Azharin. Alex walau tertawa, dia tetap protes. Dia berkata, bibir indah Azharin tidak pantas untuk mengeluarkan kata umpatan.
"Bibirmu tercipta bukan untuk mengumpat Nona Cantik."
"Kata-katamu seperti penuh godaan, Lex."
"Aku terima jika kau menganggap begitu." Alex meluruskan saja perkataan Azharin. Azharin tertawa lebar.
__ADS_1
"Kau besok ingin ke mana?" tanya Alex mengalihkan topik pembicaraan.
"Aku belum tahu. Aku ingin tidur sampai siang kurasa."
"Kabari aku jika kau telah bangun."
"Thanks Alex."
"Jangan berterima kasih padaku. Aku membalas sambutanmu ketika aku di Indonesia."
"Tetapi aku tidak punya waktu di siang hari padamu. Aku hanya bisa mengajakmu dari mall ke mall dan dari bar ke bar." Azharin tertawa.
Dia tidak punya waktu di siang hari untuk membawa Alex jalan menikmati pemandangan alam Indonesia. Azharin bukan orang bebas seperti Alex. Azharin merasa seperti kelelawar saat itu.
Setelah malam dia berkenalan dengan Alex di bar, Azharin selama seminggu menemani Alex. Azharin masih ingat Hendri mendiamkan dirinya, setelah meminta putus karena tak juga kunjung mendapatkan jawaban dari Hendri untuk meneruskan ke jenjang pernikahan. Azharin pergi ke bar dan berkenalan dengan Alex.
"Boleh tahu, alasan kau putus dengan boyfriend Indonesia-mu?" Alex kembali menoleh sepintas ke Azharin.
"Kau berkata, seperti aku punya pacar dari negara lain saja."
"Aku rasa Bernard masih menganggap dirimu girlfriend." Alex memberikan asumsinya.
"Mau jadi paranormal ya?" Azharin kembali memukul pundak Alex.
"Kau suka main kekerasan. Jangan lupa menjawab pertanyaanku."
"Ohhh apa di negaramu cinta diatur orang tua?"
"Begitulah. Bersemayam dibalik kata restu orang tua."
"Kalau begitu Bernard cocok untukmu." Alex berkata lalu tertawa.
"Kau mengolok?" Azharin sedikit memicingkan matanya. Bibirnya telah mengerucut sempurna. Dia mengira Alex mengolok.
"Aku serius. Kami bebas memilih wanita yang kami cintai. Orang tua hanya mendukung saja. Tidak ikut campur dengan siapa kami hidup."
Azharin tertarik mendengarnya. "Really?"
"Yes."
"Tidak masalah jika wanita itu dari keluarga broken dan tidak punya banyak uang?"
"Ya. Kami tidak mencari wanita kaya atau beruang. Kami lebih suka mencari wanita pintar dan cocok dengan hobi kami."
"Pintar?"
__ADS_1
"Ya pintar. Bukan berarti harus yang mempunyai gelar pendidikan tinggi. Pintar di sini, bisa diajak mengobrol apa saja bersama pasangan."
"Ohhh begitu," ujar Azharin setelah mendengar penjelasan Alex. Azharin terlihat memikirkan sesuatu.
Alex kembali menggodanya. "Apakah kau bisa masuk setiap berbicara dengan Bernard?"
"Aku malah bosan berbicara dengannya. Maka aku memutuskan dirinya," ujar Azharin perlahan. Dia mengedikkan alisnya dan tersenyum mengejek.
Tawa Alex tersembur. Dia melirik ke spion dan menepikan mobilnya.
"Mengapa kau menepi?" tanya Azharin.
Alex menatap Azharin dengan sisa tawanya. Dia tidak menjawab pertanyaan Azharin. Alex malah balik bertanya, "Tidak kenalkah kau siapa Bernard?"
"Apa hubungannya dengan tawamu?" Mereka bukan saling menjawab, tetapi saling bertanya.
"Kau begitu ringan mengatakan bosan berbicara dengan pebisnis sepertinya. Jika dia mendengar perkataanmu, dia akan sangat terluka sayang," ujar Alex menyelipkan nada bercanda menggunakan kata sayang.
"Dia hanya berbicara cinta dan cinta, datang dan datang. Juga mengirimkan ucapan selamat pagi dengan kata romantis. Aku bosan, tidak mendapatkan ilmu apapun berbicara dengannya." Azharin berkata begitu serius.
Alex kembali tergelak. Dia melihat sisi lain dari Azharin. Alex baru saja menyadari, Azharin suka tipe lelaki yang bukan saja mengandalkan perasaan, tetapi bisa memuaskan dia dari segi pengetahuan. Alex bisa melihat, Bernard salah trik dalam meraih hati Azharin.
"Bagaimana jika aku mengajukan lamaran untuk menjadi kekasihmu?" goda Alex. Dia masih menepikan mobil. Menatap manik mata Azharin sambil menopang tangan di pipi dengan siku ke stir mobil.
"Apa kau mencintaiku?" tanya Azharin.
"Mungkin."
"Jika begitu, simpan cintamu. Aku tak ingin punya kekasih yang tidak punya pendirian." Azharin menjawab pasti.
Alex tersenyum. Tidak puas dengan tersenyum, dia merubah posisi tubuhnya dan menyandar dengan dua tangan berkaitan di belakang tengkuknya. dia kembali tertawa lebar.
"Ternyata kau masih saja kaku, Nona Cantik," ujarnya disela tawa.
"Dari pada kau terus menertawakan aku, ada baiknya kau antar aku pulang sekarang. Aku sangat mengantuk."
"Ok my heart," ujar Alex sambil mulai menekan gas. Azharin hanya tertawa mendengar nada mengejek dari Alex.
Azharin mengucapkan terima kasih dan masuk ke hotel. Alex pergi setelah memastikan Azharin masuk ke lobi hotel. Dia cukup penuh perhatian dan tidak ingin Azharin mendapatkan perlakuan seperti di bar tadi. Semakin mengenal Azharin, Alex semakin menyukai berteman dengan Azharin.
Azharin menuju kamarnya. Dia menempelkan kartu elektrik kamarnya dan masuk. Azharin membuka sepatu dan meletakkan tas di atas meja rias. Dia menanggalkan pakaian dan hanya menggunakan baju dalam saja.
Azharin ke kamar mandi dan membasuh wajah dengan sabun pencuci wajah. Dia mengeringkan wajah dengan menepuk pelan menggunakan handuk kecil yang dia sediakan sendiri.
Azharin berbaring dengan memegang ponsel. Dia menyempatkan mengecek ponsel. Satu pesan dia peroleh dari Bernard. Setelah sekian bulan Bernard terus mengirimkan pesan selamat pagi, lalu menghilang karena Azharin tidak merespon.
__ADS_1
"Apa kabar? Aku ingin bertemu sekali lagi denganmu."
***