
Bersedih jika itu mengganggu perasaan. Namun sedihmu jangan sampai membuat hidupmu terpuruk dan hatimu akan ikut membusuk.
_________
Armian tidak melihat tanda-tanda Azharin telah bangun. Armian dan dua temannya hanya tidur tak sampai dua jam. Armian tidak sampai hati untuk membangunkan Azharin dari tidur lelapnya.
Armian kembali ke kantor dan meninggalkan pesan, untuk sementara jangan membukakan pintu untuk siapa saja kecuali jika Armian yang menelepon dan meminta membukakan pintu.
Azharin terjaga setelah matahari tinggi. Dia merasakan perutnya lapar. Azharin menggeliat-geliat, merenggangkan otot-otot yang terasa pegal. Azharin mengambil ponsel dan melihat jam makan siang telah berlalu.
Azharin mengabarkan pada Sonia, bahwa dia telah di rumah. Sonia berjanji akan ke rumah setelah jam kerjanya selesai. Malam itu, Sonia dan Romi tahu apa yang terjadi ketika dia tidak menemukan Azharin dan Armian, Sonia menelpon Azharin dan Armian yang mengangkat.
Azharin meletakan ponselnya dan mengambil handuk. Dia membersihkan dan menyegarkan diri dalam bathub. Azharin merilekskan pikiran. Dia berencana memasak untuk makan malam.
Azharin telah kembali segar. Dia menuju dapur dengan handuk kecil yang masih membungkus kepala. Azharin membuka kulkas dan melihat apa yang bisa dia masak.
Azharin melihat ikan gurami frozen. Dia memutuskan membuat ikan gurami pedas manis dan cah kangkung saja. Dia sudah lama tidak memasakkan abangnya sejak kasus setahun lalu dia meminta abangnya tidak perlu ikut campur urusannya lagi dan keluar dari rumah.
Azharin menggoreng nugget ayam dan memakan dengan setengah porsi kecil nasi putih sebelum menikmati memasak untuk makan malam mereka. Azharin akan mengganti malam yang batal kemarin. Abangnya entah sudah beberapa kali memantau adiknya melalui video call ketika mendapatkan pesan dari Azharin.
"Abang! Kau sengaja mengganggu aku atau memang mencemaskan keadaanku!" Azharin berteriak kesal karena kegiatan memasaknya terganggu.
"Abang mencemaskan kamu," ujar Armian serius. Azharin bisa melihat abangnya tidak sedang mengerjainya.
"Apa guna abang pasang cctv di empat titik rumah ini? Abang bukankah selalu memantau aku dari ponsel selama ini?" ujar Azharin mengingatkan dengan nada mengejek.
Armian terlihat menggaruk kepalanya. Rasa takut masih menggelayuti pikiran Armian. Sehingga dia melupakan ada satu cctv di dapur.
Azharin sangat yakin, jika tidak, mana mungkin abangnya sanggup tidak muncul setahun lamanya. Dia tahu abangnya rindu ingin pulang, Azharin dulu juga begitu. Akan tetapi egonya lebih besar dan abangnya sengaja seolah tidak mau mengalah. Dia ingin mengajarkan Azharin agar lebih kuat dan mandiri di saat momen Azharin marah dan merajuk.
Azharin bisa merasakan sendiri ketika abangnya tidak ada. Azharin mulai menyadari jika Hendri tidak terlalu banyak mengisi harinya seperti yang abangnya katakan. Azharin terlalu dibutakan dengan cinta. Azharin lemah hati karena berharap bisa segera menikah.
Tiada satu nasehat abangnya bisa dia terima. Azharin justru mengajak abangnya ribut setiap membahas masalah cintanya bersama Hendri. Hingga terakhir kali, Azharin mengusir abangnya dan melarang ikut campur urusannya. Azharin bahkan mengatakan akan membakar baju abangnya jika tidak dibawa.
"Sudahkan Abang? Jangan mengganggu dulu. Abang tak ingin makan masakan Arin?"
Armian mematikan sambungan telepon Azharin kembali sibuk memasak. Tangannya begitu lincah mengiris wortel, tomat dan bahan lainnya yang akan dicampur sebagai saus pedas manis. Setelah selesai, Azharin iseng berselancar di dunia maya.
"Hi, how are you."
Azharin membuka pesan messenger. Dia membaca tanpa membalasnya sama sekali. Banyak pesan serupa masuk. Selama ini dia hanya mengabaikan.
Lalu dia iseng membalas tiga pesan serupa. "Hi, i'm fine. And you?
Tidak butuh waktu lama dua di antaranya memberi respon balik, membalas pesannya, "I'm fine. Where are you come from?
"I'm Indonesia."
Azharin mulai bertukar informasi. Dia begitu asyik membalas, melampiaskan kekecewaan pada orang yang tak dikenal. Azharin mulai menyukai bermain api.
__ADS_1
Satu pria asing meminta nomor WhatsApp. Azharin tak memberikan, dia mengacuhkan. Azharin membalas pesan lain. Puas hati membalas pesan, Azharin menghentikan aktivitas konyolnya.
***
"Rin, kamu yakin mencabut gugatan dan memberikan mereka kebebasan?" tanya Sonia. Mereka makan malam bersama.
"Jangan takut Nia, ada abang aku yang tak akan membiarkan aku celaka."
"Tapi buktinya abangmu kecolongan. Syukur-syukur yang culik cuma penjahat cinta. Tak berpengalaman." Sonia mendapat tendangan kecil di tungkainya dari Romi.
"Apaan sih sepak-sepak," ujar Sonia tanpa mau tahu. Romi menjadi salah tingkah. Azharin tertawa dan Armian tersenyum. Armian malah semakin tertarik pada Sonia yang apa adanya.
"Aku kecolongan, karena lagi melamun teringat adikku yang keras kepala ini membela mati-matian si kunyuk itu. Jadi aku khilaf tak mendengar langkah dia keluar lagi dari kamarnya." Armian mencari pembelaan diri.
"Yakin aman tuh, dua ular bebas merayap?" kata-kata Sonia makin terang-terangan tak terima.
"Sudah, ayo makan. Pasrahkan saja dengan takdir dan kita berdoa saja yang terbaik." Azharin menghentikan perdebatan Sonia.
"Usaha juga perlulah," Sonia kembali membantah.
"Iya," jawab Azharin singkat.
"Ya bentuk usaha itu dengan mengusut kasusmu semalam," ujar Sonia. Sonia menatap Armian, mencari dukungan.
"Dia tidak mau. Masih kasihan kali kalau kunyuk itu tidur di lantai dingin. Padahal kunyuk itu butuh untuk mendinginkan otaknya." Armian selalu memanggil Hendri dengan kata kunyuk. Itu salah satu yang memicu Azharin marah dulunya.
Azharin meminta abangnya berhenti dengan melotot tajam pada Armian. Armian mengangkat bahu.
"Uhhh takuuut," ujar Romi dengan suara seperti perempuan. Azharin mengambil tisu, meremas dan melempar Romi.
"Geli aku dengarnya," ujar Azharin.
Mereka baru saja hendak menyendok nasi, ponsel Armian berdering. Armian menerima telepon dan permisi sejenak meninggalkan ruang tamu.
"Jadi kamu yakin besok masuk kerja?" tanya Romi serius.
"Tenang, belum seberapa berat dengan perjalanan hidupku." Azharin niatnya bercanda. Pembawaan dia yang kaku membuat candaannya menjadi garing.
"Ayo Bang, kita makan," ajak Azharin ketika Armian kembali.
Armian menyeruput kopi hitamnya. "Maaf Abang ke kantor. Ada telepon mendadak dari komandan." Armian mengambil dan memasang jaket hitam kulit. Azharin sudah terbiasa di tinggal sedang makan.
"Apa kalian bisa tidur di sini malam ini. Menjelang Azharin lebih tenang?" Armian merasa masih tidak tenang.
"Jangan risau Bang." Azharin berkata serius.
"Ok Bang. Kami di sini saja." Sonia menyetujui. Dia melihat Armian tidak tenang meninggalkan Azharin.
"Thanks ya Nona Cantik."
__ADS_1
"Ye sedang mau makan malah di tinggal," ujar Sonia sedikit kecewa.
"Masih mending itu. Aku di tinggal lagi sayang-sayangnya," ujar Azharin. Romi dan Sonia saling pandang. Azharin mengerling dengan lucu.
"Canda malam. Ayo makan," ajak Azharin.
***
Romi menuju beranda untuk menyulut rokoknya. Azharin dan Sonia bergegas membersihkan meja makan. Mereka mencuci piring dan menuju kamar Azharin setelah berpesan pada Romi untuk ke kamar abangnya, jika ingin tidur.
Di kamar, Azharin terlihat asyik dengan ponselnya. "Dengan siapa, kau asyik sekali." Sonia menegur Azharin yang asyik dengan ponselnya.
"Aku lagi mencari pacar di online dating." Azharin menjawab tanpa mengalihkan pandangan matanya dari ponsel. Sonia penasaran dan mendekati Azharin. Azharin tidak menutupi.
Sonia memandang Azharin dengan curiga. Dia tak bisa menghilangkan rasa penasarannya. "Kau tidak lagi mendendamkan pada para pria?"
"Tidak. Tidak baik memupuk rasa dendam. Merusak hati." Azharin menjawab tanpa beban.
"Lalu mengapa kau meladeni para pria luar itu. Bukankah mereka banyak yang jahat?" Sonia mengemukakan asumsinya.
"Banyak? Bukan berarti tidak ada yang baik." Azharin menghentikan aktivitasnya beberapa saat. Dia fokus memandang Sonia.
"Iya juga sih." Sonia tidak bisa menemukan jawaban lain.
"Ya sudah. Itu artinya aku bisa mencari yang baik bukan?" Azharin mengabaikan pesan-pesan yang sedang masuk.
Namun hati Sonia masih tidak puas. "Sikap mereka banyak yang kasar pada wanita. Apa kau tidak takut?"
"Apa pria negara kita tidak ada yang kasar?" tanya Azharin mengingatkan Sonia.
"Hmmm, terserahlah."
Azharin kembali fokus pada layar ponselnya. Dia membalas pesan yang sempat tertunda. "Lihat Nia, cakep bukan. Dia asal Manchester. Matanya biru seperti memandang langit jika menatap matanya."
"Hmmm gak nyata saja. Emangnya kamu sudah pernah berbicara dengan mereka?"
"Ya belum. Baru juga kemarin aku membalas pesan mereka yang berbulan aku acuhkan. Ehhh sedang asyik-asyik aku keduluan ditangkap mantan."
"Gak jelaspun. Hendri saja yang sekian lama gak jelas. Apalagi ini yang di negeri antah berantah." Sonia mengomel. Azharin hanya menggedikan bahu. Dia melanjutkan membalas dan terlihat tersenyum-senyum.
Azharin tak menggubris. Azharin kembali berkata, "Ini ada pria dari Filipina. Katanya aslinya orang London."
"Suka hatilah. Aku mau tidur."
"Tidur sana jomblo sejati."
"Biarlah, dari pada diculik mantan." Sonia tak mau kalah. Azharin melempar Sonia dengan bantal peluk. Sonia mengelak dan menarik selimut. Dia bergelumun di bawah selimut. "Selamat merubah keturunan Nona Kaku."
Azharin memberikan email pada teman asingnya. Azharin tidak bersedia jika diminta nomor ponsel atau nomor WhatsApp. Tidak terlalu lama, Azharin menyusul Sonia yang telah tidur.
__ADS_1
***